wisata aceh selatan
Aceh,  Traveling

Ketika Air Terjun dan Lautan Saling Berhadapan di Samadua, Aceh Selatan

Masya Allah cantiknya, spontan kata-kata itu terucap dari mulut saya ketika melihat objek wisata Aceh Selatan berupa air terjun bertingkat-tingkat yang ada di Kecamatan Samadua. Lidah ini belum berhenti berdecak kagum tatkala mengetahui di depan air terjun tersebut terdapat pantai yang berpasir putih dan lautan nan biru. Keduanya saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh jalanan beraspal.

wisata aceh selatan

Bisa menyaksikan pemandangan alam pegunungan dan lautan secara sekaligus dalam perjalanan bukanlah sesuatu yang asing di kawasan pesisir barat Aceh ini. Lihat saja bagaimana keindahan perbukitan Geurutee dan panorama laut di depannya. Demikian juga ketika kita melaju lebih jauh lagi ke Aceh Barat sampai Aceh Selatan. Laut dan gunung saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh badan jalan adalah sesuatu yang lumrah. Namun, alangkah terpesonanya saya ketika melihat ada air yang terjun dari bebukitan,mengalir di antara bebatuan besar, dan sampai ke lautan yang hanya berjarak beberapa meter di depannya. Dan itu ada di Desa Batee Tunggai, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan.

Baca juga: Ceuraceu Air Terjun Tersembunyi di Aceh Barat Daya

Akhir pekan lalu, saya dan keluarga memutuskan untuk mengunjungi tempat wisata Aceh Selatan. Jarak Kabupaten ini dari Aceh Barat Daya (Abdya) tidaklah jauh, sekitar 1,5 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Meskipun matahari agak terik pada hari itu, tetapi angin sepoi-sepoi pegunungan membuat kami tidak begitu kepanasan. Pun demikian dengan pemandangan alam di sepanjang jalan.

wisata aceh selatan
Pasir di air terju ie dingin Sama Dua berwarna putih kecoklatan, sama seperti pasir di pantai yang langsung berhadapan dengannya

Sawah-sawah yang masih hijau menjadi view yang menyejukkan saat kami melintasi Kota Tasawuf, Labuhan Haji. Dinamakan Kota Tasawuf karena disanalah tempat belajar ilmu tasawuf terbesar di Aceh. Pondok pesantren yang disebut juga dengan dayah bertebaran di sana. Ingin rasanya suatu hari berkunjung ke dayah yang mencetak ulama di Aceh itu dan melihat sendiri proses belajar dan mengajar di sana. Semoga suatu hari nanti niat tersebut bisa saya laksanakan.

Bang Tunis terus mengemudikan sepeda motor dengan kecepatan rata-rata. Kami pun melewati Meukek dan Sawang. Pemandangan di kedua kecamatan itu juga tak kalah indah. Sungai yang jernih dengan bebatuan besar mengalir tidak jauh dari jalan raya. Pun demikian dengan pantai berpasir putih, bisa dilihat langsung dari badan jalan.

wisata aceh selatan

Kami pun terus melaju melewati Samadua sampai ke Kota Tapaktuan.

Siang hari di akhir pekan, suasana Kota Naga tampak sepi. Hanya satu dua kendaraan yang berlalu lalang. Karena hari sudah dzuhur, kami memutuskan untuk shalat dan makan siang di salah satu rumah makan yang menjual olahan ayam. Setelah kewajiban shalat ditunaikan dan perut terisi, barulah kami merencanakan perjalanan berikutnya.

“Ke tapak naga aja,” usulku pada Bang Tunis, “kita kan belum pernah kesana.”

“Tapi Abang enggak tahu jalannya. Lagian panas kali hari ini, kasian Naqiya,” ucap Bang Tunis.

“Yaudah, kalau gitu kita mandi di air terjun Samadua aja.”

Sekitar 15 menit perjalanan dari Kota Tapaktuan, kami pun tiba di Desa Batee, lokasi air terjun tersebut. Letaknya tidak jauh dari Jalan Nasional, hanya beberapa langkah yang harus kita tempuh untuk bisa melihat langsung air terjun Samadua tersebut. Naqiya, putri kami langsung girang ketika saya menyampaikan kalau sebentar lagi ia bisa mandi-mandi disana.

Baca juga: Sabang, Destinasi Bahari yang Memikat Hati

Masyarakat Aceh Selatan menyebut kawasan wisata ini dengan sebutan Ie Dingin atau air dingin. Pun demikian dengan pantai yang di seberangnya dengan sebutan yang sama. Sehingga muncullah nama Pantai Air Dingin dan Air Terjun Samadua.

wisata aceh selatan
Air Terjun Samadua, Aceh Selatan

Pemandangan alam di sekitar air terjun ini sangat elok. Pepohonan tumbuh rindang di sekitar objek wisata ini.  Begitu juga dengan air yang berasal dari bukit barisan yang masih termasuk ke dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) itu, dingin dan segar. Ketika saya memasukkan kaki ke dalam sungai yang mengalir di bawahnya, rasanya seperti masuk ke dalam air es. Dingin.

Sambil menikmati segarnyanya air air terjun, saya bisa melihat langsung deburan ombak di pantai yang terletak di seberang jalan. Karena letak air terjun dan pantai yang sangat berdekatan, jangan heran kalau pasir di sungai pun berwarna putih seperti pasir pantai.

wisata aceh selatan

Berhubung waktu kami berkunjung ke sana adalah akhir pekan, maka banyak sekali orang-orang yang juga berdatangan ke objek wisata ini. Ada yang sekedar mandi-mandi seperti kami, ada juga yang membawa bekal makanan untuk di santap bersama-sama. Selain itu, di sana jua terdapat rumah makan dan cafe yang bisa disinggahi untuk mengisi perut atau sekadar melepas dahaga.

Hampir satu jam kami bermain air di Ie Dingin Samadua, tetapi Naqiya masih enggan diajak pulang.

“Tunggu. Bentar lagi ya, Ma,” ucapnya sambil terus menceburkan diri ke dalam sungai dangkal.

“Pulang dulu, yuk. Nanti, kita ajak Ayah ke sini lagi.”

wisata aceh selatan

Karena hari sudah sore, kami pun kembali ke Abdya. Seperti yang saya ucapkan kepada putri saya, bahwa nanti, ketika kesempatan itu datang lagi, saya ingin kembali ke Kota Naga ini, menelusuri tempat-tempat lain yang tidak kalah indah dan juga melihat langsung Tapak Naga, tempat yang sangat melegenda di wilayah ini.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

18 Comments

Leave a Reply to lingga permesti Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: