<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>liza-fathia.com &#187; pidie</title>
	<atom:link href="http://liza-fathia.com/tag/pidie/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://liza-fathia.com</link>
	<description>Argumentasi Seorang Anak Bangsa</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Aug 2010 03:40:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>

   <image>
    <title>liza-fathia.com</title>
    <url>http://1.gravatar.com/avatar/b0d5084b9c815605d5a56815dfcf289e?s=48&amp;d=</url>
    <link>http://liza-fathia.com</link>
   </image>
		<item>
		<title>Seumula di Tangse</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2010/02/seumula.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2010/02/seumula.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 00:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[beras]]></category>
		<category><![CDATA[beras tangse]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[padi]]></category>
		<category><![CDATA[pidie]]></category>
		<category><![CDATA[visit aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu jam telah menunjukkan pukul 09.00 WIB, tetapi matahari masih malu-malu untuk beranjak dari peraduan. Butiran embun masih tersisa di dedaunan. Kabut putih terbentang dan membelah gunung. Dinginnya udara Tangse masih merasup ke pori-pori kulit hingga membuat diri malas untuk beranjak. Namun, ini tidak berlaku bagi perempuan yang memilih profesinya sebagai petani. Ketika si [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fliza-fathia.com%2F2010%2F02%2Fseumula.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fliza-fathia.com%2F2010%2F02%2Fseumula.html&amp;source=fatheeya&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/DSC013351.jpg"><img class="size-full wp-image-437   aligncenter" title="DSC01335" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/DSC013351.jpg" alt="" width="464" height="312" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu jam telah menunjukkan pukul 09.00 WIB, tetapi matahari masih malu-malu untuk beranjak dari peraduan. Butiran embun masih tersisa di dedaunan. Kabut putih terbentang dan membelah gunung. Dinginnya udara Tangse masih merasup ke pori-pori kulit hingga membuat diri malas untuk beranjak. Namun, ini tidak berlaku bagi perempuan yang memilih profesinya sebagai petani.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika si jago mulai berkokok dan adzan subuh berkumandang, tak ada alasan bagi perempuan-perempuan itu untuk kembali menarik selimut tebal dan kembali larut dalam tidur. Bergegas bangun lalu menunaikan shalat dan menyiapkan sarapan pagi serta kopi untuk anak dan suami. Lalu di tengah kabut yang masih menutupi jalan dengan pakaian lusuh dan bakul di pundak, mereka segera menuju ke sawah.<span id="more-435"></span><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/ok.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-439" title="ok" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/ok.jpg" alt="" width="401" height="370" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Seumula</em>, itulah yang mereka lakukan.  Istilah yang digunakan masyarakat Aceh untuk menanam tanaman padi (tanam = <em>pula</em>, menanam = <em>seumula</em>). Perempuan itu menanam padi (yang sebelumnya telah disemai di salah satu bagian sawah) hingga berhektar-hektar hamparan tanah nan subur itu penuh dengan jejeran tanaman <em>Oryza sativa</em>. Tumbuhan itu ditanam dengan rapi. Tak perlu penggaris untuk meluruskan barisan tanaman padi. Kecekatan para petani dalam menanam dan merapikan padi-padi tersebut mampu menggantikan penggaris apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara petani mereka itu ada yang <em>tueng upah </em>(mencari upah, istilah untuk menanam padi di sawah orang) dengan bayaran Rp 15.000- Rp 20.000 per harinya atau <em>seumula</em> di sawah sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terkadang untuk satu sawah memerlukan 10-15 <em>ureung </em>(orang)<em> seumula</em>. Kalau sawahnya luas 2-3 hari baru selesai ditanam semua, kalau tidak sehari selesai,” ujar Po Cen, salah satu dari perempuan petani itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dinginnya udara pagi, panasnya siang, tak menjadi hambatan mereka untuk mengais rezeki.</p>
<p style="text-align: justify;">“Diguyur hujan itu udah biasa, Tangse kan memang sering hujan. Kalau terik pun, ngga begitu terasa karena udara Tangse yang dingin,” ungkap Po Cen seraya melanjutkan kegiatan seumulanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lantas, mengapa hanya perempuan saja yang bekerja? Di manakah kaum Adam?</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/mantap.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-440" title="mantap" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/mantap.jpg" alt="" width="355" height="295" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Seumula</em> memang dilakukan oleh perempuan. Sedangkan laki-laki, mereka bertugas untuk menggarap sawah seperti jak <em>meu ue</em> (membajak), mengairi, dan memberi pupuk. Lalu kalau panen, yang memotong padi juga para lelaki,” jelas perempuan yang saat itu sedang <em>seumula</em> di sawah Marlaini.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah yang dilakukan para perempuan Tangse yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.  Jika musim sawah tiba, maka mereka akan berbondong untuk pergi ke sawah.  <em>Seumula</em>, lalu <em>teumueweuh</em> (membersihkan ilalang dan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman padi) dan membantu para suami ketika musim panen tiba.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/page.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-441" title="page" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/page.jpg" alt="" width="338" height="302" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, ketika sawah tidak sedang digarap, mereka akan ke kebun untuk memetik kopi, menunggu durian jatuh, dan mencari kayu bakar untuk memasak. Selain itu ada juga yang memanfaatkan kesuburan tanah Tangse untuk ditanami cabe dan aneka sayuran yang lain.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fliza-fathia.com%2F2010%2F02%2Fseumula.html&amp;linkname=Seumula%20di%20Tangse"><img src="http://liza-fathia.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2010/02/seumula.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>61</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tangse, Awal dari Sebuah Kesangsian</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 02:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[banda aceh]]></category>
		<category><![CDATA[beras tangse]]></category>
		<category><![CDATA[pidie]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>
		<category><![CDATA[visit aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[visit-aceh.com Selama ini aku selalu penasaran dengan asal-usul tanah kelahiranku, Tangse. Mengetahui  sejarah berdirinya suatu tempat membuatku semakin mengenal daerah tersebut. Namun, sampai umurku hampir menginjak 22 tahun, aku tidak tahu sejarah tempatku menghabiskan masa-masa kecilku. Mungkin kalau ditanya tentang sejarah lahirnya Kabupaten Pidie, Aceh, bahkan Indonesia dengan mudah aku bisa menjawabnya. Karena semuanya itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fliza-fathia.com%2F2010%2F01%2Ftangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fliza-fathia.com%2F2010%2F01%2Ftangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html&amp;source=fatheeya&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/visit-aceh.jpg"><img class="size-full wp-image-401 aligncenter" title="visit aceh" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/visit-aceh.jpg" alt="" width="420" height="315" /></a></p>
<div class="mceTemp mceIEcenter">
<dl id="attachment_401" class="wp-caption aligncenter" style="width: 430px;">
<dd class="wp-caption-dd">visit-aceh.com</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: justify;">Selama ini aku selalu penasaran dengan asal-usul tanah kelahiranku, Tangse. Mengetahui  sejarah berdirinya suatu tempat membuatku semakin mengenal daerah tersebut. Namun, sampai umurku hampir menginjak 22 tahun, aku tidak tahu sejarah tempatku menghabiskan masa-masa kecilku. Mungkin kalau ditanya tentang sejarah lahirnya Kabupaten Pidie, Aceh, bahkan Indonesia dengan mudah aku bisa menjawabnya. Karena semuanya itu telah terangkum dalam berbagai buku dan banyak narasumber yang dapat dijadikan tempat bertanya. Sedangkan Tangse?</p>
<p style="text-align: justify;">“Orang-orang yang tahu sejarah berdirinya Tangse kebanyakan sudah meninggal,” jelas mamaku, “Dulu kakekmu, Teuku Kali Mansur, termasuk orang yang sangat mahir dalam hal ini. Namun ketika beliau masih hidup, mama tidak pernah menanyakan tentang ini kepadanya.  Jadi, mama tidak tahu banyak,” tambahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pada suatu sore, mamaku menyuruhku untuk segera berkemas, “Kita akan ke rumah <em>Abuwa</em> (paman) Min. Dia tahu banyak tentang sejarah. Dulu kakekmu sering bercerita padanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Maka langsung saja kuturuti perintah mama. Aku benar-benar tidak menyangka ternyata mama begitu peduli tentang keingintahuanku. Padahal, aku tidak memintanya untuk mencari orang yang bisa menjawab pertanyaan ini. Tapi mama, wanita kebanggaanku itu tidak ingin keingintahuanku luruh karena ketidaktahuannya.<span id="more-400"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pergilah kami ke rumah <em>Abuwa</em> Min yang terletak sekitar dua ratus meter dari rumah. Lelaki paro baya itu sedang bersila di atas lantai yang beralaskan tikar sambil menyeruput sebatang rokok. Keluargaku lumayan dekat dengannya. Namun ketika papa meninggal,   aku dan adik sudah kuliah di Banda Aceh, dan  mama yang juga sering di rumah kakaknya, <em>Nyakwa</em> (Bibi) Meulu  membuat kami jarang bersilaturrahmi ke rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo masuk-masuk,” ucapnya dalam Bahasa Aceh dengan wajah begitu sumringah.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mama pun menyampaikan tentang keingintahuanku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Untuk apa? Wah, Abuwa sudah lama tidak bercerita tentang Tangse, Nak. Tak ada yang tanya,” papar lelaki itu sambil terkekeh-kekeh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya pingin tau aja, <em>Abuwa</em>. Masa orang Tangse ngga tau tentang Tangse. Malu-maluin lah, <em>Abuwa</em>,” balasku dan diiringi derai tawa mama dan abuwa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah, <em>Abuwa</em> akan menceritakan sebatas ingatan <em>Abuwa</em>, ya. Soalnya ini sudah lama sekali diceritakan kakekmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk. Bagiku lebih baik tahu sedikit dari pada tidak sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulailah laki-laki yang bernama lengkap Teuku Abdul Amin itu menceritakan tentang Tangse.</p>
<p style="text-align: justify;">Abdul Taher atau yang lebih dikenal dengan Keumala Tahe adalah orang yang pertama menginjakkan kaki ke Tangse. Ia berasal dari Keumala, yang kini merupakan kecamatan  setelah Tangse.</p>
<p style="text-align: justify;">“Waktu itu kalau tidak salah Sultan Iskandar Muda yang memerintah,” jelasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa itu, masyarakat Keumala sedang dilanda kelaparan. Kemarau panjang dan hama tikus membuat hasil panen mereka tak bisa digunakan. Maka larilah Keumala Tahe ke pegunungan yang terletak setelah Keumala.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saat melihat pegunungan yang begitu rimbun, ia merasa <em>sangse</em>, ragu atau pusing. Dia berpikir apakah di rimba ini bisa ditanam padi?”</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Ka sangseng. Ka susah</em>. Tidak tau mau berbuat apa.” (Sudah sangsi. Sudah susah. Tidak tahu mau berbuat apa. Sangsi)</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga terpikirlah oleh Keumala Tahe untuk membuka areal persawahan di rimba ini. Lalu kembalilah lelaki  itu ke Keumala untuk  mengajak penduduk daerah tersebut ke rimba yang ditemuinya itu untuk membuka areal persawahan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu mulailah mereka menanam padi. Ketika padi mulai berbuah, maka datanglah hama tikus yang melahap habis padi tersebut,” ungkap <em>Abuwa</em> Min dengan sambil menghisap rokoknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Keumala Tahe berlari. “Ada yang mengatakan larinya sangat kencang seolah-olah terbang ke Beupo, pegunungan yang letaknya antara Geumpang dan Meulaboh. Lalu di sana ia bermimpi. Seorang wali Allah datang padanya lalu berkata : Hai Keumala Tahe, bangun! Kembalilah ke Tangse dan potong lembu hitam di <em>ulee gle</em> (kepala gunung) dan tanam padi kembali.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu setelah padi ditanam dan berbuah serta di panen, potonglah kerbau <em>jagad</em> (albino) dan ayam berwarna putih. Masyarakat menyebutnya istilah <em>top blang.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan asal-usul lahirnya sebuah dusun yang bernama Ulee Glee adalah buah mimpinya Keumala Tahe.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mimpi itu, Keumala Tahe kembali ke keumala untuk mencari lembu hitam lalu melaksanakan kenduri seperti mimpinya. Ia membawa  penduduk Keumala untuk  menanam kembali padi di rimba itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Keumala Tahe itu orang yang cerdas,” kata Abuwa Min, “ Ia membawa orang-orang yang menghisap candu untuk membuka sawah. Setelah sawah selesai digarap, mereka diberikan candu agar kembali semangat berkerja. Lalu, setelah semuanya selesai Keumala Tahe membuat perhitungan dengan merincikan biaya pembelian candu dan upah pekerja. Ternyata harga candu lebih mahal dari upah kerja mereka, sehingga para orang-orang tersebut harus pulang dengan tangan kosong karena upah mereka harus digunakan untuk membayar candu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu banyak orang dari berbagai daerah seperti Beureunuen dan Kembang Tanjong yang berdatangan. Lalu mereka pun membangun pemukiman yang kini terkenal dengan beras dan duriannya yang lezat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jadi kata Tangse itu asalnya dari <em>sangse</em>, sebuah kesangsian,” simpul <em>Abuwa</em> Min menutup ceritanya.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fliza-fathia.com%2F2010%2F01%2Ftangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html&amp;linkname=Tangse%2C%20Awal%20dari%20Sebuah%20Kesangsian"><img src="http://liza-fathia.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>87</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beras Cantik, Primadona dari Tangse</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2009/11/ada-apa-dengan-beras-cantik-primadona-dari-tangse.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2009/11/ada-apa-dengan-beras-cantik-primadona-dari-tangse.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 01:51:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[beras tangse]]></category>
		<category><![CDATA[pidie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fliza-fathia.com%2F2009%2F11%2Fada-apa-dengan-beras-cantik-primadona-dari-tangse.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fliza-fathia.com%2F2009%2F11%2Fada-apa-dengan-beras-cantik-primadona-dari-tangse.html&amp;source=fatheeya&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong> <strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-139" title="23122007398" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2009/11/23122007398-300x225.jpg" alt="23122007398" width="300" height="225" /><br />
<!--  /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format<img src="http://liza-fathia.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/07.gif" style="border:none;background:none;" alt=":o" />ther;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText	{mso-style-noshow:yes;	mso-style-unhide:no;	mso-style-link:"Footnote Text Char";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:10.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}span.MsoFootnoteReference	{mso-style-noshow:yes;	mso-style-unhide:no;	vertical-align:super;}span.FootnoteTextChar	{mso-style-name:"Footnote Text Char";	mso-style-noshow:yes;	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Footnote Text";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;} /* Page Definitions */ @page	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/LIZAFA~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs;	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/LIZAFA~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs;	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/LIZAFA~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es;	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/LIZAFA~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;} --> </strong></p>
<div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"><strong></strong><strong><br />
</strong></div>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fliza-fathia.com%2F2009%2F11%2Fada-apa-dengan-beras-cantik-primadona-dari-tangse.html&amp;linkname=Beras%20Cantik%2C%20Primadona%20dari%20Tangse"><img src="http://liza-fathia.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2009/11/ada-apa-dengan-beras-cantik-primadona-dari-tangse.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
