lomba blog,  Opini

Diet Gadget, Solusi Jitu Atasi Kecanduan Mobile Internet pada Anak

Diet tidak hanya mengacu pada pengaturan pola makan, istilah ini juga berlaku untuk mengatur berbagai hal termasuk dalam pemakaian gadget (ponsel, tablet, dll). Jika diet makanan kita lakukan dengan cara mengatur kembali jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh agar tubuh tetap sehat, maka diet gadget adalah mengatur pemakaian mobile internet yang ujung-ujungnya berdampak baik  bagi kesehatan.

Tren mobile internet kini tidak hanya terjadi pada kalangan orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak. Di era teknologi yang serba canggih ini, anak-anak telah mampu mengoperasikan internet, smartphone, dan beragam perangkat nirkabel lainnya dengan cepat dan mudah. Menurut The Children’s Advertising Review Unit of the Council of Better Business Bureaus, anak-anak bisa menghabiskan waktu selama tujuh setengah jam perhari untuk berinternet. Mereka yang masih kecil cenderung memanfaatkannya untuk bermain game, yang sudah agak besar menggunakan internet untuk mencari tugas sekolah, bersosialisasi melalui email atau situs jaringan sosial, dan bermain game online.

Pedang Bermata Dua

Kemudahan akses internet lewat gadget ternyata ibarat pedang bermata dua bagi anak-anak. Di satu sisi, pedang akan membantu pemakainya dan di sisi lain jika tidak  digunakan dengan hati-hati malah melukai. Begitu pula dengan mobile gadget. Di satu sisi, gadget dapat membuka dunia baru kepada anak-anak; mereka dapat belajar berbagai hal, mencari bantuan melalui mesin pencari untuk menyelesaikan PR, dan mendapatkan teman baru. Selain itu, anak-anak juga tetap dapat berhubungan dengan teman-teman dan keluarganya tak peduli di mana mereka tinggal. Mereka bahkan bisa berbagi foto/video atau berbicara dan melihat satu sama lain secara real time.

Kebanyakan orangtua menjadikan manfaat tersebut sebagai alasan untuk memberikan mobile gadget pada anak. Semakin cepat diperkenalkan pada anak, hasilnya akan semakin baik. Banyak aplikasi yang didesain untuk membantu perkembangan kognitif sang anak. Malah, anak yang tidak suka membaca buku cetak menjadi lebih suka membaca ketika ia melakukannya melalui tablet.

Dibalik beragam manfaat yang ditawarkan internet ternyata juga bisa berdampak buruk terhadap sang anak. Kebanyakan anak tidak memahami konsekuensi yang akan didapatkan saat menuliskan informasi pribadi seperti nama, alamat, email, nomor telepon/ponsel, nomer rekening, atau informasi lain yang memungkinkan mereka dapat dihubungi secara online/offline di situs jejaring sosial yang mereka miliki. Akibatnya puluhan kasus penculikan anak terjadi yang berawal dari sharing informasi data diri via media sosial seperti Facebook. Kejadian ini harus menjadi perhatian orangtua karena menurut Consumer Report yang dikutip oleh CNN, pada 2012, dari 20 juta pemilik akun Facebook, 7,5 juta pengguna adalah anak di bawah 13 tahun. Tidak tertutup kemungkinan, anak kita salah satunnya.

Internet Use Disorder

Kecanduan internet juga menjadi masalah baru sejak akses internet ini semakin mudah dan murah. Rasa ketergantungan yang berlebihan dengan gadget, perasaan panik yang luar biasa saat tidak membawa gadget atau hilang, kecendrungan ingin tahu tentang aktivitas orang lain dengan mengintip media sosialnya, atau ketakutan berlebihan karena merasa dikuntiti orang adalah gejala internet addiction.  Salah satu bentuk gangguan jiwa akibat internet ini tidak hanya menyerang anak-anak tetapi juga segala usia. Akan tetapi, anak-anak lebih rentan karena mentalnya belum kuat dan masih labil. Mereka sedang dalam fase mencari identitas diri. Sistem saraf saraf pusat masih berkembang dan harus mendapat rangsangan yang sesuai dengan tahapan pertumbuhannya. Ketika bersentuhan dengan teknologi modern, otomatis sistem sarafnya akan mendapat stimulus yang berbeda dari kehidupan nyata.

Lihat saja bagaimana mobile gadget saat ini memberikan informasi yang sangat banyak dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini justru akan menjadi ancaman terhadap perkembangan anak. Kenapa? Karena telah terbiasa dengan dunia internet, ketika kembali ke dunia nyata, ia akan merasa kalau hidup di alam nyata sangat lamban dan membosankan. Jika anak kita mengalami kejadian seperti ini, maka jangan heran kalau ia tidak tangguh menghadapi realita. Selain itu, anak yang terlalu asyik dengan dunia virtualnya juga akan sulit berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Akibatnya, sanga anak akan cendrung cuek dengan dengan keadaan di sekelilingnya. Tidak jarang juga, orangtua yang sibuk kerap menjadikan gadget sebagai nanny untuk mengalihkan perhatian anak agar tidak mengganggu aktivitas orang tua.

Solusinya? Diet Gadget

Menurut psikolog Dra. Ratih Andjayani Ibrahim, MM.Psi, yang saya kutip dari wawancara yang dilakukan Majalah Intisari (02/2013), sebenarnya tidak masalah anak memiliki gadget, mempunyai akun di media sosial, dan aktif di dunia maya. Namun, orang tua harus mengontrol penggunaannya dan memberikan pemahaman pada sang anak  tentang cara menggunakan internet seperti media sosial secara benar. Jika ada yang melenceng, maka orangtua berhak untuk mencabut gadget dan menutup akun jejaring sosial tersebut.

Oleh karena itu, diet gadget dapat menjadi solusi untuk mengontrol paparan mobile internet kepada anak agar tidak mempengaruhi kinerja otak terlalu intens. Tidak dipungkiri, gadget dapat menjadi media yang sangat menyenangkan, mudah, dan sangat kaya untuk pendidikan dan perkembangan anak asala digunakan secara tepat.

Selain diet gadget, berikut ini ada beberapa pedoman yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk meminimalkan dampak buruk gadget dan memaksimalkan manfaatnya;

  •  Cari informasi tentang gadget yang digunakan sang anak. Orang tua sebaiknya harus banyak belajar tentang mobile internet dan bahaya yang ditimbulkannya.
  • Diskusikan dampak baik dan buruk penggunaan internet. Hargai privasi anak. Ajari mereka untuk menggunakan internet dengan benar ketika kita tidak di sampingnya.
  • Instal filter konten di internet. Game, konten sosial media, streaming video, berbagi foto, harus melalui pengamatan orang tua. Unsur negatif seperti kekerasan, pornografi, kata-kata kasar, sangat mudah memapar anak dari berbagai konten tersebut.
  • Tempatkan perangkat tersebut di ruang umum. Komputer, laptop, tablet, atau ponsel pintar yang bisa diakses anak hendaknya juga bisa diakses oleh orang tua sehingga peran pengawasan bisa lebih optimal. Orang tua harus tahu password si anak.
  • Batasi waktu pemakaian gadget. Penggunaan gadget baik itu bersosial media, berselancar, atau chatting wajib dibatasi. Untuk sekolah dasar, tenggang waktu toleransi adalah 15-30 menit.
  • Friend dan follow. Situs jejaring sosial yang populer seperti facebook, Pinterest, Twitter, dan Instagram memudahkan anak-anak untuk mempublikasikan beragam informasi. Dengan menjadi teman dan pengikut mereka, sang anak pasti akan berpikir jika hendak mengupdate status atau berbagi foto/video.
  • Berikan contoh. Anak suka gadget dan bisa menggunakannya sedari awal karena meniru orang tuanya. Oleh karena itu, orangtua wajib menjadi teladan dalam memanfaatkan gadget secara positif.
  • Lakukan dari sekarang. Internet sekilas terlihat menyenangkan dan terdapat beragam manfaat.  Memproteksi lebih dini tren mobile internet dan mengajari mereka lebih awal tentang manfaat dan bahaya internet menjadi salah satu cara agar mereka terhindar dari dampak buruk internet itu sendiri.

Referensi Tulisan:

1. Majalah Intisari. Februari 2013. Baik Buruk Anak Main Gadget.

2. Drew Hendricks. Juli 2013. How To Keep Your Kids Safe Online. Available at http://www.huffingtonpost.com/drew-hendricks/how-to-keep-your-kids-saf_b_3220759.html

3. The Children’s Advertising Review Unit of the Council of Better Business Bureaus, Inc.  2010. Safety on Screen: Keeping Your Children Safe on the Internet. Available at www.caru.org

 

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

8 Comments

Leave a Reply to enasrullah Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: