Traveling

Ada Jembatan Pelangi di Pegunungan Jantho – Aceh Besar

“Sebuah tempat yang biasa saja, akan jadi sangat menarik jika dibubuhi cerita yang unik sehingga mengundang wisatawan untuk datang, ” begitu sebut kawan saya Yudi saat memberikan materi tentang Branding Pariwisata Melalui Blog.

Ucapan Yudi sangat cocok disandingkan dengan distinasi wisata baru yang ada di Jalin, Jantho. Buat teman-teman yang belum tahu, Jantho adalah ibukota Kabupaten Aceh Besar. Lokasi Jantho tepat di kaki bukit barisan, pegunungan di Sumatra yang memanjang dari Aceh sampai ke Padang.

Sayangnya, meski sudah menjadi ibukota kabupaten sejak tahun 1980-an, Jantho tak kunjung maju. Jumlah penduduknya segitu-gitu saja, bahkan sampai sekarang tidak jauh berbeda dibandingkan tahun 1996, saat saya sementara menjadi penduduk Jantho.

Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Aceh Besar untuk mengundang orang agar datang bahkan tinggal di Jantho. Mulai dari pembuatan perumahan yang disubsidi oleh pemerintah, pembangunan Mesjid Al Munawarah, pembuatan kebun binatang, pendirian pesantren modern, hingga yang terkahir tahun 2018 lalu menjadi venue diselanggarakannya Pekan olay Raga Aceh (PORA).

Untungnya, karena menjadi tuan rumah PORA ini, banyak fasiltas olahraga baru yang dibangun. Di depan pendopo Bupati Aceh Besar telah dibangun sport city, yang selain untuk PORA, diharapkan menjadi tempat pelatihan bagi para atlet Aceh Besar ke depan.
Selain sport city, ada venue baru yang tak kalah menarik yang di “vermak” untuk olah raga arung jeram, salah satu cabang yang diperlombakan saat PORA 2018 kemarin. Venue tersebut adalah sungai trans Jalin. Nah, trans Jalin ini terletak sekitar 7 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Besar.

Dulu, daerah Jalin adalah tempat warga sekitar memelihara lembu, desa ini dekat dengan Desa Weu yang kalau di Indonesiakan menjadi desa “kandang sapi”. Jadi, jelaslah kenapa daerah ini memang dari dulu terkenal sebagai tempat orang memelihara sapi.

Untuk menjuju ke Desa Jalin, kita bisa menggunakan mobil, motor, dan kalau sanggup dengan jalan kaki. Pemandangan hijau sepanjang jalan sangatlah indah dipandang mata, sama sekali tak ada polusi disana, karena memang tak ada pabrik atau perumahan. Hanya kebun-kebun warga di sisi kiri dan kanan jalan yang kita temui dalam perjalanan.

Khusus untuk pejalan kaki, kita bisa menyusuri sungai dari Desa Barueh hingga ke Jalin. Dulu waktu saya kecil, saya dan teman-teman sering melakukan kegiatan “cross country” setiap hari Sabtu sore, sebagai bagian dari kegiatan pramuka. Sepanjng jalan, kami bisa menikmati pepaya gratis yang kami minta langsung kepada pemilik kebunnya. Pisang yang masak di batangya juga sering kami temui, buah-buahan musiman juga tumbuh subur disana. Sayang sekarang saya belum sempat menyusuri sungai itu lagi. Mungkin kegiatan ini bisa jadi salah satu kegiatan wisata baru di Jantho, selain arung jeram di sungai Jalin tentunya.

Tiba di Desa Jalin, kita dihadapkan dengan Jembatan Pelangi, jembatan yang dicat dengan aneka warna seperti pelangi. Di bawah jembatan ini ada sungai yang sangat indah, bersih, banyak ikannya. Jangan takut ada “kunyit hanyut” di atasnya, karena kalaupun ada yang BAB di sugai ini pasti sudah duluan dinikmati oleh ikan-ikan di sepanjang sungai.

Di sekeliling Jembatan Pelangi, tak banyak pemandangan yang tidak bisa diungkap lewat tulisan, selain pegunungan dan kebun warga, suasanan hijau itu yang bikin enggak tahan. Kalau mau makan, seorang warga setempat sudah membuat “restaurant” berupa kedai yang menjual mie seduh, mie Aceh dan berbagai minuman.

Lho, kenapa disebut restaurant? Karena dalam Bahasa Inggris, Restaurant berarti “a place where people pay to sit and eat meals that are cooked and served on the premises”. Nah, di restaurant beratap daun rumbia ini, saya dan dua orang bule sempat menikmati mie rebus buatan si ibu penjual.

Lha, kok tiba-tiba ada bule di Jalin?
Begini ceritanya:

Hari itu sebenarnya tujuan saya ke Jantho adalah untuk menghadiri sebuah pertemuan dengan Kepala Dinas Kesehatan di Jantho. Dari Banda Aceh kami berangkat dengan mobil kantor sekitar jam 10 pagi. Nah, sebelum berangkat, saya mengajak dua mahasiswa doktoral Jerman yang sedang melakukan penelitian bersama dengan Unsyiah dan keduanya bisa dikatakan di bawah bimbingan saya. Karena sehari-hari mereka sibuk dengan tugas penelitiannya, pada hari itu saya ajaklah mereka jalan-jalan ke Jantho.

Tiba disana sekitar jam 11.30, kami langsung di sambut pak Kadis dan stafnya. Setelah rapat sekitar 20 menit terkait dengan penelitian yang kami lakukan di wilayah Aceh Besar, kami pun pamit. Saat hendak meninggalkan kantor, saya sempat cerita ke teman-teman di Dinkes kalau saya mau bawa orang “bule” ini main-main ke Trans Panca, ke Riung Gunung, dan sebagainya. Tapi oleh teman disana justru disarankan ke tempat baru, “bawa ke jembatan pelangi saja, Pak,” saran salah satu dari mereka.

Sebelumnya memang saya pernah melihat postingan adik kandung saya saat ia dan keluarga besar “jak meuramin” ke sana. Cuma saya kurang perhatian dan saya pikir mungkin lokasinya susah dilalui oleh mobil kantor saya yang cukup besar. Tapi setelah mendapatkan penjelasan dari mereka bahwa mobil paling besarpun bisa dibawa kesana dan jalannya sudah sangat mulus, akhirnya saya mengubah rencana, “bawa kemari saja kalau begitu”.

Setelah saya konfirmasi ke sopir, ternyata dia sudah pernah kesana dan katanya jalannya sangat mulus, “bisa lah bawa bule,” katanya.

Tanpa ragu kamipun ke sana. Sedangkan kedua bule ini sama sekali tidak protes mau saya bawa kemana, toh diajak ke Jantho saja mereka sudah senang. Sepanjang jalan, mereka sibuk berfoto dan terkagum-kagum dengan pemandangan bukit barisan dan pemandangan sekitarnya.

Tiba di sana, kami tidak sempat selfie, karena saya memang tidak suka selfie, tetapi sibuk memotret suasana sepi yang hanya kami berempat saja pendatangnya, kalau yang jualan di restaurant tadi enggak termasuk kan?

Banyak hal yang ditanyakan bule Jerman selama kami berleha-leha disana, misalnya kenapa tidak dibuat wisata rafting saja disana, karena kalau ada, dia mau mencobanya. Kemudian mereka juga tanya apakah banyak ikan disana dan apa perlu izin untuk memangcing? Hehe, emang di Jerman, mau mancing ikan saja harus dapat izin dari pemerintah? Disini kita mah bebas, mau mancing sepuasnya enggak perlu izin dan enggak perlu dilaporkan berapa ikan yang ditangkap. Toh ikannya banyak dan mereka berkembang biak secara liar.

Saya juga cerita kalau dulu waktu kecil, saya dan teman-teman suka cabut sekolah untuk bisa ke sungai, dan sesampainya di sana, kami mandi sepuasnya sambil menangkap udang. Udang tersebut kami tusuk pakai lidi, kemudian di panggang di atas api.

Mendengar cerita saya itu, kedua bule ini mengaku cemburu dengan indahnya kehidupan masa kecil kita, eh saya maksudnya. Dia juga bertanya apa boleh nangkap udang di bawah Jembatan Pelangi tadi? Saya bilang, kalau tahu caranya, silakan tangkap sebanyaknya. Tapi setelah itu saya langsung menghindar, takut diajak mandi bersama di sungai, takut cemburu mak sinong saya. Hehehe.

Kami pulang dari Jalin dengan cerita baru, bahwa di sekitar kita, banyak destinasi atau kegiatan wiasata yang bisa dibangun. Salah satunnya adalah dengan perencanaan dan promosi yang bagus Bukan tidak mungkin suatu saat nanti, Jembatan Pelangi ini jadi ikon baru untuk menarik wisawan untuk datang ke Jantho. Selain itu, bisa juga dibuat kegiatan arung jeram setiap Sabtu-Minggu, bisa juga hiking atau manjat gunung sekeliling Jantho. Walhasil, kota Jantho yang sepi bisa sedikit berdenyut, walau di weekend saja.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

20 Comments

  • Khoirur Rohmah

    Betul banget mbak, dengan promosi apalagi lewat sosial media, tempat yang jarang dikunjungi malah dapat menarik para wisatawan untuk datang, namun juga tempatnya bener2 dibikin beda dan cocok untuk destinasi wisata.
    Asyik itu kalau di sungainya ada Arum jeramnya mbak. Insyaallah pasti banyak peminatnya 😍😍😍

  • Lisna

    Aku beberapa kali bolak-balik Aceh karena urusan pekerjaan. Nanti boleh ya kak kuminta temani ke sana jugaaa, sepertinya seru explore alam di sana, hehehe.

  • Cut Intan Evtia Nurina

    Kalo udah banyak spot instagramable kayak gini di Jantho pasti lambat laun banyak yang datang kesana ya kak, kayak 2011 lalu saya sama keluarga pernah makan di Jantho waktu kakak ipar prajab, kayak balee-balee gitu tempatnya, bawahnya ada kolam bisa mancing ikannya trus mereka masak, lupa pula nama tempatnya, lumayan rame pengunjung apalagi waktu itu hari minggu.

  • ophiziadah

    Jangankan bule…
    Aku aja masih amaze klo ketemja suasana yg masij natural dan asli
    Secara kampung ku aja skrg dah rusak alamnya kena penambangan batu

  • hariekhairiah

    Udah mulai berbenah yaa jatho, makin cantik, kayanya perlu banyak tempat yang dibuat warna2 lagi biar semakin menarik

  • Dikki Cantona Putra

    Sungai yang masih bersih pastina enak untuk bermain disana ya mba apalagi ditambah suasana jembatan pelangi menghiasi sungai diatasnya gitu..
    .
    Lebih enak sih kesana bersana teman teman jangan sendirian

  • Aprillia Ekasari

    Semoga Jantho makin bagus lagi dan banyak org datang ke sana utk berwisata bahkan tinggal ya mbak.
    Bagus usaha pemerintah daerahnya membangun sana, bahkan jalannya udah oke ya?
    Kangen liat sungai dan kerikil2 di pinggirannya eui. Mengingatkanku pd rumah nenekku dulu,ada sungai jg deket sana 😀

Leave a Reply to Nyi Penengah Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: