Yeay! Wisuda Lagi

Karena Kita Keluarga

Ketika seorang menanyakan pada saya apakah ketika kuliah dulu saya adalah tipikal marumpus (mahasiswa rumah kampus) yang setiap hari hanya melanglang buana di rumah dan kampus, ngga ke kampus kalau tidak ada mata kuliah lalu setelah kuliah selesai langsung go home, atau seorang organisatoris? Langsung saja saya jawab kalau saya seorang organisatoris. Ya, ada beberapa organisasi intra dan ekstra kampus yang saya ikuti sehingga saya ke kampus tidak serta merta untuk kuliah. Lalu ia bertanya di antara semua itu yang mana paling membuat saya berkesan dan masih aktif sampai sekarang? Jawaban saya adalah Forum Lingkar Pena (FLP).

FLP adalah organisasi pertama yang saya ikuti saat menjabat predikat sebagai mahasiswa. FLP pula organisasi yang sampai sekarang masih saya geluti. Sudah lima tahun lebih saya menjadi bagian dari forum yang membuat saya sampai sekarang masih semangat untuk menulis. Walaupun hanya sekadar menulis blog, tetapi itu adalah sebuah pencapaian yang sangat berharga. Karena untuk mencapai kekonsistensian dalam menulis adalah hal yang sangat berat dan sering rasa malas menghinggap. Read more »

One Blogger One Book

sumber : google.com

Buku adalah gudang ilmu dan membaca merupakan kuncinya, begitu pepatah mengatakan. Buku adalah jendela dunia dan guru dalam kehidupan. Namun, apa yang hendak dibuka jika gudang ilmunya tidak ada? Bagaimana dunia bisa disaksikan jika jendelanya tidak dibuat?

Jika selama ini kita melihat fenomena orang-orang entah itu anak-anak, remaja ataupun dewasa yang sangat minim minatnya untuk membaca. Mereka yang lebih menyukai bermain game atan menonton televisi padahal buku bertebaran dimana-mana. Akan tetapi kenyataan berbeda akan kita dapatkan di pelosok negeri ini. Di sana kita akan menemukan orang-orang yang ingin sekali membuka gudang ilmu tetapi mereka tidak memiliki kuncinya. Ya, karena tak ada buku di sana.

Padahal dalam Alqur’an Allah SWT memerintahkan kita untuk membaca. Perintah ini memberikan motivasi untuk kita agar meningkatkan minat baca. Manfaat yang besar jika kita membiasakan untuk  membaca yaitu mendapatkan pemahaman, wawasan dan ilmu pengetahuan. Namun, bagaimana manfaat itu bisa didapatkan jika buku yang menjadi jendela dunia itu tidak ada? Read more »

Menulis Itu Ada Batasnya

Hari ini saya mengikuti Kelas Menulis di sekretariat FLP. Sebuah kegiatan dwi mingguan yang memang diselenggarakan oleh kaderisasi FLP untuk mengupgrade para penulis baik baru bergabung maupun yang telah lama berkecimplung. Kedatangan saya di kelas ini bisa dibilang sangatlah telat. Acara yang telah dimulai sejak pukul sepuluh pagi tapi kehadiran saya satu jam setelahnya. Benar-benar ngaret. Maklum saja, hari Minggu adalah harinya anak kos membersihkan kostannya setelah enam hari sibuk beraktifitas. (Alasannya sedikit dimodifikasi :) )

Saya tiba tepat ketika Ibnu, sang pemateri pada pertemuan kali ini membahas tentang Menentukan Batas dalam Menulis. Memang sebuah ide itu tidak terbatas. Tetapi ketika menulis dan berharap tulisan dibaca orang maka norma-norma berlaku di sana. Norma-norma baik itu kesusilaan, kesopanan, dan apapun itu harus tetap dijunjung tinggi. Saya tidak setuju jika ada orang yang berpendapat bahwa sebuah karya sastra itu bagaimanapun isinya layak diberikan apresiasi. Lantas bagaimana kalau isinya justru membuat tindakan asusila semakin banyak terjadi? Maka di sinilah diperlukan filter. Menulis tetap ada batasannya. Read more »

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes