<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seuramoe Liza &#187; banda aceh</title>
	<atom:link href="http://liza-fathia.com/tag/banda-aceh/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://liza-fathia.com</link>
	<description>Belajar Tentang Hidup dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 14:51:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Akhirnya Gowes Juga</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/10/akhirnya-gowes-juga.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/10/akhirnya-gowes-juga.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Oct 2011 12:39:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[banda aceh]]></category>
		<category><![CDATA[gowes]]></category>
		<category><![CDATA[polygon]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah keinginanku untuk bersepeda akhirnya tercapai. Dua minggu belakangan ini tepatnya setelah menyelesaikan kepaniteraan klinik (koas) dibagian obstetri dan ginekologi atau yang umumnya dikenal dengan bagian kebidanan dan kandungan, saya menghabiskan pagi dengan bersepeda. Dan ternyata itu sangat mengasyikkan. Bersepeda sambil menikmati udara pagi Banda Aceh yang belum terpolusi tanpa harus memikirkan rutinitas harian yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/10/gowes.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-908" title="gowes" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/10/gowes-165x300.jpg" alt="" width="165" height="300" /></a>Alhamdulillah keinginanku untuk bersepeda akhirnya tercapai. Dua minggu belakangan ini tepatnya setelah menyelesaikan kepaniteraan klinik (koas) dibagian obstetri dan ginekologi atau yang umumnya dikenal dengan bagian kebidanan dan kandungan, saya menghabiskan pagi dengan bersepeda. Dan ternyata itu sangat mengasyikkan. Bersepeda sambil menikmati udara pagi Banda Aceh yang belum terpolusi tanpa harus memikirkan rutinitas harian yang biasanya saya geluti. Yup, dua minggu ini saya libur walau tidak sepenuhnya libur karena tetap harus ke rumah sakit untuk mengurus data-data akademik.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, saya selalu terkesima saat pedayung sepeda melintas di depan saya. Entah dia laki-laki atau pun perempuan. Dan mereka memiliki nilai plus di mata saya karena tindakan mereka saat itu selain untuk menyehatkan tubuh juga salah satu bentuk kecintaan mereka terhadap lingkungan.   Sering saya membayangkan seandainya yang sedang mendayung pedal itu adalah saya. Namun waktu itu saya tidak memiliki sepeda.<span id="more-907"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini pun sebenarnya saya belum memiliki sepeda. Polygon yang kukayuh setiap pagi adalah pinjaman dari seorang teman. Karena kesibukannya, sudah enam bulan lebih sepedanya mengeram di garasi. “Pakai saja Liz, terserah kamu sampai kapan minjamnya. Dari pada di garasi, tidak terurus, bisa berkarat pula nanti.” Langsung saja saya terima sambil terus berdoa semoga suatu hari nanti saya bisa membelinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam dua minggu ini saya baru menempuh track terdekat saja. Paling sepuluh kilometer dari rumah. Kepingin juga gowes lebih jauh lagi, cuma kalau sendiri tidak asyik. Terkadang risih juga dilihatin orang (mungkin inilah yang pesepeda lain rasakan waktu saya melototi mereka ). Tapi itu bukan sebuah masalah, suatu hari kelak saya bisa bergabung dengan klub sepeda atau apalah itu. Bisa bersepeda saja saya sudah sangat bersyukur dan terimakasih banyak kepada sanga teman yang sudah meminjamkan Polygonnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/10/akhirnya-gowes-juga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lelaki Lebih Gila dari Wanita</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/03/lelaki-lebih-gila-dari-wanita.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/03/lelaki-lebih-gila-dari-wanita.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Mar 2011 16:20:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[banda aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Kesehatan Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[persentase pasien jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[RSJ Banda Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Tidak terasa, empat minggu sudah saya menjalani kepaniteraan klinik senior alias koas di bagian ilmu kesehatan jiwa RSJ Banda Aceh. Empat minggu yang memberikan aneka rasa. Senang, sedih, tegang, takut, aneh. Semuanya bersatu menjadi kenangan berharga dalam hidup dan saat saya mengabdikan diri dalam masyarakat kelak. Senang karena di sana saya memiliki ilmu yang baru. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tidak terasa, empat minggu sudah saya menjalani kepaniteraan klinik senior alias koas di bagian ilmu kesehatan jiwa RSJ Banda Aceh. Empat minggu yang memberikan aneka rasa. Senang, sedih, tegang, takut, aneh. Semuanya bersatu menjadi kenangan berharga dalam hidup dan saat saya mengabdikan diri dalam masyarakat kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Senang karena di sana saya memiliki ilmu yang baru. Saya menjadi paham bagaimana seseorang dikatan mengalami gangguan jiwa. Saya bisa mendapat teman-teman baru yang saat itu nikmat sehatnya sedang dicabut oleh Allah. Dapat menjadi pendengar yang budiman mengenai kelus kesah mereka. Di sana saya juga menjadi paham, bahwa pada dasarnya orang yang mengalami gangguan jiwa itu hanya proses fikir mereka yang terganggu sedang ingatan tidak. Intelektualitas pasien tersebut sama sekali tidak terganggu. Ketika sembuh kelak, mereka dapat mengingat apapun yang mereka alami ketika sakit atau sebelumnya.<span id="more-816"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saya sedih, ketika melihat pasien-pasien di sana melimpah ruah. Ruangan yang seharusnya menampung tiga puluh orang, kini dipenuhi oleh depalan puluh kepala. Pasien yang seharusnya bisa pulang, tetapi keluarga tak kunjung datang menjemput. Sedih memikirkan jika saya yang mengalami nasib seperti mereka. Sedih, karena terkadang kelakuan kita yang tidak kita sadari bisa membuat orang mengalami gangguan jiwa. Namun, semua itu membuat saya semakin bersyukur pada Allah atas segala nikmat yang telah dikaruniakan-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tegang dan takut karena yang saya hadapi adalah orang-orang yang sakit pikirannya. Yang bisa melakukan apa saja tanpa ada hukum yang bisa mengadilinya. Mereka bisa begitu ganas jika tidak dalam pengobatan. Bayangkan saja, tak jarang di antara pasien itu masuk karena sebelumnya telah melakukan pembunuhan. Dan ada satu diantara pasien yang telah memutilasi ayahnya menjadi tujuh bagian.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya merasa aneh karena hampir seluruh penghuni RSJ itu adalah kaum Adam. Dari kurang lebih dua belas balee (ruangan) yang disediakan rumah sakit, hanya tiga balee yang isinya perempuan. Jika dipersentasekan hanya 25 persen dari seluruh penghuni RSJ (kurang lebih 600 orang) itu adalah perempuan, selebihnya adalah lelaki. Kenapa bisa begitu ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah membaca berbagai referensi, saya pun mendapat jawabannya. Pada dasarnya, perempuan sangat rentan terkena gangguan jiwa. Bahkan untuk gangguan ringan, perempuan dua kali lebih berisiko dibanding laki-laki. Gangguan seperti depresi, kecemasan, dan keluhan somatik didominasi perempuan dengan angka sekitar 1 dari 3 orang dan merupakan masalah kesehatan serius.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun untuk gangguan jiwa berat dan harus dirawat , maka anggapan perempuan  lebih lemah dibandingkan dari laki-laki mungkin tak lagi relevan untuk dibenarkan. Setelah berdiskusi singkat dengan dr. Juwita Saragih, Sp.KJ, salah satu psikiater yang dimiliki RSJ Banda Aceh, ternyata hal ini dipengaruhi oleh hormon estrogen dan endorphin yang dimiliki oleh wanita. Hormon tersebut sangat berpengaruh terhadap daya tahan seorang wanita terhadap rasa sakit dan diduga memiliki hubungan dengan jumlah pasien wanita yang dirawat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Estrogen dan Endorfin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli telah melakukan penelitian untuk membandingkan daya tahan terhadap rasa sakit  antara kaum pria dan wanitaini lebih berbasis ilmiah ketimbang beberapa pendapat yang menyatakan bahwa perempuan mungkin memiliki sifat lebih tabah sehingga kelihatan lebih bisa menahan sakit yang dirasakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada lagi beberapa pendapat lain yang mengatakan bahwa perempuan secara fisiologis lebih sering berhadapan dengan rasa sakit di sepanjang proses mekanisme kehidupan mereka, seperti rasa sakit di waktu menstruasi atau dalam proses melahirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam  ilmu kedokteran, ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi hal ini.  Penelitian yang dilakukan di sebuah institusi di Columbia University, AS,  mencoba menghubungkannya dengan peranan hormonal manusia, dan penelitian ini ternyata banyak didukung banyak ahli saraf lain yang melakukan studi investigasi mereka terhadap daya tahan waniat terhadap rasa sakit yang dinilai lebih tinggi dibandingkan pria ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa sakit yang mereka sebutkan dipengaruhi oleh sangat banyak faktor di dalam mekanisme tubuh, salah satunya berkaitan erat  dengan peranan hormon di tubuh manusia, dan salah satu diantaranya adalah hormon estrogen yang dikenal lebih spesifik sebagai hormon wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Hormon yang dihasilkan di indung telur atas rangsangan LH dan FSH (Luteneizing Hormone dan Follicle-Stimulating Hormone) bersama progesteron dalam merangsang pelepasan sel telur ini berperan dalam memproduksi endorfin, suatu zat kimia otak yang termasuk asam amino tubuh dan berperan dalam mengurangi serta mengatasi respons sakit.</p>
<p>Endorfin itu sendiri berperan tak hanya dalam mengatasi rasa sakit alami   di dalam tubuh seperti kram di saat menstruasi namun juga dalam menjaga kebugaran emosi dan suasana hati bersama hormon lainnya, serotonin.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih jauh mereka menjelaskan bahwa ketika level estrogen mencapai tingkatan tinggi, semakin besar peningkatan jumlah area diotak yang menyediakan area bagi endorfin untuk melakukan aktifitasnya, dan semakin banyak area ini maka akan semakin banyak pula endorfin yang bisa digunakan tubuh dalam mengatasi rasa sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Proses ini mereka jelaskan kaitannya dengan kejadian saat seorang wanita mengalami proses melahirkan dimana level endorfin secara fisiologis sudah dirancang sedemikian rupa untuk mengurangi rasa sakit yang dihadapi oleh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Hormon ini juga membuat para wanita lebih tanggap dan lebih dini mengenali rasa sakitnya dibandingkan dengan hormon pria yang dinilai kurang peka terhadap rasa sakit, namun sekaligus juga tak punya peranan banyak terhadap produksi endorfin dalam mengatasi rasa sakit tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai kadar estrogen yang berkurang saat seorang wanita memasuki tahapan menopause sendiri, belum bisa dijelaskanlebih lanjut, namun mereka menyimpulkan bahwa hormon estrogen dan endorfin, yang juga banyak diproduksi ketika berhubungan intim dan olahraga secara teratur ini memegang peranan dibalik kekuatan para wanita itu, paling tidak selama periode tertentu dalam hidup mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, begitulah ulasan singkat tentang hubungan antara gangguan jiwa berat pada wanita dengan hormon estrogen yang mereka (termasuk saya) miliki.  Jadi, setelah di koas di bagian Ilmu Kesehatan Jiwa, saya semakin bangga menjadi wanita <img src='http://liza-fathia.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">sumber foto : antaranews.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/03/lelaki-lebih-gila-dari-wanita.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tangse, Awal dari Sebuah Kesangsian</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 02:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[banda aceh]]></category>
		<category><![CDATA[beras tangse]]></category>
		<category><![CDATA[pidie]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>
		<category><![CDATA[visit aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[&#160; visit-aceh.com buy doxycyclin online without prescription buy online Amoxil cheap without prescription Selama ini aku selalu penasaran dengan asal-usul tanah kelahiranku, Tangse. Mengetahui  sejarah berdirinya suatu tempat membuatku semakin mengenal daerah tersebut. Namun, sampai umurku hampir menginjak 22 tahun, aku tidak tahu sejarah tempatku menghabiskan masa-masa kecilku. Mungkin kalau ditanya tentang sejarah lahirnya Kabupaten [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/visit-aceh.jpg"><img class="size-full wp-image-401 aligncenter" title="visit <a href="http://onlinelevitracheap.net ">buy levitra vardenafil</a>  aceh&#8221; src=&#8221;http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/visit-aceh.jpg&#8221; alt=&#8221;" width=&#8221;420&#8243; height=&#8221;315&#8243; /></a></p>
<div class="mceTemp mceIEcenter">
<dl id="attachment_401" class="wp-caption aligncenter" style="width: 430px;">
<dd class="wp-caption-dd">visit-aceh.com</dd>
<p> <a href="http://sdoxycyclinebuy.com">buy doxycyclin online without prescription</a> <a href="http://amoxilpills.net">buy online Amoxil cheap without prescription</a>   </dl>
</div>
<p style="text-align: justify;">Selama ini aku selalu penasaran dengan asal-usul tanah kelahiranku, Tangse. Mengetahui  sejarah berdirinya suatu tempat membuatku semakin mengenal daerah tersebut. Namun, sampai umurku hampir menginjak 22 tahun, aku tidak tahu sejarah tempatku menghabiskan masa-masa kecilku. Mungkin kalau ditanya tentang sejarah lahirnya Kabupaten Pidie, Aceh, bahkan Indonesia dengan mudah aku bisa menjawabnya. Karena semuanya itu telah terangkum dalam berbagai buku dan banyak narasumber yang dapat dijadikan tempat bertanya. Sedangkan Tangse?</p>
<p style="text-align: <a href="http://westernunion-locations.com/western-union-washington-seatac.php">westernunion washington</a>  justify;&#8221;>“Orang-orang yang tahu sejarah berdirinya Tangse kebanyakan sudah meninggal,” jelas mamaku, “Dulu kakekmu, Teuku Kali Mansur, termasuk orang yang sangat mahir dalam hal ini. Namun ketika beliau masih hidup, mama tidak pernah menanyakan tentang ini kepadanya.  Jadi, mama tidak tahu banyak,” tambahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pada suatu sore, mamaku menyuruhku untuk segera berkemas, “Kita akan ke rumah <em>Abuwa</em> (paman) Min. Dia tahu banyak tentang sejarah. Dulu kakekmu sering bercerita padanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Maka langsung saja kuturuti perintah mama. Aku benar-benar tidak menyangka ternyata mama begitu peduli tentang keingintahuanku. Padahal, aku tidak memintanya untuk mencari orang yang bisa menjawab pertanyaan ini. Tapi mama, wanita kebanggaanku itu tidak ingin keingintahuanku luruh karena ketidaktahuannya.<span id="more-400"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pergilah kami ke rumah <em>Abuwa</em> Min yang terletak sekitar dua ratus meter dari rumah. Lelaki paro baya itu sedang bersila di atas lantai yang beralaskan tikar sambil menyeruput sebatang rokok. Keluargaku lumayan dekat dengannya. Namun ketika papa meninggal,   aku dan adik sudah kuliah di Banda Aceh, dan  mama yang juga sering di rumah kakaknya, <em>Nyakwa</em> (Bibi) Meulu  membuat kami jarang bersilaturrahmi ke rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo masuk-masuk,” ucapnya dalam Bahasa Aceh dengan wajah begitu sumringah.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mama pun menyampaikan tentang keingintahuanku.</p>
<p style="text-align: <a href="http://amoxil-pharm.net">buy antibiotics online</a>  justify;&#8221;>“Untuk apa? Wah, Abuwa sudah lama tidak bercerita tentang Tangse, Nak. Tak ada yang tanya,” papar lelaki itu sambil terkekeh-kekeh.</p>
<p <a href="http://ampicillinpills.com">buy online Ampicillin cheap Drugstore</a>  style=&#8221;text-align: justify;&#8221;>“Ya pingin tau aja, <em>Abuwa</em>. Masa orang Tangse <a href="http://amoxil-pharm.com">generic amoxil</a>  ngga tau tentang Tangse. Malu-maluin lah, <em>Abuwa</em>,” balasku dan diiringi derai tawa mama dan abuwa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah, <em>Abuwa</em> akan menceritakan sebatas ingatan <em>Abuwa</em>, ya. Soalnya ini sudah lama sekali diceritakan kakekmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk. Bagiku lebih baik tahu sedikit dari pada tidak sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulailah laki-laki yang bernama lengkap Teuku Abdul Amin itu menceritakan tentang Tangse.</p>
<p style="text-align: justify;">Abdul Taher atau yang lebih dikenal dengan Keumala Tahe adalah orang yang pertama menginjakkan kaki ke Tangse. Ia berasal dari Keumala, yang kini merupakan kecamatan  setelah Tangse.</p>
<p style="text-align: justify;">“Waktu itu kalau tidak salah Sultan Iskandar Muda yang memerintah,” jelasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa itu, masyarakat Keumala sedang dilanda kelaparan. Kemarau panjang dan hama tikus membuat hasil panen mereka tak bisa digunakan. Maka larilah Keumala Tahe ke pegunungan  yang terletak setelah Keumala.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saat melihat pegunungan yang begitu rimbun, ia merasa <em>sangse</em>, ragu atau pusing. Dia berpikir apakah di rimba ini bisa ditanam padi?”</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Ka sangseng. Ka susah</em>. Tidak tau mau berbuat apa.” (Sudah sangsi. Sudah susah. Tidak tahu mau berbuat apa. Sangsi)</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga terpikirlah oleh Keumala Tahe untuk membuka areal persawahan di rimba ini. Lalu kembalilah lelaki  itu ke Keumala untuk  mengajak penduduk daerah tersebut ke rimba yang ditemuinya itu untuk membuka areal persawahan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu mulailah mereka menanam padi. Ketika padi mulai berbuah, maka datanglah hama tikus yang melahap habis padi tersebut,” ungkap <em>Abuwa</em> Min dengan sambil menghisap rokoknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Keumala Tahe berlari. “Ada yang mengatakan larinya sangat kencang seolah-olah terbang ke Beupo, pegunungan yang letaknya antara Geumpang dan Meulaboh. Lalu di sana ia bermimpi. Seorang wali Allah datang padanya lalu berkata : Hai Keumala Tahe, bangun! Kembalilah ke Tangse dan potong lembu hitam di <em>ulee gle</em> (kepala gunung) dan tanam padi kembali.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu setelah padi ditanam dan berbuah serta di panen, potonglah kerbau <em>jagad</em> (albino) dan ayam berwarna putih. Masyarakat menyebutnya istilah <em>top blang.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan asal-usul lahirnya sebuah dusun yang bernama Ulee Glee adalah buah mimpinya Keumala <a href="http://buydiflucancheap.com">Buy cheap diflucan online Without Prescription &#8211; Online Drugstore</a>  Tahe.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mimpi itu, Keumala Tahe kembali ke keumala untuk mencari lembu hitam lalu melaksanakan kenduri seperti mimpinya. Ia membawa  penduduk Keumala untuk  menanam kembali padi di rimba itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Keumala Tahe itu orang yang cerdas,” kata Abuwa Min, “ Ia membawa orang-orang yang menghisap candu untuk membuka sawah. Setelah sawah selesai digarap, mereka diberikan candu agar kembali semangat berkerja. Lalu, setelah semuanya selesai Keumala Tahe membuat perhitungan dengan merincikan biaya pembelian candu dan upah pekerja. Ternyata harga candu lebih mahal dari upah kerja mereka, sehingga para orang-orang tersebut harus pulang dengan tangan kosong karena upah mereka harus digunakan untuk membayar candu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu banyak orang dari berbagai daerah seperti Beureunuen dan Kembang Tanjong yang berdatangan. Lalu mereka pun membangun pemukiman yang kini terkenal dengan beras dan duriannya yang lezat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jadi kata Tangse itu asalnya dari <em>sangse</em>, sebuah kesangsian,” simpul <em>Abuwa</em> Min menutup ceritanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>90</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eksotisme Pantai Lampuuk</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2009/12/eksotisme-pantai-lampuuk.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2009/12/eksotisme-pantai-lampuuk.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 01:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[banda aceh]]></category>
		<category><![CDATA[eksotisme]]></category>
		<category><![CDATA[lhoknga]]></category>
		<category><![CDATA[pantai lampuuk]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>
		<category><![CDATA[visit aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Pantai Lampuuk adalah salah satu pantai yang paling mengesankan untukku. Ia memanjang dari utara hingga selatan. Dulu, sebelum peristiwa tsunami terjadi, pantai ini dipenuhi oleh penjaja ikan segar yang dilengkapi dengan tempat-tempat makan. Mereka akan menawarkan diri untuk memanggang dan memasakan ikan-ikan tersebut agar bisa langsung dinikmati oleh pengunjung pantai. Namun saat ini tidak tampak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pantai Lampuuk adalah salah satu pantai yang paling mengesankan untukku. Ia memanjang dari utara hingga selatan. Dulu, sebelum peristiwa tsunami terjadi, pantai ini dipenuhi oleh penjaja ikan segar yang dilengkapi dengan tempat-tempat makan. Mereka akan menawarkan diri untuk memanggang dan memasakan ikan-ikan tersebut agar bisa langsung dinikmati oleh pengunjung pantai. Namun saat ini tidak tampak satupun tempat makan serupa itu lagi. Seakan pergi bersama dengan luruhnya rimbunan pohon cemara di tepian pantai yang bertumbangan akibat gerusan tsunami lima tahun silam.</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu kemarin aku memutuskan untuk menghabiskan akhir pekanku dengan menunjungi pantai yang berada di Desa Meunasah Masjid, Lhok Nga – Aceh Besar. Letaknya hanya sekitar sekitar 15 KM dari Kota Banda Aceh (dengan jalur Banda Aceh – Calang). Sehingga untuk mencapainya aku memerlukan waktu 30 menit dengan menggunakan motor.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benar-benar menikmati saat itu. Hamparan pasir putih dan jilatan ombak bagaikan magnet raksasa yang menahanku untuk tak bergeming. Cahaya matahari memantulkan fatamorgana yang menakjubkan. Sepoinya angin menyembuhkan dahaga yang mengerang.Beberapa pengunjung terlihat berlari-lari di tepian pantai, ada juga yang menceburkan diri bersama ombak, berselancar menghantam ombak , atau hanya sekedar menatap laut yang tak berpenghujung. Berekreasi ke pantai ini adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan masa-masa akhir pekan. Letih yang menyergap seakan hilang ketika kaki mulai menginjak putihnya pasir.<span id="more-217"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pantai Lampuuk ini terbilang sangat ramai di hari-hari libur, mulai dari siang hingga senja datang. Sehingga jika ingin menikmati ketenangannya, pastikan memilih hari kerja biasa. Namun, meski ramai, pantainya yang luas memanjang tetap bisa menampung ratusan bahkan ribuan orang yang ingin menikmati suasana sunset di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dibandingkan dengan pantai – pantai lain di Banda Aceh, Pantai Lampuuk merupakan pantai yang paling lengkap sarana dan prasarananya. WC umum dan beberapa kafe sederhana untuk beristirahat banyak ditemui sepanjang pantai ini. Bahkan di pantai ini juga ada life guard dengan tower pengawas, layaknya film Baywatch. Keberadaan tim penyelamat ini diprakarsai oleh sebuah organisasi lokal yang awalnya dimotori oleh pekerja asing yang bekerja di Banda Aceh.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, pengelola pantai juga menyediakan banana  boat. Ingin sekali rasanya memacu adrenalinku dengan menaiki boat yang bentuknya seperti pisang itu. Tapi, ketika melihat orang-orang yang diceburkan ke dalam air setelah beberapa saat diajak berputar-putar, keinginanku pun luluh. Aku takut kedalaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian Pantai Lampuuk paling ujung juga meninggalkan eksotisme tersendiri yang berbatasan langsung dengan dinding terjal dan tinggi. Birunya air laut nan berpendar hijau, terpadu dengan birunya langit serta hijaunya pepohonan di atas bukit terjal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemandangan elok lainnya adalah saat matahari menjelang tenggelam, sunset di Lampuuk adalah pemandangan cantik yang sungguh sayang kalau dilewatkan begitu saja. Deburan ombak yang teratur diiringi angin berayun mendayu, merupakan perpaduan romantis.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi sambil menikmati jagung bakar manis serta es kelapa muda yang dihidangkan langsung dengan batoknya plus kucuran jeruk nipis pada kelapa mudatersebut, nikmatnya!</p>
<p style="text-align: justify;">Namun begitu adzan maghrib berkumandang, segera bersiap-siaplah untuk beranjak meninggalkan pantai, bila tak ingin kenangan indah Anda diusik oleh beberapa pemuda lokal yang tak segan-segan mengusir pengunjungpantai untuk segera berlalu dari lokasi ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2009/12/eksotisme-pantai-lampuuk.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>113</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

