Aceh,  Banda Aceh,  Feature,  Indonesia,  PhotoBlog,  Traveling

Pantai Lhok Mee, Keindahan Pasir Putih dan Pohon dalam Air

Siang itu, matahari sangat kompak diajak kompromi. Cahayanya terang namun tidak membakar. Tepat sekali menjadikan waktu tersebut untuk melanglang buana. Hari itu adalah hari Meugang Idul Adha bagi masyarakat Aceh. Setelah memasak daging rendang yang kami beli di pasar Peunayong, saya dan Bang Thunis memutuskan untuk menyantap masakan Meugang itu di tepi pantai.

Pantai Lhok Mee menjadi pilihan kami. Pantai berpasir putih itu terletak di Desa Lamreh, Krueng Raya, Aceh Besar. Setelah setahun menikah, pantai di Banda Aceh dan Aceh Besar yang belum kami kunjungi adalah Lhok Mee. Selain itu, Bang Thunis juga ingin bertandang ke Makam Laksamana Malahayati. Meski berstatus sebagai orang Aceh Besar asli, suami saya belum pernah menziarahi makam laksamana perempuan pertama di dunia itu.

Untuk tiba di Lhok Mee, kami harus menempuh jarak sekitar 35 kilometer dari Banda Aceh. Sekitar 30 menit perjalanan dengan kecepatan 60km/jam. Jalan raya begitu lenggang pada hari  Meugang, aktivitas masyarakat di luar rumah terlihat sepi. Keramaian hanya terlihat di pasar-pasar yang menjual daging karena Meugang di Aceh itu identik dengan daging. Setiap kepala keluarga pasti membeli daging pada hati itu, tidak pandang bulu serta kelas ekonomi.

Pasir putih dan pepohonan yang tumbuh di dalam air menambah keindahan Pantai Lhok Mee
Pasir putih dan pepohonan yang tumbuh di dalam air menambah keindahan Pantai Lhok Mee

Hamparan pantai terbentang luas ketika kami sampai di Krueng Raya. Tempat-tempat rekreasi seperti Ujong Batee, Pantai Ladong, Benteng Indraparta dan Benteng Inong Balee kami lewati. Begitu juga dengan Makam Malahayati yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Krueng Raya juga kami lewati. Sore hari nanti baru makam itu kami ziarahi.

Untuk mencapai Lhok Mee, kami melewati perbukitan yang terbentuk dari batu karang. Rerumputan dan pohon jemblang tumbuh dengan subur di sana. Jalan yang kami lalui pun begitu mulus. Saat menaiki tanjakan kami disuguhi pemandangan indah berupa lautan biru yang terbentang luas, dan saat menurun, hijaunya perbukitan menyegarkan mata.

Pantai Lhok Mee terlihat sepi. Hanya beberapa pondok yang terlihat ditempati oleh pengunjung.  Namun, saya sangat terkejut ketika melihat Lhok Mee. Ia sangat berbeda dengan Lhok Mee yang pernah saya kunjungi tahun 2008 silam.  Pasir putih yang berkilauan saat terkena sinar matahari kini dipenuhi sampah plastik. Kotoran ternak juga terlihat di mana-mana. Bang Thunis pun berpendapat sama, dulu saat ia ke Lhok Mee, pantai itu benar-benar bagaikan hidden paradise. Ia tidak seramai dan penuh dengan pondok-pondok seperti saat ini. Namun, pepohonan yang tumbuh di dalam air laut Lhok Mee itu masih ada. Meski keindahan pasir putih Lhok Mee terkotori sampah, namun ranting-ranting tak berdaun dari pepohonan dalam laut itu menjadikan Lhok Mee tetap memesona.

Beberapa anak-anak sedang bermain dan mandi di laut Lhok Mee
Beberapa anak-anak sedang bermain dan mandi di laut Lhok Mee

Kami pun akhirnya  memilih tempat duduk yang langsung berhadapan dengan pantai. Jaraknya hanya sekitar 2 meter dari bibir pantai. Karena perut sudah keroncongan, bekal yang kami bawa dari rumah segera disikat. Sop iga sapi dan daging rendang ludes seketika. Kami benar-benar kelaparan saat itu. Wajar saja, jam menunjukkan pukul 3 sore, dan belum sesuap nasi pun masuk ke perut waktu itu. Tak hanya menyantap makanan dari rumah, kami juga memesan air kelapa muda. Segar sekali rasanya.

Menyeruput es kelapa muda di pinggir pantai pasti sangat nikmat.
Menyeruput es kelapa muda di pinggir pantai pasti sangat nikmat.

Setelah makan dan bermain pasir di Pantai Lhok Mee, kami pun pulang.  Di dalam perjalanan, Bang Thunis melihat beberapa jemblang berwarna hitam pekat di pohon yang tidak jauh dari badan jalan. Karena ia seorang maniak jemblang, langsung saja buah yang rasanya seperti nano-nano itu. Manis, asam, dan sepat.

Bang Thunis yang bela-belain manjat pohon jemblang demi beberapa bijinya yang menghitam
Bang Thunis yang bela-belain manjat pohon jemblang demi beberapa bijinya yang menghitam

Tulisan ini diikut sertakan dalam GA
My itchy feet… Perjalananku yang tak terlupakan

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

32 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: