Archive for the Category »Opini «

Warnet, Warkop, Referat, dan Lain-lain

Sudah hampir sebulan  kegiatan luring alias offline saya membuat blog ini terbengkalai begitu saja. Tanpa updetan tulisan terbaru, blogwalking, dan kegiatan daring (online) lainnya yang sering saya lakukan. Maklum saja, di luar dunia maya kegiatan saya cukup membuat saya dibilang sibuk. Ya, memang sebuah konsistensi yang harus ditempuh jika saya benar-benar ingin profesional di bidang saya tersebut (mencoba sedikit bijak dan mencintai pekerjaan saya).

Hari ini, berhubung kartu pascabayar yang saya gunakan untuk internetan belum lebih tepatnya ngga sempat dibayar (hehehe, ngeles), jadi saya memutuskan untuk ke warnet. Lama juga tidak ke warung penyedia internet ini dan yang membuat saya senang adalah kecepatannya itu lho. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan menggunakan modem pribadi. Biasanya kalau di rumah, maka kata-kata “berjalan seperti siput” atau “kura-kura” kerap keluar untuk mengeluhkan lambatnya koneksi internet dari layanan yang sudah hampir dua tahun saya gunakan. Sekarang, yang keluar adalah “cepat sekali” sambil tersenyum.

Sangat jauh berbeda dengan dua tahun yang lalu, saat saya masih bergantung pada jasa warnet. Duh, saya harus bergonta-ganti warnet untuk mendapatkan akses yang cepat. Dan resikonya adalah jika ingin kecepatan akses yang cepat, maka harganya juga relatif tinggi. Bahkan hampir dua kali lipat dari warnet biasa.  Tapi kalau dikalkualasikan sebenarnya sama saja, murah tapi lambat akhirnya juga harus mengeluarkan biaya yang besar karena itu akan membuat saya harus berlama-lama di warnet tersebut. Sekarang? semua itu tidak berlaku lagi, kawan! Tahukah kenapa? more…

  • Share/Bookmark
Pasien Pertamaku

Sudah seminggu ini saya menjalani kepaniteraan klinik (koas) di bagian penyakit dalam. Tepatnya penyakit dalam pria. Rasanya ketika koas di bagian ini, saya merasakan seolah-olah saya telah benar-benar menjadi seorang dokter. Emm, ngga bisa dilukiskan bagaimana rasanya ketika saya langsung menangani pasien yang harus diopname karena penyakitnya. Antara grogi, senang, takut, bercampur menjadi satu.

Saat itu, pasien pertama saya menderita penyakit gagal ginjal kronik dengan keadaan yang sangat gawat. Pasien tersebut mengalami gagal ginjal kronik stage lima. Stadium terakhir dalam tingkatan penyakit ginjal ini ditambah dengan uremic sindrom. Tak dapat disembuhkan karena memang gagal ginjal kronik bersifat irreversible. Namun ada pilihan lain agar racun dalam tubuh dapat dikeluarkan, yaitu dengan menggantikan ginjal yang sudah tidak berfungsi lagi itu dengan transplantasi ginjal atau haemodialisa (cuci darah).

Konsumsi makanan yang mengandung kalium yang tinggi sungguh sangat berbahaya untuk pasien dengan GGK. Karena ginjal sudah tidak mampu lagi menyaringnya hingga pada akhirnya kalium tersebut kembali ke darah dan menyebababkan hiperkalemia. Tak hanya kalium, tetapi juga pada elektrolit lainnya. Sehingga dianjurkan pada penderita gagal ginjal untuk tidak banyak minum karena memang ginjalnya sudah sangat menurun fungsinya. more…

  • Share/Bookmark
Category: Opini  Tags:  16 Comments
Sterilkah Botol yang Berisi Teh Itu?

teh botol vs teh cangkir

Beberapa hari yang lalu ketika berhentik sejenak di sebuah warung kopi yang terletak tidak jauh dari rumah, saya dan kedua keponakan saya yang kembar, Fina dan Fira, memesan teh yang dikemas dalam botol dan katanya minuman untuk setiap makanan. Apapun makanannya, minumnya teh tersebut. Begitulah kira-kira iklannya. Sedangkan seorang teman saya yang juga hadir di warkop itu memesan sanger.

Tanpa ingin menyebutkan merk, karena secara tidak langsung memberikan iklan gratis kepada perusahaan teh ternama di negeri ini (keluar deh pelitnya J). Tapi saya yakin semua pasti tahu produk teh apa yang saya maksud.

Di pagi menjelang siang itu, saya menghabiskan teh tersebut dengan cepat. Yeah, waktu itu memang matahari mengeluarkan kalornya dengan cukup tinggi. Teh dalam kemasan botol yang baru saja dikeluarkan dari lemari es setidaknya dapat menghilangkan dahaga. Tapi tidak demikian dengan si kembar. Fira sedang mencicipi kue yang dihidangkan pelayan dan Fina sedang menatap heran botol teh di depannya yang masih terisi setengah.

“Cek coba lihat, di dalamnya jorok.” Spontan ucapan Fina mengalihkan perhatianku dan juga yang lain. Langsung saya melihat lebih dekat botol teh yang isinya telah dihabiskan setengah oleh keponakanku itu.

Benar saja. Ada tiga bercak tanah hampir sebesar kancing baju menempel di dinding botol. Saya menyerahkan botol itu ke teman untuk memastikan, dan itu benar-benar tanah. Pelayan warung kopi yang saya panggil juga terkejut melihat tanah yang melekat di dinding botol itu. more…

  • Share/Bookmark
World Environment Day : Keanekaragaman Spesies yang Terancam Punah

World Environment Day

World Environment Day

5 Juni merupakan hari penting dalam kalender dunia. Karena pada tanggal ini diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day). Sebenarnya awal mula adanya Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah adanya Konferensi Internasional pada tanggal 5 – 16 Juni 1972. Konferensi ini merupakan pertemuan umum pertama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dengan ‘Human Environment’ yang diselenggarakan di Stockholm, Swedia. Pada tanggal 15 Desember 1972, PBB mengeluarkan resolusi No. 2994 (XXVII) yang menetapkan tanggal 5 Juni ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup sedunia.

Berdasarkan resolusi PBB tersebut, setiap negara memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini setiap tahunnya. Tak terkecuali Indonesia. Isu-isu lingkungan selalu diangkat setiap peringatan hari lingkungan hidup, seperti pembangunan berkelanjutan, advokasi lingkungan, pendidikan lingkungan, dan lain sebagainya. Dengan harapan adanya peningkatan kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan yang baik. Tidak terkecuali Indonesia, sebagai salah satu masyarakat dunia juga turut memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) tahun 2010ini, tema yang diangkat adalah “Many Species. One Planet. One Future” (Banyak Species. Satu Planet. Satu Masa Depan). more…

  • Share/Bookmark
Kelaparan di Negeri Kaya

“Hampir lima juta balita di Indonesia menderita kekurangan gizi dan 1,8 juta yang kurang gizi tersebut bersifat irreversible. Salah satu gejala dari kekurangan gizi yang irreversible itu adalah perkembangan otak balita yang lambat. Akhirnya, jangan heran kalau banyak anak-anak yang imbisil dan debil (bodoh) di negeri ini.”

Begitulah pengantar awal dari dr. T.H Makmur Mohd. Zein, MKes, SKM, PKK ketika memberikan bimbingan tentang gizi kepada saya dan teman-teman  yang sedang menjalankan kepanteraan klinik di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat.

Sungguh sangat miris mendengar kenyataan tersebut. Mengingat negara kita Indonesia adalah negara kaya dengan hasil yang alamnya melimpah. Indonesia adalah negara agraris, tapi lebih dari 37 persen anak Indonesia usia 0-5 tahun (balita) kekurangan gizi yang ditandai dengan bentuk fisik stunted atau tinggi badan tidak sesuai dengan umur.

Selain itu dibeberapa propinsi masih ada kasus gizi buruk pada balita di atas prevalensi nasional (5,4 persen). Misalnya, Aceh dengan angka 10,7 persen, NTT (9,4 persen), NTB (8,1 persen), Sumatera Utara (8,4 persen), Sulawesi Barat (10 persen), Sulawesi Tengah (8,9 persen), dan Maluku (9,3 persen). Ada juga provinsi yang kasus gizi buruk maupun kurang gizinya cukup tinggi. Yakni, NTT, NTB, Sulteng, dan Maluku. more…

  • Share/Bookmark
Hari Ini, Hasan Tiro Meninggal

Kali ini, kembali saya menulis berita duka. Duka yang dirasakan oleh segenap rakyat Aceh. Belum pun pulih rasa sedih karena meninggalnya Ibu Ainun Habibie, lalu meninggalnya aktivis kemanusiaan yang hendak mengantarkan bantuan ke Palestina karena serangan Zionis Israel, hari ini saya dan Aceh tentunya kembali menerima berita duka. Hasan Tiro, deklarator Geraka Aceh Merdeka (GAM) telah menghembuskan nafas terakhirnya hari ini (Kamis, 3 Juni 2010) di tanah kelahirannya Aceh.

Siapa yang tidak mengetahui deklarator GAM ini. Hasan Tiro adalah Wali Nanggroe kelahiran Tiro (Pidie)  25 September 1925 dan baru menginjakkan kaki ke Tanah Rencong setelah seperempat abad lebih berada di Stockholm. Dia pulang pada Oktober 2008, setelah tiga tahun perdamaian Aceh ditandatangani di Helsinki, 15 Agustus 2005. more…

  • Share/Bookmark
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes