Hari Kesehatan nasional Vs Pelayanan Kesehatan

Beberapa hari yang lalu, tanggal 12 November 2008 diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang ke-44. Melalui peringatan Hari Kesehatan Nasional ini, pemerintah mengharapkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia bisa lebih meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bertujuan lagi untuk mencapai Indonesia Sehat 2010. Seperti kata pepatah, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Oleh kerena itu, dengan meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat pada gilirannya juga akan memperkuat negara.

Mengapa harus sehat?

Cara paling cepat masuk kubur adalah dengan mati. Cara paling cepat mati adalah dengan sakit-sakitan. Adalah fakta jika kebanyakan orang tidak ingin cepat mati. Oleh sebab itu, sehat merupakan dambaan setiap orang diseluruh pelosok dunia.
Sehat bukan hanya merefleksikan prospek untuk hidup lebih lama, bahkan juga menjadi fondasi untuk hidup lebih produktif secara sosial maupun ekonomi. Jadi, bebas penyakit adalah syarat utama untuk hidup lebih maju. Maka wajar saja kalau di negara-negara maju, angka kematian sangat kecil. Bandingkan saja, dari 1000 kelahiran bayi di Indonesia, 33 diantaranya meninggal. Sementara Malaysia, tetangga kita, hanya 8 yang meninggal dari 1000 kelahiran (UNDP, 2003).

Kebutuhan akan sehat tidak hanya diperoleh dengan cara hidup sehat, tapi juga dengan adanya pelayanan kesehatan. Adalah tugas negara untuk membuat rakyatnya sehat dengan membuka akses kesehatan secara maksimal. Kesempatan untuk mendapat pelayanan kesehatan dipandang sebagai hak paling asasi dari rakyat. Maka tidak boleh tidak, pemerintah harus menyediakan rumah sakit, dokter, perawat, obat-obatan, perlengkapan serta pelayanan lainnya dengan mutu dan standar yang optimum.

Namun pada kenyataannya, pelayanan kesehatan di masyarakat kita masih jauh untuk dapat dikaatakan memadai, terlebih lagi jika hal itu telah menyangkut rakyat miskin, masyarakat yang justru mendominasi negeri ini. Tidak jarang kita melihat banyaknya kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah terutama menyangkut program-program yang ditawarkan pemerintah untuk memudahkan mereka dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.
Dalam sebuah kunjungan ke Kecamatan Ulim, Pidie Jaya, dalam rangka mengikuti kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan fakultas tempat penulis menuntut ilmu sekarang, penulis sangat miris ketika melihat banyak masyarakat miskin di wilayah tersebut yang bahkan hingga saat ini tidak tahu benar tentang apa itu Askes (Asuransi Kesehatan), Kartu sehat maupun Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Apalagi ketika diminta pendapatnya tentang Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK) atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM). Susahnya akses informasi tentang bagaimana prosedur mendapat kartu Askes atau Bantuan Langsung Tunai (BLT), ketidaktahuan mereka ke mana mengadukan hak ketika mereka diabaikan, serta sejumlah penghambat lain, sekaligus menyuburkan bilangan kaum miskin yang tidak tersentuh program pemerintah. Jika demikian keadaannya, bagaimana bisa berharap lebih pada peringatan HKN ke-44 tahun ini? Kapan kira-kira masyarakat kita bisa benar-benar sehat dan menguatkan negeri kaya raya ini?

Masalah-masalah yang terjadi di Ulim merupakan fenomena gunung es, artinya masih banyak masalah serupa yang juga terjadi di daerah lain di Aceh dan Indonesia pada umumnya. Kita mungkin tidak akan menyangkal jika ternyata di sekitar kita, kartu sehat atau kartu Askes justru beredar dikalangan masyarakat yang berada atau kelas menengah ke atas. Mungkin mereka adalah keluarga Pak Geuchik atau Kepala Desa, keluarga birokrat Puskesmas, dan lain-lain yang belum tentu mereka berhak mendapatkannya.

Kita juga pasti sering mendengar atau bahkan menyaksikan sendiri betapa pilunya hati pasien yang terpaksa dipulangkan saat benar-benar membutuhkan pertolongan kedaruratan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit karena tidak cukup biaya. Kita mungkin pula akan mengiyakan betapa masih banyak pelanggaran dalam pelayanan kesehatan terhadap pasien yang dilakukan baik oleh dokter, perawat, mantri atau bidan-bidan di desa. Kita juga selalu akan mengerti dengan kenyataan miris bahwa kita masih selalu kedatangan penyakit-penyakit infeksi tropik yang seharusnya sudah enyah dari negeri ini, mislanya diare, demam berdarah atau malaria.
Masih banyak kenyataan lain yang mungkin bisa menjadi kontraproduktif dengan acuan tema peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) tahun ini dan harapan untuk menuju Indonesia Sehat 2010.

Momentum untuk refleksi diri

Momentum peringatan Hari Kesehatan Nasional (2008) haruslah menjadi momentum refleksi dan evaluasi pemerintah atas sejauh mana peran pemerintah dalam melaksanakan tanggungjawabnya terhadap pelayanan kesehatan terhadap rakyatnya. Pelaksanaan HKN ini tidak selalu harus dilakukan dengan perayaan seremonial, pameran, atau aneka lomba, tetapi seharusnya bisa lebih menyentuh pada masyarakat seperti melihat dan mengukur seberapa besar kebijakan anggaran di sektor kesehatan, bagaimana pemenuhan fasilitas fisik pelayanan kesehatan, seberapa banyak masyarakat miskin yang tidak terjangkau layanan kesehatan dan seberapa besar jumlah masyarakat miskin yang mendapatkan Askes atau tidak mendapatkan Askes serta apa upaya mengantisipasinya, bahkan bila perlu bisa mendapatkan data terpilah tentang jumlah orang sakit atau bagaimana mendorong agar semakin banyak tenaga kesehatan professional.

Pada intinya adalah momentum HKN ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua untuk melakukan yang terbaik demi mewujudkan masyarakat Indonesia khususnya Aceh yang benar-benar “sehat”, bukan masyarakat yang hanya “dianggap sehat”.

Published by Liza Fathia

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

Join the Conversation

4 Comments

  1. Ntar kalo liza jd dokter, apa liza mau sekali2 ga di bayar –atau bahkan sering ga di bayar :)– atau cuma sekedar di bayar murah?
    Apa liza mau ditempatkan di daerah terpencil?

    Kalo liza dan calon2 dokter laen mau seperti itu, ijal kira kalian udh berperan besar dalam menyelesaikan masalah2 seperti kekurangan dokter di daerah terpencil or ketidakterlayaninya kaum miskin dalam hal

  2. rekan2 semuanya saya berharap ini adalah berita gembira bagi yang ingin merubah nasibnya silahkan klik disini:
    http://tabunganekstra.com/?ref=5767
    dan bagi yang bergabung akan saya berikan ebook internet gratis.jadi ngapain beli kalo ada yg gratis……….
    Email saya:kojinura3@yahoo.co.id

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: