<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seuramoe Liza &#187; travel</title>
	<atom:link href="http://liza-fathia.com/tag/travel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://liza-fathia.com</link>
	<description>Belajar Tentang Hidup dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 14:51:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tangse, Awal dari Sebuah Kesangsian</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 02:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[banda aceh]]></category>
		<category><![CDATA[beras tangse]]></category>
		<category><![CDATA[pidie]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>
		<category><![CDATA[visit aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[&#160; visit-aceh.com buy doxycyclin online without prescription buy online Amoxil cheap without prescription Selama ini aku selalu penasaran dengan asal-usul tanah kelahiranku, Tangse. Mengetahui  sejarah berdirinya suatu tempat membuatku semakin mengenal daerah tersebut. Namun, sampai umurku hampir menginjak 22 tahun, aku tidak tahu sejarah tempatku menghabiskan masa-masa kecilku. Mungkin kalau ditanya tentang sejarah lahirnya Kabupaten [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/visit-aceh.jpg"><img class="size-full wp-image-401 aligncenter" title="visit <a href="http://onlinelevitracheap.net ">buy levitra vardenafil</a>  aceh&#8221; src=&#8221;http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/visit-aceh.jpg&#8221; alt=&#8221;" width=&#8221;420&#8243; height=&#8221;315&#8243; /></a></p>
<div class="mceTemp mceIEcenter">
<dl id="attachment_401" class="wp-caption aligncenter" style="width: 430px;">
<dd class="wp-caption-dd">visit-aceh.com</dd>
<p> <a href="http://sdoxycyclinebuy.com">buy doxycyclin online without prescription</a> <a href="http://amoxilpills.net">buy online Amoxil cheap without prescription</a>   </dl>
</div>
<p style="text-align: justify;">Selama ini aku selalu penasaran dengan asal-usul tanah kelahiranku, Tangse. Mengetahui  sejarah berdirinya suatu tempat membuatku semakin mengenal daerah tersebut. Namun, sampai umurku hampir menginjak 22 tahun, aku tidak tahu sejarah tempatku menghabiskan masa-masa kecilku. Mungkin kalau ditanya tentang sejarah lahirnya Kabupaten Pidie, Aceh, bahkan Indonesia dengan mudah aku bisa menjawabnya. Karena semuanya itu telah terangkum dalam berbagai buku dan banyak narasumber yang dapat dijadikan tempat bertanya. Sedangkan Tangse?</p>
<p style="text-align: <a href="http://westernunion-locations.com/western-union-washington-seatac.php">westernunion washington</a>  justify;&#8221;>“Orang-orang yang tahu sejarah berdirinya Tangse kebanyakan sudah meninggal,” jelas mamaku, “Dulu kakekmu, Teuku Kali Mansur, termasuk orang yang sangat mahir dalam hal ini. Namun ketika beliau masih hidup, mama tidak pernah menanyakan tentang ini kepadanya.  Jadi, mama tidak tahu banyak,” tambahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pada suatu sore, mamaku menyuruhku untuk segera berkemas, “Kita akan ke rumah <em>Abuwa</em> (paman) Min. Dia tahu banyak tentang sejarah. Dulu kakekmu sering bercerita padanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Maka langsung saja kuturuti perintah mama. Aku benar-benar tidak menyangka ternyata mama begitu peduli tentang keingintahuanku. Padahal, aku tidak memintanya untuk mencari orang yang bisa menjawab pertanyaan ini. Tapi mama, wanita kebanggaanku itu tidak ingin keingintahuanku luruh karena ketidaktahuannya.<span id="more-400"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pergilah kami ke rumah <em>Abuwa</em> Min yang terletak sekitar dua ratus meter dari rumah. Lelaki paro baya itu sedang bersila di atas lantai yang beralaskan tikar sambil menyeruput sebatang rokok. Keluargaku lumayan dekat dengannya. Namun ketika papa meninggal,   aku dan adik sudah kuliah di Banda Aceh, dan  mama yang juga sering di rumah kakaknya, <em>Nyakwa</em> (Bibi) Meulu  membuat kami jarang bersilaturrahmi ke rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo masuk-masuk,” ucapnya dalam Bahasa Aceh dengan wajah begitu sumringah.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mama pun menyampaikan tentang keingintahuanku.</p>
<p style="text-align: <a href="http://amoxil-pharm.net">buy antibiotics online</a>  justify;&#8221;>“Untuk apa? Wah, Abuwa sudah lama tidak bercerita tentang Tangse, Nak. Tak ada yang tanya,” papar lelaki itu sambil terkekeh-kekeh.</p>
<p <a href="http://ampicillinpills.com">buy online Ampicillin cheap Drugstore</a>  style=&#8221;text-align: justify;&#8221;>“Ya pingin tau aja, <em>Abuwa</em>. Masa orang Tangse <a href="http://amoxil-pharm.com">generic amoxil</a>  ngga tau tentang Tangse. Malu-maluin lah, <em>Abuwa</em>,” balasku dan diiringi derai tawa mama dan abuwa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah, <em>Abuwa</em> akan menceritakan sebatas ingatan <em>Abuwa</em>, ya. Soalnya ini sudah lama sekali diceritakan kakekmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk. Bagiku lebih baik tahu sedikit dari pada tidak sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulailah laki-laki yang bernama lengkap Teuku Abdul Amin itu menceritakan tentang Tangse.</p>
<p style="text-align: justify;">Abdul Taher atau yang lebih dikenal dengan Keumala Tahe adalah orang yang pertama menginjakkan kaki ke Tangse. Ia berasal dari Keumala, yang kini merupakan kecamatan  setelah Tangse.</p>
<p style="text-align: justify;">“Waktu itu kalau tidak salah Sultan Iskandar Muda yang memerintah,” jelasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa itu, masyarakat Keumala sedang dilanda kelaparan. Kemarau panjang dan hama tikus membuat hasil panen mereka tak bisa digunakan. Maka larilah Keumala Tahe ke pegunungan  yang terletak setelah Keumala.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saat melihat pegunungan yang begitu rimbun, ia merasa <em>sangse</em>, ragu atau pusing. Dia berpikir apakah di rimba ini bisa ditanam padi?”</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Ka sangseng. Ka susah</em>. Tidak tau mau berbuat apa.” (Sudah sangsi. Sudah susah. Tidak tahu mau berbuat apa. Sangsi)</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga terpikirlah oleh Keumala Tahe untuk membuka areal persawahan di rimba ini. Lalu kembalilah lelaki  itu ke Keumala untuk  mengajak penduduk daerah tersebut ke rimba yang ditemuinya itu untuk membuka areal persawahan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu mulailah mereka menanam padi. Ketika padi mulai berbuah, maka datanglah hama tikus yang melahap habis padi tersebut,” ungkap <em>Abuwa</em> Min dengan sambil menghisap rokoknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Keumala Tahe berlari. “Ada yang mengatakan larinya sangat kencang seolah-olah terbang ke Beupo, pegunungan yang letaknya antara Geumpang dan Meulaboh. Lalu di sana ia bermimpi. Seorang wali Allah datang padanya lalu berkata : Hai Keumala Tahe, bangun! Kembalilah ke Tangse dan potong lembu hitam di <em>ulee gle</em> (kepala gunung) dan tanam padi kembali.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu setelah padi ditanam dan berbuah serta di panen, potonglah kerbau <em>jagad</em> (albino) dan ayam berwarna putih. Masyarakat menyebutnya istilah <em>top blang.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan asal-usul lahirnya sebuah dusun yang bernama Ulee Glee adalah buah mimpinya Keumala <a href="http://buydiflucancheap.com">Buy cheap diflucan online Without Prescription &#8211; Online Drugstore</a>  Tahe.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mimpi itu, Keumala Tahe kembali ke keumala untuk mencari lembu hitam lalu melaksanakan kenduri seperti mimpinya. Ia membawa  penduduk Keumala untuk  menanam kembali padi di rimba itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Keumala Tahe itu orang yang cerdas,” kata Abuwa Min, “ Ia membawa orang-orang yang menghisap candu untuk membuka sawah. Setelah sawah selesai digarap, mereka diberikan candu agar kembali semangat berkerja. Lalu, setelah semuanya selesai Keumala Tahe membuat perhitungan dengan merincikan biaya pembelian candu dan upah pekerja. Ternyata harga candu lebih mahal dari upah kerja mereka, sehingga para orang-orang tersebut harus pulang dengan tangan kosong karena upah mereka harus digunakan untuk membayar candu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu banyak orang dari berbagai daerah seperti Beureunuen dan Kembang Tanjong yang berdatangan. Lalu mereka pun membangun pemukiman yang kini terkenal dengan beras dan duriannya yang lezat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jadi kata Tangse itu asalnya dari <em>sangse</em>, sebuah kesangsian,” simpul <em>Abuwa</em> Min menutup ceritanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>90</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eksotisme Pantai Lampuuk</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2009/12/eksotisme-pantai-lampuuk.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2009/12/eksotisme-pantai-lampuuk.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 01:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[banda aceh]]></category>
		<category><![CDATA[eksotisme]]></category>
		<category><![CDATA[lhoknga]]></category>
		<category><![CDATA[pantai lampuuk]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>
		<category><![CDATA[visit aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Pantai Lampuuk adalah salah satu pantai yang paling mengesankan untukku. Ia memanjang dari utara hingga selatan. Dulu, sebelum peristiwa tsunami terjadi, pantai ini dipenuhi oleh penjaja ikan segar yang dilengkapi dengan tempat-tempat makan. Mereka akan menawarkan diri untuk memanggang dan memasakan ikan-ikan tersebut agar bisa langsung dinikmati oleh pengunjung pantai. Namun saat ini tidak tampak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pantai Lampuuk adalah salah satu pantai yang paling mengesankan untukku. Ia memanjang dari utara hingga selatan. Dulu, sebelum peristiwa tsunami terjadi, pantai ini dipenuhi oleh penjaja ikan segar yang dilengkapi dengan tempat-tempat makan. Mereka akan menawarkan diri untuk memanggang dan memasakan ikan-ikan tersebut agar bisa langsung dinikmati oleh pengunjung pantai. Namun saat ini tidak tampak satupun tempat makan serupa itu lagi. Seakan pergi bersama dengan luruhnya rimbunan pohon cemara di tepian pantai yang bertumbangan akibat gerusan tsunami lima tahun silam.</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu kemarin aku memutuskan untuk menghabiskan akhir pekanku dengan menunjungi pantai yang berada di Desa Meunasah Masjid, Lhok Nga – Aceh Besar. Letaknya hanya sekitar sekitar 15 KM dari Kota Banda Aceh (dengan jalur Banda Aceh – Calang). Sehingga untuk mencapainya aku memerlukan waktu 30 menit dengan menggunakan motor.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benar-benar menikmati saat itu. Hamparan pasir putih dan jilatan ombak bagaikan magnet raksasa yang menahanku untuk tak bergeming. Cahaya matahari memantulkan fatamorgana yang menakjubkan. Sepoinya angin menyembuhkan dahaga yang mengerang.Beberapa pengunjung terlihat berlari-lari di tepian pantai, ada juga yang menceburkan diri bersama ombak, berselancar menghantam ombak , atau hanya sekedar menatap laut yang tak berpenghujung. Berekreasi ke pantai ini adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan masa-masa akhir pekan. Letih yang menyergap seakan hilang ketika kaki mulai menginjak putihnya pasir.<span id="more-217"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pantai Lampuuk ini terbilang sangat ramai di hari-hari libur, mulai dari siang hingga senja datang. Sehingga jika ingin menikmati ketenangannya, pastikan memilih hari kerja biasa. Namun, meski ramai, pantainya yang luas memanjang tetap bisa menampung ratusan bahkan ribuan orang yang ingin menikmati suasana sunset di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dibandingkan dengan pantai – pantai lain di Banda Aceh, Pantai Lampuuk merupakan pantai yang paling lengkap sarana dan prasarananya. WC umum dan beberapa kafe sederhana untuk beristirahat banyak ditemui sepanjang pantai ini. Bahkan di pantai ini juga ada life guard dengan tower pengawas, layaknya film Baywatch. Keberadaan tim penyelamat ini diprakarsai oleh sebuah organisasi lokal yang awalnya dimotori oleh pekerja asing yang bekerja di Banda Aceh.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, pengelola pantai juga menyediakan banana  boat. Ingin sekali rasanya memacu adrenalinku dengan menaiki boat yang bentuknya seperti pisang itu. Tapi, ketika melihat orang-orang yang diceburkan ke dalam air setelah beberapa saat diajak berputar-putar, keinginanku pun luluh. Aku takut kedalaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian Pantai Lampuuk paling ujung juga meninggalkan eksotisme tersendiri yang berbatasan langsung dengan dinding terjal dan tinggi. Birunya air laut nan berpendar hijau, terpadu dengan birunya langit serta hijaunya pepohonan di atas bukit terjal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemandangan elok lainnya adalah saat matahari menjelang tenggelam, sunset di Lampuuk adalah pemandangan cantik yang sungguh sayang kalau dilewatkan begitu saja. Deburan ombak yang teratur diiringi angin berayun mendayu, merupakan perpaduan romantis.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi sambil menikmati jagung bakar manis serta es kelapa muda yang dihidangkan langsung dengan batoknya plus kucuran jeruk nipis pada kelapa mudatersebut, nikmatnya!</p>
<p style="text-align: justify;">Namun begitu adzan maghrib berkumandang, segera bersiap-siaplah untuk beranjak meninggalkan pantai, bila tak ingin kenangan indah Anda diusik oleh beberapa pemuda lokal yang tak segan-segan mengusir pengunjungpantai untuk segera berlalu dari lokasi ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2009/12/eksotisme-pantai-lampuuk.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>113</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

