Aceh,  PhotoBlog,  Traveling

Jeurat Puteh, Persinggahan Terakhir Sang Penggagas Dayah Tanoh Abee

Tembok putih yang menjulang tinggi di tengah-tengah persawahan warga
Tembok putih yang menjulang tinggi di tengah-tengah persawahan warga

Mata ini tercengang ketika melihat tembok bercat putih di tengah-tengah sawah gundul yang baru selesai di panen. Tembok itu tampak megah dan berukuran luas. Di dalamnya tumbuh pepohonan angsana berukuran besar. Tembok setinggi tiga meter berlapiskan cat putih bersih itu telihat kontras sekali dengan hamparan persawahan di sekelilingnya.

Perlahan, Bang Thoenis mengendarai motor yang kami tumpangi di jalan berbatu dan memakirkan Skuter matic biru itu di bawah pohon di tepi jalan setapak. Lalu ia mengajakku ke arah gerbang yang berpagarkan tembok putih. Rerumputan hijau yang tidak dijadikan sawah menjadi halaman areal yang sebelumnya tak kuketahui sama sekali. Dan, ketika kaki memasuki gerbang tersebut, mataku tertuju pada tulisan tangan berwarna hijau di sudut tembok putih itu.

Nurqadimah Maqam Fairus Al Baghdady (1026M)
Nurqadimah Maqam Fairus Al Baghdady (1026H/ 1627M)

“Ini namanya Jeurat Puteh, makam Syaikh Fairus. Beliaulah pendiri Dayah Tanoh Abee,” begitu jelas suamiku ketika melihat dahiku berkerut membaca nama yang tertulis di sana.

Siapa yang tidak mengetahui Dayah Tanoh Abee? Dayah yang terletak di Kecamatan Seulimum ini merupakan dayah tertua di Serambi Mekah. Tempat para santri menuntut ilmu ini juga memiliki perpustakaan “Zawiyah” yang koleksi manuskrip dan kitab-kitab kunonya terkenal tidak hanya seantero negeri, tetapi juga ke berbagai belahan dunia. Dayah atau pesantren ini juga pernah saya singgahi saat masih kelas 3 SD. Ya, saat itu, pesantren di Tangse, tempat saya mengaji mengadakan studi tour ke Pesantren itu. Saya ingat jelas, di ruangan tempat sang pemimpin dayah menyambut kedatangan kami, ada foto beliau yang sedang duduk dengan Presiden Soeharto dan berlatar belakang kitab-kitab. Melihat foto tersebut, pikiran anak-anak saya langsung menyimpulkan kalau Tanoh Abee bukanlah dayah sembarangan, buktinya presiden saja pernah berkunjung ke sana.

Namun, baru kali ini saya mengetahui kalau sosok yang dimakamkan di Jeurat Puteh, Fairus Al Baghdady adalah penggagas Dayah yang telah lahir sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda (abad 16 Masehi). Tidak hanya itu, Sang Syaikh juga didaulat menjadi Qadhi Malikul Adil di Kesultanan Aceh.

Gerbang Jeurat Puteh
Gerbang Jeurat Puteh

Dengan lancar, Bang Thoenis bercerita tentang sosok Al Fairusy. Ulama yang berasal dari Baghdad dan menyebarkan ajaran Islam di Bumi Seulimum, Aceh Besar. Konon, menurut sejarah, beliau adalah alim ulama yang datang ke Aceh bersama 7 orang saudaranya. Namun, semuanya berpencar menyebarkan ajaran Islam dan Al Fairusy memilih menetap di Aceh Besar dan mendirikan Dayah Tanoh Abee. Kini jika dikalkulasikan, pesantren tradisional itu telah berumur 400 tahun lebih dan dikelola secara turun temurun oleh keturunan beliau.

Karena berasal dari Seulimum dan masih memiliki hubungan kerabat yang dekat dengan keturunan Syaikh Fairus, wajar suami saya paham betul tentang pesantren tertua di nusantara dan bahkan di Asia Tenggara. Sudah lama ia mengajak saya untuk bertandang ke Dayah Tanoh Abee dan melihat koleksi perpustakaan yang tidak sembarangan orang diizinkan masuk ke dalamnya. Hanya saja, karena kami tidak menetap di Seulimum, keinginan itu sampai sekarang belum jua terkabul. Memang, di perpustakaan yang memiliki ribuan koleksi kitab-kitab kuno yang disalin ke dalam bahasa jawi oleh salah satu pemimpin dayah, Syeh Abdul Wahab, tidak terbuka bebas untuk umum. Bagi yang ingin melihat koleksi kitab di sana, harus mendapat izin langsung dari pimpinan dayah.

Kami pun melangkah ke dalam makam. Sayangnya, pintu gerbangnya terkunci. Tidak ada siapapun yang bisa kami minta untuk membukakan pintu karena areal pemakaman itu sangat sepi. Menurut mertua saya, Jeurat Puteh itu sengaja dikunci untuk mengantisipasi pencurian pagar besi yang kerap dilakukan orang tidak bertanggung jawab. Seluruh wilayah pemakaman ditembok putih lagi di luarnya karena alasan yang sama.

Gerbang Jeurat Puteh. Di dalamnya terdapat pintu lagi yang terkunci
Gerbang Jeurat Puteh. Di dalamnya terdapat pintu lagi yang terkunci

Walhasil, saya hanya bisa melihat dari sela-sela pintu gerbang isi dari Jeurat Puteh itu. Ada rumah panggung berbentuk rumah Aceh di sana. Lalu bangunan dengan jeruji dan kain hijau tepat di balik batang angsana. Saya tidak bisa menebak di mana makam Al Fairusy berada, yang jelas pasti ada di dalam salah satu bangunan di dalamnya.

image

Bagian dalam Jeurat Puteh. Sepertinya di salah satu bangunan tersebut terdapat makam Syaikh Fairus
Bagian dalam Jeurat Puteh. Sepertinya di salah satu bangunan tersebut terdapat makam Syaikh Fairus

Liza Fathiariani, dokter umum, blogger, traveller, istrinya @ceudah, penikmat kuliner. Contact : email : lizafathia@yahoo.com, twitter : @fatheeya, instagram : @lizafathia, facebook: www.facebook.com/liza.fathiariani

8 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: