Opini

Apa Hak dan Kewajiban Dokter Internship?

Pertanyaan ini selalu menganga di kepala saya. Sudah hampir tiga bulan saya menjalani internship di sebuah rumah sakit di Provinsi Aceh, tetapi saya masih bingung dengan status saya. Saya ini dokter, mahasiswa, koas, atau sekedar pembantu dokter?

Kenapa saya bertanya seperti itu? Menjadi dokter memang impian saya sejak kecil. Mengabdi pada masyarakat atas ilmu yang saya miliki telah menjadi tekad saya sejak pertama sekali mengisi formulir pendaftaran seleksi mahasiswa baru. Tetapi, ketika menjadi apa yang saya impikan, saya kok merasa jika saya bukanlah dokter. Padahal saya sudah selesai kuliah di kedokteran, sudah lulus ujian kompetensi (UKDI), dan saat ini menjalankan internship.

Internship. Hmm. Awalnya saya sempat sedikit kecewa dengan keputusan kementrian kesehatan Indonesia yang mewajibkan setiap lulusan dokter yang menjalankan program PBL untuk melaksanakan internship. Alasannya? Biar lebih mantap praktek kedokterannya. Lantas kenapa internship ini tidak berlaku pada letting konvensional? Toh, saat koas di rumah sakit kami juga sama-sama menangani pasien, dimarahi oleh konsulen dan perawat, menjadi kacung, dan berstrata lebih rendah dari cleaning service.

Karena mereka tidak menjalankan system PBL. Itulah alas an yang dikemukakan.

Baiklah, saya tidak akan bertanya kenapa begini kenapa begitu lagi. Kali ini saya ingin menumpahkan unek-unek saya tentang internship yang katanya sangat bagus untuk para dokter.

Bagus memang, jika sesama sejawat saling menghargai, saling membantu, dan tidak membeda-bedakan. Bagus memang jika SIP dan STR yang diberikan benar-benar berlaku seperti yang telah dijanjikan. Ketika pendamping benar-benar menjadi mendamping sang dokter internship.

Pasti tidak bagus kalau ternyata di lapangan strata kembali berlaku. Dimana yang menjadi raja adalah dokter spesialis, penasehat raja dokter umum, dan kacung adalah dokter internship. Pasti tidak bagus kalau ternyata STR dan SIP intern hanya sekadar formalitas. Ketika sang dokter internship tidak boleh membubuhkan tanda tangannya setelah selesai memeriksa pasien dan saat menulis resep, melainkan tanda tangan dokter yang jaga. Jika dokter jaganya tidak ada maka tiru saja tanda tangannya. Ketika dokter internship tidak boleh mengkonsul pasien langsung ke konsulen. Padahal waktu koas, dokter mudanyalah yang langsung mengonsul ke konsulen.

Apa dikira kami tidak berkompeten? Lalu untuk apa ujian kompetensi?

Dan yang paling menyedihkan adalah ketika yang mengeluarkan ultimatum itu pendamping kita sendiri. Lengkaplah penderitaan.

Mungkin tidak semua wahana internship bernasib sama dengan saya dan teman-teman di sini. Apa beberapa rumah sakit yang benar-benar welcome terhadap dokter internship dan bahkan mereka mendapatkan uang jasa atas pengabdian mereka. Tapi sayangnya saya terdampar di rumah sakit yang seakan-akan mereka tidak butuh akan kami. Sedih memang.

Sehingga, kerap menjadi pertanyaan saya apakah seorang dokter internship hanya memiliki kewajiban melayani pasien sebaik-baiknya dan tidak ada memiliki hak apa-apa. Menyedihkan bukan?

Kalau berbicara tentang internship, setahu seseorang yang sedang internship akan mendapatkan hak dan kewajiban yang sama dengan pegawai lain. Mungkin dari segi pembayaran, yang mereka dapatkan tidaklah sebesar yang pegawai terima, tetapi mereka tetap digaji. Alias bukan Tenaga mereka saja yang dipakai tetapi ada penghargaan atas jasa yang telah mereka lakukan. Karena apa yang mereka perbuat memberikan keuntungan untuk tempat kerjanya.

Sedangkan dokter internship? Kami hanya mendapatkan jadup dari kemenkes yang sering terlambat dikirim. Jatah hidup ini dibayar tiga bulan sekali. 1,2 juta perbulan. Sedangkan dari RS tempat kami bekerja? Anggaplah saja kami bergotong royong di sana. Jangankan mendapat gaji, tanda tangan saja kami tidak boleh. Lalu untuk apaya STR dan SIP. Mending tidak usah dikeluarkan saja kalau memang seperti ini kejadiannya.

Saat kami menceritakan ini ke KIDI propinsi, mereka berpesan agar kami bersabar dan berpikiran positif. Berpikir positif sih iya, tapi kalau terus-terusan dibiarkan bukankah ini membiarkan kebatilan?

Kalau memang ingin memperbaiki status kesehatan negeri ini dengan program internship dokter indonesia seharusnya pemerintah memikirkan dan memperhatikan nasib sang dokter. ย Jangan hanya memanfaatkan tenaganya, tetapi peduli juga pada kehidupannya.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

22 Comments

  • aulawiahmad

    hmmm rumit memang ya Liz, apalagi jika itu sudah menjadi suatu resiko yg harus diterima. Coba galang persatuan antar dokter senasib untuk lebih menyuarakan itu kepada pihak yg terkait, menurutku ini salah satu jalan terbaik saat ini :).

  • Edwin Mirfazli

    Hap hap Tangkap tangkap….
    Ok dek Liza I see bout ur problems but taken easy
    Jalanin aja dulu tanggung khan tinggal 9 bulan dan abg denger sebenarnya dr internship boleh juga membuka praktek namun dg izin pimpinan. Jadi siapa tahu dengan kredibilitas dek Liza yg baik dan konsisten nanti bisa di berikan kesempatan berpraktek atau paling tidak menjadi dokter pengganti jika dokter utama berhalangan. Oh ya soal pendapatan yg mungkin minim saat ini dek Liza nggak usah khawatir Insya Allah selalu ada kesempatan dan peluang jika kita sabar dan tawakkal. Nah soal ‘anak bawang’ kalau bisa setelah kelar ‘internship’ ini dek Liza sudah siap2 konsen ke Spesialis agar tdk jadi ‘anak bawang’ lagi ya. Btw tdk masalah ungkapkan blem ini karena ini menunjukkan pemikiran kritis namun ingat mungkin tdk serta merta di respon tapi yakin ini akan menjadi bahan pertimbangan ke depan berkaitan dg program ‘internship’ ini. Btw tetap semangat ya dek Liza and Keep Smile…. ๐Ÿ™‚

  • anonymous

    salam untuk rekan sejawat internship yg sama2 sedang bertugas, susah hidup dengan jatah hidup seadaanya, lagi2 orang tua yg mensubsidi, mau tidak mau suka tidak suka kita memang dibuat tdk bisa mandiri, apalagi ada larangan tidak boleh praktik selain di RS dan Puskesmas penugasan. semoga kedepannya program ini ditinjau kembali, lebih baik PTT kelihatannya.. oiya mungkin yg mau iseng boleh kok dicari tau beda nya internship indonesia dan negara sebelah, padahal mereka banyak yg menempuh FK nya di FK negara kita:-)

  • citam wiyono

    ini bagian atas ketidakadilan pemerintah melalui depkes dan instansi terkait. sebaiknya satukan langkah saling komunikasi dan bentuk forum untuk memperjuangkan perbaikan dan hak-hak dokter internship. semoga sukses

  • xmz

    tolong yang mencanangkan intership, ikut intership bareng kita dong!! bikin program tapi untuk membunuh orang… lo pikir kita hewan kurban?

  • Muthi

    nasib intern dokter memang m’nyedihkn,untunngny saya uda selsai dan dpt wahana yg m’bayar jasa walau sekadarny n dpt insensitf Dr pemda..yg sabarya..

  • estersibuea

    saya sangat menyukai cerita liza ttg semuanya,termasuk dunia koas,ternyata kita sama ๐Ÿ˜€ sabaar teman…saya juga setuju kalo kualitas hidup dokter diperbaiki,baru dia bisa kerja maksimal sehingga kualitas kesehatan negeri ini membaik.intership mungkin baik kalau saja regulasi dan administrasi tepat dan sesuai.Pantas saja distribusi dokter g rata,beban hidup n kebutuhan nya didaerah mungkin g sebanding dengan apa yg didapat.bukan berarti kita dokter matre,tapi harga yang harus dibayar oleh kita untuk itu,waktu dan tenaga,bukanlah hal mudah dan penuh risiko.saya setuju kalau ada forum dokter internship yang dapat menjadi wadah komunikasi kita untuk kebaikan para dokter2 baru

    bagaimana pun kita harus bertahan dan terus berjuang dan Tuhan tidak tidur akan hal itu,teman!!!fight

    salam sejawat

    • chr_shd

      bukan maksudnya hanya mengeluh ata bagaimana… tp kami hanya sekadar sharing…. setidaknya biar kita tau di luar sana masih banyak yg mengalami sama seperti kami…. “semua merupakan proses pendidikan” ngomong sih gampang, anda tidak akan tau bagaimana yg sebenarnya kalau anda belum merasakan sendiri….

  • internship membawa sengsara

    di tempat teman saya internship,dana BHD nggak turun kalau nggak ribut dulu. mau beli makan mikir uang pas2an,bingung mau bayar uang kos gimana,nggak ada pemasukan selain BHD,ujung2 stres mikirin cara minta tolong ke ortu.
    di tempat lainnya,malah diperlakukan seperti koas,jadi kacung,bahkan mahasiswa keperawatan dan kebidanan aja masih diperlakukan lebih terhormat.
    jadi apa yg didapat dari internship kalau fokusnya bukan gimana mengasah skill utk membantu masyarakat yg sakit tapi malah fokusnya ke gimana mau bertahan hidup di daerah. dokter harus sehat fisik dan mental supaya bisa membantu masyarakat.justru internship yg tipe begini yg bisa melahirkan calon calon dokter yg berkualitas nguras duit pasien,nggak punya minat menjalankan kodeki lagi,kesabaran itu ada batasnya.seseorang yg diperlakukan tidak manusiawi pasti akan menghasilkan ketidakmanusiawian.

  • prahaz

    Sangat disayangkan sekali ya liza,jadinya internship untung untungan. Kalau dapat wahana yg enak ya enaklah setahun itu, tapi kalau dapat wahana yg gak enak maka sengsaralah setahun itu.

  • yihaa

    tidaklah salah tujuan dan niat baik dari pemerintah untuk menaikan pelayanan kesehatan masyarakat,,tujuan dan niat itu sangat baik, tapi sayang sekali tujuan yang baik itu tidak didukung oleh evaluasi dan perencanaan yang baik pula. untuk lebih real silahkan coba tanya pada mereka yang menjadi dokter internship ini, apakah mereka bukan bagian dari bangsa indonesia itu sendiri?apakah internship ini memberikan keuntungan bagi setiap orang dengan sistem yang sekarang ada? perlu diingat, dokter adalah sebuah profesi yang mulia,,tetapi kemulian itu bukan berarti bisa dijadikan alasan oleh badan/institusi untuk memperlakukan mreka seperti ini..bagi anda sekalian yang awam mengenai hal2 ini,akan saya berikan sebuat statement yang sederhana,,,”kenyataan dilapangan akan sangat miris jika anda menjadi bagian dari mreka yang mengabdi”..terutama anda yang telah berkeluarga yang telah memiliki tanggungan untuk hidup dan menghidupi secara mandiri. mari berfikir dari lebih dari segala arah,,anda akan menemui suatu ketidak adilan yang amat mengganggu,,terimaksih sebelumnya,,,maaf bila ada perkataan saya yang tidak berkenan di hati anda sekalian.

  • Widodo Adi Prasetyo

    Memang benar yang dikatakan saudari liza, ternyata menjadi seorang dokter itu bukan seindah seperti yang dibayangkan seperti anggapan masyarakat yang memandang dokter itu seorang yang kaya.. Padahal dari segelintir dokter itu hanya sekian persen yang seperti itu, sisanya hanya hidup dengan pas – pasan… Saya tidak setuju dengan program internship ini yang sangat merendahkan lulusan2 dokter, dimana dalam pendidikannya dokter menjalani pendidikan selama hampir 6 tahun baik program S1 maupun profesi, setelah menyelesaikan itu semua belum juga diakui dan harus mengikuti ujian kompetensi dokter (UKDI) yang terdiri dari CBT dan OSCE.. setelah itu harus internship dengan gaji yang lebih rendah dari buruh dimana fasilitas hidup ditanggung sendiri… bayangkan saja dengan sekolah yang sudah hampir 6 tahun itu tidak ad penghargaan terhadap profesi dokter yang digaji sedemikian rendahnya… Pemerintah selalu mengkampanyekan kesejahteraan masyarakat dimana mendapat pelayanan kesehatan yang layak akan tetapi tidak ad kesejahteraan bagi si tenaga medis… Dokter itu juga manusia yang perlu makan untuk hidup.. maka dari itu kepada semua sejawat diharapkan ikut memikirkan nasib tenaga medis dan bertindak… jangan mau tenaga kita diperas layaknya sapi perah yang tidak dihargai dengan selayaknya… Apabila kita diam saja, maka kita akan semakin ditindas, kita perlu memunculkan wacana ini ke permukaan agar kesejahteraan tenaga medis juga diperhitungkan… Harapan kita adlah dengan tenaga medis yang sejahtera maka pelayanan akan menjadi maksimal… Bayangkan saja bagaimana tenaga medis bisa memberikan pelayan ke masyarakat dengan baik jika dirinya saja tidak sejahtera… SALAM SEJAWAT

  • Cahya

    Mau bagaimana lagi. Di luar negeri, intern itu dibayar US$ 40.000 – 50.000 per tahun, kita hanya $120 – $130 perbulan (yang dirapel per tiga bulan). Beberapa yang beruntung, wahana (RS/Puskesmas) memberikan jasa pelayanan. Beberapa yang lain tidak seberuntung itu harus menghabiskan seluruh pendapatannya sebulan hanya cukup untuk perumahan dan sedikit makan sehari-harinya.

    Mau minta orang tua, lha kan sudah selesai pendidikan sebagai dokter yang berkompetensi. Sudah bukan mahasiswa atau pelajar profesi lagi. Mau mandiri ya benar-benar hidup dan mati. Karena tidak boleh bekerja lagi di luar tempat yang ditentukan. Apa setelah internship harus menguras tabungan dan berhutang kanan kiri untuk bisa hidup?

    Ya, internship memberikan banyak keuntungan bagi dokter dalam mengasah dan memantapkan kemampuannya. Saya akui itu, namun tidak selalu demikian, ada hal-hal yang justru berpotensi menumpulkan kemampuan seorang dokter, dan ini berbahaya. Katakan saja seperti praktek irrational medication dan multi-pharmacy.

    Paling kendala nyata masalah internship itu adalah masalah ekonomi. Pendapatan yang lebih rendah daripada UMR tentunya membuat siapa-pun keyok dan menunda banyak hal, misalnya untuk karir selanjutnya, pendidikan selanjutnya, dan bahkan mempersulit dokter yang misalnya sudah berkeluarga. Bisakah kita bayangkan pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan berkelanjutan, komunikasi, secara mandiri hanya dengan 1,2 juta rupiah per bulan untuk masa saat ini?

    Saya yakin tidak ada dokter yang meminta terlalu banyak, kecuali setidaknya untuk bisa bertahan hidup. Setidaknya demikian yang banyak saya dengar keluhannya untuk saat ini.

    • Liza Fathia

      iya, itu benar sekali mas cahya. polifarmasi sering sekali terjadi. tidak ada pembelajaran sama sekali ketika internship ini yang ada ilmu yang kita pelajari selama di bangku kuliah tidak dapat dipakai di lapangan. memang kedokteran itu butuh seni, tetapi jika telah ada obat-obatan khusus untuk penyakit tertentu untuk apa kita menambahkan obat-obatan lain. tapi kalo spesialisnya sudah melakukan hal itu, ya sudah sebagai anak bawang hanya bisa diam saja

  • asnawizain

    yaaaach . apa boleh buat ya dek Liza udah nasib !!, jaman kami dulu enggak tuh ! saran: coba ngadep rame2 para iternship ke kadiskes ceritakan penderitaan kalian , mudah2an dicarikan jalan keluarnya trims

  • Brian

    Numpang nanya sejawat skalian.. Kalo lg internsip apa kah bs kita mendaftar dokter PTT ? Brhubung saya slsai internsip nya 1 bulan lg… Trima kasih

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: