Hari Ini, Hasan Tiro Meninggal

Kali ini, kembali saya menulis berita duka. Duka yang dirasakan oleh segenap rakyat Aceh. Belum pun pulih rasa sedih karena meninggalnya Ibu Ainun Habibie, lalu meninggalnya aktivis kemanusiaan yang hendak mengantarkan bantuan ke Palestina karena serangan Zionis Israel, hari ini saya dan Aceh tentunya kembali menerima berita duka. Hasan Tiro, deklarator Geraka Aceh Merdeka (GAM) telah menghembuskan nafas terakhirnya hari ini (Kamis, 3 Juni 2010) di tanah kelahirannya Aceh.

Siapa yang tidak mengetahui deklarator GAM ini. Hasan Tiro adalah Wali Nanggroe kelahiran Tiro (Pidie)  25 September 1925 dan baru menginjakkan kaki ke Tanah Rencong setelah seperempat abad lebih berada di Stockholm. Dia pulang pada Oktober 2008, setelah tiga tahun perdamaian Aceh ditandatangani di Helsinki, 15 Agustus 2005. more…

  • Share/Bookmark
Selamat Jalan Ibu Ainun Habibie

Sabtu malam (22/05) tepatnya pukul 22.30 WIB atau 17.30 waktu Jerman, Indonesia kembali berduka dengan perginya salah satu ibu negara yang terkenal santun dan bersahaja. Dialah istri dari Presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie. Nama lengkapnya dr. Hasri Ainun Besari atau yang lebih dikenal dengan Ainun Habibie. Ia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara dari keluarga Almarhum H. Mohammad Besari yang lahir di Semarang, 11 Agustus 1937.

Kepergiannya meninggalkan kenangan yang mendalam terlebih saat Habibie diamanatkan menjadi orang nomor wahid di Indonesia. Sosoknya yang ayu menjadi perhatian setiap mata rakyat Indonesia. Termasuk saya, meski ketika Ibu Ainun menjadi ibu negara saya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Banyak hal yang membekas tentang Ainun Habibie, salah satunya adalah profesi almarhum selain menjadi pendamping presiden. Saat itu benar-benar berdecak kagum ketika orang tua perempuan saya berujar, “Ibu Ainun itu ternyata seorang dokter.” Saat itu kami sekeluarga sedang menonton Ibu Ainun berpidato di televisi. Ternyata ibu negara saya seorang dokter yang lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan pernah berkerja di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. more…

  • Share/Bookmark
I Lost My Ideas

Ingin menulis tapi ide tak kunjung datang. Saya yakin setiap penulis mau dia berasal dari kelas teri atau pun kelas kakap (emangnya ikan?) pasti merasakannya. Apalagi untuk penulis yang hanya mampu bertender dijajaran kelas teri seperti saya, kehilangan ide ada hal yang bisa dikatakan sangat biasa.

Tak ada ide. Tak tau apa yang hendak ditulis. Padahal dulu sangat banyak cerita yang ingin dirangkai. Ah, coba ide-ide itu langsung saya tulis. Tapi saat itu saya sedang sibuk. Coba disela-sela kesibukan saya itu saya mencatat ide-ide yang ingin ditulis hingga akhirnya ketika hendak ditulis, saya masih memiliki ide-ide itu. Tapi, saya… Tapi… Arghhhhhhhhhhhh…

Beragam kesal dan sesal bergumul dalam hati. Semuanya menghasilkan konklusi : SAYA KEHILANGAN IDE-IDE SAYA. I lost my ideas. Rasanya kehilangan ide untuk menulis lebih sakit dari hilangnya uang satu dompet. Dengan syarat, isi dompetnya tidak banyak. Hanya selembar uang lima ribu rupiah saja. Ah, kacau nih. Ngga fokus jadi. more…

  • Share/Bookmark
Category: Uncategorized  Tags:  23 Comments
Datu Beru in Action

Tikungan tajam. Jalan berlubang. Jurang yang terjal. Itulah pemandangan yang saya dapatkan ketika mobil penumpang L300 membawa saya ke tempat danau Laut Tawar berada. Semak-semak, pepohonan sawit, dan pinang turut menjadi perhatian. Tak luput juga para petani yang sedang membawa pulang hasil panen di dalam karung besar yang entah apa isinya. Hujan yang turun mengeluarkan udara dingin dan perlahan mulai memasuki pori-pori.

Dalam hati saya berujar, ternyata jalanan menuju ke kota yang katanya paling dingin di Aceh itu sangat rawan dan menjadi pemicu kecelakaan. Padahal kota yang akan saya tempuh adalah ibu kota kabupaten penghasil kopi Arabica yang konon katanya menjadi komoditas ekspor. Tapi kok? Ah, semoga saja pemerintah setempat segera mengambil kebijakan untuk membangun jalan yang rusak .

Selain kopi, kota yang bernama Takengon itu juga terkenal dengan hasil alamnya. Buah-buahan segar seperti alpokat, jeruk, tomat, terong belanda, dan aneka sayur-mayur membuat dataran tinggi ini semakin terkenal. Sudah lama saya ingin menginjakkan kaki ke tanah tempat berasalnya tarian Saman ini. Dan sekarang semua itu terwujud.

Kesan pertama yang kurang baik ternyata tidak berlanjut. Istilah kesan pertama begitu menggoda ternyata tak berlaku untuk saya kali ini. Ketidaknyamanan dalam perjalanan ternyata tergantikan dengan segarnya udara Takengon. Bukit barisan terhampar sepanjang mata memandang. Apalagi di belakang penginanapan tempat saya menginap. Sungguh indah di pandang mata. Datu Beru nama tempatnya. Entahlah, saya tak tahu apa artinya. more…

  • Share/Bookmark
Yang Paling Dekat Itu Mati

“Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?” tanya Imam Al Ghazali kepada murid-muridnya. Lalu murid-muridnya pun menjawab bahwa yang paling dekat dengan kita adalah orang tua, guru, sahabat, dan teman. Imam Al Ghazali membenarkan jawaban muridnya. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Sebab itu merupakan janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti merasakan mati (Ali Imran : 185).

Kematian adalah sebuah kata yang tidak asing di telinga kita. Saya, anda, dan semuanya yakin bahwa mati adalah akhir dari kehidupan di dunia. Ibarat tamu yang datang tanpa permisi lalu masuk ke dalam rumah tanpa basa-basi. Begitulah mati.

Tak ada yang tahu kapan malaikat maut akan datang mencabut nyawa. Layaknya anak panah yang tak pernah melesat, bagitu juga mati. Ia akan datang pada siapa saja meski orang tersebut menghindarinya.

Dan tiada seorang jiwa pun yang mengetahui di belahan bumi manakah ia akan mati (Luqman: 34).

Meski telah tahu betapa mati adalah pasti, kerap kali saya sering mengingkarinya. Menjadikan usia yang masih muda sebagai alasan untuk penundaan kematian. Padahal kematian itu tidak pernah pandang bulu. Entah dia bayi, anak-anak, remaja, dewasa, atau tua, pasti merasakan mati. more…

  • Share/Bookmark
Komunikasi! Biar Ngga Salah Persepsi

Pada semester pertama duduk di bangku kuliah, seorang dosen saya pernah bercerita. Cerita tentang seorang dokter yang telah menjadi guru besar (profesor) di rumah sakit dan fakultas kedokteran di Manchester. “Saat itu sang profesor sedang memberikan praktikum untuk mahasiswa baru, ” ujar Pak Dosen  memulai cerita.

Profesor tersebut lalu mengambil sampel urin pasien diabetes dan mencelupkan jarinya ke dalamnya lalu ia mencicipnya. Seluruh mahasiswa yang merupakan calon dokter itu sangat jijik melihat apa yang dilakukan profesor. Tidak sedikit di antara mereka yang mual, tapi sekuat tenaga ditahan untuk menghormati guru besar itu. Lalu, profesor  meminta semua mahasiswanya untuk mengulangi tindakan tadi. Mencelupkan jari ke dalam urin lalu mencicipi. Jelas saja para mahasiswa baru itu enggan melakukannya. Tapi, karena yang menyuruhnya adalah seorang dokter yang sangat disegani di fakultas tersebut, maka dengan wajah meringis mereka sepakat bahwa urin itu manis. Kalau tidak, mana mungkin seorang profesor di sebuah fakultas kodekteran terkemuka itu mau melakukannya.

Satu persatu mahasiswa baru itu memasukkan jari mereka ke dalam urin lalu mencicipinya. Profesor hanya tersenyum saja melihat tingkah mahasiswa tersebut. Setelah semuanya mencicipi urin itu, profesor pun menjelaskan apa yang baru saja berlaku. more…

  • Share/Bookmark
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes