Tag Archives: Aceh

Karena Kita Keluarga

Ketika seorang menanyakan pada saya apakah ketika kuliah dulu saya adalah tipikal marumpus (mahasiswa rumah kampus) yang setiap hari hanya melanglang buana di rumah dan kampus, ngga ke kampus kalau tidak ada mata kuliah lalu setelah kuliah selesai langsung go home, atau seorang organisatoris? Langsung saja saya jawab kalau saya seorang organisatoris. Ya, ada beberapa organisasi intra dan ekstra kampus yang saya ikuti sehingga saya ke kampus tidak serta merta untuk kuliah. Lalu ia bertanya di antara semua itu yang mana paling membuat saya berkesan dan masih aktif sampai sekarang? Jawaban saya adalah Forum Lingkar Pena (FLP).

FLP adalah organisasi pertama yang saya ikuti saat menjabat predikat sebagai mahasiswa. FLP pula organisasi yang sampai sekarang masih saya geluti. Sudah lima tahun lebih saya menjadi bagian dari forum yang membuat saya sampai sekarang masih semangat untuk menulis. Walaupun hanya sekadar menulis blog, tetapi itu adalah sebuah pencapaian yang sangat berharga. Karena untuk mencapai kekonsistensian dalam menulis adalah hal yang sangat berat dan sering rasa malas menghinggap. Read more »

Numpang Eksis di FLP

Beberapa hari yang lalu, saya menjadi salah satu instruktur dalam acara inaugurasi (pengukuhan) untuk anggota baru Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh angkatan pertama 2012. Acaranya berlangsung selama dua hari di Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) Lubuk, Aceh Besar. Hari itu tepatnya hari Sabtu dan Minggu (21-22 Januari 2012).

Awalnya sempat ciut juga saat ditunjuk menjadi instruktur. Saya? Menjadi instruktur anggota baru FLP? Apa bisa? Apalagi saat disandingkan dengan pesohor FLP seperti Bu Boss Ade, Nuril dan Roby. Serasa mati kutu saja. Belum lagi dengan jadwal yang berubah-ubah. Apa saya bisa ikutan? Soalnya Januari adalah bulan yang padat bagi seorang Liza. Cieee, padat euy! Maklum aja di bulan ini banyak hal yang harus saya persiapkan, kerjakan, dan selesaikan. Walhasil, jadwal yang ditentukan tidak bentrok dengan kegiatan saya yang lain dan sayapun menjadi instruktur. Read more »

Qanun Penyandang Disabilitas

Minggu (4/12),  dalam rangka peringatan World Disability Day di Gedung RRI Banda Aceh, Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, menghimbau kepada seluruh perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan instansi pemerintah termasuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) di wilayah Aceh diminta menampung tenaga kerja penyandang disabilitas (cacat) minimal 1 persen dari jumlah pegawainya. Penerimaan itu salah satu kepedulian terhadap kesejahteraan ekonomi mereka agar tidak termarginalkan (tidak tersisih) dari status sosial kemanusiaan.

Hal ini menjadi angin segar bagi penyandangan disabilitas di provinsi Aceh. Mengingat kedudukan penyandang Disabilitas dan Pandangan Masyarakat yang masih kerap menyudutkan mereka. Padahal, dalam undang-undang negara kita telah mengatur tentang pemberian lapangan kerja bagi penyandang disabilitas tersebut. Read more »

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba dalam rangka memperingati Hari Penyandang Disabilitas Internasional pada 3 Desember 2011 yang diselenggarakan oleh Kartunet.com dengan tema “Disabilitas dan Pandangan Masyarakat“.

Penyandang Disabilitas :  Segala Keterbatasan dan Kelebihannya

Oleh : Liza Fathiariani

Hari itu, di dalam mobil penumpang L300, saya semakin merasa betapa negeri ini sangat pilih kasih. Betapa negeri yang dalam dalam sistem perundang-udangannya mengakui bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, ternyata hanya sebatas retorika yang realisasinya patut dipertanyakan. Hari itu ketika di samping saya seorang bapak penyandang disabilitas menceritakan kejadian memilukan yang dialaminya beberapa saat sebelum ia menumpangi mobil tempat kami bertemu.

Sang bapak,  dengan tangan yang hanya memiliki ibu jari, telunjuk dan jari manis  memberikan ongkos pada kernet L300. Tangan satunya lagi tidak ada. Puntung. Iba hati ini melihatnya. Merasanya dirinya diperhatikan, Bapak yang telah paro baya itu tersenyum ke arahku. “Pulang ke Tangse juga?” tanyanya diiringi anggukanku.

Ternyata tujuan kami sama. Read more »

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes