Life Story,  Opini,  PhotoBlog

Menggambar Itu Tidak Mudah

Β 

Pada postingan kali ini saya ingin membuat pengakuan kalau SAYA TIDAK BISA MENGGAMBAR. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, pelajaran yang paling tidak saya sukai dan yang paling rendah nilainya adalah pelajaran menggambar. Saya bisa mengimajinasikan gambar yang hendak saya buatkan tetapi pikiran dan hasil goresan tangan sering tidak sinkron.

Menggambar (drawing) didefinisikan sebagai kegiatan membentuk imajinasi dengan menggunakan berbagai teknik dan alat. Seringnya gambar itu adalah representasi spontan dari imajinasi atau ingatan si penggambar. Biasanya objek yang digambar adalah tampilan realistis dari kehidupan sehari-hari. Tapi ada juga yang setengah realistis seperti sketsa, kartun, karikatur, dan gambar abstrak. Media yang digunakan untuk menggambar cenderung kering seperti pensil warna, pena warna, copic, dan krayon.

Dari pengertian menggambar tersebut, poin yang paling tidak saya kuasai adalah menggambar sketsa, kartun, dan karikatur. Kalau menggambar abstrak, saya bisa. Tinggal corat-coret aja, jadi deh. Hahaha… itu menggambar abstrak a la Liza, ya, bukan berdasarkan referensi dari buku atau penggambar yang profesional.

Terus waktu sekolah dulu, saya menggambar apa waktu mata pelajaran kesenian? Gambar apalagi kalau bukan gambar yang sangat legendaris itu, dua gunung yang di tengah-tengahnya ada matahari, jalan aspal, satu buah rumah yang di sampingnya tumbuh sebatang pohon, dan sawah. Mau tahu gambar legendaris itu seperti apa? Ini dia contohnya, tapi minus rumah dan pohoh πŸ™‚

Gambar paling legendaris waktu kita kecil
Gambar paling legendaris waktu kita kecil

Hanya gambar itu saja? Tidak juga sebenarnya, saya sering menjiplak gambargambar yang ada di sampul buku. Caranya adalah dengan meletakkan kertas buku gambar di bawah sampul buku tersebut. Lalu saya ikuti garis-garis yang ada pada gambar dengan menggunakan pensil atau pulpen sehingga membekas pada buku gambar. Setelah itu barulah saya menyalinnya dan mewarnai hasil jiplakan itu. Kadang saya juga menggunakan kertas karbon untuk menjiplak gambar, tetapi warna hitam yang membekas membuat gambar menjadi tidak bagus dan bisa ketahuan guru.

Selain menjiplak, saya juga pernah meminta tolong kepada Bapak untuk membuatkan gambar di buku saya (jangan ditiru!). kalau sedang rajin, saya sendiri yang mewarnai gambar tersebut, tetapi kalau sedang malas, saya paksa Bapak untuk menyelesaikan gambar tersebut dan keesokan harinya saya kumpulkan. Nilainya ya pas-pasan. Guru sekolah saya tahu betul kalau saya tidak bisa menggambar, jadi enggak mungkin saya bisa menggambar sebagus punya bapak atau serapi gambar yang saya jiplak.

Lalu bagaimana sekarang? Saya masih belum bisa menggambar tetapi sedikit ada perkembangan. Jika ada objek yang bisa ditiru, maka hasil gambar saya sedikit lebih jelas maksudnya alias tidak abstrak. Kepingin bisa menggambar? Pingin sekali, tapi menggambar bukanlah prioritas saya. Jadi, jika ada waktu senggang saja saya manfaatkan untuk belajar menggambar.

One must always draw, draw with the eyes, when one cannot draw with a pencil” Balthus (1908 – 2001)

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

13 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: