<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seuramoe Liza</title>
	<atom:link href="http://liza-fathia.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://liza-fathia.com</link>
	<description>Belajar Tentang Hidup dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 04:03:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Belajar PBL pada Belanda</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2012/05/belajar-pbl-pada-belanda.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2012/05/belajar-pbl-pada-belanda.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 02:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetisiblog2012]]></category>
		<category><![CDATA[PBL]]></category>
		<category><![CDATA[Problem Based Learning]]></category>
		<category><![CDATA[studi di Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1156</guid>
		<description><![CDATA[“PBL? Apa pula itu?” itulah yang saya pikirkan ketika mengetahui bahwa metode belajar di Fakultas Kedokteran Unsyiah telah berubah dari metode konvensional menjadi  PBL. Selidik punya selidik ternyata :  PBL itu singkatan dari Problem Based Learning. Setelah menjalani metode ini &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2012/05/belajar-pbl-pada-belanda.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">“PBL? Apa pula itu?” itulah yang saya pikirkan ketika mengetahui bahwa metode belajar di Fakultas Kedokteran Unsyiah telah berubah dari metode konvensional menjadi  PBL. Selidik punya selidik ternyata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong> PBL itu singkatan dari <em>Problem Based Learning</em>.</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Setelah menjalani metode ini selama 3,5 tahun, saya menyimpulkan bahwa PBL <em>is wonderful</em>. Berbeda jauh dengan sistem konvensional yang bersifat <em>teacher centered</em>. Setiap hari mahasiswa mendengarkan kuliah dari dosen. Pelajaran yang diberikan lebih pada kasus-kasus yang bersifat <em>hospital based</em> dan dengan praktikum yang minim jumlahnya. Cara mendapatkan nilai pun sangat sulit. Penilaian hanya pada ujian akhir. Walhasil, jangan heran kalau lulusan FK itu lama-lama dan nilainya kurang memuaskan.<span id="more-1156"></span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/dr.liza_.jpg"><img class=" wp-image-1157 aligncenter" title="dr.liza" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/dr.liza_.jpg" alt="" width="318" height="432" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata, hal ini juga menjadi salah satu alasan Belanda melakukan transformasi sistem pendidikan. Perubahan ini pertama sekali dilakukan oleh Universitas Maastricht, sebuah universitas yang berdiri pada tahun 1969 dengan satu fakultas yaitu Kedokteran. Beranjak dari berbagai persoalan seperti mahalnya biaya  ke dokter spesialis, kurangnya pelayanan primer yang berbasis komunitas, banyaknya mahasiswa kedokteran yang <em>dropout</em> karena kewalahan dengan sistem penilaian yang bertumpu pada ujian akhir, dan sangat sedikit praktek (<em>skillslab</em>) membuat beberapa innovator di Maastricht melakukan studi banding ke Universitas McMaster Kanada yang telah menerapkan sistem PBL dalam metode pembelajarannya. Setelah studi banding tersebut, para innovator memutuskan untuk melakukan revitalisasi kurikulum pendidikan dengan sistem PBL pada tahun 1974.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Berkat kreativitas dan semangat merekalah, universitas yang terletak di Provinsi Limburg ini menjadi <em>pioneer</em> PBL pertama di Belanda dan juga acuan bagi sistem pembelajaran di seluruh dunia termasuk di kampus tempat saya belajar.</p>
</blockquote>
<div id="attachment_1160" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/flag-mastric.jpg"><img class="size-medium wp-image-1160" title="flag mastric" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/flag-mastric-300x123.jpg" alt="" width="300" height="123" /></a><p class="wp-caption-text">Motto: Leading in Learning</p></div>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/Maastricht-Univ.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1159" title="Maastricht Univ" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/Maastricht-Univ.jpg" alt="" width="448" height="283" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Maastricht University, pioneer PBL</em></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/HAWM_Tiddens.png"><img class="aligncenter  wp-image-1162" title="HAWM_Tiddens" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/HAWM_Tiddens.png" alt="" width="288" height="384" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Tiddens, salah satu <em>innovator</em> PBL</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sistem PBL,  mahasiswa dituntut untuk aktif dalam belajar berdasarkan masalah-masalah yang ada di masyarakat. Berbagai ilmu pengetahuan baru dan solusi pun akan hadir jika masalah itu dikaji lebih dalam. Caranya? Bisa dari <em>prior knowledge</em> atau referensi seperti buku, jurnal, dan artikel yang didapatkan dari internet.</p>
<p style="text-align: justify;">Cara belajarnya pun cukup terintergrasi. Kami dibagi dalam kelompok kecil yang terdiri dari 10-12 mahasiswa. Dalam kelompok tersebut, kami berdiskusi tentang masalah yang diberikan. Dosen di sini hanya berperan sebagai fasilitator. Agar diskusi berjalan lancar, maka kerja tim sangat diperlukan. Setiap mahasiswa juga dituntut untuk menghargai pendapat mahasiswa lainnya. <em>Attitude</em> sangat dijunjung tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/blog.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1158" title="blog" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/blog.jpg" alt="" width="404" height="204" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Diskusi tutorial</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu juga ada <em>skillslab</em> atau <em>skill laboratory</em>, bertujuan untuk membekali mahasiswa kedokteran dengan kompetensi klinik. Sistem penilaian pada metode PBL tidak hanya pada ujian akhir saja tetapi juga berdasarkan <em>knowledge, attitude</em>, dan kemampuan motorik.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/diskusi-tutorial.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1165" title="diskusi tutorial" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/diskusi-tutorial.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Skillslab</em> di Puskesmas</p>
<p style="text-align: justify;">Belajar dengan metode PBL membuat saya lebih kreatif dan berpikir kritis. Tak hanya di kampus, dalam kehidupan sehari-haripun saya terbiasa menerapkan metode PBL yang berasal dari Negeri Tulip itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Keren, ya? Sebuah universitas dengan hanya satu fakultas saat didirikan mampu menerapkan sistem pendidikan yang kini dianut oleh berbagai fakultas lain di seluruh dunia. Mungkin apa yang dicapai saat sesuai dengan motto Univ. Maastricht sendiri yaitu;<strong><em> Leading in Learning.</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/mastricht.bmp"><img class="aligncenter  wp-image-1163" title="mastricht" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/mastricht.bmp" alt="" width="512" height="290" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Universitas di dunia yang menjalin kerja sama dengan Maastricht</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/Indonesia.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1164" title="Indonesia" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/05/Indonesia.jpg" alt="" width="208" height="144" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Kerjasama Indonesia dan Maastricht</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Semoga suatu hari nanti saya bisa langsung belajar PBL dari sumbernya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Referensi :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">History Problem Based Learning in Medical Education available at</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://fds.oup.com/www.oup.com/pdf/13/9780199583447.pdf">http://fds.oup.com/www.oup.com/pdf/13/9780199583447.pdf</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tiddens.nl">Tiddens.nl</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.maastrichtuniversity.nl/">http://www.maastrichtuniversity.nl</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2012/05/belajar-pbl-pada-belanda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Ini Baru Dimulai</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2012/04/kisah-ini-baru-dimulai.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2012/04/kisah-ini-baru-dimulai.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 07:55:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Dokter Internship]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian Kompetensi Dokter Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[UKDI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1147</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan menggapai kehidupan baru telah dimulai. Setelah lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) dan dilantik menjadi dokter, tugas saya sebagai pelayan masyarakat yang sesungguhnya telah menanti. Tapi tahun ini, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya dan teman-teman angkatan 2006 di FK &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2012/04/kisah-ini-baru-dimulai.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/DSC00506.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1148" title="lizaok" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/DSC00506-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Perjalanan menggapai kehidupan baru telah dimulai. Setelah lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) dan dilantik menjadi dokter, tugas saya sebagai pelayan masyarakat yang sesungguhnya telah menanti. Tapi tahun ini, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya dan teman-teman angkatan 2006 di FK Unsyiah diwajibkan untuk mengikuti program internship di beberapa Rumah Sakit Tipe C dan Puskesmas di seluruh Provinsi Aceh. Internship atau magang atau pengabdian adalah program baru dari kementrian kesehatan untuk mengatasi kekurangan dokter di seluruh Indonesia. Sehingga diharapkan para dokter tidak hanya bertumpuk di satu daerah saja sedangkan di daerah kekurangan dokter. Menurut saya program ini sangat bagus. Dengan internship mudah-mudahan kekurangan dokter dapat teratasi.<span id="more-1147"></span>Namun yang sedikit mengganjal adalah kenapa program ini hanya berlaku untuk dokter yang mengikuti program PBL (Problem Based Learning)? Di kampusku PBL baru dilaksanakan tahun 2006, tahun saya masuk. Sedangkan untuk konvensional (2005 ke bawah) peraturan ini sama sekali tidak berlaku. Meski lulus sekalian dan koas berbarengan, leting konvensional tidak perlu mengikuti internship. Padahal yang membedakan PBL dan konvensional hanya waktu preklinik alias ketika belajar di kampus. Selebihnya semua sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk leting konvensional, setelah lulus UKDI dan keluar STR mereka bisa langsung membuka praktek atau mengambil PTT ke daerah-daerah. Sedangkan saya dan teman-teman sebulan lebih pasca kelulusan hanya menjadi pengangguran yang tidak tentu arah. Mau bekerja di klinik tidak bisa. Dokter internship tidak boleh berpraktek di luar Rumah Sakit atau Puskesmas. Mau internship? Sampai sekarang SKnya belum keluar-keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi para dokter yang mengikuti internship itu sama sekali tidak digaji. Jauh berbeda dengan dokter PTT yang gajinya sangat tinggi. Dokter internship seperti yang disampaikan Prof Mulyohadi, Ketua Koligium Dokter Internship, hanya mendapatkan biaya hidup 1,2 juta rupiah per bulan. Lebih rendah dari upah buruh!</p>
<p style="text-align: justify;">Di zaman serba mahal seperti ini mana cukup uang segitu untuk membayar kontrakan rumah, makan, transportasi, dll?</p>
<p style="text-align: justify;">Malu rasanya jika sudah jadi dokter masih minta uang sama orang tua. Tapi apa boleh buat. Seharusnya pemerintah khususnya Depkes dan Kemenkes mengeluarkan kebijakan baru terhadap pembiayaan dokter internship. Masa untuk dokter PTT gajinya melimpah sedangkan yang internship tidak diberikan gaji? Padahal statusnya kan sama-sama dokter hanya saja tahun masuknya berbeda.</p>
<p style="text-align: justify;">Bingung  dengan peraturan pemerintah ini. Dibilang koas, eh sudah jadi dokter. dibilang dokter tapi kok sama aja seperti waktu koas?</p>
<p style="text-align: justify;">Hm, saya mencoba berpikir positif saja. Setiap orang itu memiliki rezekinya masing-masing. Allah itu memberikan sesuai yang kita butuhkan bukan seperti yang kita harapkan. Pasti ada hikmah di balik semua ini. Jadi harus tetap semangat <img src='http://liza-fathia.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   Semangat melayani pasien-pasien yang membutuhkan tenaga dokter.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2012/04/kisah-ini-baru-dimulai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imah; Kartini dari Lambirah</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2012/04/imah-srikandi-dari-lambirah.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2012/04/imah-srikandi-dari-lambirah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2012 16:48:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Husnul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[TPM Tanyoe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1141</guid>
		<description><![CDATA[Kalau dilihat dari segi umur, ia masih tergolong belia. Dua puluh tahun lalu ia dilahirkan ke dunia. Tetapi jika ditilik dari apa yang telah diberikan untuk tanah kelahirannya, maka mereka di usia senjapun belum tentu bisa melakukan seperti gadis ini. &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2012/04/imah-srikandi-dari-lambirah.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kalau dilihat dari segi umur, ia masih tergolong belia. Dua puluh tahun lalu ia dilahirkan ke dunia. Tetapi jika ditilik dari apa yang telah diberikan untuk tanah kelahirannya, maka mereka di usia senjapun belum tentu bisa melakukan seperti gadis ini. Dialah Husnul Khatimah, sosok remaja putri nan cerdas dan penuh semangat. Ia ingin mencerdaskan anak-anak di kampungnya dengan membangun Taman Pendidikan Masyarakat (TPM).</p>
<p style="text-align: justify;">Tanyoe, begitu nama TPMnya yang berarti kita. TPM yang dibangun atas dasar kekhawatirannya pada generasi muda yang saban hari hanya menghabiskan waktu luangnya untuk bermain Play Station (PS) di warung-warung. “Bayangkan saja, orang tua mereka adalah petani yang sehari-hari mendapat upah tidak sampai sepuluh ribu. Tapi mereka menghabiskan uang puluhan ribu untuk bermain PS.”</p>
<div id="attachment_1142" class="wp-caption aligncenter" style="width: 442px"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/husnul.jpg"><img class=" wp-image-1142 " title="husnul" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/husnul.jpg" alt="" width="432" height="324" /></a><p class="wp-caption-text">Husnul sedang mendongen</p></div>
<p style="text-align: justify;">Itulah yang membuat Kak Imah, begitu ia kerap dipanggil oleh bocah-bocah di desanya, bertekad untuk membangun sebuah tempat yang dapat mengalihkan anak-anak tersebut dari permainan PS.</p>
<p style="text-align: justify;">Di  TPM Tanyoe terdapat ratusan buku yang diperoleh dari donatur. Mulai dari buku pendidikan, pengembangan diri, komik, novel, dan cerita dongeng. Berkat kerja keras Imah, kini anak-anak tersebut tidak lagi menghabiskan waktu dengan bermain PS. Setiap sore sepulang sekolah mereka langsung menuju TPM untuk membaca atau mendengarkan Husnul berdongeng.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2012/04/imah-srikandi-dari-lambirah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abdul Wahab; Memoar Tentang Penjual Sayur di Simpang Lima</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2012/04/abdul-wahab-memoar-tentang-penjual-sayur-di-simpang-lima.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2012/04/abdul-wahab-memoar-tentang-penjual-sayur-di-simpang-lima.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 14:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Abdul Wahab]]></category>
		<category><![CDATA[Penjual Sayur Simpang Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1127</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tidak mengenali lelaki tua berbadan mungil, kurus, dengan geligi yang sudah tidak utuh dan setiap hari duduk di trotoar depan restoran Pizza Hut Simpang Lima Banda Aceh? Orang yang menentap di Banda Aceh pasti mengenalnya. Abdul Wahab, itulah &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2012/04/abdul-wahab-memoar-tentang-penjual-sayur-di-simpang-lima.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/556269_10150808778730797_720250796_12055585_2102964477_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1128" title="Abdul Wahab" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/556269_10150808778730797_720250796_12055585_2102964477_n-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Siapa yang tidak mengenali lelaki tua berbadan mungil, kurus, dengan geligi yang sudah tidak utuh dan setiap hari duduk di trotoar depan restoran Pizza Hut Simpang Lima Banda Aceh? Orang yang menentap di Banda Aceh pasti mengenalnya. Abdul Wahab, itulah namanya. Sosoknya begitu unik sehingga mampu menarik perhatian pengguna jalan. Saban hari sayur mayor yang dipetik dari kebun ia jajakan di atas trotoar mulai dari pukul tujuh pagi hingga jam dua belas siang.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun saya terkejut saat membaca harian Serambi Indonesia edisi 17 April 2012 yang menuliskan bahwa saya dan Anda semua tidak akan melihat lagi sang kakek untuk selamanya. Ia telah kembali ke pangkuan Ilahi pada Jumat malam (13/4) di kediamannya di Desa Li Eu Kecamatan Darussalam Aceh Besar. Menurut keluarganya, sejak sebulan yang lalu ia sakit. Kakinya tak bisa lagi berjalan untuk pergi berjualan.<span id="more-1127"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Setiap orang yang mengenal Syik Abdul Wahab pasti memiliki memoar tersendiri akannya. Begitu juga saya. sudah lama saya melihat keberadaan beliau di Simpang Lima. Namun, pada tahun 2009 saya baru bisa berbicara langsung dengan beliau. Sosoknya begitu ramah dan suka bercanda. Tawanya juga kerap muncul ketika ia melucu sambil menampakkan gigi-gigi yang tinggal satu satu di gusinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan penuh semangat ia bercerita tentang kisahnya berjualan di trotoar Simpang Lima. Tentang betapa kontrasnya keberadaan sang kakek di tengah-tengah hiruk pikuknya persimpangan kota tersebut. Tentang ia yang terus dapat berjualan bertahun-tahun di sana tanpa diusir oleh Satpol PP. Tentang semangatnya mencari rezeki dan tidak ingin meminta-minta pada orang lain seperti yang kerap dilakukan orang-orang di depannya. Ya, orang-orang yang menengadahkan tangan pada pemilik kendaraan ketika lampu lalu lintas yang terletak hanya beberapa meter di depan Abdul Wahab berwarna merah. Tentang harga diri seorang laki-laki dan suami yang ingin tetap mencari nafkah untuk keluarganya meski usia telah senja dan anak-anak melarangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya salut dengan beliau. Meski dagangannya hanya beberapa ikat daun melinjau, beberapa buah belimbing asam, jambu yang masih kecil-kecil, dan beberapa jenis sayuran lain, tetapi beliau dengan penuh percaya diri menjajakannya di atas tikar yang dibentang pada trotoar. Saking terkesimanya saya akan kegigihan beliau, perbincangan kami pada hari itu saya tuliskan dalam<a href="http://liza-fathia.com/2009/01/mengais-rezeki-di-gerbong-kapitalis.html"> Mengais Rezeki di Gerbong Kapitalis.</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kini Syik Abdul Wahab telah tiada. Sekelumit kenangan tentangnya akan selalu terkenang. Selamat jalan Abusyik. Semoga engkau mendapatkan tempat yang layak di sisiNya.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber foto : serambinews.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2012/04/abdul-wahab-memoar-tentang-penjual-sayur-di-simpang-lima.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aceh Blogger Motivasi Mahasiswa Ngeblog</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2012/04/aceh-blogger-motivasi-mahasiswa-ngeblog.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2012/04/aceh-blogger-motivasi-mahasiswa-ngeblog.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 08:30:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[politeknik aceh]]></category>
		<category><![CDATA[tips blog]]></category>
		<category><![CDATA[trik blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1113</guid>
		<description><![CDATA[Memotivasi mahasiswa untuk menulis di blog? Kenapa tidak? Boleh dong percaya pada diri sendiri kalau kita mampu melakukan sebuah hal yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan kalau kita akan melakukannya. Tidak salahnya kan menggantikan Mario Teguh dengan Golden Wordnya sejenak &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2012/04/aceh-blogger-motivasi-mahasiswa-ngeblog.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/DSC03842.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1118" title="DSC03842" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/DSC03842-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Memotivasi mahasiswa untuk menulis di blog? Kenapa tidak? Boleh dong percaya pada diri sendiri kalau kita mampu melakukan sebuah hal yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan kalau kita akan melakukannya. Tidak salahnya kan menggantikan Mario Teguh dengan Golden Wordnya sejenak untuk memotivasi para generasi muda dengan blogging tips yang kita punya. Itulah yang dilakukan acehblogger di Politeknik Aceh.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari yang lalu Aceh Blogger diminta oleh bang Jurnalis Jh, seorang dosen di Politeknik Aceh untuk memotivasi mahasiswanya dalam hal menulis blog.  Setelah berdiskusi akhirnya saya, Muda Bentara, Ridha, dan bang Aulia yang menjadi perwakilan Acehblogger dalam misi menyebarkan virus ngeblog bagi mahasiswa jurusan teknik informatika itu.<span id="more-1113"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Acaranya di auditorium Politeknik Aceh, hari Jumat 13/4/2012, pukul 10.00 Wib. Sebenarnya menurut cerita bang Jurnalis, hari dan jam itu adalah jadwal mengajarnya tapi beliau ingin dalam proses belajar mengajar hari tersebut di setting dalam bentuk yang berbeda. Dan talkshow tentang motovasi menulis di blog dengan menghadirkan pembicara para blogger matre dan blogger kere, hehehe menjadi pilihannya. Dengan talkshow tersebut diharapkan mahasiswa semakin semangat untuk menulis di blog. Terserah apa pun tujuan mereka ngeblog yang penting tidak melanggar etika dan SARA. Mau jadi blogger matre, silakan. Blogger galau, juga tidak masalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Di depan lima puluhan mahasiswa, saya dan ke tiga teman yang lain meceritakan pengalaman kami di dunia blogsphere. Dunia yang pada akhirnya mempertemukan saya, Muda, Ridha, bang Aulia, dan dosen mereka bang Jurnalis.</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah Ridha Yusardi, sang anak bawang dari kami berempat karena usianya yang masih muda, mencoba memotivasi para mahasiswa dengan cara meraup dollar dari blog sehingga ia patut menyandang predikat blogger matre. Dengan berapi-api yang ditandai dengan keringat yang keluar dari pelipisnya padahal ruangan berAC, Ridha menjelaskan berbagai tools yang disediakan google untuk memudahkan para blogger matre dalam meningkatkan SEO blog mereka. Mulai dari google insight, google addword, dan berbagai macam cara lainnya. Para mahasiswa khususnya kaum adam sangat antusias mendengarkan penjelasan Ridha dan beragam pertanyaan bermunculan. Sepertinya mereka sudah memiliki ancang-ancang untuk menjadi blogger matre.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/DSC03828.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1120" title="DSC03828" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/DSC03828-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Lalu Muda Bentara, sang pemimpin redaksi media kampus, yang mengaku ngeblog untuk perjuangan idealisme mampu menyihir para mahasiswa dengan pengetahuannya yang luas tentang perkembangan blog dunia khususnya di bidang sosial dan politik. Di mana seorang narablog mampu menciptakan berbagai perubahan yang tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi orang-orang di sekelilingnya. Bagaimana seorang Prita, Alanda Kariza, Raditya Dika, bisa menjadi orang-orang terkenal hanya tulisan di blognya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Muda, tibalah giliran saya sang wanita satu-satunya di sarang blogger itu bercuap-cuap. Jujur saya sama sekali tidak memiliki bahan untuk dibicarakan. Saya belum mengkonsep apapun yang ingin saya utarakan. Wal hasil, keluarlah kalimat-kalimat spontan dari mulut saya tentang sejarah saya di dunia blog. Berawal dari suka galau, suka menulis, ingin go green dengan mengurangi pemakaian kertas, pingin punya media sendiri yang bisa menjadi ajang untuk bernarsis-narsis ria, pingin terkenal, sampai akhirnya saya tidak sadar sudah kemana-mana alur pembicaraan saya. Tapi satu hal yang harus dijaga dalam melakukan sesuatu agar bisa menghasilkan sesuai dengan yang kita harapkan, itulah dia konsistensi dan komitmen diri. Begitu juga dengan ngeblog, dua hal itu menurut saya sangat diperlukan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/DSC03826.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1119" title="DSC03826" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/DSC03826-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Dan terakhir, muncullah sang admin acehblogger kita Bang Aulia Fitri yang memaparkan betapa pentingnya ngeblog bagi mahasiswa. Ternyata (saya juga baru tahu), peringkat universitas via online yang dirangkum oleh webometric  itu sangat dipengaruhi oleh aktivitas ngeblog para mahasiswanya yang menggunakan domain kampus mereka. Memang benar, 10 besar universitas yang dirankingkan oleh webometric adalah universitas yang paling sering muncul di search engine. Mudah-mudahan saja suatu hari nanti Politeknik Aceh bisa masuk di 10 besar universitas terkemuka di Indonesia karena banyaknya mahasiswa politeknik yang go blog.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2012/04/aceh-blogger-motivasi-mahasiswa-ngeblog.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

