tapaktuan
Aceh,  Traveling

Tapaktuan, Kota Naga nan Melegenda

Tapaktuan Aceh

Tapaktuan, sejak dulu saya ingin sekali berkunjung ke kota yang terkenal dengan legenda Tuan Tapa dan naga yang memelihara bayi raja. Karena cerita rakyat tersebut, pesisir Aceh ini juga disebut dengan Kota Naga. Dan sejarah penamaan ibu kota Aceh Selatan ini pun tidak terlepas dari hikayat yang begitu melekat di hati dan pikiran masyarakatnya, Tapaktuan, julukannya berasal dari sebuah telapak kaki sang Tuan Tapa yang bekasnya bisa kita lihat di kaki Gunung Lampu.

Baca juga: Ketika Air Terjun dan Lautan Bertemu di Aceh Selatan

Beruntung, beberapa waktu yang lalu saya memiliki kesempatan bertandang ke Tapaktuan. Perjalanan ke kota yang juga terkenal dengan pala dan nilam yang dihasilkannya memang membutuhkan waktu yang lama. Jika berangkat dari Banda Aceh, maka kita akan menghabiskan waktu di jalan selama kurang lebih 8-9 jam. Banyak sekali pilihan transportasi yang bisa dipilih untuk tiba di Tapaktuan, mulai dari mobil penumpang L300, mobil rental, dan jet bus full AC. Rata-rata mobil penumpang tersebut berangkat pada malam hari sehingga kita bisa memanfaatkan waktu untuk beristirahat selama perjalanan. Namun, kalau ingin melihat indahnya panorama alam pesisir barat-selatan Aceh, kita bisa merental mobil dan memilih waktu sesuai kehendak kita.

Tapaktuan Aceh

Selamat Datang di Kota Naga, begitulah ucapan selamat datang terpampang di pusat kota Tapaktuan ini. Tugu yang berbentuk ornamen naga dan telapak kaki raksasa menjadi kekhasan kabupaten ini. Perjalanan yang melelahkan terobati sudah dengan pesona alam Aceh Selatan yang elok dipandang. Laut biru dengan pasir putih yang memancarkan kilauan cahaya alibat terpaan sinar sang surya membuat kepenatan sirna seketika. Ditambah lagi dengan tiupan angin sepoi-sepoi dari pegunungan yang masih termasuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser membuat siang yang terik terasa sejuk.

Bertandang ke Tapak Tuan Tapa dan Mendengar Legenda Kota Naga

β€œSaya ingin ke tapak Tuan Tapa, bagaimana caranya agar saya bisa sampai kesana?” tanyaku pada seorang ibu yang kutemui di pinggir jalan. Ia lalu menjelaskan bahwa saya harus berjalan lurus melewati bundaran kota dan Mesjid Jamik. Lalu berbelok kanan menuju pasar Tapaktuan. Di ujung jalan, saya akan menemukan perkantoran dan dari dari jalan di samping kantor itulah objek wisata tapak Tuan Tapa berada.

Ketika mendengar pasar, maka yang terbayang adalah kerumunan orang-orang yang sedang melakulan transaksi jual beli. Hm, sudah pasti jalanan akan padat merayap lebih-lebih hari itu adalah hari Minggu, pikir saya. Tetapi setelah berjalan sesuai dengan petunjuk dari wanita itu, pasar Tapaktuan yang saya jumpai jauh dari bayangan. Tidak ada keramaian di sana. Yang ada hanyalah deretan toko yang sebagian nya masih berkontrukai kayu dan hampir semua pintunya tertutup. Hanya ada beberapa toko yang buka, seperti toko kelontong dan warung makan. Kerumunan yang saya pikirkan sama sekali tidak ada, jalanan sangat lenggang, hanya satu dua kendaraan yang terlihat mondar mandir di bandan jalan.

Baca juga: Gua Batee Meucanang, Objek Wisata Gua di Aceh Selatan

Tapaktuan Aceh

Gapura bertuliskan Selamat Datang di ODTW* Tapak Tuan Tapa Gunung Lampu Kecamatan Tapaktuan menandakan bahwa saya sudah tiba di kawasan tujuan. Saya pun masuk ke dalam melalui jalanan kecil yang hanya memuat satu mobil. Tidak jauh dari gapura itu, tampak beberapa kios dan warung makan. Di sana juga terdalat tanah lapang yang dijadikan sebagai tempat memarkirkan kendaraan. Tepat di depannya, ada sebuah tugu berbentuk tapak kaki didirikan. Tugu ini langsung berbatasan dengan lautan. Di tugu tersebut, terdapat penjelasan tentang sejarah Tapaktuan ini.

Sejarah Tapaktuan

Tugu tapak Tuan Tapa itu mengingatkanku akan sejarah Tapaktuan yang pernah saya baca di buku yang berjudul Legenda Tapaktuan, Kisah Naga yang Memelihara Bayi Raja karangan Darul Qutni Ch. Kisah tentang seorang laki-laki yang setiap hari hanya bertapa dan berzikir kepada Allah. Lelaki itu hidup di sebuah gua di Aceh Selatan dan dijuluki dengan Tuan Tapa. Ada yang mengatakan kalau Tuan Tapa memiliki tubuh yang besar, tetapi ada juga yang meriwayatkan jika ukuran tubuh Tuan Tapa sama seperti manusia biasa tetapi beliau memiliki kesaktian untuk menjadikan tubuhnya besar layaknya raksasa.

Kali ini, kisahnya kembali diceritakan oleh Khairil, pemandu wisata yang menemani perjalananku selama berada di objek wisata Tapak Tuan Tapa ini.

β€œSuatu hari, sepasang naga yang berasal dari Negeri Cina datang ke gua tempat Tuan Tapa berada. Naga jantan dan betina tersebut diusir dari negerinya karena tidak memiliki keturunan. Konon, bangsa mereka percaya bahwa naga yang tidak memiliki anak dianggap sebagai pembawa sial dan malapetaka. Keduanya baru bisa kembali ke kampung halamannya jika mereka bisa memiliki keturunan. Karenanya, naga tersebut meminta izin kepada Tuan Tapa agar bisa menetap di sana. Atas izin dari Tuan Tapa, naga itu pun tinggal di sebuah lembah bukit yang dikenal dengan Bukit Naga.”

Saat sedang berenang di lautan, sepasang naga itu menemukan bayi perempuan yang mengapung dalam keranjang yang terbuat dari rotan di tengah-tengah laut. Putri ini adalah anak dari raja dari Kerajaan Asralanoka,di dekat pulau India. Naga itu pun membawa pulang bayi tersebut dan merawatnya bersama Tuan Tapa. Putri ini pun diberi nama Putri Naga.

Mengetahui putri bungsunya masih hidup dan dirawat oleh sepasang naga, Raja Asralanoka bertandang ke Aceh Selatan untuk meminta kembali putrinya yang hilang. Sayangnya, kedua naga tersebut tidak mau memberikan sang putri karena mereka hendak membawanya ke Negeri Cina.

Tuan Tapa pun tidak tinggal diam dan membujuk pasangan naga itu untuk menyerahkan sang putri. Dan kedua naga itu tetap enggan menyerahkan sang putri. Akhirnya, terjadilah pertempuran antara naga dan Tuan Tapa dan pertempuran tersebut dimenangkan oleh sang Tuan. Tubuh kedua naga tersebut hancur berkeping-keping dan terdampar di lautan. Pecahan tubuh naga tersebut menjadi asal muasal terbentuknya pulau-pulau lain di Aceh Selatan ini. Sang putri yang diberi nama Putri Bungsu pun kembali kepangkuan orang tuanya yang memutuskan untuk menetap di Aceh Selatan. Tidak lama kemudian Tuan Tapa jatuh sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya. Ia dikuburkan di Gunung Lampu. Tapaknya yang tersisa saat melawan naga menjadi objek wisata yang dikunjungi oleh banyak wisatawan lokal dan luar daerah.

Sambil mendengar Kharil bercerita, saya lalu berjalan menaiki anak tangga kecil menuju bukit Gunung Lampu. Di belakang bukit itulah tapak Tuan Tapa berada. Ketinggian bukit ini sebenarnya tidak seberapa tetapi mampu membuat nafas saya ngos-ngosan. Dari anak tangga itu saya bisa melihat indahnya laut biru. Pun dekikian denngan bebatuan hitam yang menjadi benteng pertahanan dari abrai laut semakin mempercantik tempat ini. Dari bukit ini juga saya bisa melihat Pelabuhan Tapaktuan. Indah sekali.

Setelah berjalan beberapa meter, tapak Tuan Tapa belumlah terlihat. Ternyata saya harus mendaki bebatuan besar untuk tiba ke sana. Saya harus berhati-hati saat memanjat bebatuan besar yang licin karena terpaan ombak lautan. Salah-salah saya bisa terpeleset dan terjatuh.

Akhirnya setelah berjuang, saya pun tiba di sebuah pondok yang dibangun oleh Dinas Pariwisata setempat untuk pengunjung yang ingin melihat tapak Tuan Tapa. Dari pondok itu, saya bisa melihat sebuah telapak kaki raksasa yang tergenang air. Semakin lama melihatnya dari kejauhan saya semakin penasaran untuk melihatnya dari dekat. Saya pun mengikuti beberapa orang laiki-laki yang menuruni bebatuan raksasa untuk melihat tapak dari dekat.

Voila, akhirnya saya bisa merasakan langsung air laut yang tergenang di dalam telapak kaki raksasa. Saya juga bisa melihat beberapa ekor ikan kecil yang saling berkejaran di dalamnya. Beberapa orang mengambil air itu dan membasuh wajahnya sembari berdoa. Ya, banyak yang mengatakan kalau tapak ini keramat dan air di dalamnya bisa menyembuhkan penyakit.

Tapaktuan Aceh

Sayangnya, tapak Tuan Tapa ini sudah tidak berwujud bentuk aslinya lagi. Tapak Tuan Tapa tampak seperti semen yang diukir sehingga menyerupai telapat kaki. Awalnya saya meragukan keaslian tapak itu, tetapi setelah dijelaskan oleh pemandu di sana jika tapak tersebut sengaja disemen agar tidak hilang digerus ombak lautan keraguan saya pun sirna.

*ODTW: Objek dan Tempat Wisata

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

89 Comments

Leave a Reply to dianravi82 Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: