Aceh,  Feature,  Opini

Demam Bergek Melanda Aceh

Bergek Boh Hatee

 

Boh hatee gadoh aleho | Hek kalon seutot adinda

Sungguh sakit di ulu hati

Abang galau adek eeee | Payah manoe ie mata

Cintaku hilang begitu saja

Penggalan lirik di atas pasti tidak asing lagi di telinga masyarakat Aceh baik itu orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak. Spontan ketika lagu tersebut diputar lewat Youtube,  dvd atau music player di ponsel, semua orang langsung nyambung dan ikut menyanyakannya. Lagu “Boh Hatee” Bergek ini memang sedang meledak di masyarakat Aceh. Sebuah lagu yang mengisahkan tentang kegundahan sang lelaki karena kekasihnya hilang entah kemana.

Jangan heran, jika Anda berjalan-jalan keliling kampung dan mendengar anak kecil menyanyikan lagu ini di setiap sudut. Dengan lancar mereka bernyanyi, bahkan satu lirik pun tidak terlupa. Kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia, lirik di lagu tersebut memang rancu alias tidak nyambung terlebih kalimat-kalimat yang mengandung bahasa Indonesia. Tapi disitulah daya tariknya. Kurang lebih beginilah arti dari penggalan lirik lagu Boh Hatee; Buah hati hilang entah kemana. Lelah saya mencari adinda. Sungguh sakit di ulu hati. Abang galau wahai adik. Harus mandi air mata. Cintaku hilang begitu saja.

  

Lantas kenapa lagu Bergek begitu laris di pasaran? Musik dan liriknya yang enak di dengar dan terkesan lucu serta tingkah kocak Bergek dalam album tersebut, mungkin itulah yang membuat lagu Boh Hatee langsung klik di hati masyarakat apalagi anak-anak. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala ketika segerombolan anak tetangga yang berusia 4-6 tahun menyanyikan seluruh lirik lagu ini dengan suara cadelnya. Jangan tanyakan apa arti lagu tersebut pada mereka karena memang mereka tidak tahu sama sekali. Tidak hanya anak-anak tersebut yang langsung girang ketika mendengar lagu Bergek, putri saya Naqiya yang masih 15 bulan pun langsung berjoget ketika lagu Boh Hatee saya putar. Bergek, Bergek… Semua orang demam Bergek.

Tidak hanya Boh Hatee yang melekat di hatinya rakyat Aceh, tetapi hampir semua lagu di album Bergek sangat enak di dengar dan mengena dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya saja lagu yang berjudul Camera 360 yang mengisahkan tentang kita yang suka berselfi dengan aplikasi ini sehingga terlihat cantik atau ganteng walaupun sebenarnya memang sudah cantik dan ganteng. Atau lagu Dikit Dikit, Gaseh Han Lekang, dan lain-lain.

Sebenarnya, musik dari lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Bergek yang memiliki nama asli Zuhdi ini bukanlah karyanya sendiri melainkan musik dari lagu India dan Bangladesh yang pada dasarnya memang sudah enak di dengar. Untuk lagu Boh Hatee misalnya yang digubah dari lagu Bolte Bolte Cholte Cholte yang dipopulerkan oleh penyanyi Bangla, Imran pada tahun 2015. Musik dan lirik  Bolte Bolte Cholte Cholte, walaupun tidak tahu arti nya, memang sudah enak didengar, hal ini terbukti dari 7 juta lebih view  di Youtube dan komentar dari bebrbagai penggemarnya di belahan dunia. Konon jika digubah ke dalam bahasa daerah yang memang sudah melekat dengan masyarakat penuturnya.

Konser Bergek yang Dibanjiri Penonton

Pagi Kamis (18/02) saya melihat ada yang berbeda dengan lapangan sepak bola di Pulau Kayu,  Susoh, Abdya tidak jauh dari rumah sakit tempat saya bekerja. Selidik-punya selidik ternyata sore harinya ada konser Bergek di lapangan tersebut. Benar saja, ketika saya kembal ke RS pukul dua siang, jalanan telah penuh dengan masyarakat yang ingin melihat langsung Bergek bernyanyi di atas panggung. Rata-rata yang datang adalah ibu-ibu bersama anak-anak. Anak-anak itu tampak sangat antusias dengan kedatangan Bergek di Abdya. Sambil berjalan, mereka bernyanyi lagu Bergek.

Bergek pada salah satu adegan di album Boh Hatee

Hari itu matahari sangat terik, tapi panasnya sinar mentari ternyata tidak menjadi halangan bagi anak-anak itu untuk menonton Bergek. Namun, berbeda dengan anak laki-laki teman saya yang juga penggemar Bergek. “Adek enggak mau panas-panas di lapangan nonton Bergek. Kan Adek udah ada CDnya. Lagian semalam adek juga udah foto selfie sama Bergek. Adek yang pertama lagi. Soalnya dia nginap di wisma dekat rumah kita,” ucap teman saya sambil meniru gaya bicara anaknya. Saya dan rekan kerja lainnya terpingkal-pingkal tertawa mendengar cerita itu. Hebat sekali daya tarik Bergek.

Sore hari sepulang dari kantor, saya hampir tidak bisa melewati jalan di depan lapangan tempat Bergek konser. Macet! Baru kali ini Abdya macet sampai saya harus menghabiskan waktu setengah jam lebih. Betapa tidak, ribuan orang Abdya memenuhi lapangan Pulau Kayu untuk melihat Bergek. Yang tidak kedapatan tiket masuk rela mengintip di balik terpal plastik atau melihat aksi Bergek dari kejauhan. Panas dan berdesakan seakan tidak menjadi persoalan.

Malam hari, ketika Bang Thoenis keluar untuk mencari nasi bebek di warung langganan, pembicaraan tentang konser Bergek masih berlanjut. Bahkan kata pemilik warung, anak-anak saat itu sedang mendatangi wisma tempat Bergek menginap demi bisa bersalaman dan foto bersama. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar cerita Abang.

Bergek dipaksa bernyanyi di depan hotel

Penasaran, saya dan Bang Thoenis pun membuka Youtube, mencari tahu tentang Konser Bergek. Ternyata, tidak hanya di Abdya konser pelantun Boh Hate itu ramai penonton, di Langsa, di Meulaboh, dan di semua tempat yang ia datangi untuk konser penuh sesak oleh penonton. Mayoritas penggemar Bergek adalah anak-anak.

Saya dan suami tidak habis pikir ketika melihat puluhan anak sekolah SD memadati pintu masuk sebuah rumah sambil bernyanyi lagu Boh Hatee. Ketika Bergek keluar menyalami mereka, anak-anak tersebut girang bukan main. Bergek telah menjadi idola baru anak-anak tersebut. Padahal, kalau dilihat dari rupa, Bergek biasa saja, suaranya juga biasa, tapi wajah komediannya memang mampu menarik hati (ini pendapat paling jujur dari emak-emak).

Demikian juga yang terjadi di Abdya, puluhan anak-anak membanjir wisma tempat Bergek  menginap pada malam sebelum Bergek tampil. Sampai-sampai polisi turun tangan mengamankan lokasi tersebut. Bergek sudah seperti artis fenomenal saja di mata bocah cilik itu.

Setelah Abdya, Bergek akan menggelar konser lagi di berbagai kota di Provinsi Aceh dan saya yakin penontonnya akan tumpah ruah seperti kota-kota sebelumnya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal, apakah Bergek termasuk melakukan pelanggaran hak cipta atau tidak ya? Habisnya semua lagunya itu kan menggunakan musik dari lagu India yang memang sudah sangat fenomenal. Just curious.

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

7 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: