<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>liza-fathia.com &#187; beras</title>
	<atom:link href="http://liza-fathia.com/tag/beras/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://liza-fathia.com</link>
	<description>Argumentasi Seorang Anak Bangsa</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Aug 2010 03:40:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>

   <image>
    <title>liza-fathia.com</title>
    <url>http://1.gravatar.com/avatar/b0d5084b9c815605d5a56815dfcf289e?s=48&amp;d=</url>
    <link>http://liza-fathia.com</link>
   </image>
		<item>
		<title>Seumula di Tangse</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2010/02/seumula.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2010/02/seumula.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 00:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[beras]]></category>
		<category><![CDATA[beras tangse]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[padi]]></category>
		<category><![CDATA[pidie]]></category>
		<category><![CDATA[visit aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu jam telah menunjukkan pukul 09.00 WIB, tetapi matahari masih malu-malu untuk beranjak dari peraduan. Butiran embun masih tersisa di dedaunan. Kabut putih terbentang dan membelah gunung. Dinginnya udara Tangse masih merasup ke pori-pori kulit hingga membuat diri malas untuk beranjak. Namun, ini tidak berlaku bagi perempuan yang memilih profesinya sebagai petani. Ketika si [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fliza-fathia.com%2F2010%2F02%2Fseumula.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fliza-fathia.com%2F2010%2F02%2Fseumula.html&amp;source=fatheeya&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/DSC013351.jpg"><img class="size-full wp-image-437   aligncenter" title="DSC01335" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/DSC013351.jpg" alt="" width="464" height="312" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu jam telah menunjukkan pukul 09.00 WIB, tetapi matahari masih malu-malu untuk beranjak dari peraduan. Butiran embun masih tersisa di dedaunan. Kabut putih terbentang dan membelah gunung. Dinginnya udara Tangse masih merasup ke pori-pori kulit hingga membuat diri malas untuk beranjak. Namun, ini tidak berlaku bagi perempuan yang memilih profesinya sebagai petani.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika si jago mulai berkokok dan adzan subuh berkumandang, tak ada alasan bagi perempuan-perempuan itu untuk kembali menarik selimut tebal dan kembali larut dalam tidur. Bergegas bangun lalu menunaikan shalat dan menyiapkan sarapan pagi serta kopi untuk anak dan suami. Lalu di tengah kabut yang masih menutupi jalan dengan pakaian lusuh dan bakul di pundak, mereka segera menuju ke sawah.<span id="more-435"></span><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/ok.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-439" title="ok" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/ok.jpg" alt="" width="401" height="370" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Seumula</em>, itulah yang mereka lakukan.  Istilah yang digunakan masyarakat Aceh untuk menanam tanaman padi (tanam = <em>pula</em>, menanam = <em>seumula</em>). Perempuan itu menanam padi (yang sebelumnya telah disemai di salah satu bagian sawah) hingga berhektar-hektar hamparan tanah nan subur itu penuh dengan jejeran tanaman <em>Oryza sativa</em>. Tumbuhan itu ditanam dengan rapi. Tak perlu penggaris untuk meluruskan barisan tanaman padi. Kecekatan para petani dalam menanam dan merapikan padi-padi tersebut mampu menggantikan penggaris apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara petani mereka itu ada yang <em>tueng upah </em>(mencari upah, istilah untuk menanam padi di sawah orang) dengan bayaran Rp 15.000- Rp 20.000 per harinya atau <em>seumula</em> di sawah sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terkadang untuk satu sawah memerlukan 10-15 <em>ureung </em>(orang)<em> seumula</em>. Kalau sawahnya luas 2-3 hari baru selesai ditanam semua, kalau tidak sehari selesai,” ujar Po Cen, salah satu dari perempuan petani itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dinginnya udara pagi, panasnya siang, tak menjadi hambatan mereka untuk mengais rezeki.</p>
<p style="text-align: justify;">“Diguyur hujan itu udah biasa, Tangse kan memang sering hujan. Kalau terik pun, ngga begitu terasa karena udara Tangse yang dingin,” ungkap Po Cen seraya melanjutkan kegiatan seumulanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lantas, mengapa hanya perempuan saja yang bekerja? Di manakah kaum Adam?</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/mantap.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-440" title="mantap" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/mantap.jpg" alt="" width="355" height="295" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Seumula</em> memang dilakukan oleh perempuan. Sedangkan laki-laki, mereka bertugas untuk menggarap sawah seperti jak <em>meu ue</em> (membajak), mengairi, dan memberi pupuk. Lalu kalau panen, yang memotong padi juga para lelaki,” jelas perempuan yang saat itu sedang <em>seumula</em> di sawah Marlaini.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah yang dilakukan para perempuan Tangse yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.  Jika musim sawah tiba, maka mereka akan berbondong untuk pergi ke sawah.  <em>Seumula</em>, lalu <em>teumueweuh</em> (membersihkan ilalang dan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman padi) dan membantu para suami ketika musim panen tiba.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/page.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-441" title="page" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/page.jpg" alt="" width="338" height="302" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, ketika sawah tidak sedang digarap, mereka akan ke kebun untuk memetik kopi, menunggu durian jatuh, dan mencari kayu bakar untuk memasak. Selain itu ada juga yang memanfaatkan kesuburan tanah Tangse untuk ditanami cabe dan aneka sayuran yang lain.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fliza-fathia.com%2F2010%2F02%2Fseumula.html&amp;linkname=Seumula%20di%20Tangse"><img src="http://liza-fathia.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2010/02/seumula.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>61</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
