<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seuramoe Liza &#187; wisata</title>
	<atom:link href="http://liza-fathia.com/category/wisata/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://liza-fathia.com</link>
	<description>Belajar Tentang Hidup dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 16:37:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mengintip Museum Aceh</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 11:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[alamat museum aceh]]></category>
		<category><![CDATA[cakra donya]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah lonceng cakra donya]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah museum aceh]]></category>
		<category><![CDATA[visit banda aceh 2011]]></category>
		<category><![CDATA[wisata Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=914</guid>
		<description><![CDATA[Jam telah menunjukkan pukul tiga sore ketika saya memasuki gerbang Museum Aceh. Suasana di dalamnya terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang lelaki paro baya yang duduk sambil melepas penat di tangga Rumoh Aceh, dua orang pelajar SMA yang sedang menaiki tangga, dan sepasang muda-mudi duduk sambil bercengkrama di bawah pohon di tengah-tengah museum. Memang, hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://3.bp.blogspot.com/-FipaJeIJbQ0/TaIW_-uJ-fI/AAAAAAAAAmE/pSudjE0DbGI/s400/DSC02463.JPG" alt="" width="320" height="181" />Jam telah menunjukkan pukul tiga sore ketika saya memasuki gerbang Museum Aceh. Suasana di dalamnya terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang lelaki paro baya yang duduk sambil melepas penat di tangga Rumoh Aceh, dua orang pelajar SMA yang sedang menaiki tangga, dan sepasang muda-mudi duduk sambil bercengkrama di bawah pohon di tengah-tengah museum. Memang, hari terasa sangat panas karena matahari begitu bersemangat memancarkan sinarnya. Mungkin inilah yang menyebabkan museum sepi meski hari ini adalah hari Minggu. Tetapi semangat saya untuk mengunjungi tempat dimana asal usul sebuah daerah dapat diketahui sama panasnya dengan udara siang ini. Saya begitu menggebu-gebu untuk dapat masuk ke dalamnya.</div>
<div style="text-align: justify;">Setelah memasuki gerbang, saya langsung disambut oleh lonceng Cakra Donya. Cakra Donya adalah lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina 1409 M, dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Lonceng ini  merupakan hadiah dari Kerajaan Cina yang dibawa oleh Laksamana Ceng Ho kepada Sultan Aceh. Cakra berarti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, cakrawala atau matahari. Sedangkan Donya berarti dunia. Pada bagian luar Cakra Donya terdapat hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5). Sedangkan aksara Arab tidak dapat dibaca lagi karena telah aus.<span id="more-914"></span></div>
<div style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="http://2.bp.blogspot.com/-8nMpkr1bOyc/TaIYSmTzrAI/AAAAAAAAAms/XKG6ljuPcnA/s320/DSC02458.JPG" alt="" width="181" height="320" /></div>
<div style="text-align: justify;">Pada dasarnya Cakra Donya adalah nama sebuah kapal perang Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yaitu Kapal Cakra Donya di mana lonceng ini digantungkan, dalam penyerbuannya terhadap Portugis di Malaka. Pada masa lalu Lonceng dari Kapal Cakra Donya tersebut, digantung dengan rantai jangkar pada pohon kuda-kuda dekat Mesjid Baiturrahnim dalam kompleks kraton untuk dibunyikan apabila penghuni kraton harus berkumpul guna mendengarkan pengumuman Sultan. Akan tetapi, sejak tahun 1915 M Cakra Donya dipindahkan ke Museum Aceh dan ditempatkan dalam kubah tersebut.</div>
<div style="text-align: justify;">Di depan Cakra Donya terdapat Rumoh Aceh, rumah tradisional masyarakat Aceh yang konon merupakan bangunan pertama di museum ini. Rumoh Aceh ini didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Sebenarnya, Rumoh Aceh tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus &#8211; 15 November 1914.</div>
<div style="text-align: justify;">Pada pameran itu Paviliun Aceh berhasil memperoleh 4 medali emas, 11 perak, 3 perunggu, dan piagam penghargaan sebagai Paviliun terbaik. Keempat medali emas tersebut diberikan untuk: pertunjukan, boneka-boneka Aceh, etnografika, dan mata uang; perak untuk pertunjukan, foto, dan peralatan rumah tangga. Karena keberhasilan tersebut Stammeshaus mengusulkan kepada Gubernur Aceh agar Paviliun tersebut dibawa kembali ke Aceh dan dijadikan sebuah Museum. Ide ini diterima oleh Gubernur Aceh Swart. Atas prakarsa Stammeshaus, Paviliun Aceh itu dikembalikan ke Aceh, dan pada tanggal 31 Juli 1915 diresmikan sebagai Aceh Museum, yang berlokasi di sebelah Timur Blang Padang di Kutaraja (Banda Aceh sekarang). Museum ini berada di bawah tanggungjawab penguasa sipil dan militer Aceh.  F.W. Stammeshaus menjadi kurator pertama.</div>
<div style="text-align: justify;">Ketika Indonesia merdeka, Museum Aceh menjadi milik Aceh sepenuhnya. Atas gagasan T. Hamzah Bendahara, di tahun 1969 museum dipindahkan ke samping Meligoe (pendopo) Gubernur yaitu di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tanah seluas 10.800 m2.</div>
<div style="text-align: justify;">Sebelum menaiki tangga yang tersusun rapi untuk memasuki Rumoh, saya tergoda untuk melihat Jeungki, Geureubak/Peudati, Geupok, Meuriam, Peureulak Boom, dan Kohler Boom yang dipajang di bawahnya.</div>
<div style="text-align: justify;">Jeungki merupkan alat tradisional yang digunakan untuk menumbuk padi. Dulu, setiap keluarga petani Aceh memiliki Jeungki yang digunakan untuk mengolah padi menjadi beras. Tak hanya padi, Jeungki juga digunakan untuk menumbuk kopi, tepung, sagu, atau untuk menumbuk bumbu masak. Namun sekarang keberadaan Jeungki sudah sangat langka di kalangan masyarakat Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">Di depan Jeungki ada Geureubak/Peudati. Kayu beroda ini adalah sejenis angkutan tradisional berupa gerobak yang digerakkan dengan tenaga lembu atau kerbau untuk mengangkut barang.</div>
<div style="text-align: justify;">Saya pun beranjak ke Geupok yang terletak samping Geureubak. Geupok  merupakan tempat untuk menyimpan padi yang telah dipanen. Geupok itu mampu memuat lebih kurang satu ton padi. Di samping Geupok ada dua kayu besar ; Peureulak Boom dan Kohler Boom.</div>
<div style="text-align: justify;">Peureulak Boom atau pohon Peureulak adalah jenis kayu keras hasil hutan Aceh yang menjadi kayu andalan untuk pembuatan kapal tradisional Aceh. Sedang Kohler Boom atau pohon Kohler adalah potongan kayu pohon Geuleumpang yang tumbuh di sisi utara halaman Mesjid Raya Baiturrahman. Kohler Boom ini merupakan julukan yang diberi oleh Belanda karena di bawah pohon inilah Panglima Perang Belanda yang pertama di Aceh, Jendral Kohler mati di tangan para pejuang Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">Di depan potongan kayu itu berjejer tiga meriam peninggalan zaman perang dahulu.</div>
<div style="text-align: justify;">Ketika hendak menaiki tangga, lelaki paro baya  yang terkantuk-kantuk karena hembusan angin memintaku untuk mengambil tiket dahulu sebelum memasuki Rumoh Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">“Ambil tiket dulu ya, Dek. Di gedung pameran temporer  di belakang sana,” tunjuk lelaki itu ke arah bangunan yang terletak sekitar seratus meter dari Rumoh Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">Pergilah saya ke gedung yang dimaksud. Ternyata gedung itu adalah tempat pameran temporer dan perpustakaan. Gedung itu terletak dekat dengan gedung pertemuan. Gedung-gedung tersebut rupanya dibangun tahun 1974 setelah biaya Pelita melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/-Uq3NNCJUoT4/TaIX8ynK6PI/AAAAAAAAAmg/8mb-qDO7kLU/s320/DSC02437.JPG" alt="" width="320" height="254" />Setelah membayar tiket yang harganya hanya Rp.1 000 per orang, saya tak langsung kembali ke Rumoh Aceh. Kerbau berkepala dua membuat saya berhenti sejenak di sana. Dan ternyata tak hanya binatang itu yang ada di dalam gedung tersebut. Masih banyak satwa khas Aceh yang telah diawetkan dan disimpan di sana.</div>
<div style="text-align: justify;">“Di sini juga ada perpustakaan, Maket Mesjid Raya dari masa ke masa, kepingan emas pada zaman Kerajaan Aceh, prasasti-prasati, dan batu nisan raja-raja di Aceh. Itu semua dipajang di ruang tengah.” Bu Zuhra, salah satu pegawai yang bertugas pada hari itu menjelaskan panjang lebar.</div>
<div style="text-align: justify;">Saya jadi semakin tertarik. Tak sabar ingin melihat semua koleksi di museum ini.Namun,  jam di dinding menunjukkan pukul empat kurang lima. Alunan bacaan ayat suci Alquran mulai terdengar dari pengeras suara di Mesjid Raya Baiturrahman.</div>
<div style="text-align: justify;">“Museumnya sudah mau tutup, Dek.” Bu Zuhra mengingatkanku, “maunya datang hari kerja. Jadi bisa nanya-nanya ke pegawai lain tentang museum ini.”</div>
<div style="text-align: justify;">Saya hanya tersenyum. Sebenarnya ingin berlama-lama di sini. Tapi apa hendak dikata. Museumnya akan ditutup. Datang di hari kerja? Ah, belum ada waktu untuk dapat ke sini di hari kerja. Jadwal koass di rumah sakit yang padat membuat saya harus berpuas hati walau hanya libur satu hari. Yaitu hari ini. Hari Minggu.</div>
<div style="text-align: justify;">Ketika liburan nanti, saya bertekad untuk mengunjungi kembali Museum Aceh ini. Saya ingin memasuki ruangan-ruangan yang tak sempat saya kunjungi hari ini.</div>
<div style="text-align: justify;"><strong>Alamat Museum Aceh :</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Jl. S.A Mahmudsyah, No.12 Peuniti Banda Aceh</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jak U Tangse</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2010/11/tangse-itu.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2010/11/tangse-itu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Nov 2010 09:54:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten pidie]]></category>
		<category><![CDATA[Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[visit aceh]]></category>
		<category><![CDATA[visit banda aceh 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=681</guid>
		<description><![CDATA[Sayup- sayup hawa dingin merasup ke pori-pori. Tubuh yang sebelumnya penuh dengan peluh kini mulai segar oleh  semilir angin dari pegunungan. Jalanan penuh dengan tanjakan, dipagari perbukitan dan jurang terjal membuat adrenalin semakin melonjak. Sesekali terlihat monyet-monyet bergelantungan cheap without prescription buy online Amoxil cheap prescription on line doxycycline cialis professional di pohon pinggir jalan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_682" class="wp-caption alignleft" style="width: 256px"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/11/lk.jpg"><img class="size-full wp-image-682 " title="lk" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/11/lk.jpg" alt="" width="246" height="184" /></a><p class="wp-caption-text">Sungai di Tangse</p></div>
<p style="text-align: justify;">Sayup- sayup hawa dingin merasup ke pori-pori. Tubuh yang sebelumnya penuh dengan peluh kini mulai segar oleh  semilir angin dari pegunungan. Jalanan penuh dengan tanjakan, dipagari perbukitan dan jurang terjal membuat adrenalin semakin melonjak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesekali terlihat monyet-monyet bergelantungan <a href="http://amoxilpills.net">cheap without prescription  buy online Amoxil</a>  <a href="http://www.score-louisville.org/content/view/27">cheap <a href="http://sdoxycyclinebuy.com">prescription on line doxycycline</a>  cialis professional</a>  di pohon pinggir jalan. Menunggu lemparan makanan dari pengguna jalan. Di bawahnya, air sungai yang jernih mengalir dengan derasnya, menghantam bebatuan besar sehingga menghasilkan harmoni yang indah.<span id="more-681"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tangse, itulah nama tempat yang selalu membuatku terpesona. Di tengah-tengah pegunungan menghijau pemukiman penduduk ini hadir . Layaknya pulau di tengah lautan, begitulah Tangse. Kecamatan ini bagaikan pulau di tengah pegunungan yang rimbun. Dan jika ada yang bertanya dimanakah tempat yang cocok untuk refreshing? Melepas penat sambil menghirup udara segar? Maka Tangse adalah jawabannya. Kota dingin yang terletak di Kabupaten Pidie, Nanggoe Aceh Darussalam, menjadi pilihan <a href="http://moneygramlocations.info/moneygram-florida-jupiter.php">moneygram california</a>  yang tepat untuk untuk menghilangkan lelah setelah beraktivitas.</p>
<p style="text-align: center;"><a <a href="http://ampicillinpills.com">cheap Drugstore buy online Ampicillin</a>  href=&#8221;http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/11/okkkk.jpg&#8221;><img class="aligncenter size-full wp-image-686" title="okkkk" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/11/okkkk.jpg" alt="" width="627" height="392" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Jika ditempuh dari Banda Aceh-Tangse, maka waktu yang diperlukan sekitar 5 jam karena harus karena jaraknya mencapai lebih dari 100 km. Banyak mobil berjenis L300 yang mengantar jemput penumpang ke sana. Jangan khawatir akan tersesat, karena mopen ini akan mengantar langsung ke depan rumah penumpangnya.</p>
<p <a href="http://buydiflucancheap.com">cheap diflucan</a>  style=&#8221;text-align: justify;&#8221;>Meski lahir dan besar di tempat ini, tak membuat saya bosan untuk terus-menerus mengagumi pesonanya. Apalagi  saat-saat sekarang ini, ketika keintiman saya dengan Tangse mulai berkurang karena aktivitas yang padat, maka <a href="http://onlinelevitracheap.net ">buy buy cheap cheap levitra levitra</a>  rasa rindu seakan membahana, memuncak, <a href="http://amoxil-pharm.net">buy amoxicillin generic</a>  dan ingin segera melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungai, gunung, sawah, adalah yang saya rindukan selain rumah. Bercengkrama dengan dinginnya air sungai, menatap gunung hijau yang menjulang, dan bermain di sawah yang menguning. Menunggu pagi tiba, karena ingin melihat kabut masih menutupi pegunungan dan embun di dedaunan. Amboi. Sungguh kenikmatan yang tidak saya dapatkan di tempat lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi tidak salah bukan jika saya merekomendasikan Tangse sebagai tempat yang tepat untuk melepas penat?</p>
<p style="text-align: <a href="http://amoxil-pharm.com">buy augmentin</a>  justify;&#8221;></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2010/11/tangse-itu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eksotisme Pantai Lampuuk</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2009/12/eksotisme-pantai-lampuuk.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2009/12/eksotisme-pantai-lampuuk.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 01:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[banda aceh]]></category>
		<category><![CDATA[eksotisme]]></category>
		<category><![CDATA[lhoknga]]></category>
		<category><![CDATA[pantai lampuuk]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>
		<category><![CDATA[visit aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Pantai Lampuuk adalah salah satu pantai yang paling mengesankan untukku. Ia memanjang dari utara hingga selatan. Dulu, sebelum peristiwa tsunami terjadi, pantai ini dipenuhi oleh penjaja ikan segar yang dilengkapi dengan tempat-tempat makan. Mereka akan menawarkan diri untuk memanggang dan memasakan ikan-ikan tersebut agar bisa langsung dinikmati oleh pengunjung pantai. Namun saat ini tidak tampak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pantai Lampuuk adalah salah satu pantai yang paling mengesankan untukku. Ia memanjang dari utara hingga selatan. Dulu, sebelum peristiwa tsunami terjadi, pantai ini dipenuhi oleh penjaja ikan segar yang dilengkapi dengan tempat-tempat makan. Mereka akan menawarkan diri untuk memanggang dan memasakan ikan-ikan tersebut agar bisa langsung dinikmati oleh pengunjung pantai. Namun saat ini tidak tampak satupun tempat makan serupa itu lagi. Seakan pergi bersama dengan luruhnya rimbunan pohon cemara di tepian pantai yang bertumbangan akibat gerusan tsunami lima tahun silam.</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu kemarin aku memutuskan untuk menghabiskan akhir pekanku dengan menunjungi pantai yang berada di Desa Meunasah Masjid, Lhok Nga – Aceh Besar. Letaknya hanya sekitar sekitar 15 KM dari Kota Banda Aceh (dengan jalur Banda Aceh – Calang). Sehingga untuk mencapainya aku memerlukan waktu 30 menit dengan menggunakan motor.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benar-benar menikmati saat itu. Hamparan pasir putih dan jilatan ombak bagaikan magnet raksasa yang menahanku untuk tak bergeming. Cahaya matahari memantulkan fatamorgana yang menakjubkan. Sepoinya angin menyembuhkan dahaga yang mengerang.Beberapa pengunjung terlihat berlari-lari di tepian pantai, ada juga yang menceburkan diri bersama ombak, berselancar menghantam ombak , atau hanya sekedar menatap laut yang tak berpenghujung. Berekreasi ke pantai ini adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan masa-masa akhir pekan. Letih yang menyergap seakan hilang ketika kaki mulai menginjak putihnya pasir.<span id="more-217"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pantai Lampuuk ini terbilang sangat ramai di hari-hari libur, mulai dari siang hingga senja datang. Sehingga jika ingin menikmati ketenangannya, pastikan memilih hari kerja biasa. Namun, meski ramai, pantainya yang luas memanjang tetap bisa menampung ratusan bahkan ribuan orang yang ingin menikmati suasana sunset di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dibandingkan dengan pantai – pantai lain di Banda Aceh, Pantai Lampuuk merupakan pantai yang paling lengkap sarana dan prasarananya. WC umum dan beberapa kafe sederhana untuk beristirahat banyak ditemui sepanjang pantai ini. Bahkan di pantai ini juga ada life guard dengan tower pengawas, layaknya film Baywatch. Keberadaan tim penyelamat ini diprakarsai oleh sebuah organisasi lokal yang awalnya dimotori oleh pekerja asing yang bekerja di Banda Aceh.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, pengelola pantai juga menyediakan banana  boat. Ingin sekali rasanya memacu adrenalinku dengan menaiki boat yang bentuknya seperti pisang itu. Tapi, ketika melihat orang-orang yang diceburkan ke dalam air setelah beberapa saat diajak berputar-putar, keinginanku pun luluh. Aku takut kedalaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian Pantai Lampuuk paling ujung juga meninggalkan eksotisme tersendiri yang berbatasan langsung dengan dinding terjal dan tinggi. Birunya air laut nan berpendar hijau, terpadu dengan birunya langit serta hijaunya pepohonan di atas bukit terjal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemandangan elok lainnya adalah saat matahari menjelang tenggelam, sunset di Lampuuk adalah pemandangan cantik yang sungguh sayang kalau dilewatkan begitu saja. Deburan ombak yang teratur diiringi angin berayun mendayu, merupakan perpaduan romantis.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi sambil menikmati jagung bakar manis serta es kelapa muda yang dihidangkan langsung dengan batoknya plus kucuran jeruk nipis pada kelapa mudatersebut, nikmatnya!</p>
<p style="text-align: justify;">Namun begitu adzan maghrib berkumandang, segera bersiap-siaplah untuk beranjak meninggalkan pantai, bila tak ingin kenangan indah Anda diusik oleh beberapa pemuda lokal yang tak segan-segan mengusir pengunjungpantai untuk segera berlalu dari lokasi ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2009/12/eksotisme-pantai-lampuuk.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>113</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WISATA yang menyenangkan</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2008/09/35.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2008/09/35.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 17:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[kebun binatang usu]]></category>
		<category><![CDATA[pengadilan semu USU]]></category>
		<category><![CDATA[temilnas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Tentunya penat banget kalau seminggu acara TEMILNAS itu hanya diisi dengan seminar dan rapat. So, untuk mengantisipasinya panitia mengajak kita untuk keliling-keliling kampus USU. Nah yang paling menarik bagiku adalah PENGADILAN SEMU yang ada di Fak. Hukum. Disana adalah tempat mahasiswa hukum praktik menjadi praktisi hukum. Hmmm,..pantesan pengacara sekarang yang terkenal banyak banget orang MEDAN. Next, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fullpost"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:worddocument> <w:view>Normal</w:View> <w:zoom>0</w:Zoom> <w:punctuationkerning /> <w:validateagainstschemas /> <w:saveifxmlinvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:ignoremixedcontent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:alwaysshowplaceholdertext>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:compatibility> <w:breakwrappedtables /> <w:snaptogridincell /> <w:wraptextwithpunct /> <w:useasianbreakrules /> <w:dontgrowautofit /> </w:Compatibility> <w:browserlevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <a href="http://onlinelevitracheap.net ">generic levitra online</a>  </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"  classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) }  --></p>
<p style="text-align: justify;"><span>Tentunya penat banget kalau seminggu acara TEMILNAS itu hanya diisi dengan seminar dan rapat. So, untuk mengantisipasinya panitia mengajak kita untuk keliling-keliling kampus USU. Nah yang paling menarik bagiku adalah PENGADILAN SEMU yang ada di Fak. Hukum. Disana adalah tempat mahasiswa hukum praktik menjadi praktisi hukum. Hmmm,..pantesan pengacara sekarang yang terkenal banyak banget orang MEDAN. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span>Next, ada juga kebun binatang kecil di lingkungan kampus yang menjadikan USU berbeda dari yang lain. Disana ada beberapa ekor  rusa lho. Baru kali itu aku melihat rusa dengan mata kepala sendiri. Selebihnya hanya di TV atau menyantap dagingnya saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: <a href=;">
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2008/09/35.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

