Kuliner,  PhotoBlog

Rendang Jengkol yang Menggugah Selera

Jengkol?!? Mendengar nama buah ini pasti banyak orang yang langsung merasa illfill. Bayangan akan bau mulut, bau kencing, keringat, dan BAB yang ditimbulkan setelah mengonsumsinya menjadikan banyak dari kita yang enggan mendekati buah khas Asia Tenggara ini. Padahal, rasa jengkol sangatlah lezat dan bikin ketagihan. Apalagi jika disemur atau direndang.

Rendang Jengkol yang menggugah selera
Rendang Jengkol yang menggugah selera

Agar kelezatan rasanya tidak dikalahkan oleh baunya yang menyengat, maka para penikmat jengkol seakan tidak kehilangan ide untuk mengolah buah dari tanaman polong-polongan ini sehingga menghasilkan jengkol yang tidak menyebabkan bau mulut atau bau kencing. Bagaimana caranya?

Ada yang mengolah jengkol dengan merebusnya berkali-kali (biasanya 3 kali) sampai jengkol terasa empuk dan mencampurkan daun jeruk ke dalam air rebusan. Saat merebus, air rebusan yang telah berkurang dibuang dan diganti air yang baru. Baru setelah itu jengkol direndang, disemur, atau disambal.

Ada juga yang merebus jengkol sekali saja dan langsung mengolah jengkol tersebut sesuai dengan selera. Namun, cara ini masih menimbulkan bau mulut saat jengkol disantap. Nah, untuk menghilangkan bau mulut tersebut, para penikmat jengkol mengonsumsi mentimun atau vitamin B kompleks. Terbukti, bau mulut dan bau kencing hilang ketika mengkombinasikan jengkol dengan mentimun atau vitamin B kompleks tersebut.

Nah, beberapa waktu yang lalu, ketika berbelanja ke Pasar Pagi Blangpidie, saya melihat hampir semua lapak pedagang di pasar tersebut menjual JENGKOL. Harganya pun sangat murah, hanya Rp 10.000 per kilogram. Langsung saja saya beli satu kilogram. Rencananya saya akan memasak rendang jengkol. Kebetulan saya dan ART saya sama-sama doyan jengkol. Jadi, hari itu setengah kilogram jengkol kami masak rendang.

Jengkol yang dijual di Pasar Pagi Blangpidie seharga Rp 10ribu/ kg
Jengkol yang dijual di Pasar Pagi Blangpidie seharga Rp 10ribu/ kg

Untuk menghilangkan bau pada jengkol, saya mencoba resep baru yang saya dapatkan dari ibu teman sekantor saya. Kebetulan waktu itu teman saya tersebut memberikan rendang jengkol buatan ibunya ke saya. Rasanya empuk dan lebih gurih dibandingkan dengan jengkol buatan saya biasanya. Tidak luoa saya bertanya apa rahasianya sehinga jengkol tersebut sangat empuk dan tidak meninggalkan bau sama sekili di bulit atau urin.

Ternyata, sang ibu merebus jengkol dengan air kelapa dan menambahkan sedikit bukuk kopi ke dalamnya. Baru setelah air kelapa habis, jengkol dan bumbu rendang dicampur, lalu dimasak lagi.

Jengkol yang telah dorebus dengan air kelapa dan dicampur dengan bumbu rendang
Jengkol yang telah dorebus dengan air kelapa dan dicampur dengan bumbu rendang

 

Rendang Jengkol siap untuk disantap
Rendang Jengkol siap untuk disantap

Benar saja, setelah rendang jengkol buatan saya tersebut telah matang, rasanya mangat that! Lebih empuk dan paduan antara bumbu rendang serta jengkolnya benar-benar terasa. Langsung saja saya dan ART melahap dengan nikmat jengkol tersebut dengan nasi dari beras Tangse yang terkenal pulen.

Yummy. Jengkol setengah kilogram yang saya masak tersebut ludes seketika. Tidak perlu lauk lainnya lagi, cukup nasi dan rendang jengkol, selera makan langsung meningkat. Sebagai penutup, saya juga membuatkan asinan pepaya mengkal yang dicampur dengan cuka, garam, dan cabe rawit.

Rendang Jengkol dan asinan pepaya
Rendang Jengkol dan asinan pepaya

Bagaimana teman-teman, jengkol itu memang sangat lezat bukan? Kalau dimasak seperti ini dan tidak meninggalkan bau pada mulut atau toilet, apakah masih ogah untuk makan jengkol?

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

22 Comments

Leave a Reply to Lidya Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: