Life Story,  Opini

Memaknai Kesalahan dan Kekurangan dalam Diri

Akhir-akhir ini, sebelum tidur, saya mulai memaksakan diri untuk membaca buku. Selain menjadikannya sebagai obat tidur yang paling ampuh, cara ini saya tempuh karena sejak dua tahun terakhir saya jarang sekali membaca buku. Padahal, di kontrakan saya di Banda Aceh, ada puluhan buku yang belum saya sentuh sekali pun. Hingga suatu hari suami saya (pura-pura) mengancam akan menjual buku-buku di rak tersebut karena percuma saja kalau hanya di pajang dan tidak dibaca.

Mulailah saya menargetkan diri untuk membaca. Saya tidak mau muluk-muluk menargetkan bisa membaca satu buku seminggu atau sebulan. Harapan saya, setidaknya, dalam setahun, buku yang belum saya baca itu harus segera saya lahap. Kalau tidak, jangan beli yang baru.

Buku yang pertama saya baca di tahun 2017 ini berjudul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, karangan Ajahn Brahm. Buku lama hadiah dari suami saat pernikahan kami 4 tahun silam. Halo, setelah 4 tahun saya baru membaca buku itu. Selama ini kemana aja, jeng! Kan lebih baik telat daripada tidak sama sekali (mulai ngeles).

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya merupakan kumpulan kisah-kisah motivasi yang dituliskan oleh seorang biksu Australia bernama Ajahn Brahm. Membaca buku ini seakan memberikan saya semangat yang baru. Membawa saya untuk tetap tenang dalam menghadapi masalah. Dan menjadikan saya lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Seperti kisah tentang 2 bata jelek. Dikisah itu Ajahn Brahm menceritakan tentang pengalamannya saat membangun sebuah wihara. Saat itu ia hanya memiliki 1000 batu bata untuk membangun tempat ibadah tersebut. Dengan penuh kehati-hatian ia menyemen satu persatu batu bata sehingga menempel satu sama lainnya. Alangkah terkejutnya ia ketika sedang mengagumi hasil jerih payahnya, ternyata ada 2 batu bata yang tampak miring sehingga tidak elok dipandang mata. Tembok yang seharusnya bagus menjadi rusak karena 2 batu bata tersebut. Dua batu bata itu membuat tembok yang dibangunnya terlihat sangat jelek.

Naasnya lagi, ketika ia mencoba memperbaiki posisi kedua batu bata itu, semennya sudah terlalu keras dan batu bata tersebut tidak dapat dicabut lagi. Ajahn Brahm mulai gundah gulana dengan hasil karyanya. Ia ingin sekali merobohkan tembok tersebut bahkan kalau bisa meledakkannya. Namun, kepala wihara menyuruhnya untuk membiarkan saja tembok tersebut.

Suatu hari, Ajahn Brahm sedang membawa tamu untuk mengelilingi wihara. Biasanya ia selalu mencegah tamunya melewati tembok tersebut. Tetapi kali itu, seorang pemuda melihat tembok tersebut dan berkata,”Itu tembok yang indah.”

Ajahn Brahm memastikan kembali apa yang disampaikan pemuda tersebut bahkan ia bertanya apakah sang pemuda memakai kacamata, lalu kacamatanya tertinggal di mobil sehingga penglihatannya terganggu. “Apakah Anda tidak melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?”

“Ya, saya bisa melihat dua batu bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus.”

Sang biksu tertegun. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama mendirikan tembok itu, ia baru menyadari bahwa di antara batu bata yang  jelek tersebut terdapat ratusan batu bata yang bagus. Semuanya terpasang sempurna. Selama ini, ia hanya terpusat kepada dua kesalahan yang ia perbuat dan terbutakan dari hal yang lain. Oleh karena itulah, ia tidak tahan melihat tembok itu dan tidak mau membawa tamu melihatnya karena takut kesalahannya diketahui oleh sang tamu. Akan tetapi, setelah kejadian tersebut, ia tidak lagi melihat tembok itu sebagai sesuatu yang buruk. Tembok itu tetap indah meskipun ada dua batu bata yang terpasang tidak sempurna.

Dalam kehidupan ini, sering kita melihat banyak orang yang memutuskan untuk memutuskan sebuah hubungan karena semua yang mereka lihat dari pasangannya adalah “dua batu bata jelek.” Banyak sekali orang yang mudah menghakimi orang sebagai orang jahat hanya karena melihat “dua batu bata jelek” pada orang tersebut. Tidak jarang juga di antara kita banyak yang depresi karena semua yang kita lihat dalam diri kita adalah “dua batu bata jelek.”

Padahal, kenyataannya, banyak sekali batu bata bagus yang terdapat pada diri kita, pasangan kita, atau orang yang kita anggap tidak baik. Namun, saat itu kita tidak mampu melihatnya. Mata kita hanya terfokus pada keburukannya saja, atau pada kekeliruan yang kita perbuat saja. Semua yang kita lihat adalah kesalahan dan kita mengira yang ada hanyalah kejahatan. Dan yang sangat disayangkan adalah ketika kita benar-benar menghancurkan “sebuah tembok yang indah” itu.

Kita semua memiliki dua batu bata jelek, tetapi kita juga memiliki banyak sekali batu bata yang bagus. Ketika kita mampu melihat batu bata yang bagus itu, saya yakin kedua batu bata yang jelek akan tertutupi. Dengan demikian, kita tidak hanya bisa berdamai dengan diri sendiri, tetapi juga bisa berdamai dengan pasangan atau orang-orang yang terdekat kita yang selama ini kita hindari.

 

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

14 Comments

  • zata ligouw

    Wahh sama mba Liza, aku pun udah baca buku itu meski baru buku pertama.. yes, buku ini bagus banget buat makanan jiwa ya, banyak pelajaran berharga yang bisa diambil termasuk soal bisa berdamai dengan diri sendiri..

  • NABILA Putri Karimah

    Aku jg sudah jarang baca buku, semenjak hobi nontonin drama korea. Jadinya saat senggang prefer nonton, padahal dulu aku hobi baca dan koleksi buku jg byk yg belum terbaca sama seperti mba liza T_T

    Wah makna dr bukunya dalam ya mba.. Selama ini memang kdg manusia lebih fokus dgn hal yg buruk, pdhl byk yg bisa disyukuri ya. Resolusi tahun ini, semoga bisa semakin menghargai diri sendiri dan orang-orang di sekitar dgn cara perbanyak positive thinking + attitude.

  • Eni martini

    Aku jadi ingat dari kecil hingga anak satu selalu membaca buku hingga menjelang tidur, tetapi setelah tambah anak hingga anak ke 4…kbiasaan itu tenggelam. Sesekali saja tapi kalah oleh kantuk

  • Muhammad Baiquni

    Kalau menurut Beni, dua pandangan sebenarnya sama bagusnya. Mereka yang cuma melihat batu jelek, atau mereka yang melihat 998 batu yang bagus.

    Mereka yang pertama artinya orang yang mau belajar dari kesalahan. Mereka yang kedua adalah orang-orang yang mampu bersyukur.

  • Rotun DF

    Duh, sama kaya curhatku di blog Kak, memprihatinkan banget ini baca bukunya, huhuhuu.
    Aku juga sekarang lagi merutinkan baca buku lagi, meski iya nggak muluk-muluk, yang pasti dalam sehari harus ada waktu buat baca buku.

    Bukunya bagus ya Kak, terbitan mana kah? Aku buku motivasi dan inspirasi kayak gitu baru punya serinya Chicken Soup.

  • nh18

    “Ya, saya bisa melihat dua batu bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus.”

    Ini kalimat yang sangat “menampar”
    Pelajaran utama yang bisa kita ambil hikmahnya. Mari kita fokus pada banyak hal yang baik, dari pada terus menerus memperhatikan hal yang jelek
    begitu kira-kira intinya

    salam saya Kak

Leave a Reply to Esti Sulistyawan Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: