TENTANG AWAK KABIN, PENUMPANG, DAN BARANG BAWAAN PESAWAT
Guest Post,  Opini,  Traveling

Tentang Awak Kabin, Penumpang, dan Barang Bawaan Pesawat

TENTANG AWAK KABIN, PENUMPANG, DAN BARANG BAWAAN PESAWATIni sebenarnya masalah klasik dalam industri penerbangan komersial. Kami, para awak kabin, hampir dipastikan setiap hari berhadapan dengan penumpang yang mungkin atas ketidaktahuan mereka sering menyalahkan awak kabin terkait barang bawaan yang diangkut ke dalam kabin pesawat (carry-on baggage). Mulai dari koper yang tidak muat di kompartemen penyimpanan (karena saking gedenya dan ‘lolos’ dari pengawasan petugas darat), tas-tas ‘mahal’ yang tak mau jauh dari pangkuan si empunya, hingga boks oleh-oleh yang kadang didesain ‘aneh’ dan masuk dalam jumlah banyak.Barang-barang penumpang yang masuk ke kabin ataupun kargo tentu telah memenuhi standar keselamatan dan keamanan penerbangan. Namun, khusus untuk barang bawaan kabin, tetap saja timbul beberapa permasalahan akibat ketidakmengertian penumpang. Pernah melihat penumpang membawa tropi juara entah apa setinggi lebih satu meter dengan diameter yang ‘aduhai’, dan ybs tidak mau memasukkannya ke kargo? Nah, itu salah contoh.

Untuk itulah perlu rasanya saya memberikan sedikit klarifikasi mengenai persoalan bagasi penumpang serta tugas dan tanggungjawab awak kabin terkait hal tersebut.  Semoga ke depannya para penumpang pesawat udara bisa lebih bijak dan mengerti tentang betapa pentingnya mematuhi aturan yang telah dibuat. Karena di udara, hal-hal yang mungkin dianggap sepele ketika di darat bisa berujung fatal. Masing-masing penumpang diharapkan well-informed dengan aturan-aturan di pesawat terbang, karena ketidaktahuan satu orang bisa berdampak ke penumpang lain dan bisa mengancam keselamatan penerbangan secara keseluruhan.

Berapa ukuran bagasi yang diperbolehkan di bawa ke kabin?

Masing-masing operator penerbangan mungkin memiliki kebijakan yang berbeda-beda mengenai ukuran ‘ideal’ bagasi kabin, namun standar yang ditetapkan oleh maskapai seperti Garuda Indonesia adalah bahwa berat barang bawaan tersebut tidak boleh melebihi  7 (tujuh) kilogram saja. Dengan skala matematis: 56 cm x 36 cm x 23 (panjang, tinggi, lebar). Dengan ukuran dan berat tersebut, maka diasumsikan penumpang bisa dan mampu ‘mengurus’ bagasinya sendiri tanpa harus meminta bantuan dari awak kabin. (Mungkin Anda akan berkomentar, lha terus tugas awak kabin apaan dong kalau nggak membantu penumpang? Tunggu dulu, Mba, Mas, Bapak, Ibu, nanti akan saya jelaskan di bagian tersendiri. Jangan buru-buru emosi begitu)

Bagaimana dengan kenyataan di lapangan? Tentu saja sangat berbeda. Ada memang beberapa penumpang yang menaati aturan ini, namun sialnya ‘jatah’ mereka pun tak jarang ‘diserobot’ oleh penumpang lain yang membawa barang bawaan tak sedikit – yang seharusnya dimasukkan ke kargo.  Anehnya, banyak yang ‘ngotot’ ketika bagasi kabin mereka tak bisa masuk ke luggage bin dan memaksa ground staff memindahkan barang-barang penumpang lain, asal bagasi mereka bisa masuk. Kejadian ini tak jarang membuat jadwal penerbangan terpaksa delayed.

Siapa yang kemudian disalahkan? Jelas maskapai penerbangan ybs. Padahal ini salah siapa? Anda tentu sudah dewasa untuk bisa menjawabnya sendiri.

Penumpang ekonomi, gaya first class 

Hal lain yang jamak terjadi terkait bagasi penumpang ini adalah penumpang yang tiba-tiba ‘manja’ dan ‘lemah-tak-berdaya’ begitu sampai di kabin. Mereka yang semula tampak berjalan dengan gagah berani dan anggun bak srikandi, entah kenapa langsung berubah ‘loyo’ dan tak bisa mengurusi bagasinya sendiri. Maka, awak kabin pun dijadikan sasaran “Mas, Mba, tolong dong angketin koper saya.” (Iya kalau cara nyuruhnya sopan. Eh, kalau main perintah gimana? Kalau minta tolong trus ninggalin koper dengan gesture minta awak kabinnya yang ngangkat sendiri gimana? Nggak mungkinlah penumpang Indonesia seperti itu, mungkin otak ngeyel Anda berbisik. Lihat dulu kenyataan di lapangan. Banyak orang kita yang karena tiket yang sedikit lebih mahal merasa telah membeli seisi pesawat plus para awak kabinnya. Belinya tiket ekonomi, gayanya malah first class. Begitu tuh kelakuan saudara-saudaramu. Moso iyo? Lha masih ngeyel. Ntar lihat aja ndiri kalau naik pesawat).

Baca : Ini Dia 5 Kebiasaan Buruk Penumpang Saat Naik Pesawat

Awak kabin tentu akan dengan senang membantu Anda menaikkan koper ke kompartemen, jika memang dirasa Anda memerlukan bantuan. Kami, awak kabin, akan melakukan passenger profiling pada saat boarding, yang salah satu tujuannya adalah untuk memberikan bantuan sesegera mungkin jika dibutuhkan. Apabila Anda bukan seorang lansia, ibu hamil atau menyusui, anak kecil yang bepergian sendiri (unaccompanied minor), difabel, atau sedang sakit-sakitan, alangkah baiknya Anda bertanggungjawab atas barang bawaan Anda sendiri. Malu dong ama badan gede dan fisik yang sempurna itu!

Exit row seat harus steril

Exit row seat adalah kursi penumpang yang terletak sejajar dengan lokasi pintu darurat. Seat pitch kursi bagian ini sengaja dibuat lebih lega untuk memudahkan akses evakuasi ketika situasi emergency berlangsung. Makanya area ini juga sering disebut ‘emergency exit row’.

Dalam situasi emergency, semua pintu pesawat memegang peranan penting dalam proses evakuasi penumpang. Peraturan penerbangan internasional mensyaratkan bahwa dalam situasi bahaya, penumpang harus bisa dievakuasi dalam waktu 90 detik. Catet, Mas dan Mba, hanya dalam hitungan detik. Anda tentu bisa membayangkan apa yang terjadi ketika barang-barang penumpang yang ‘ngeyel’ ini tetap diletakkan di area steril ini. Proses evakuasi jelas akan terkendala. (Lha, kan itu bisa diambil oleh penumpang ybs, mungkin Anda akan beralasan seperti itu. Hehe. Singkirkan pikiran ngacomu itu, Nak. Dalam situasi bahaya, tidak panik dan bisa menyelamatkan diri sendiri saja sudah syukur, boro-boro mengambil barang bawaan).

Apa Anda mau bertanggungjawab jika ada penumpang yang tidak bisa atau gagal dievakuasi gara-gara kesangkut tas jinjing Anda yang mahal itu? Jadi Ibu-ibu sosialita bertas Gucci atau LV (baik asli maupun KW) tolong patuhi aturan yang ada.

Penumpang yang duduk di exit row seat pun harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, seperti harus sudah berumur minimal 15 tahun, tidak memiliki cacat fisik, tidak menderita obesitas, bukan lansia dll yang tentu semuanya bertujuan untuk keselamatan bersama. Para penumpang yang duduk di bagian emergency ini akan diminta kesediaannya membantu membuka jendela darurat apabila pesawat mengalami gangguan dan kapten memberikan aba-aba “evacuate evacuate”. Jadi jika karena kakhilafan petugas check-in counter Anda mendapat tempat duduk di bagian emergency ini, dan setelah di-assess oleh awak kabin dan ternyata Anda tidak layak untuk dijadikan ABP (able-bodied passenger), maka terimalah dengan lapang dada.

Jangan taruh bagasi di kursi kosong!

Selain kompartemen di atas kursi penumpang, barang bawaan kabin bisa diletakkan di bawah kursi (artinya adalah di kolong kursi depan). Standar keselamatan pun mengharuskan barang bawaan yang diletakkan di bawah kursi ini tidak akan menganggu proses evakuasi (ujung-ujungnya tetap safety first). Jadi peletakkannya pun tidak boleh sembarangan. Harus benar-benar masuk ke kolong kursi dan tidak ‘menjalar’ ke bagian kaki, apalagi ke aisle (lorong kabin). Jika kebetulan ada kursi kosong di samping Anda, sebaiknya jangan tergoda untuk menaruh barang bawaan Anda di sana. Percayalah, Anda akan menyesal ketika misalnya pada saat turbulensi dan atau pesawat mendarat darurat dan lampu kabin mati total, kaki Anda tersangkut tas atau kantong atau apapun yang adalah barang bawaan Anda sendiri. Lalu Anda jatuh ke aisle, sementara penumpang yang lain berhamburan panik dan kepala Anda diinjak-injak oleh ratusan orang. Anda tentu tak ingin hal tersebut menimpa Anda. Jadi, jadilah bijaksana.

Nah, sekarang, sesuai dengan janji saya di bagian awal tulisan ini, akan saya jelaskan kepada Anda siapa dan mengapa awak kabin harus ada di pesawat. Tolong disimak baik-baik. Jadilah pembaca yang penyabar.

Siapa itu awak kabin?

Menurut CASR (Civil Aviation Safety Regulation), awak kabin adalah “crewmember who performs, in the interests of safety of pasanger, duties assigned by the operator or the pilot in command of the aircraft, but who shall not act as flight crewmember”.

Tak perlu Anda copy paste definisi ini dan menerjemahkannya di Google translate, karena intinya terletak pada bagian ‘in the interests of safety of passenger’. Bahwa awan kabin ditugaskan mendampingi Anda selama penerbangan tak lain dan tak bukan adalah untuk memastikan KESELAMATAN ANDA, wahai para penumpang yang terhormat. Jika pada maskapai full service Anda juga dilayani oleh awak kabin dalam hal cabin service seperti penyajian makanan dan minuman, maka anggaplah itu sebagai bonus, bukan hal utama yang harus Anda koar-koarkan ketika tidak memenuhi keinginan Anda; bukan hal yang harus Anda komplain habis-habisan apabila kebetulan layanan yang diberikan tidak berkenan di hati Anda. Kecuali, ya harus saya tegaskan, kecuali jika Anda menganggap perut kenyang dan ‘kelakuan manja’ Anda lebih penting daripada nyawa Anda sendiri.

Safety training dan skill yang harus dikuasai oleh para awak kabin

Sebelum diterjunkan sebagai awak kabin dan ‘melenggak-lenggok dengan senyum manis penuh keramahtamahan di kabin’ – setidaknya seperti anggapan Anda selama ini – para awak kabin harus melakukan berbagai pelatihan mengenai safety, seperti cara memadamkan api ketika terjadi kebakaran di pesawat, cara penanganan bom atau ancaman pemboman, prosedur ketika pesawat dibajak, prosedur penyelamatan penumpang baik di air (ditching) maupun di darat (terrain), hingga cara mencari bantuan penyelamatan ketika terjadi keadaan darurat dan pesawat mendarat darurat di area yang jauh dari ‘peradaban’. Awak kabin yang bertugas pasti telah lulus jungle survival training, dimana mereka dididik oleh militer untuk bertahan hidup di segala medan dan cuaca. Anda pernah tidur di sebuah pulau terpencil di tengah danau dalam kucuran air hujan dan ‘kasur’ Anda adalah tanah berlumpur? Anda pernah merakit perahu dalam hitungan sekian menit dengan peralatan ala kadarnya? Anda pernah menangkap ular dan tahu cara memisahkan bisa dari dagingnya?

Selain itu, awak kabin juga dibekali dengan pengetahuan medis, seperti memberikan CPR (napas buatan) atau yang terbaru cara menggunakan BVM, penanganan pasca turbulensi, atau memberikan bantuan pertama pada penumpang. Bahkan pernah ada pramugari yang menjadi ‘bidan’ ketika seorang penumpang tiba-tiba melahirkan di pesawat yang tengah cruising.

Untuk keperluan keamanan di kabin selama terbang, awak kabin juga dibekali dengan sedikit skill ‘pertahanan diri’, bagaimana menghadapi penumpang rese (unruly passenger).

Dalam simuasi penyelamatan penumpang (drill), awak kabin dituntut untuk mengintegrasikan semua pengetahuan dan keahlian tersebut. Mereka akan ditempatkan di mock-up, lalu skenario emergency akan dilangsungkan tanpa clue apapun. Dalam gelap gulita, di tengah pesawat yang berguncang, dan teriakan penumpang yang sedang panik, awak kabin dituntut untuk selalu tenang dan fokus. Mereka harus familiar dengan semua perlengkapan pendukung penerbangan (emergency equipments), mulai dari cara pengecekan pada saat sebelum terbang (pre-flight check), lokasi, cara penggunaan hingga memastikan bahwa perlengkapan tersebut dibawa serta pada saat evakuasi.

Medical examination rutin

Tugas dan kewajiban yang seabrek yang tidak ringan itu tentu tidak berjalan lancar jika tidak didukung oleh fisik dan stamina yang fit. Untuk itu, awak kabin secara rutin menjalani pemeriksaan kesehatan yang langsung ditangani oleh dokter khusus penerbang. Pemeriksaan holistik yang dilakukan terhadap awak kabin juga didukung oleh pemeriksaan darah dan urine pada waktu-waktu tertentu secara acak di station manapun, sekadar memastikan bahwa awak kabin yang terbang tidak mempunyai potensi serangan penyakit yang bisa mengganggu keselamatan penerbangan.

Jika kadar kolestrol tinggi, atau tekanan darah tidak normal, maka awak kabin akan ‘dibebastugaskan’ (grounded) sampai benar-benar sembuh – sampai benar-benar prima untuk kembali bekerja.

Awak kabin bukanlah profesi ‘senyum-jalan-pose’ seperti yang Anda bayangkan. Kami bertugas untuk memastikan KESELAMATAN ANDA selama berada di pesawat. Jadi tolong singkirkan segala KESOMBONGAN dan KEANGKUHAN Anda sebagai penumpang.

Jadilah penumpang yang cerdas. Jangan jadi penumpang temperamental yang ‘senggol-dikit-langsung-bacok’ seolah-olah Anda adalah manusia paling patut dihormati di muka bumi ini. Anda sopan dan tahu aturan, kami siap memberikan yang terbaik demi keselamatan Anda. | Afri Meldam, Flight Attendants Garuda Indonesia Airline dan Penulis Kumcer Hikayat Bujang Jelatang.

  • Silakan dishare jika Anda rasa artikel ini bermanfaat

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

16 Comments

  • April Hamsa

    Ngomong2 soal keangkuhan penumpang, dulu pernah terbang dr Jkt ke Banjarbaru ada penumpang ibu2 yg ditegur pramugari krn anaknya mainan game. Maksudnya gamenya dimatikan dulu krn masuk barang elektronik yg ganggu sinyal. Trus ibunya keukeuh gk mau ngalah. Sampai pas mau landing, lampu dimatikan, pas lampu nyala tu ibu2 dan anak2nya udah gk ada lg di tempat krn mereka ingin cepat2 turun. Weleh…

    Oh iya Mbak Liza pernah jd petugas medis utk maskapai pesawat terbang kah?

  • Nur Aliah

    Belum pernah naik pesawat tapi ini jadii informasi yang pentinh banget…wah ga nyangka ya tugas awak kabin itu luuuaar biasaaaaa

  • rita asmaraningsih

    Aku pernah bawa koper yang berat karena isinya berkas2 ps dinas ke Jakarta.. Untungnya sang Pramugari baik banget mau bantuin naikin koper ke atas kabin.. Karena berat ada seorang pnumpang yang ikut bantuin kala itu.. Dalam hati aku merasa bersalah telah merepotkan orang lain..

  • Khoirur Rohmah

    belum pernah ngerasain gimana naek pesawat terbang mbak.

    tapi klo liat di tipi2 awak kabin emang terlihat kalem. tapi ternyata tugas yg dibebankan kpada mereka jauh lbih besar. penempaan mereka juga. wihhh
    kudu bener2 jadi penumpang yg cerdas nih mba 😀

  • Ophi Ziadah

    untuk barang bawaan, tiap2 pesawat ternyata beda2 aturannya yaa.
    harus diperhatiakn betul apalagi utk penerbanagn n pesawat ke luar negeri. selain ukuran banyaknya tas yg di bawa ke kabin n bagasi beda2 harus bener2 ngeh…
    drpd barang gak bisa keangkut krn ga tahu aturan maskapai yg bersangkutan kan repot

  • Rach Alida Bahaweres

    Aku pernah punya pengalaman bawa pancake duren dalam keadaan beku ditolak masuk kabin. Alasan makanan nggak boleh. Bahkan ada yang kue bolu pun nggak bisa masuk bagasi. Itu pas aku di Medan, mba. Jadi kesel. Untung makananku baik2 saja

  • Reyhan Ivandi

    Walau cuman pernah dua kali naik pesawat sewaktu SD dulu alhamdulillah dengan adanya postingan ini jadi lebih paham dan lebih ‘berilmu’ jika hendak berangkat dengan pesawat lagi.

  • Travel Dieng

    Postingan yang sangat bermanfaat kak. Waduh saya juga pusing kalau lihat sebelahnya masih nenteng-nenteng tas dan kebanyakan memang masih pada naruh tas di depan kaki. capek Dech 🙂

  • evrinasp

    waktu ke ternate kemarin aku masukin koper kecil ke bagasi kabin, soale ngikutin temen, pantesan temen ku yg ngerti agak marah, ternyata cuma boleh 7 kg aja ya hehe, oke noted

  • Tony

    Sekarang kalau kondisi nya kita balik.. Awak kabin malah membawa bagasi yg lewat dari ketentuan.. Itu bagaimana?
    Dan saat ini saya terbang menggunakan sriwijaya.. Ada juga pilot dan awak kabin yg seperti penumpang ikut dalam penerbangan ini.. Bagasi mereka yg memenuhi kompartement..
    Sedangkan bagasi penumpang harus diletak pada kompartement yg jauh dari tempat duduk nya..
    Harus nya bagasi awak kabin yang harus di bagasikan.. Anda pernah lihat kan bawaan awak kabin? Pasti lebih dari 1 koper yg mereka bawa..

Leave a Reply to Liza Fathia Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: