Wisata Palembang

Berkunjung ke Palembang belum lengkap rasanya kalau kita tidak mengunjungi tempat-tempat wisatanya dan mencicipi kuliner khasnya. Ibukota Provinsi Sumatera Selatan ini memiliki beragam tempat wisata yang bernilai historis dan aneka kuliner yang bikin nagih. Sungguh sangat disayangkan kalau sudah memijak Bumi Sriwijaya tetapi belum sempat jalan-jalan atau incip-incip.

Bayangan untuk jalan-jalan dan makan-makan pasti memakan waktu yang enggak cukup cuma sehari. Butuh dua atau tiga hari untuk bisa singgah di objek wisata andalan Palembang atau menikmati lezatnya masakan khas kota Pempek itu. Namun, bagaimana kalau kita hanya memiliki waktu sehari saja untuk melihat dengan jelas tempat Kerajaan Sriwijaya dulu berada? Entah itu karena melakukan perjalanan dinas, mengikuti seminar, atau transit?

Yuk Baca Juga Artikel Menarik Lainnya Di Sini

Itulah yang saya alami saat melakukan perjalanan dinas ke Palembang beberapa waktu yang lalu. Waktu yang saya miliki untuk pelisiran dan menyantap pempek hanya sehari. Lantas kemana sajakah saya dan apa saja yang saya lakukan dalam waktu satu hari itu? Berikut list wisata sehari saya selama di Palembang:

  • Memilih kendaraan

Awalnya saya ingin memesan taksi untuk mengantar saya mengelilingi kota Palembang. Tapi,tahu sendirikan kalau naik taksi itu ongkosnya mahal? Belum lagi jika banyak tempat yang kita kunjungi, maka argonya pasti bakal bengkak. Nah, kebetulan saya memiliki teman di Palembang, namanya Paramita, saya memanggilnya kak Mita. Kak Mita ini punya motor dan beliau dengan senang hati mengantarkan saya keliling kota Palembang dengan sepeda motornya. Karena pagi hari Kak Mita mengajar di Sekolah Alam Palembang, maka di sela-sela beliau mengajar, saya menggunakan fasilitas ojek online untuk jalan-jalan mengelilingi Kota Palembang.

  • Sarapan Burgo

Jam delapan pagi saya bertemu kak Mita di halte dekat rumahnya yang terletak di Cinde. Karena belum sarapan, kak Mita mengajak saya ke warung yang tidak jauh dari rumahnya. Menurutnya, warung yang kami kunjungi ini sangat sering dikunjungi oleh pendatang yang ingin menyantap Burgo, salah satu kuliner khas Palembang. Penasaran dengan Burgo (go dibaca seperti bo pada kata boneka), saya pun ingin mencicipinya yang ditemani dengan teh manis hangat.

burgo, makanan khas palembang
Burgo, perpaduan tepung beras, tepung sagu, kuah santan, dan ikan gabus
  • Jembatan Ampera

Usai menghabiskan sepiring burgo, kami pun melaju ke jembatan yang menjadi landmarknya kota Palembang. Belum ke Palembang kalau belum ke jembatan yang kepanjangan namanya adalah amanat perjuangan rakyat. Setelah mengambil beberapa foto, kami pun menuju Museum Sultan Badaruddin II yang letaknya berdekatan dengan jembatan.

jembatan ampera
Jembatan Ampera, salah satu ikon Kota Palembang
  • Museum Sultan Badaruddin II

Saat memasuki gerbang museum, saya melihat puluhan arca di sekelilingnya. Ada patung ganesha, budha,dan lainya. Kak Mita menjelaskan bahwa patung-patung tersebut adalah peninggalan zaman kerajaan sriwijaya. Karena sedang direnovasi, saya pun hanya bisa berpuas diri melihat museum yang namanya juga disematkan menjadi nama bandara sumatera selatan ini dari luar

  • Benteng Kuto Besak

Tidak jauh dari jembatan Ampera dan Museum Sultan Badaruddin II juga terdapat objek wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan. Namanya Benteng Kuto Besak dan orang Palembang menyebutnya dengan BKB. Kuto Besak ini merupakan pusat Kesultanan Palembang pada abad XVIII. Menurut cerita kak Mita, untuk merekatkan batu bata pada benteng ini, semen yang digunakan adalah batu kapur yang dicampuri dengan putih telur. Butuh waktu 17 tahun untuk membangun benteng yang kini ditempati oleh Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya.

  • Mesjid Agung Palembang

Berjalan sekitar seratus meter dari Museum Sultan Badaruddin II, di sana kita akan menemukan mesjid raya atau yang disebut dengan mesjid agung Palembang. Sempat saya salah sebut pada suatu hari saya menumpang taksi dan minta diantar ke mesjid ini. Karena di Aceh biasanya kami menyebut mesjid besar dengan mesjid raya, maka saya pun mengatakannhal serupa ke pada supir talsi dan itu cukup membingungkannyasampai akhirnya saya sadar bahwa yang saya maksud adalah mesjid agung.

Di seberang jalan sisi kiri mesjid terdapat juga objek wisata sejarah yaitu monpera. Monumen perjuangan rakyat. Monumen itu merupakan simbol perjuangan rakyat palembang terhadap penjajahan. Sedangnya di sisi kanan mesjid terdapat monumen seag ame 2010. Yup palembang oernah menjadi tuan rumah perhelatan akbar se asia tenggara dan tahun 2018 nanti kembali akan menjadi tuan rumah untuk acara yang lebih besar dan dahsyat lagi yaitu asian games

  • Makan siang

Untuk makan siang saya memutuskan menyantap aneka kuliner khas Palembang di Pasar 26 Ilir. Di sana saya melihat beragam kerajinan tangan khas Palembang diukir dan diperjualbelikan. Tidak hanya itu, puluhan gerai pempek pun dibangun di sepanjang jalan pasar tersebut. Kalau mau mencicipi pempek dan keturunannya dengan harga yang murah meriah, disinilah tempatnya.

  • Kelenteng Dewi Kwan Im

Puas menyantap pempek, tekwan dan aneka olahan ikan tenggiri, perjalanan pun berlanjut. Kali ini menyebrangi sungai musi lewat jembatan Ampera. Tujuan saya adalah Kelenteng Dewi Kwan Im. Kelenteng yang bernama asli Tri Dharma Candra Nadi ini dibangun pada masa Kesultanan Palembang Darussalam yakmi tahun 1773. Letaknya tepat di bantaran Sungai Musi atau di Jalan Perikanan 10, Ulu Palembang.

A photo posted by Liza Fathia (@lizafathia) on

  • Mesjid Chengho

Menjelang magrib, saya menuju mesjid Cheng Ho. Seperti yang kita ketahui, penyebaran Islam tidak hanya dilakukan oleh bangsa Arab dan India melainkan juga oleh Bangsa Tionghoa. Begitupun dengan Palembang, agama Isla disebarkan oleh pedagang dari Arab dan Cina. Salah satu bukti Islam disebarkan oleh bangsa Cina adalah  kedatangan Cheng Ho. Ya, Kedatangan Laksamana Cheng Ho bersama armadanya ke Palembang, selain untuk membantu Kerajaan Sriwijaya dalam menumpas perompak yang sangat meresahkan warga, juga untuk menyebarkan agama Islam. Untuk mengingat jasa Cheng Ho pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumsel, dan serta tokoh masyarakat Tionghoa di sekitar Palembang memprakarsai pembangunan mesjid yang diberinama Mesjid Muhammad Cheng Ho ini.

A photo posted by Liza Fathia (@lizafathia) on

  • Gelora Sri Wijaya

Sebenarnya saya ingin mengunjungi Gelora Sri Wijaya pada sore hari, tetapi karena terbatasnya waktu, saya hanya bisa melihat kemegahan arena Asian Games 2018 ini pada malam hari. Ya, bisa dibayangkan sendiri apa yang bisa saya saksikan di tengah gelapnya malam. Tapi tidak masalah, yang penting kaki saya sudah menginjak gelora ini.

  • Makan malam

Asyik jalan-jalan semalaman, perutku pun mulai keroncongan. Untuk mengganjalnya, saya membeli makanan ringan terlebih dahulu di sebuah swalayan. Banyak sekali swalayan di Kota Palembang, Alfamart yang memiliki situs www.alfamartku.com misalnya juga ada di kampunya wong kito ini. Kalau dilihat dari sejarahnya, Alfamart didirikan pada tahun 1989, sebagai perusahaan perdagangan skala kecil & bisnis distribusi, kemudian pada tahun 1999 memasuki sektor ritel melalui format minimarket dengan nama merek “Alfamart”. Saat ini Alfamart merupakan salah satu pengecer Indonesia terkemuka, melayani lebih dari 2 juta pelanggan setiap hari, dan lebih dari 5.700 toko swalayan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Setelah mengganjal dengan camilan, saya menuju river side yang tidak jauh dari jembatan Ampera. Di sana saya memesan bebek garang yang terkenal dengan rasanya yang pedas. Sambil menyantap lezatnya makan malam, saya bisa menikmati indahnya sungai musi dan kerlip lampu di Jembatan Ampera.

Bebek Girang Palembang
Makan malam bersama teman-teman di Bebek Girang Palembang sambil melihat view sungai Musi dan jembatan Ampera

Hari pun mulai larut, itu artinya saya harus segera kembali ke penginapan. Lelah telah menghampiri dan rasanya ingin segera beristirahat. Tapi saya puas karena telah mengelilingi Palembang walau hanya di kotanya saja. Semoga ada kesempatan ketiga untuk berkunjung ke Bumi Sriwijaya ini, dan ada kesempatan untuk bertandang ke Pulau Kemaro.

Published by Liza Fathia

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

Join the Conversation

23 Comments

  1. Ke Palembang cuma mampir saja atau hanya lewat, cuma bisa mupeng kalau ada cerita-cerita tentang Palembang 🙂

  2. Wihh. Sudah lama tak main ke palembang. Pingin makan2 dan halan2 lagi seharian penuh.. rute dan pilihan halan2 mba liza oke punya nih..

  3. Pingback: Kenapa Harus ke Palembang? Simak Alasan Blogger Perempuan Aceh ini - Safariku.com
Leave a comment

Leave a Reply to Ridhwan Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: