Aceh

Berkisah Tentang Sabang di Hari Kemerdekaan

Setiap libur panjang, bisa dipastikan kalau Pulau Weh, dimana Kota Sabang berada, akan penuh dengan wisatawan. Selain terkenal dengan Titik Nol Kilometer Indonesia, Sabang juga terkenal sebagai salah satu destinasi wisata keren negeri ini yang ada di Aceh. Sebelum dan saat Indonesia baru merdeka, Sabang menjadi pintu gerbang jamaah haji nusantara untuk beristirahat dan dikarantina, bahkan gedung-gedung tempat karantina jamaah haji masih bisa ditemui hingga sekarang. 

Saat masih dalam masa penjajahan  Belanda, di Sabang  dibangun sebuah rumah sakit jiwa terbesar di wilayah Sumatera. Semua mereka yang punya masalah kejiwaan, hingga yang “keras kepala” ingin membunuh penjajah Belanda, semuanya dibawa dan diasingkan ke Pulau paling ujung ini. Sayangnya untuk kisah ini, hanya cerita-cerita dari orang tua dan bangunan-bangunan tua yang kini menjadi bagian dari RS TNI AL yang menjadi pengingat tentang sumbangsih Sabang dalam penanganan orang gangguan jiwa.

Sabang kemudian menjadi pelabuhan bebas terbesar di Indonesia, bahkan saat itu mengalahkan Singapura dan tentunya jauh lebih hebat dibandingkan Batam yang saat itu belum ada. Ironisnya, Pemerintah Orde Baru menutup pelabuhan ini dan menjadikan Batam sebagai pelabuhan bebas. Sabang kemudian semakin jauh dari pemberitaan. Tahun 2000-an status Aceh menjadi Darurat Militer juga berimbas ke Sabang, kunjungan wisatawan jatuh ke titik nadir, bahkan penginapan yang sudah dibuka banyak yang harus di tutup atau ditinggalkan begitu saja karena tidak ada tamu yang datang.

Tsunami 2004 datang, Sabang seperti diselamatkan Tuhan, karena hanya sedikit pantai dan terumbu karang yang rusak. Padahal posisinya berhadap-hadapan dengan Banda Aceh yang kotanya luluh lantak oleh gelombang Tsunami. Tahun 2005, MOU perdamaian antara Pemerintah RI dan GAM tercapai, status darurat militer di Aceh dihilangkan, ribuan tentara TNI kembali ditarik ke asalnya masing-masing, begitu juga senjata dari pihak GAM, semuanya dimusnahkan. Sabang juga kembali dirasa aman untuk dikunjungi dan Sabang pun berdenyut kembali.

Jika pada tahun-tahun 2005 hingga 2009 yang berkunjung ke Sabang kebanyakan adalah wisatawan lokal dan wisatawan Internasional yang kebetulan bekerja pada NGO yang ada di Aceh, maka setelah itu Sabang kembali ke terkenal seperti sediakala. Yang mengunjungi Sabang tidak hanya didominasi oleh wisatawan lokal, tetapi juga dari seluruh penjuru dunia. Angka kunjungan terus meningkat, dari yang dulunya bisa dihitung jari setiap minggunya, kini bisa mencapai ribuan setiap bulannya.

Setelah Bandara Sultan Iskandar Muda menjadi Bandara Internasional tahun 2013 lalu, jumlah kunjungan ke Sabang juga meningkat drastis. Pesawat Air Asia yang langsung terbang dari Kuala Lumpur juga terus meningkat frekuensinya, awalnya hanya 4 kali dalam seminggu, kini menjadi 10 kali. Begitu juga dengan firefly yang terbang ke Penang, walau sampai kini masih terbang 4 kali dalam seminggu. Dan yang paling menggembirakan adalah jika dulunya pesawat AA didominasi oleh orang Aceh yang jalan-jalan atau berobat ke KL, sekarang kalau pesawatnya ke Banda Aceh hampir setengahnya diisi oleh orang luar (turis internasional), yang sebagian besar juga ingin ke Sabang.

Pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 70  ini, Sabang lagi-lagi mendapatkan sorotan karena melakukan pengibaran bendera merah putih di bawah laut. Yang punya gawean tentunya dari pihak TNI AL, tapi banyak juga warga lokal dan turis internasional ikut acara ini. Kebetulan salah seorang teman juga menjadi tim pengobar  bendera  Merah Putih di bawah laut Sabang. Bahkan, dia dipercaya menjadi koordinator tempat pelaksanaan, karena memang dia sudah sangat tahu lokasi bawah laut pulau di ujung Sumatera itu.

Sabang yang pernah mati suri kini hidup kembali. Kota ini mulai dan dewasa dan terus bersolek, menunggu kita, para traveller untuk mengunjugi dan menikmati keindahannya. Sabang kini mulai ke bentuk asli, Sabang yang ramah, multietnis, dan Sabang yang selalu ingin ramai dikunjungi. Jika ingin liburan yang murah, indah, aman, nyaman dan tenteram, maka Sabanglah tempat yang layak dikunjungi, karena sabang adalah “santai banget”.

Merdeka!

Tulisan ini diikutsertakan dalam campaign “Dream Indonesia” yang diadakan oleh Komunitas Travel Bloggers Indonesia dalam rangka peringatan HUT RI yang ke 70. Berikut adalah tulisan dari personel TBI lainnya:
Parahita Satiti – Kembali ke Pulau Lombok
Shabrina Koeswologito – Give Back For Indonesia
Rudi Hartoyo – Jelajahi Indonesia, Akankah Ku Lakukan?
Matius Teguh Nugroho – Bukan Raja Ampat, Ini Dia 5 Destinasi Impian Indonesia Versi #TheTravelearn
Astin Soekanto – Inginku Boven Digul: Belajar dari Bung Hatta
Danan Wahyu Sumirat – Mimpi Tentang Anambas
Tracy Chong – In Papua Where I Meet This Inspiring Lady
Albert Ghana Pratama – Jelajah Laut Negeri Menjaga Titik Luar Indonesia
Olive Bendon – Gemu Fa Mi Re untuk Negeriku
Leornard Anthony – Di Timur Menyongsong Dirgahayu
Rico Sinaga – Ingin Ke Misool Segera
Mas Edy Masrur – Berbagi Ilmu dan Menimba Kearifan Lokal di Wae Rebo
Indah Purnama – Indonesia (Juga Bisa) Bikin Rindu
Arie Okta – Banda Aceh, Impian Dalam Mimpi
Putri Normalita – Kepulauan Anambas, Surga Tropis di Ujung Negeri
Imalavins – Kapan ke Kakaban?
Ridwan Sidik K – Tobelo destined To Be Lo Ved
Indri Juwono – Anambas, Mimpi Indonesiaku

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

40 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: