<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seuramoe Liza &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://liza-fathia.com/category/opini/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://liza-fathia.com</link>
	<description>Belajar Tentang Hidup dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 14:51:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Milad Mubarak Ya Rasulullah</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2012/02/milad-mubarak-ya-rasulullah.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2012/02/milad-mubarak-ya-rasulullah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 14:51:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[12 rabiul awal]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi muhammad saw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1077</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini adalah hari Minggu. Minggu yang tidak biasa, itu lah adanya. Karena pada hari ini sang Habibullah dilahirkan dari rahim Aminah ke bumi. Bumi yang gelap gulita. Bumi yang fana dan penuh dengan kejahilan. Jahil sejahil jahilnya dimana wanita saat itu sungguh tak bernilai harganya. Wanita menjadi aib dalam keluarga. Wanita dikubur meski nafas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hari ini adalah hari Minggu. Minggu yang tidak biasa, itu lah adanya. Karena pada hari ini sang Habibullah dilahirkan dari rahim Aminah ke bumi. Bumi yang gelap gulita. Bumi yang fana dan penuh dengan kejahilan. Jahil sejahil jahilnya dimana wanita saat itu sungguh tak bernilai harganya. Wanita menjadi aib dalam keluarga. Wanita dikubur meski nafas masih berhembus.</p>
<p style="text-align: justify;"> Ia lahir kala itu. Ketika tentara Abraham menyerang Ka’bah. Pada hari Senin 571 Masehi. Dialah Rasululluah, Saiyidina Muhammad Sallalluhualaihi wassallam.</p>
<p style="text-align: justify;">Buah hati Abdullah dan Aminah itu datang membawa cahaya. Cahaya yang sangat terang benderang hingga saat ini pun masih dirasakan oleh seluruh penghuni langit dan bumi. Ia hadir membawa perubahan. Menyempurnakan akhak manusia. Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Begitu sang Rasul bersabda.<span id="more-1077"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Menyempurnakan akhlak manusia yang sangat tercela menjadi terpuji dan diridhai Allah Swt. Mengangkat harkat dan derajat wanita dari jurang yang sangat terjal menjadi tinggi sejajar dengan kaum Adam. Lantas kenapa sampai sekarang gaung gender, emansipasi masih dibegitu dibesar-besarkan? Padahal sejak kekasih Allah diutus, derajat wanita telah diangkat dan disamaratakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini adalah 12 Rabiul Awal 1433 H. Milad Rasullullah dirayakan. Lantas akankah itu hanya menjadi sebuah ritual semata? Semoga tidak. Semoga momen ini menjadikan kita semakin cinta kepada rasulNya, semakin kita menjalankan ajarannya. Mari berselawat untuk baginda kita Nabi Muhammad SAW. Allahumma shalli ala Muhammad ya Rabbi shalli alaihi wa sallim.</p>
<p style="text-align: justify;">Milad mubarak ya Rasulullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski wajahmu tak pernah kutatap, tetapi hati ini selalu rindu padamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya Rasul,</p>
<p style="text-align: justify;">Meski diri ini hidup ribuan tahun setelahmu, hamba ingin selalu menjalankan sunahmu. Melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan melaluimu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya Muhammad, aku selalu berdoa agar Allah mempertemukan kita di hari akhir kelak. Bertemu denganmu dan mendapatkan syafaatmu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2012/02/milad-mubarak-ya-rasulullah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Numpang Eksis di FLP</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2012/01/numpang-eksis-di-flp.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2012/01/numpang-eksis-di-flp.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 01:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[FLP]]></category>
		<category><![CDATA[Forum Lingkar Pena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1062</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, saya menjadi salah satu instruktur dalam acara inaugurasi (pengukuhan) untuk anggota baru Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh angkatan pertama 2012. Acaranya berlangsung selama dua hari di Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) Lubuk, Aceh Besar. Hari itu tepatnya hari Sabtu dan Minggu (21-22 Januari 2012). Awalnya sempat ciut juga saat ditunjuk menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/01/1327293713FLP1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1064" title="1327293713FLP" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/01/1327293713FLP1-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Beberapa hari yang lalu, saya menjadi salah satu instruktur dalam acara inaugurasi (pengukuhan) untuk anggota baru Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh angkatan pertama 2012. Acaranya berlangsung selama dua hari di Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) Lubuk, Aceh Besar. Hari itu tepatnya hari Sabtu dan Minggu (21-22 Januari 2012).</p>
<p style="text-align: justify;">Awalnya sempat ciut juga saat ditunjuk menjadi instruktur. Saya? Menjadi instruktur anggota baru FLP? Apa bisa? Apalagi saat disandingkan dengan pesohor FLP seperti Bu Boss Ade, Nuril dan Roby. Serasa mati kutu saja. Belum lagi dengan jadwal yang berubah-ubah. Apa saya bisa ikutan? Soalnya Januari adalah bulan yang padat bagi seorang Liza. Cieee, padat euy! Maklum aja di bulan ini banyak hal yang harus saya persiapkan, kerjakan, dan selesaikan. Walhasil, jadwal yang ditentukan tidak bentrok dengan kegiatan saya yang lain dan sayapun menjadi instruktur.<span id="more-1062"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jujur. Sebenarnya saya bukanlah anggota FLP yang aktif. Banyak kegiatan yang terpaksa saya lewatkan. Seperti kelas menulis, launching dan bedah buku, serta berbagai program FLP lainnya. Padahal saya adalah anggota kaderisasi FLP. Hmm, sungguh anggota durhaka. *maafkan saya ya FLP. Kalau mau beralasan, selama kurang lebih 2 tahun yang lalu saya memang tidak memiliki banyak waktu luang. Saban hari selalu saya habiskan di RS, kalau pun libur maka saya harus mencuci pakaian, menyetrika,  serta beristirahat. So, terpaksa menangguhkan FLP. Meskipun begitu FLP tetap berada di tempat spesial di hati ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menyelesaikan tugas di RS, sayapun berkomit pada diri untuk lebih aktif di FLP. Salah satunya denga ikutan inaugurasi ini. Ternyata menjadi instruktur itu ngga semengerikan yang saya bayangkan. Malah saya menjadi salah satu anggota FLP yang lumayan dikenal oleh anggota baru. Habisnya setiap hari berwara wiri di depan mereka sambil bercuap-cuap ini itu selama dua hari. Jadi kalau kamu mau terkenal jadilah instruktur. Peace <img src='http://liza-fathia.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Selain menjadi tukang cuap-cuap, ternyata seorang instruktur itu adalah tempat para anggota baru mengeluarkan uneg-uneg. Dan satu lagi, berhubung salah satu kewajian anggota baru adalah membuat profil panitia acara dan anggota lama FLP, maka otomatis pilihan utama yang mereka pilih adalah para intsruktur. Jangan heran ketika jam ISHOMA para insntruktur dikejar-kejar layaknya artis yang ingin diwawancarai oleh wartawan untuk pembuatan profil.  So, kalo mau seperti itu jadilah instruktur <img src='http://liza-fathia.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Ah, lama-lama tulisan saya kok makin aneh saja. Tips apa-apaan pula yang saya bagikan. Tapi satu hal yang ingin saya ungkapkan. Saya bahagia sekali menjadi bagian dari FLP. FLP itu bagaikan keluarga sendiri. Bahkan ketika bertemu anggota baru yang sebelumnya tidak saya kenal sekalipun. Seolah ada ikatan batin yang kuat. Hingga saya tidak mungkin berpisah dari FLP. Walaupun sering bolos rapat, sering tidak hadir pada kelas menulis, tetapi tak pernah terbesit keinginan untuk meninggalkan FLP. I love you full FLP <img src='http://liza-fathia.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Sumber foto : theglobejournal.com</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2012/01/numpang-eksis-di-flp.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ini Nyata, Bukan Mimpi!</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2012/01/ini-nyata-bukan-mimpi.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2012/01/ini-nyata-bukan-mimpi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 06:44:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[dokter]]></category>
		<category><![CDATA[dokter muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1058</guid>
		<description><![CDATA[Rabu (19/1/2012) menjadi hari yang paling bersejarah untukku. Ya, hari bersejarah selain hari lahirku, hari kelulusanku saat TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah (sebenarnya masih banyak lagi hari yang menjadi kenangan dalam hidupku tapi taku mungkin disebutkan satu persatu).  Kenapa? Karena hari itu saya resmi menjadi seorang dokter. Dua kata baru kini bertengger di depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1059" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC01880.jpg"><img class="size-medium wp-image-1059" title="DSC01880" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC01880-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Kenangan masa koas</p></div>
<p style="text-align: justify;">Rabu (19/1/2012) menjadi hari yang paling bersejarah untukku. Ya, hari bersejarah selain hari lahirku, hari kelulusanku saat TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah (sebenarnya masih banyak lagi hari yang menjadi kenangan dalam hidupku tapi taku mungkin disebutkan satu persatu).  Kenapa? Karena hari itu saya resmi menjadi seorang dokter. Dua kata baru kini bertengger di depan namaku. Dua kata yang mungkin selalu menjadi motivasi seperti yang pernah diutarakan oleh guru-guruku. “dr. Liza Fathiariani”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Beda dokter dengan profesi yang lain salah satunya adalah letak titel. Jika sarjana strata satu di fakultas lain titelnya di belakang, maka dokter titelnya di depan. Lalu dokter adalah gelar yang diberi kebebasan untuk tidak mengikuti EYD. Tulisan “dr” meski terletak di awal kalimat tetap menggunakan huruf kecil.” Begitu jelas salah satu konsulenku saat saya pertama sekali menginjakkan kaki di rumah sakit sebagai dokter muda.<span id="more-1058"></span></p>
<p style="text-align: justify;">“Keistimewaan ini diberikan untuk profesi kita karena yang kita hadapi adalah nyawa manusia. Oleh karena itu manusiakanlah manusia. Rawat dan obatilah mereka layaknya kamu merawat orang tua atau saudaramu sendiri. Bayangkan jika pasienmu itu adalah keluargamu atau dirimu sendiri. Maka perlakukanlah mereka layaknya kamu ingin diperlakukan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kalimat itu sampai sekarang masih berbekas dibenakku. Kini telah tiba saatnya diriku menjalankan amanah itu. Memanusiakan manusia. Merawat dan mengobati mereka sebagaimana saya merawat orang tua atau keluarga saya sendiri. Memperlakukan pasienku layaknya saya ingin diperlakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hm, rasanya seperti mimpi. Dulu waktu kecil saya sering membentuk dunia saya sendiri dengan berlagak layaknya seorang dokter. Lalu saya berbicara sendiri dan menjawab sendiri. Saat itu saya yang menjadi dua sosok sekaligus. Dokter dan pasien. Saya ingat bagaimana saya mencoba menuliskan resep yang entah apa-apa isinya dengan tulisan sejelek mungkin. Karena waktu itu asumsi saya bahwa tulisan dokter itu jelek. Tapi kenyataannya tidak semuanya demikian. Memang pada dasarnya tulisannya jelek dan kebetulan banyak yang berprofesi dokter maka timbullah konklusi demikian. Saat itu sempat mama takut karena saya suka berbicara sendiri dan melarangku melakukan adegan dokter pasien itu lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang? Waktu berjalan sangat cepat. Baru kemarin rasanya saya lulus SMA lalu diterima di Fakultas Kedokteran. Kemudian lulus sarjana kedokteran dan menjalankan kepaniteraan klinik. Lalu sekarang? Semuanya telah selesai kujalani. Alhamdulillah. Syukurku tak henti-hentinya kupanjatkan kepada Rabb, sang Pemilik alam semesta. Terimakasih dan rasa cintsaya kepada mama yang telah berjuang untuk menyekolahkanku. Kepada adik semata wayangku. Dan kepada seluruh teman-teman. Tanpa kudrahNya, tanpa dukungan semua, saya yakin apa yang rasakan ini tak akan terwukjud.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun perjuangan belum berakhir. Masih ada Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) 18 Februari mendatang. Ujian yang menentukan layak tidaknya saya menjadi seorang dokter. Mohon doa dari teman-teman semua agar Allah memudahkan dan melancarkan serta memberikan yang terbaik untuk saya. Amiin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2012/01/ini-nyata-bukan-mimpi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(copas) Cantik Ruhiyah, Pancarkan Inner Beauty</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2012/01/copas-cantik-ruhiyah-pancarkan-inner-beauty.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2012/01/copas-cantik-ruhiyah-pancarkan-inner-beauty.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 06:48:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[inner beauty]]></category>
		<category><![CDATA[kecantikan ruhiyah]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1053</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya amal kebaikkan itu akan memancarkan cahaya dari dalam hati, membersitkan sinar pada wajah, kekuatan pada tubuh, kelimpahan dalam rezeki, dan menumbuhkan rasa cinta manusia padanya” (Ibnu Abbas) Mudah bahagia, tidak gampang stres, kuat melalui berbagai tantangan hidup, dan disukai orang lain, lebih dipengaruhi oleh kecantikan batin daripada kecantikan fisik. Kecantikan batin sebagai pancaran kekuatan ruhiyah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em><img class="alignleft" src="http://kembanganggrek.files.wordpress.com/2010/07/muslimah-berjilbab-7.jpg?w=548" alt="" width="197" height="259" />“Sesungguhnya amal kebaikkan itu akan memancarkan cahaya dari dalam hati, membersitkan sinar pada wajah, kekuatan pada tubuh, kelimpahan dalam rezeki, dan menumbuhkan rasa cinta manusia padanya”</em> (Ibnu Abbas)</p>
<p style="text-align: justify;">Mudah bahagia, tidak gampang stres, kuat melalui berbagai tantangan hidup, dan disukai orang lain, lebih dipengaruhi oleh kecantikan batin daripada kecantikan fisik. Kecantikan batin sebagai pancaran kekuatan ruhiyah dan keshalehatan diri, akan melahirkan konsep diri seorang wanita yang tiada banding. Tak memiliki kecantikan fisik tak perlu risau. Akan sangat membahagiakan ketika orang bisa menghargai dan menyadari arti penting kita karena ‘sesuatu dalam diri kita’ yang tak terbantahkan. Itulah pancaran inner beauty. Lalu. bagaimana Islam memperkokoh inner beauty kita?<span id="more-1053"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Inner Beauty dalam Islam</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Herlini Arnran. ustadzah lulusan Wefaq ul Madarise al-Salafia Faisalabad Pakistan, Kecantikan dalam bahasa Arab diungkapkan dengan kata al-jamal dan al-husn. Se suai penjelasan Ibn Sayyidh dan Ibnu Katsir bahwa al- jamal adalah kecantikan yang terdapat dalam perilaku dan rupa manusia. Rasulullah saw. pun memperkuat makna cantik melalui sabdanya “Innal/oha Jamil yuhibbul Jamal”, sesungguhnya Allah itu cantik {Jamil), menyukai kecantikan (.JamaI), yakni kecantikan perilaku dan kesempurnaan sifat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan al-husn (cantik) lawan dari al-qabh (buruk). Al-husn pada asalnya dipakai untuk memberi sifat pada bentuk dan fisik (rupa) namun kemudian digunakan untuk menyifati perilaku atau akhlak. Sedangkan al-jamal pada awalnya dipakai untuk menyifatinamun kemudian juga digunakan untuk menyifati rupa dan bentuk.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka inner beauty dalam Islam adalah kecantikan lahir dan batin yang ada pada diri seseorang sehingga ia memiliki kedudukan dan derajat yang tinggi dan mulia yang dapat memperkokoh kedudukan dan martabatnya di muka bumi ini. Kecantikan yang tidak dapat ditelan oleh waktu dan zaman. yang didapat dari perilaku akhlak yang mulia.” jelas pakar fikih dan syariah ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Maksimal karena Hubungan dengan Allah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Almarhumah Ustazah Yoyoh Yusroh, pendiri Persaudaraan Muslimah (Salimah), pernah  berpesan bahwa untuk membangun inner beauty dalam diri kita perlu menselaraskan sikap-sikap positif secara sadardan ikhlas. “Ketika kita melakukan sesuatu hal yang positif diniatkan ibadah karena Allah, lama kelaman sikap tadi akan menjadi karakter kita dalam kehidupan sehari-hari. Dan ini nantinya yang akan menghasilkan inner beauty dalam diri. Yang terpenting. harus ridha atas apa yang terjadi pada diri kita.” jelas ibu sembilan putra dan lima putri ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibadah adalah dasar paling pokok yang memberi dampak positif bagi kepribadian diri. Shalat yang dikerjakan dalam lima waktu dan harus tiap hari menjadi teladan utama bagi perilaku kita. Jika shalat baik, maka amalan kita dalam kehidupan sehari-hari baik semua. Shalat juga mengajarkan kita sabar menerima keadaan. Apalagi shalat tahajud yang menjadi kebiasaan orang shaleh. ia membuka rahasia kekuatan mental, rohani. dan fisik yang optimal. “Orang yang selalu shalat tahajjud berbeda dengan orang jarang tahajjud. Dalam shalat tahajjud terjadi inkubasi. Ya sekitar pukul 12.00-02.00 akan terjadi inkubasi. Qiyamullail ini sebagai bukti cinta kita kepada Sang Pencipta. Jika kita benar-benar cinta kepada Allah, maka bisa diukur dengan tahajjudnya. Allah mencintai orang yang memeliharah salat tahajjud. Bangun pagi jadi lebih segar disebabkan hubungan dengan Allah melalui tahajjud,” pesan Ustazah Yoyoh .Almh</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang sering mengaji dan zikir akan halus kulitnya (OS. Az-Zumar [39]:23). Makanya kita bisa melihat wajah ulama bercahaya. akibat rajin shalat tahajjud dan tilawah. Cahaya wajahnya seperti memancarkan sesuatu yang indah dalam dirinya. Ketika dipandang terlihat sejuk. Dan ketika kita menghampiri ulama itu, kita merasakan nyaman di sekitarnya. “Begini Allah memperlihatkan inner beauty pada hambanya yang selalu membangun hubungan dan dekat kepada-Nya di malam hari. Sebab. orang tilawah memiliki ketenangan hati yang baik,” pesan  Almarhumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Almarhumah  juga menerangkan bahwa pada penemuan terkini. kulit panca indera ternyata memiliki fungsi perekam terbaik. Meski kita mengatakan diri kita sehat dan baik-baik saja. tapi kulit kita tidak memancarkan inner beauty. Sebab. kulitlah pemancar kondisi riil kita. Meski kita luluran, tapi kata-kata negatif masih sering terucap maka kulit kita akan memancarkan sesuatu yang kurang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber :  Ummi Majalah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2012/01/copas-cantik-ruhiyah-pancarkan-inner-beauty.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syukurku padaMu</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2012/01/syukurku-padamu.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2012/01/syukurku-padamu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 01:26:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1049</guid>
		<description><![CDATA[Aku semakin mencintaiMu. Mencintai sampai setiap saat teringat akanMu. Terima kasih atas suka dan duka yang Kau beri. Kusadar, semuanya ada ujian dan hikmah yang Kau cucur. Beberapa minggu ini saya merasa begitu banyak keajaiban yang dianugerahkan Allah. Ya, saya menamakannya keajaiban karena semuanya terjadi tanpa terduga. Saya hanya meminta sedikit pada Allah tetapi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/01/doa-anak.jpg"><img class="size-medium wp-image-1050 alignright" title="doa-anak" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/01/doa-anak-260x300.jpg" alt="" width="260" height="300" /></a>Aku semakin mencintaiMu. Mencintai sampai setiap saat teringat akanMu. Terima kasih atas suka dan duka yang Kau beri. Kusadar, semuanya ada ujian dan hikmah yang Kau cucur.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Beberapa minggu ini saya merasa begitu banyak keajaiban yang dianugerahkan Allah. Ya, saya menamakannya keajaiban karena semuanya terjadi tanpa terduga. Saya hanya meminta sedikit pada Allah tetapi yang diberikanNya sungguh sangat besar, semuanya diluar perkiraan. Terima kasih ya Allah.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ud’u nii astajib lakum</em>. Begitu firmanNya. Berdoalah (mintalah) padaKu niscaya Aku akan menjawabnya. Saya meminta padaNya agar dimudahkan dan dilancarkan setiap urusan setiap selesai shalat baik fardhu maupun sunat. Meminta padaNya agar diberikan yang terbaik menurutNya. Subhanallah, saya benar-benar terharu. Jalan saya selalu dimudahkanNya.<span id="more-1049"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saya semakin menyadari sebagai manusia tugas kita hanya dua yaitu berdoa dan berusaha, selebihnya itu urusan Allah. Bukankah Allah tidak akan mengubah nasib sebuah kaum sampai ia sendiri yang mengubahnya? Ya itulah dia dengan berusaha. Dengan doa menjadikan kita rendah diri dan semakin bersyukur kepadaNya. Menyadari bahwa semua adalah kuasa Allah, semua adalah titipanNya. Allah tahu mana yang terbaik untuk kita. Bisa jadi yang menurut kita baik tetapi tidak baik bagi Allah, dan sebaliknya. Jadi setelah mengerjakan kewajiban kita serahkanlah semuanya pada Pencipta langit dan bumi beserta isinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada perbedaan yang saya rasakan ketika mendapatkan hasil dari doa dan usaha yang minimal dibandingkan dengan doa dan usaha yang maksimal. Ketika berusaha hanya seadanya dan mendapat hasil yang kurang baik maka akan muncul penyesalan. Tak jarang kalimat : <em>Duh coba ya saya berusaha lebih maksimal pasti hasilnya akan lebih bagus</em>” keluar dari bibir ini. Atau ketika hasil yang diperoleh sangat baik maka akan timbul kata-kata kesombongan, <em>&#8220;Wah, cuma berusaha segini saja hasilnya sebagus ini.&#8221;  Naudzubillah. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Namun, jika usaha yang dilakukan maksimal walaupun hasil yang didapatkan tidak sesuai harapan maka tak ada penyesalan disana. Karena memang disitulah kemampuan kita dan mungkin inilah yang terbaik dari Allah. Dan jika hasil yang didapatkan lebih bagus maka semua itu adalah anugerah dariNya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terkadang saya jadi malu sendiri. Tak jarang keluh kesah muncul dari mulut ini. Padahal nikmat yang Allah berikan sungguh tak mampu dinilai. Lantas apa yang harus dikeluhkan? Seharusnya saya bisa belajar dari pasien-pasien yang beberapa nikmatnya telah Allah cabut tetapi mereka tetap sabar. Belajar dari mereka yang memiliki disabilitas tetapi tetap tangguh menjalani kehidupan. Belajar dari hidup. Ya, mungkin saya harus banyak belajar dab bersyukur agar sifat suka mengeluh ini sirna.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2012/01/syukurku-padamu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

