Tradisi Aceh menyambut ramadhan
Aceh,  Feature,  Traveling

Begini Tradisi Masyarakat Aceh Barat Daya Menyambut Bulan Ramadhan

image

Setiap daerah pasti memiliki cara tersendiri dalam menyambut bulan Ramadhan. Begitu juga dengan Aceh Barat Daya yang beribukotakan Blangpidie. Selama ini, ketika berbicara tentang tradisi menyambut bulan puasa di Aceh, ramai-ramai orang akan berujar meugang atau makmuegang, yang ditandai dengan orang berbondong-bondong membeli daging kerbau atau sapi ke pasar. Namun, ada yang berbeda ketika kita bertandang ke pesisir barat Provinsi Aceh ini.

Tradisi menyambut bulan ramadhan di Abdya, begitu kabupaten pemekaran dari Aceh Barat dan Aceh Selatan itu disingkat, tidak hanya dengan membeli daging kerbau atau sapi. Tetapi ada beberapa seremonial lain yang dilakukan oleh masyarakat yang terdiri dari suku Aceh dan aneuk Jamee ini. Sebagai pendatang baru di kabupaten ini, tentu hal ini menjadi pemandangan unik dan tidak ingin saya lewatkan. Lantas, apa saja tradisi masyarakat Abdya menyambut bukan suci?

  • Melemang dan Masak ketupat

Malemang adalah istilah masyarakat Abdya untuk mendeskripsikan kegiatan membuat lemang. Ya, memasak ketan yang dicampur dengan santan dan sedikit garam di dalam buluh yang telah dilapisi daun pisang itu ternyata telah menjadi tradisi masyarakat ini saat menyambut bulan puasa. Jangan heran ketika pagi-pagi Anda jalan-jalan ke pasar tradisionalnya, maka akan banyak lapak yang menjual buluh berukuran 50 sampai 1 meter itu. Lemang tersebut dipanggang di atas bara api. Eits, tidak hanya lemang ketan yang dibuat, tetapi ada juga yang memasak lemang ubi untuk menyambut puasa.

Bagi yang tidak sempat atau tidak bisa membuat lemang, mereka biasanya memilih alternatif kedua yaitu membuat ketupat yang isinya ketan. Proses membuat ketupat ketan memang lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan membuat lemang. Ketupat tersebut tidak dipanggang melainkan direbus lalu digongseng diatas kuali yang berisi minyak.

Kegiatan melemang dan membuat ketupat ini dilakukan pada H-4 sampai H-3 puasa.

Bagaiaman dengan pendatang seperti saya? Karena tidak mahir membuat kedua jenis makanan ini, maka tentangga pun berbondong-bondong membagikan lemang dan ketupat kepada saya. Memang, lemang dan ketupat  tersebut selain untuk disantap secara pribadi juga untuk dibagikan kepada sanak famili dan tetangga. Ah, indahnya kebersamaan.

  • Megang atau makmuegang

Tradisi megang mungkin bisa dijumpai di seluruh pelosok Aceh. Ya, menjelang puasa dan lebaran baik idul fitri maulun idul adha, sudah tradisi masyarakat Aceh menyambutnya dengan makan daging. Tidak peduli kaya atau miskin, semua masyarakat Aceh makan daging pada hari tersebut. Jangan heran jika jarga daging melonjak tinggi di provinsi ini oada hari tersebut. Bayangkan saja, Presiden sudah menginstruksikan harga daging Rp 80.000 perkilonya, tetapi di Aceh ada yang mencapai Rp 180.000 /kilogram.

Abdya adalah salah satu daerah yang harga daging tertinggi di Aceh. Walaupun harga daging mahal, tapi itu tidak menjadi alasan bagi masyarakat untuk tidak makan daging. Adalah pemandangan yang unik ketika saya melihat ribuan orang berbondong-bondong membeli daging di pinggur sungai di Jalan Manyang Blangpidie. Konon, menurut cerita teman saya, orang-orang tersebut berasal dari seluruh penjuru Abdya. Hiung saja ada berapa kecamatan di kabulaten ini, maka pada hari meugang semuanya berkumpul di sana untuk membeli daging.

Ditambah lagi, selain meugang, tidak ada yang menjual daging kerbau atau sapi Abdya. Makan daging kerbau hanya ketika ada hajatan perkawinan atau sunatan. Itu pun tidak semua orang bisa merasakannya. Jadi, jangan heran, jika meugang adalah waktu yang paling dinantikan oleh masyarakat Abdya untuk menyantap daging kerbau atau sapi.

Meugang ini dilaksanakan pada H-2 sampai H-1 bulan puasa.

  • Makan-makan atau Meuramin

Tradisi ketiga yang tidak bisa ditinggalkan oleh masyarakat Abdya adalah kegiatan makan-makan dipinggir pantai atau di sungai. Tua – muda, anak-anak, miskin-kaya semuanya berkumpul untuk menyantap daging meugang yang telah dilah menjadi beraneka masakan di pinggir pantai atau sungai. Semua rumah kosong. Pegawai kantoran meminta izin lebih dulu pulang jika kegiatan makan-makan ini jatuh pada hari kerja.

Semua tempat wisata penuh sesak oleh masyarakat yang makan-makan. Pernah,setahun yang lalu, saya bersama rekan di kantor yang juga oendatang di Abdya ini melihat keseruan masyarakat di hampir seluruh objek wisata. Asli, jalanan menuju kesana macet total. Kendaraan harus dilektakkan beberapa kilometer dari tempat tujuan.

Acara makan-makan ini dilaksanakan H-1 bulan puasa.

Itulah tradisi masyarakat Abdya menyambut bulan Ramadhan. Bagaimana dengan daerahmu, kawan?

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

9 Comments

Leave a Reply to Yudi Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: