Tag-Archive for » banda aceh «

Akhirnya Gowes Juga

Alhamdulillah keinginanku untuk bersepeda akhirnya tercapai. Dua minggu belakangan ini tepatnya setelah menyelesaikan kepaniteraan klinik (koas) dibagian obstetri dan ginekologi atau yang umumnya dikenal dengan bagian kebidanan dan kandungan, saya menghabiskan pagi dengan bersepeda. Dan ternyata itu sangat mengasyikkan. Bersepeda sambil menikmati udara pagi Banda Aceh yang belum terpolusi tanpa harus memikirkan rutinitas harian yang biasanya saya geluti. Yup, dua minggu ini saya libur walau tidak sepenuhnya libur karena tetap harus ke rumah sakit untuk mengurus data-data akademik.

Dulu, saya selalu terkesima saat pedayung sepeda melintas di depan saya. Entah dia laki-laki atau pun perempuan. Dan mereka memiliki nilai plus di mata saya karena tindakan mereka saat itu selain untuk menyehatkan tubuh juga salah satu bentuk kecintaan mereka terhadap lingkungan.   Sering saya membayangkan seandainya yang sedang mendayung pedal itu adalah saya. Namun waktu itu saya tidak memiliki sepeda. more »

Category: Opini  Tags: , , ,  13 Comments

Lelaki Lebih Gila dari Wanita

Tidak terasa, empat minggu sudah saya menjalani kepaniteraan klinik senior alias koas di bagian ilmu kesehatan jiwa RSJ Banda Aceh. Empat minggu yang memberikan aneka rasa. Senang, sedih, tegang, takut, aneh. Semuanya bersatu menjadi kenangan berharga dalam hidup dan saat saya mengabdikan diri dalam masyarakat kelak.

Senang karena di sana saya memiliki ilmu yang baru. Saya menjadi paham bagaimana seseorang dikatan mengalami gangguan jiwa. Saya bisa mendapat teman-teman baru yang saat itu nikmat sehatnya sedang dicabut oleh Allah. Dapat menjadi pendengar yang budiman mengenai kelus kesah mereka. Di sana saya juga menjadi paham, bahwa pada dasarnya orang yang mengalami gangguan jiwa itu hanya proses fikir mereka yang terganggu sedang ingatan tidak. Intelektualitas pasien tersebut sama sekali tidak terganggu. Ketika sembuh kelak, mereka dapat mengingat apapun yang mereka alami ketika sakit atau sebelumnya. more »

Tangse, Awal dari Sebuah Kesangsian

 

buy levitra vardenafil aceh” src=”http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/visit-aceh.jpg” alt=”" width=”420″ height=”315″ />

Selama ini aku selalu penasaran dengan asal-usul tanah kelahiranku, Tangse. Mengetahui  sejarah berdirinya suatu tempat membuatku semakin mengenal daerah tersebut. Namun, sampai umurku hampir menginjak 22 tahun, aku tidak tahu sejarah tempatku menghabiskan masa-masa kecilku. Mungkin kalau ditanya tentang sejarah lahirnya Kabupaten Pidie, Aceh, bahkan Indonesia dengan mudah aku bisa menjawabnya. Karena semuanya itu telah terangkum dalam berbagai buku dan banyak narasumber yang dapat dijadikan tempat bertanya. Sedangkan Tangse?

westernunion washington justify;”>“Orang-orang yang tahu sejarah berdirinya Tangse kebanyakan sudah meninggal,” jelas mamaku, “Dulu kakekmu, Teuku Kali Mansur, termasuk orang yang sangat mahir dalam hal ini. Namun ketika beliau masih hidup, mama tidak pernah menanyakan tentang ini kepadanya.  Jadi, mama tidak tahu banyak,” tambahnya.

Lalu pada suatu sore, mamaku menyuruhku untuk segera berkemas, “Kita akan ke rumah Abuwa (paman) Min. Dia tahu banyak tentang sejarah. Dulu kakekmu sering bercerita padanya.”

Maka langsung saja kuturuti perintah mama. Aku benar-benar tidak menyangka ternyata mama begitu peduli tentang keingintahuanku. Padahal, aku tidak memintanya untuk mencari orang yang bisa menjawab pertanyaan ini. Tapi mama, wanita kebanggaanku itu tidak ingin keingintahuanku luruh karena ketidaktahuannya. more »

Eksotisme Pantai Lampuuk

Pantai Lampuuk adalah salah satu pantai yang paling mengesankan untukku. Ia memanjang dari utara hingga selatan. Dulu, sebelum peristiwa tsunami terjadi, pantai ini dipenuhi oleh penjaja ikan segar yang dilengkapi dengan tempat-tempat makan. Mereka akan menawarkan diri untuk memanggang dan memasakan ikan-ikan tersebut agar bisa langsung dinikmati oleh pengunjung pantai. Namun saat ini tidak tampak satupun tempat makan serupa itu lagi. Seakan pergi bersama dengan luruhnya rimbunan pohon cemara di tepian pantai yang bertumbangan akibat gerusan tsunami lima tahun silam.

Minggu kemarin aku memutuskan untuk menghabiskan akhir pekanku dengan menunjungi pantai yang berada di Desa Meunasah Masjid, Lhok Nga – Aceh Besar. Letaknya hanya sekitar sekitar 15 KM dari Kota Banda Aceh (dengan jalur Banda Aceh – Calang). Sehingga untuk mencapainya aku memerlukan waktu 30 menit dengan menggunakan motor.

Aku benar-benar menikmati saat itu. Hamparan pasir putih dan jilatan ombak bagaikan magnet raksasa yang menahanku untuk tak bergeming. Cahaya matahari memantulkan fatamorgana yang menakjubkan. Sepoinya angin menyembuhkan dahaga yang mengerang.Beberapa pengunjung terlihat berlari-lari di tepian pantai, ada juga yang menceburkan diri bersama ombak, berselancar menghantam ombak , atau hanya sekedar menatap laut yang tak berpenghujung. Berekreasi ke pantai ini adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan masa-masa akhir pekan. Letih yang menyergap seakan hilang ketika kaki mulai menginjak putihnya pasir. more »

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes