<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seuramoe Liza &#187; Tangse</title>
	<atom:link href="http://liza-fathia.com/category/tangse/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://liza-fathia.com</link>
	<description>Belajar Tentang Hidup dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 04:03:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Banjir Bandang Tangse, #PrayForTangse</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/03/banjir-bandang-tangse-prayfortangse.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/03/banjir-bandang-tangse-prayfortangse.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 02:11:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[akibat pembalakan liar]]></category>
		<category><![CDATA[banjir bandang Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[bencana 2011]]></category>
		<category><![CDATA[pidie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=795</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2011/03/banjir-bandang-tangse-prayfortangse.html" title="Banjir Bandang Tangse, #PrayForTangse"></a>Di blog ini, saya sering bercerita tentang Tangse. Dengan bangga saya memaparkan tentang keindahan alamnya, jernih sungainya, dan melimpah hasil buminya. Saya begitu bersyukur karena telah dilahirkan di tanah yang Tuhan anugerahkan kesuburan.  Namun, di balik keindahan pulau di tengah &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2011/03/banjir-bandang-tangse-prayfortangse.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2011/03/banjir-bandang-tangse-prayfortangse.html" title="Banjir Bandang Tangse, #PrayForTangse"></a><p style="text-align: justify;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-798" title="2" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/2.jpg" alt="" width="461" height="260" /></a>Di blog ini, saya sering bercerita tentang <a href="http://liza-fathia.com/category/tangse">Tangse</a>. Dengan bangga saya memaparkan tentang keindahan alamnya, jernih sungainya, dan melimpah hasil buminya. Saya begitu bersyukur karena telah dilahirkan di tanah yang Tuhan anugerahkan kesuburan.  Namun, di balik keindahan pulau di tengah hutan belantara ini, terdapat cela yang disebabkan oleh segelintir tangan-tangan liar yang tak bertanggung jawab.<span id="more-795"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hampir setiap saya melewati kedai kopi saya mendengar para pemilik tangan-tangan liar itu membahas tentang aksi pembalakan liar yang mereka lakukan. Cara-cara licin yang bisa mereka pakai agar tak tertangkap aparat keamanan. Bahkan, tak jarang diantara pemilik tangan-tangan liar itu adalah mereka yang dibayar oleh pemerintah untuk menjaga hutan Tangse dan bertugas menangkap orang-orang yang melakukan <em>illegal loging</em>.</p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<div id="attachment_803" class="wp-caption aligncenter" style="width: 482px"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/12032011078.jpg"><img class="size-large wp-image-803    " title="12032011078" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/12032011078-1024x905.jpg" alt="" width="472" height="417" /></a><p class="wp-caption-text">Pasca banjir bandang Tangse</p></div>
<p style="text-align: justify;">Yang telah ditahan oleh aparat pun seakan kehilangan rasa malu. Keluar masuk sel seolah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Jeruji besi tak menjadi kendala bagi mereka untuk beraksi. Asal ada uang, apapun bisa dikendalikan. Kalau perlu, sekalian saja aparat yang menangkap mereka itu diajak berkerja sama. Huh.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang, akibat dari ulah tangan-tangan   liar itu harus ditanggung oleh rakyat tak berdosa. Banjir bandang yang datang tanpa salam menghantam apa saja yang ada di depannya. Hari itu, magrib baru saja menjelang. Hujan telah turun sejak sekitar jam dua belas siang. Akan tetapi, Tangse yang memang kota hujan, hujan seharian pun tak menjadi risauan.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<div id="attachment_801" class="wp-caption aligncenter" style="width: 464px"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/5.jpg"><img class="size-full wp-image-801   " title="5" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/5.jpg" alt="" width="454" height="256" /></a><p class="wp-caption-text">Rumah yang ambruk karena banjir</p></div>
<p style="text-align: justify;">Tanpa dinyana, sore Kamis, 10 Maret 2011 sungai di <em>pucok krueng</em> (hulu sungai) meluap. Menghanyutkan berkubik-kubik kayu yang telah ditebang. Menghancurkan perumahan, jalan, dan apa saja yang ada di depan. Bahkan 12 nyawa melayang dan 8 dinyatakan hilang. Desa Peunalom 1, Peunalom 2, Layan, Blang Jeurat, Blang Dalam, Pulo Baro, Rantou Panyang, dan Blang Pandak menjadi sasaran kemarahan alam.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/3.jpg"><img alt="" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="&lt;/dd"><br />
</a></p>
<div id="attachment_797" class="wp-caption aligncenter" style="width: 420px"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/11.jpg"><img class="size-full wp-image-797  " title="1" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/11.jpg" alt="" width="410" height="231" /></a><p class="wp-caption-text">Penduduk menyelamatkan harta benda yang tersisa</p></div>
<p style="text-align: justify;">Apapun yang terjadi, saya tetap bangga dengan Tangse. Banjir bandang yang menyita sebagian keindahannya menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa alam sangatlah berharga. Karena berharga, maka kita sebagai umat manusia wajib menjaganya. Kepada para korban saya berdoa agar diberi ketabahan dan semangat untuk  bangkit dari keterpurukan. Bagaimanapun, duka Tangse adalah duka kita semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi yang ingin meringankan beban saudara kita yang di Tangse, sila kunjungi website @iloveaceh di http://iloveaceh.blog.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/03/banjir-bandang-tangse-prayfortangse.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Next Juragan Durian</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2010/02/the-next-juragan-durian.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2010/02/the-next-juragan-durian.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:39:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[dara tangse]]></category>
		<category><![CDATA[durian]]></category>
		<category><![CDATA[durian tangse]]></category>
		<category><![CDATA[pulo seunong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=481</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2010/02/the-next-juragan-durian.html" title="The Next Juragan Durian"></a>Kalau ingin merasakan durian yang lezat, maka durian Tangse adalah salah satu alternatif jawabannya. Dengan daging yang tebal dan aromanya yang sangat khas, durian Tangse semakin menunjukkan keeksistensiannya dalam jagad dunia durian . Terlebih lagi pada awal-awal tahun seperti ini, &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2010/02/the-next-juragan-durian.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2010/02/the-next-juragan-durian.html" title="The Next Juragan Durian"></a><p style="text-align: justify;">Kalau ingin merasakan durian yang lezat, maka durian Tangse adalah salah satu alternatif jawabannya. Dengan daging yang tebal dan aromanya yang sangat khas, durian Tangse semakin menunjukkan keeksistensiannya dalam jagad dunia durian <img src='http://liza-fathia.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Terlebih lagi pada awal-awal tahun seperti ini, jika Anda ingin mencicipi lezatnya durian datanglah ke Tangse. Karena sekarang buah berduri itu sedang banyak-banyaknya di kota dingin ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun ngga ketinggalan untuk merasakan lezatnya durian kampung halamanku. Ketika pulang kampung beberapa hari yang lalu, mama langsung menyuguhi dengan durian dan <em>leumang.</em> Tidak hanya itu, keesokan harinya-sebelum aku kembali ke Banda Aceh- mama mengajakku langsung ke kebun durian.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yuk kita cari duren, langsung ke kebunnya,” ajak mama.</p>
<p style="text-align: justify;">“Emangnya kita punya kebun?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kebun orang pun jadi,” canda mamaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ok! Siapa takut.”<span id="more-481"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Maka mulailah kami menghunting durian ke desa Pulo Seunong, sebuah perkampungan penduduk yang terletang di lereng gunung Alue Inong. Dalam penjelajahan kali ini kami ditemani oleh beberapa temanku yang datang dari luar Tangse.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menanyakan ke penduduk setempat di mana tempat yang banyak duriannya. Langsunglah aku menstarter motor. Menelusuri jalanan terjal, banyak tanjakan, dan penuh dengan bebatuan.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Neuk</em> (nak), ingat-ingat dong kalo di belakang ada makhluk yang bernyawa juga,” seru mama saat aku membawa motor dengan kencang di jalanan bebatuan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Panton dan Blang Rimeh adalah tujuan kami. Di kedua daerah itu banyak terdapat kebun durian, begitu informasi yang kami dapatkan dari penduduk sekitar.</p>
<p style="text-align: <a href=;">“Walaupun lahir  di Pulo Krueng dan sangat dekat dengan Pulo Seunong, mama belum pernah kemari sekalipun,” jelas mama.</p>
<p style="text-align: justify;">“Seumur hidup, mama? Nanti kalau kita kesasar gimana?” tanyaku sedikit ketakutan dan diiringi gerai tawa teman-temanku yang lain. Entah apa yang  mereka tertawakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sepanjang jalan yang kami temui hanyalah hamparan sawah menghijau dan kebun durian yang di setiap batangnya terdapat buah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Coba ya Ma, kita punya kebun di sini,” harapku sambil membayangkan salah satu kebun itu adalah milikku. Lalu ketika musim seperti sekarang aku akan berpesta durian. Setiap pagi ada yang mengetuk pintu untuk menanyakan adakah durian yang jatuh hari ini dan dijual? Wah, aku pasti bisa menjadi juragan durian. <img src='http://liza-fathia.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">“Kita berhenti di sini aja, di atas banyak tumpukan durian. Sepertinya dijual,” kata mama membuyarkan anganku.</p>
<p style="text-align: <a href=;">Ya, di atas tanjakan di pinggir jalan terdapat sebuah gubuk yang di depannya ada puluhan durian. Kami pun menghampiri sang empunya gubuk yang menenteng beberapa durian yang baru saja jatuh dan membelinya.</p>
<p>cheap levitra onlinestyle=&#8221;text-align: justify;&#8221;&gt;“Kalau lagi musim, harganya lebih murah. Lima puluh ribu bisa dapat tujuh atau delapan,” jelas mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian besar durian itu kami habiskan di gubuk yang di sekelilingnya terdapat pohon durian yang sedang berbuah dan sebagian lagi di bawa pulang. Duh, senang sekali bisa menikmati nikmatnya durian langsung di kebunnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2010/02/the-next-juragan-durian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seumula di Tangse</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2010/02/seumula.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2010/02/seumula.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 00:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[beras]]></category>
		<category><![CDATA[beras tangse]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[padi]]></category>
		<category><![CDATA[pidie]]></category>
		<category><![CDATA[visit aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2010/02/seumula.html" title="Seumula di Tangse"></a>Seumula, itulah yang mereka lakukan.  Istilah yang digunakan masyarakat Aceh untuk menanam tanaman padi (tanam = pula, menanam = seumula). Perempuan itu menanam padi (yang sebelumnya telah disemai di salah satu bagian generic amoxil sawah) hingga berhektar-hektar hamparan tanah nan &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2010/02/seumula.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2010/02/seumula.html" title="Seumula di Tangse"></a><p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><a <a href="http://onlinelevitracheap.net ">purchase levitra online</a>  href=&#8221;http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/DSC013351.jpg&#8221;><img <a href="http://sdoxycyclinebuy.com">buying prescription</a>  class=&#8221;size-full wp-image-437   aligncenter&#8221; title=&#8221;DSC01335&#8243; src=&#8221;http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/DSC013351.jpg&#8221; alt=&#8221;" width=&#8221;464&#8243; height=&#8221;312&#8243; /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu jam telah menunjukkan pukul 09.00 WIB, tetapi matahari masih malu-malu untuk beranjak dari peraduan. Butiran embun masih tersisa di dedaunan. Kabut putih terbentang dan membelah gunung. Dinginnya udara Tangse masih merasup ke pori-pori kulit hingga membuat diri malas untuk beranjak. Namun, ini tidak berlaku bagi perempuan yang memilih profesinya sebagai petani.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika si jago mulai berkokok dan adzan subuh berkumandang, tak ada alasan bagi perempuan-perempuan itu untuk kembali menarik selimut tebal dan kembali larut dalam tidur. Bergegas bangun lalu menunaikan shalat dan menyiapkan sarapan pagi serta kopi untuk anak dan suami. Lalu di tengah kabut yang masih menutupi jalan dengan pakaian lusuh dan bakul <a href="http://buydiflucancheap.com">diflucan side effects</a>  di pundak, mereka segera menuju ke sawah.<span id="more-435"></span><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/ok.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-439" title="ok" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/ok.jpg" alt="" width="401" height="370" /></a></p>
<p style="text-align: <a href="http://www.score-louisville.org/component/option,com_jcalpro/Itemid,28/extmode,day/date,2010-12-12/">cialis for sale online</a>  justify;&#8221;><em>Seumula</em>, itulah yang mereka lakukan.  Istilah yang digunakan masyarakat Aceh untuk menanam tanaman padi (tanam = <em>pula</em>, menanam = <em>seumula</em>). Perempuan itu menanam padi (yang sebelumnya telah disemai di salah satu bagian <a href="http://amoxil-pharm.net">generic amoxil</a>  sawah) hingga berhektar-hektar hamparan tanah nan subur itu penuh dengan jejeran tanaman <em>Oryza sativa</em>. Tumbuhan itu ditanam dengan rapi. Tak perlu penggaris untuk meluruskan barisan tanaman padi. Kecekatan para petani dalam menanam dan merapikan padi-padi tersebut mampu menggantikan penggaris apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara petani mereka itu ada yang <em>tueng upah </em>(mencari upah, istilah untuk menanam padi di sawah orang) dengan bayaran Rp 15.000- Rp 20.000 per harinya atau <em>seumula</em> di sawah sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terkadang untuk satu sawah memerlukan 10-15 <em>ureung </em>(orang)<em> seumula</em>. Kalau sawahnya luas 2-3 hari baru selesai ditanam semua, kalau tidak sehari selesai,” ujar Po Cen, salah satu dari perempuan petani itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dinginnya udara pagi, panasnya siang, tak menjadi hambatan mereka untuk mengais rezeki.</p>
<p style="text-align: <a href="http://amoxilpills.net">buy online without prescription cheap Amoxil</a>  justify;&#8221;>“Diguyur hujan itu udah biasa, Tangse kan memang sering hujan. Kalau terik pun, ngga begitu terasa karena udara Tangse yang dingin,” ungkap Po Cen seraya melanjutkan kegiatan seumulanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lantas, mengapa hanya perempuan saja yang bekerja? Di manakah kaum Adam?</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/mantap.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-440" title="mantap" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/mantap.jpg" alt="" width="355" height="295" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Seumula</em> memang dilakukan oleh perempuan. Sedangkan laki-laki, mereka bertugas untuk menggarap sawah seperti jak <em>meu ue</em> (membajak), mengairi, dan memberi pupuk. Lalu kalau panen, yang memotong padi juga para lelaki,” jelas perempuan yang saat itu sedang <em>seumula</em> di <a href="http://amoxil-pharm.com">amoxicillin</a>  sawah Marlaini.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah yang dilakukan para perempuan Tangse yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.  Jika musim sawah tiba, maka mereka akan berbondong untuk pergi ke sawah.  <em>Seumula</em>, <a href="http://moneygramlocations.info">moneygram locations</a>  lalu <em>teumueweuh</em> (membersihkan ilalang dan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman padi) dan membantu para suami ketika musim panen tiba.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/page.jpg"><img <a href="http://ampicillinpills.com">buy online Drugstore cheap Ampicillin</a>  class=&#8221;aligncenter size-full wp-image-441&#8243; title=&#8221;page&#8221; src=&#8221;http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/page.jpg&#8221; alt=&#8221;" width=&#8221;338&#8243; height=&#8221;302&#8243; /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, ketika sawah tidak sedang digarap, mereka akan ke kebun untuk memetik kopi, menunggu durian jatuh, dan mencari kayu bakar untuk memasak. Selain itu ada juga yang memanfaatkan kesuburan tanah Tangse untuk ditanami cabe dan aneka sayuran yang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2010/02/seumula.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>67</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tangse, Awal dari Sebuah Kesangsian</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 02:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[banda aceh]]></category>
		<category><![CDATA[beras tangse]]></category>
		<category><![CDATA[pidie]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>
		<category><![CDATA[visit aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html" title="Tangse, Awal dari Sebuah Kesangsian"></a>&#160; visit-aceh.com buy doxycyclin online without prescription buy online Amoxil cheap without prescription Selama ini aku selalu penasaran dengan asal-usul tanah kelahiranku, Tangse. Mengetahui  sejarah berdirinya suatu tempat membuatku semakin mengenal daerah tersebut. Namun, sampai umurku hampir menginjak 22 tahun, &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html" title="Tangse, Awal dari Sebuah Kesangsian"></a><p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/visit-aceh.jpg"><img class="size-full wp-image-401 aligncenter" title="visit <a href="http://onlinelevitracheap.net ">buy levitra vardenafil</a>  aceh&#8221; src=&#8221;http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2010/01/visit-aceh.jpg&#8221; alt=&#8221;" width=&#8221;420&#8243; height=&#8221;315&#8243; /></a></p>
<div class="mceTemp mceIEcenter">
<dl id="attachment_401" class="wp-caption aligncenter" style="width: 430px;">
<dd class="wp-caption-dd">visit-aceh.com</dd>
<p> <a href="http://sdoxycyclinebuy.com">buy doxycyclin online without prescription</a> <a href="http://amoxilpills.net">buy online Amoxil cheap without prescription</a>   </dl>
</div>
<p style="text-align: justify;">Selama ini aku selalu penasaran dengan asal-usul tanah kelahiranku, Tangse. Mengetahui  sejarah berdirinya suatu tempat membuatku semakin mengenal daerah tersebut. Namun, sampai umurku hampir menginjak 22 tahun, aku tidak tahu sejarah tempatku menghabiskan masa-masa kecilku. Mungkin kalau ditanya tentang sejarah lahirnya Kabupaten Pidie, Aceh, bahkan Indonesia dengan mudah aku bisa menjawabnya. Karena semuanya itu telah terangkum dalam berbagai buku dan banyak narasumber yang dapat dijadikan tempat bertanya. Sedangkan Tangse?</p>
<p style="text-align: <a href="http://westernunion-locations.com/western-union-washington-seatac.php">westernunion washington</a>  justify;&#8221;>“Orang-orang yang tahu sejarah berdirinya Tangse kebanyakan sudah meninggal,” jelas mamaku, “Dulu kakekmu, Teuku Kali Mansur, termasuk orang yang sangat mahir dalam hal ini. Namun ketika beliau masih hidup, mama tidak pernah menanyakan tentang ini kepadanya.  Jadi, mama tidak tahu banyak,” tambahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pada suatu sore, mamaku menyuruhku untuk segera berkemas, “Kita akan ke rumah <em>Abuwa</em> (paman) Min. Dia tahu banyak tentang sejarah. Dulu kakekmu sering bercerita padanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Maka langsung saja kuturuti perintah mama. Aku benar-benar tidak menyangka ternyata mama begitu peduli tentang keingintahuanku. Padahal, aku tidak memintanya untuk mencari orang yang bisa menjawab pertanyaan ini. Tapi mama, wanita kebanggaanku itu tidak ingin keingintahuanku luruh karena ketidaktahuannya.<span id="more-400"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pergilah kami ke rumah <em>Abuwa</em> Min yang terletak sekitar dua ratus meter dari rumah. Lelaki paro baya itu sedang bersila di atas lantai yang beralaskan tikar sambil menyeruput sebatang rokok. Keluargaku lumayan dekat dengannya. Namun ketika papa meninggal,   aku dan adik sudah kuliah di Banda Aceh, dan  mama yang juga sering di rumah kakaknya, <em>Nyakwa</em> (Bibi) Meulu  membuat kami jarang bersilaturrahmi ke rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo masuk-masuk,” ucapnya dalam Bahasa Aceh dengan wajah begitu sumringah.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mama pun menyampaikan tentang keingintahuanku.</p>
<p style="text-align: <a href="http://amoxil-pharm.net">buy antibiotics online</a>  justify;&#8221;>“Untuk apa? Wah, Abuwa sudah lama tidak bercerita tentang Tangse, Nak. Tak ada yang tanya,” papar lelaki itu sambil terkekeh-kekeh.</p>
<p <a href="http://ampicillinpills.com">buy online Ampicillin cheap Drugstore</a>  style=&#8221;text-align: justify;&#8221;>“Ya pingin tau aja, <em>Abuwa</em>. Masa orang Tangse <a href="http://amoxil-pharm.com">generic amoxil</a>  ngga tau tentang Tangse. Malu-maluin lah, <em>Abuwa</em>,” balasku dan diiringi derai tawa mama dan abuwa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah, <em>Abuwa</em> akan menceritakan sebatas ingatan <em>Abuwa</em>, ya. Soalnya ini sudah lama sekali diceritakan kakekmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk. Bagiku lebih baik tahu sedikit dari pada tidak sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulailah laki-laki yang bernama lengkap Teuku Abdul Amin itu menceritakan tentang Tangse.</p>
<p style="text-align: justify;">Abdul Taher atau yang lebih dikenal dengan Keumala Tahe adalah orang yang pertama menginjakkan kaki ke Tangse. Ia berasal dari Keumala, yang kini merupakan kecamatan  setelah Tangse.</p>
<p style="text-align: justify;">“Waktu itu kalau tidak salah Sultan Iskandar Muda yang memerintah,” jelasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa itu, masyarakat Keumala sedang dilanda kelaparan. Kemarau panjang dan hama tikus membuat hasil panen mereka tak bisa digunakan. Maka larilah Keumala Tahe ke pegunungan  yang terletak setelah Keumala.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saat melihat pegunungan yang begitu rimbun, ia merasa <em>sangse</em>, ragu atau pusing. Dia berpikir apakah di rimba ini bisa ditanam padi?”</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Ka sangseng. Ka susah</em>. Tidak tau mau berbuat apa.” (Sudah sangsi. Sudah susah. Tidak tahu mau berbuat apa. Sangsi)</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga terpikirlah oleh Keumala Tahe untuk membuka areal persawahan di rimba ini. Lalu kembalilah lelaki  itu ke Keumala untuk  mengajak penduduk daerah tersebut ke rimba yang ditemuinya itu untuk membuka areal persawahan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu mulailah mereka menanam padi. Ketika padi mulai berbuah, maka datanglah hama tikus yang melahap habis padi tersebut,” ungkap <em>Abuwa</em> Min dengan sambil menghisap rokoknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Keumala Tahe berlari. “Ada yang mengatakan larinya sangat kencang seolah-olah terbang ke Beupo, pegunungan yang letaknya antara Geumpang dan Meulaboh. Lalu di sana ia bermimpi. Seorang wali Allah datang padanya lalu berkata : Hai Keumala Tahe, bangun! Kembalilah ke Tangse dan potong lembu hitam di <em>ulee gle</em> (kepala gunung) dan tanam padi kembali.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu setelah padi ditanam dan berbuah serta di panen, potonglah kerbau <em>jagad</em> (albino) dan ayam berwarna putih. Masyarakat menyebutnya istilah <em>top blang.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan asal-usul lahirnya sebuah dusun yang bernama Ulee Glee adalah buah mimpinya Keumala <a href="http://buydiflucancheap.com">Buy cheap diflucan online Without Prescription &#8211; Online Drugstore</a>  Tahe.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mimpi itu, Keumala Tahe kembali ke keumala untuk mencari lembu hitam lalu melaksanakan kenduri seperti mimpinya. Ia membawa  penduduk Keumala untuk  menanam kembali padi di rimba itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Keumala Tahe itu orang yang cerdas,” kata Abuwa Min, “ Ia membawa orang-orang yang menghisap candu untuk membuka sawah. Setelah sawah selesai digarap, mereka diberikan candu agar kembali semangat berkerja. Lalu, setelah semuanya selesai Keumala Tahe membuat perhitungan dengan merincikan biaya pembelian candu dan upah pekerja. Ternyata harga candu lebih mahal dari upah kerja mereka, sehingga para orang-orang tersebut harus pulang dengan tangan kosong karena upah mereka harus digunakan untuk membayar candu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu banyak orang dari berbagai daerah seperti Beureunuen dan Kembang Tanjong yang berdatangan. Lalu mereka pun membangun pemukiman yang kini terkenal dengan beras dan duriannya yang lezat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jadi kata Tangse itu asalnya dari <em>sangse</em>, sebuah kesangsian,” simpul <em>Abuwa</em> Min menutup ceritanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2010/01/tangse-arawal-dari-sebuah-kesangsian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>91</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>About Tangse</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2008/07/about-tangse.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2008/07/about-tangse.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 16:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tangse]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2008/07/about-tangse.html" title="About Tangse"></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2008/07/about-tangse.html" title="About Tangse"></a><p align="left"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219198953231062978" style="display: <a href=;" src="http://1.bp.blogspot.com/_a_DSBq7KI4g/SG5Ry6Ntl8I/AAAAAAAAAFY/uyP1fMJSyi0/s320/tangse.jpg" alt="" border="0" /><a href="http://2.bp.blogspot.com/_a_DSBq7KI4g/SG5Ryvmbg9I/AAAAAAAAAFQ/SStjs7iAxjg/s1600-h/tangge.jpg"><img alt="" /></a></p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_a_DSBq7KI4g/SG5Ry1hgtkI/AAAAAAAAAFg/egwMWiH7lZQ/s1600-h/tangsek.jpg"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219198951971927618" style="display: <a href=;" src="http://4.bp.blogspot.com/_a_DSBq7KI4g/SG5Ry1hgtkI/AAAAAAAAAFg/egwMWiH7lZQ/s320/tangsek.jpg" alt="" border="0" /></a><br />
<a href="http://3.bp.blogspot.com/_a_DSBq7KI4g/SG5RzHUiiPI/AAAAAAAAAFo/0szdz2Yc2bM/s1600-h/tC.jpg"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219198956749359346" style="display: block; margin: 0px auto 10px; cursor: hand; text-align: center;" src="http://3.bp.blogspot.com/_a_DSBq7KI4g/SG5RzHUiiPI/AAAAAAAAAFo/0szdz2Yc2bM/s320/tC.jpg" alt="" border="0" /></a><br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/_a_DSBq7KI4g/SG5RzM7NzJI/AAAAAAAAAFw/hwQ0knGEEBE/s1600-h/gambar+tangse.jpg"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219198958253755538" style="display: block; margin: 0px auto 10px; cursor: hand; text-align: center;" src="http://2.bp.blogspot.com/_a_DSBq7KI4g/SG5RzM7NzJI/AAAAAAAAAFw/hwQ0knGEEBE/s320/gambar+tangse.jpg" alt="" border="0" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2008/07/about-tangse.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

