Tag Archives: Forum Lingkar Pena

Karena Kita Keluarga

Ketika seorang menanyakan pada saya apakah ketika kuliah dulu saya adalah tipikal marumpus (mahasiswa rumah kampus) yang setiap hari hanya melanglang buana di rumah dan kampus, ngga ke kampus kalau tidak ada mata kuliah lalu setelah kuliah selesai langsung go home, atau seorang organisatoris? Langsung saja saya jawab kalau saya seorang organisatoris. Ya, ada beberapa organisasi intra dan ekstra kampus yang saya ikuti sehingga saya ke kampus tidak serta merta untuk kuliah. Lalu ia bertanya di antara semua itu yang mana paling membuat saya berkesan dan masih aktif sampai sekarang? Jawaban saya adalah Forum Lingkar Pena (FLP).

FLP adalah organisasi pertama yang saya ikuti saat menjabat predikat sebagai mahasiswa. FLP pula organisasi yang sampai sekarang masih saya geluti. Sudah lima tahun lebih saya menjadi bagian dari forum yang membuat saya sampai sekarang masih semangat untuk menulis. Walaupun hanya sekadar menulis blog, tetapi itu adalah sebuah pencapaian yang sangat berharga. Karena untuk mencapai kekonsistensian dalam menulis adalah hal yang sangat berat dan sering rasa malas menghinggap. Read more »

Menulis Itu Ada Batasnya

Hari ini saya mengikuti Kelas Menulis di sekretariat FLP. Sebuah kegiatan dwi mingguan yang memang diselenggarakan oleh kaderisasi FLP untuk mengupgrade para penulis baik baru bergabung maupun yang telah lama berkecimplung. Kedatangan saya di kelas ini bisa dibilang sangatlah telat. Acara yang telah dimulai sejak pukul sepuluh pagi tapi kehadiran saya satu jam setelahnya. Benar-benar ngaret. Maklum saja, hari Minggu adalah harinya anak kos membersihkan kostannya setelah enam hari sibuk beraktifitas. (Alasannya sedikit dimodifikasi :) )

Saya tiba tepat ketika Ibnu, sang pemateri pada pertemuan kali ini membahas tentang Menentukan Batas dalam Menulis. Memang sebuah ide itu tidak terbatas. Tetapi ketika menulis dan berharap tulisan dibaca orang maka norma-norma berlaku di sana. Norma-norma baik itu kesusilaan, kesopanan, dan apapun itu harus tetap dijunjung tinggi. Saya tidak setuju jika ada orang yang berpendapat bahwa sebuah karya sastra itu bagaimanapun isinya layak diberikan apresiasi. Lantas bagaimana kalau isinya justru membuat tindakan asusila semakin banyak terjadi? Maka di sinilah diperlukan filter. Menulis tetap ada batasannya. Read more »

Numpang Eksis di FLP

Beberapa hari yang lalu, saya menjadi salah satu instruktur dalam acara inaugurasi (pengukuhan) untuk anggota baru Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh angkatan pertama 2012. Acaranya berlangsung selama dua hari di Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) Lubuk, Aceh Besar. Hari itu tepatnya hari Sabtu dan Minggu (21-22 Januari 2012).

Awalnya sempat ciut juga saat ditunjuk menjadi instruktur. Saya? Menjadi instruktur anggota baru FLP? Apa bisa? Apalagi saat disandingkan dengan pesohor FLP seperti Bu Boss Ade, Nuril dan Roby. Serasa mati kutu saja. Belum lagi dengan jadwal yang berubah-ubah. Apa saya bisa ikutan? Soalnya Januari adalah bulan yang padat bagi seorang Liza. Cieee, padat euy! Maklum aja di bulan ini banyak hal yang harus saya persiapkan, kerjakan, dan selesaikan. Walhasil, jadwal yang ditentukan tidak bentrok dengan kegiatan saya yang lain dan sayapun menjadi instruktur. Read more »

Kabar Dahsyat di Awal Tahun

Surat Buat Darwati dan Pemerkosaan yang Dilakukan WH

amoxicillin buy height=”189″ />

Lama tidak ngeblog dan update informasi karena saban hari bergelut dengan rutinitas penulisan proposal buy online cheap Amoxil without prescription riset untuk menyelesaikan tugas akhirku, ternyata banyak hal yang telah terjadi di bumi Serambi Mekah ini dan kulewati begitu saja. Kemarin ketika menghadiri diskusi yang digelar Forum  LSM Aceh dalam rangka perkenalan dan silaturrahmi dengan komunitas yang kuikuti, Aceh Blogger Community (ABC) dan Forum Lingkar Pena (FLP), aku baru sadar kalau diriku benar-benar tidak tau apa-apa.

Aku hanya bisa ber “ooooo” panjang ketika kak Riza Rahmi (my dearest patner) memberitahuku tentang dua kejadian dahsyat yang sedang terjadi di Aceh.

“Istri Gubernur mensomasi Renvanda, penulis cerpen Surat Buat Darwati, yang dimuat di Harian Aceh (3/1). Lalu tiga oknum WH (Polisi Syari’at) memperkosa seorang gadis (8/1).”

Lalu hari ini sebelum menuliskan beberapa kata di blog ini dan sebelum kembali berkutat ke dalam “Dunia Kutu” (rutinitas yang sudah seminggu ini menyisa waktuku), aku mencoba menjelajahi kedua berita besar tersebut. Read more »

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes