<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seuramoe Liza &#187; Foto</title>
	<atom:link href="http://liza-fathia.com/category/foto/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://liza-fathia.com</link>
	<description>Belajar Tentang Hidup dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 14:51:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Funbike dan Dua Teman Baru</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/12/funbike-dan-dua-teman-baru.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/12/funbike-dan-dua-teman-baru.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 13:58:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[funbike]]></category>
		<category><![CDATA[IKAS (Ikatan Keluarga Andalas Selatan)]]></category>
		<category><![CDATA[tips bersepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1021</guid>
		<description><![CDATA[Minggu lalu (11/12/2011) saya mengikuti sepeda santai yang diadakan oleh IKAS. Pertama membaca spanduk yang bertebaran di setiap sudut kota Banda Aceh, saya bingung sendiri. IKAS? Apa  yang menyelenggarakan acara melupakan sebuah huruf, yaitu L untuk kata IKLAS. Tapi mana mungkin? Puluhan spanduk bertuliskan kata yang sama. IKAS Damai Negriku Funbike 2011. Begitulah tema acara sepeda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 269px"><img src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/384239_172426522854529_100002615472772_282687_94283727_n.jpg" alt="" width="259" height="346" /><p class="wp-caption-text">Vela dan Liza</p></div>
<p style="text-align: justify;">Minggu lalu (11/12/2011) saya mengikuti sepeda santai yang diadakan oleh IKAS. Pertama membaca spanduk yang bertebaran di setiap sudut kota Banda Aceh, saya bingung sendiri. IKAS? Apa  yang menyelenggarakan acara melupakan sebuah huruf, yaitu L untuk kata IKLAS. Tapi mana mungkin? Puluhan spanduk bertuliskan kata yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">IKAS Damai Negriku Funbike 2011. Begitulah tema acara sepeda santainya.</p>
<div>
<p style="text-align: justify;">Jam enam, ketika matahari baru mulai menampakkan wujudnya sayalangsung bergegas menuju Blang Padang, tempat semua peserta funbike berkumpul. Agak takut, itu yang kurasakan. Tetapi saya tidak ingin telat seperti sepeda santai sebelumnya. Ya, ini adalah sepeda santai kedua yang kuikuti setelah sekian lama tidak bersepeda.   Hari masih gelap, namun kukayuh saja pedal sepeda. Jalanan yang biasanya sepi, hari itu tampak ramai dengan sepeda motor. Rata-rata pengendaranya adalah anak muda yang baru saja pulang dari warung kopi. Sepertinya mereka habis menyaksikan pertandingan sepak bola antara Real Madrid dan Barcelona.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru beberapa meter berjalan, saya berpas-pasan dengan sepasang suami istri dan dua anak mereka yang juga sedang bersepeda. Tak lama kemudian sayapun bertemu dengan dua gadis manis yang penuh semangat mengayuh pedal untuk menaiki tanjakan di jembatan dekat swalayan Pante Pirak. Kusapa mereka. Kedua gadis manis itu adalah Vella dan Desy. Ternyata tujuan kami sama, ke Blang Padang untuk mengikuti fun bike. Tak hanya manis, dua gadis yang ternyata penyiar itu juga ramah. Kami pun menjadi teman kala itu. Karena mereka saya jadi tidak sendirian saat bersepeda.  <span id="more-1021"></span></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 467px"><img class=" " src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/382905_172426566187858_100002615472772_282689_1515621852_n.jpg" alt="" width="457" height="342" /><p class="wp-caption-text">Desy, Vela dan Liza</p></div>
<p style="text-align: justify;">Sesampai di Blang Padang, saya baru tahu kalau IKAS memang sebuah singkatan dari Ikatan Keluarga Andalas Selatan yang anggotanya merupakan pendatang dari Sumatera bagian selatan seperti Lampung, Palembang, Bengkulu, Bangka Belitung, dan Jambi. Di sana saya juga jadi tahu kalau pangeran alias ketua IKAS itu tak lain adalah Kapolda Aceh sendiri, Bapak Irjen Polisi Iskandar Hasan, SH, M.Hum. Sebelum memulai bersepeda, semua peserta yang jumlahnya lebih dari 1500 dibagi-bagikan T-shirt. Inilah saat yang kutunggu-tunggu. Lalu diberikan kupon untuk door prize juga. Saat itu Desi dengan penuh harap bisa mendapatkan salah satu door prize yang jumlahnya puluhan juta rupiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rute sepeda santai kali itu lumayan jauh dibandingkan dengan rute yang kuikuti sebelumnya. Setelah bersepeda seluruh peserta melepas lelah di Setui Aceh Kopi, salah satu warung kopi yang menjadi sponsor acara dan terletak di terminal lama Setui. Ketika sampai di sana, saya langsung menyeruput secangkir milo lalu segelas bubur kacang ijo. Anak muda yang satu ini memang benar-benar kecapean dan kelelahan. Tak hanya itu, empek-empek yang memang disediakan untuk pesertapun saya embat. Benar-benar perbaikan gizi. Eits, bukan saya saja, Vela, Desy dan semua peserta juga demikian.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah acara makan-makan, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tenenggggggg…. Itulah dia pembagian door prize. Dengan harap-harap cemas saya, Vela dan Desy  mendengar MC membacakan nomer undian yang berhasil mendapatkan door prize. Mulai dari yang kecil-kecil seperti jam, HP, setrikaan, lalu dispenser, TV, kulkas, sepeda dan yang paling wah yaitu sepeda motor. Dengan penuh sabar kami menunggu nomer kami disebutkan. Ketika ada nomer yang hampir mendekati, tak lepas kami pandang kupon yang diberi dengan telinga tetap focus pada suara MC. Door prize yang kecil-kecil telah lewat, yang sedang juga, yang sedikit besar juga, dan sepeda motor juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah, masih ada sepeda dan kulkas,” ucap Desy sambil menempelkan nomer undian dijidatnya hingga kelihatan seperti vampire di film-film Cina yang dulu sering diputar setiap Sabtu di tv. Mungkin dia masih berada dalam pengaruh hipnotis dari magician yang juga memeriahkan funbike hari itu. Soalnya saat diminta tiga orang untuk menjadi relawan agar  sang magician dapat menunjukkan kebolehannya, tanpa babibu Desy langsung naik ke atas panggung. Berani sekali dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh sepeda raib. Kulkas pun ludes. Televisipun telah ada berada di tangan peserta lain. Walhasil saya, Vela dan Desy tidak mendapatkan apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ngga apa-apa. Kita sudah dapat baju, hehehhe.” Desy yang enerjik tetap berpikir positif.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hehe, namanya juga undian.” Balasku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ngomong-ngomong soal undian, saya adalah orang yang paling tidak pernah memenangkannya. Entah kenapa keburuntungan dari undian itu tak pernah memihak pada saya. Lain cerita jika hadiah diberikan dengan cara melemparkan pertanyaan, maka tak jarang telunjuk yang saya angkat menjadi pilihan panitia. Tapi walaupun demikian, funbike kali ini cukup berkesan. Ya, karena sepeda santai itu, saya bisa berkenalan dengan dua penyiar keren yang ramah dan baik hati. Semoga di funbike berikutnya kita bisa bersama lagi.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/12/funbike-dan-dua-teman-baru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengintip Museum Aceh</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 11:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[alamat museum aceh]]></category>
		<category><![CDATA[cakra donya]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah lonceng cakra donya]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah museum aceh]]></category>
		<category><![CDATA[visit banda aceh 2011]]></category>
		<category><![CDATA[wisata Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=914</guid>
		<description><![CDATA[Jam telah menunjukkan pukul tiga sore ketika saya memasuki gerbang Museum Aceh. Suasana di dalamnya terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang lelaki paro baya yang duduk sambil melepas penat di tangga Rumoh Aceh, dua orang pelajar SMA yang sedang menaiki tangga, dan sepasang muda-mudi duduk sambil bercengkrama di bawah pohon di tengah-tengah museum. Memang, hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://3.bp.blogspot.com/-FipaJeIJbQ0/TaIW_-uJ-fI/AAAAAAAAAmE/pSudjE0DbGI/s400/DSC02463.JPG" alt="" width="320" height="181" />Jam telah menunjukkan pukul tiga sore ketika saya memasuki gerbang Museum Aceh. Suasana di dalamnya terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang lelaki paro baya yang duduk sambil melepas penat di tangga Rumoh Aceh, dua orang pelajar SMA yang sedang menaiki tangga, dan sepasang muda-mudi duduk sambil bercengkrama di bawah pohon di tengah-tengah museum. Memang, hari terasa sangat panas karena matahari begitu bersemangat memancarkan sinarnya. Mungkin inilah yang menyebabkan museum sepi meski hari ini adalah hari Minggu. Tetapi semangat saya untuk mengunjungi tempat dimana asal usul sebuah daerah dapat diketahui sama panasnya dengan udara siang ini. Saya begitu menggebu-gebu untuk dapat masuk ke dalamnya.</div>
<div style="text-align: justify;">Setelah memasuki gerbang, saya langsung disambut oleh lonceng Cakra Donya. Cakra Donya adalah lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina 1409 M, dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Lonceng ini  merupakan hadiah dari Kerajaan Cina yang dibawa oleh Laksamana Ceng Ho kepada Sultan Aceh. Cakra berarti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, cakrawala atau matahari. Sedangkan Donya berarti dunia. Pada bagian luar Cakra Donya terdapat hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5). Sedangkan aksara Arab tidak dapat dibaca lagi karena telah aus.<span id="more-914"></span></div>
<div style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="http://2.bp.blogspot.com/-8nMpkr1bOyc/TaIYSmTzrAI/AAAAAAAAAms/XKG6ljuPcnA/s320/DSC02458.JPG" alt="" width="181" height="320" /></div>
<div style="text-align: justify;">Pada dasarnya Cakra Donya adalah nama sebuah kapal perang Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yaitu Kapal Cakra Donya di mana lonceng ini digantungkan, dalam penyerbuannya terhadap Portugis di Malaka. Pada masa lalu Lonceng dari Kapal Cakra Donya tersebut, digantung dengan rantai jangkar pada pohon kuda-kuda dekat Mesjid Baiturrahnim dalam kompleks kraton untuk dibunyikan apabila penghuni kraton harus berkumpul guna mendengarkan pengumuman Sultan. Akan tetapi, sejak tahun 1915 M Cakra Donya dipindahkan ke Museum Aceh dan ditempatkan dalam kubah tersebut.</div>
<div style="text-align: justify;">Di depan Cakra Donya terdapat Rumoh Aceh, rumah tradisional masyarakat Aceh yang konon merupakan bangunan pertama di museum ini. Rumoh Aceh ini didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Sebenarnya, Rumoh Aceh tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus &#8211; 15 November 1914.</div>
<div style="text-align: justify;">Pada pameran itu Paviliun Aceh berhasil memperoleh 4 medali emas, 11 perak, 3 perunggu, dan piagam penghargaan sebagai Paviliun terbaik. Keempat medali emas tersebut diberikan untuk: pertunjukan, boneka-boneka Aceh, etnografika, dan mata uang; perak untuk pertunjukan, foto, dan peralatan rumah tangga. Karena keberhasilan tersebut Stammeshaus mengusulkan kepada Gubernur Aceh agar Paviliun tersebut dibawa kembali ke Aceh dan dijadikan sebuah Museum. Ide ini diterima oleh Gubernur Aceh Swart. Atas prakarsa Stammeshaus, Paviliun Aceh itu dikembalikan ke Aceh, dan pada tanggal 31 Juli 1915 diresmikan sebagai Aceh Museum, yang berlokasi di sebelah Timur Blang Padang di Kutaraja (Banda Aceh sekarang). Museum ini berada di bawah tanggungjawab penguasa sipil dan militer Aceh.  F.W. Stammeshaus menjadi kurator pertama.</div>
<div style="text-align: justify;">Ketika Indonesia merdeka, Museum Aceh menjadi milik Aceh sepenuhnya. Atas gagasan T. Hamzah Bendahara, di tahun 1969 museum dipindahkan ke samping Meligoe (pendopo) Gubernur yaitu di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tanah seluas 10.800 m2.</div>
<div style="text-align: justify;">Sebelum menaiki tangga yang tersusun rapi untuk memasuki Rumoh, saya tergoda untuk melihat Jeungki, Geureubak/Peudati, Geupok, Meuriam, Peureulak Boom, dan Kohler Boom yang dipajang di bawahnya.</div>
<div style="text-align: justify;">Jeungki merupkan alat tradisional yang digunakan untuk menumbuk padi. Dulu, setiap keluarga petani Aceh memiliki Jeungki yang digunakan untuk mengolah padi menjadi beras. Tak hanya padi, Jeungki juga digunakan untuk menumbuk kopi, tepung, sagu, atau untuk menumbuk bumbu masak. Namun sekarang keberadaan Jeungki sudah sangat langka di kalangan masyarakat Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">Di depan Jeungki ada Geureubak/Peudati. Kayu beroda ini adalah sejenis angkutan tradisional berupa gerobak yang digerakkan dengan tenaga lembu atau kerbau untuk mengangkut barang.</div>
<div style="text-align: justify;">Saya pun beranjak ke Geupok yang terletak samping Geureubak. Geupok  merupakan tempat untuk menyimpan padi yang telah dipanen. Geupok itu mampu memuat lebih kurang satu ton padi. Di samping Geupok ada dua kayu besar ; Peureulak Boom dan Kohler Boom.</div>
<div style="text-align: justify;">Peureulak Boom atau pohon Peureulak adalah jenis kayu keras hasil hutan Aceh yang menjadi kayu andalan untuk pembuatan kapal tradisional Aceh. Sedang Kohler Boom atau pohon Kohler adalah potongan kayu pohon Geuleumpang yang tumbuh di sisi utara halaman Mesjid Raya Baiturrahman. Kohler Boom ini merupakan julukan yang diberi oleh Belanda karena di bawah pohon inilah Panglima Perang Belanda yang pertama di Aceh, Jendral Kohler mati di tangan para pejuang Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">Di depan potongan kayu itu berjejer tiga meriam peninggalan zaman perang dahulu.</div>
<div style="text-align: justify;">Ketika hendak menaiki tangga, lelaki paro baya  yang terkantuk-kantuk karena hembusan angin memintaku untuk mengambil tiket dahulu sebelum memasuki Rumoh Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">“Ambil tiket dulu ya, Dek. Di gedung pameran temporer  di belakang sana,” tunjuk lelaki itu ke arah bangunan yang terletak sekitar seratus meter dari Rumoh Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">Pergilah saya ke gedung yang dimaksud. Ternyata gedung itu adalah tempat pameran temporer dan perpustakaan. Gedung itu terletak dekat dengan gedung pertemuan. Gedung-gedung tersebut rupanya dibangun tahun 1974 setelah biaya Pelita melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/-Uq3NNCJUoT4/TaIX8ynK6PI/AAAAAAAAAmg/8mb-qDO7kLU/s320/DSC02437.JPG" alt="" width="320" height="254" />Setelah membayar tiket yang harganya hanya Rp.1 000 per orang, saya tak langsung kembali ke Rumoh Aceh. Kerbau berkepala dua membuat saya berhenti sejenak di sana. Dan ternyata tak hanya binatang itu yang ada di dalam gedung tersebut. Masih banyak satwa khas Aceh yang telah diawetkan dan disimpan di sana.</div>
<div style="text-align: justify;">“Di sini juga ada perpustakaan, Maket Mesjid Raya dari masa ke masa, kepingan emas pada zaman Kerajaan Aceh, prasasti-prasati, dan batu nisan raja-raja di Aceh. Itu semua dipajang di ruang tengah.” Bu Zuhra, salah satu pegawai yang bertugas pada hari itu menjelaskan panjang lebar.</div>
<div style="text-align: justify;">Saya jadi semakin tertarik. Tak sabar ingin melihat semua koleksi di museum ini.Namun,  jam di dinding menunjukkan pukul empat kurang lima. Alunan bacaan ayat suci Alquran mulai terdengar dari pengeras suara di Mesjid Raya Baiturrahman.</div>
<div style="text-align: justify;">“Museumnya sudah mau tutup, Dek.” Bu Zuhra mengingatkanku, “maunya datang hari kerja. Jadi bisa nanya-nanya ke pegawai lain tentang museum ini.”</div>
<div style="text-align: justify;">Saya hanya tersenyum. Sebenarnya ingin berlama-lama di sini. Tapi apa hendak dikata. Museumnya akan ditutup. Datang di hari kerja? Ah, belum ada waktu untuk dapat ke sini di hari kerja. Jadwal koass di rumah sakit yang padat membuat saya harus berpuas hati walau hanya libur satu hari. Yaitu hari ini. Hari Minggu.</div>
<div style="text-align: justify;">Ketika liburan nanti, saya bertekad untuk mengunjungi kembali Museum Aceh ini. Saya ingin memasuki ruangan-ruangan yang tak sempat saya kunjungi hari ini.</div>
<div style="text-align: justify;"><strong>Alamat Museum Aceh :</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Jl. S.A Mahmudsyah, No.12 Peuniti Banda Aceh</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ganja Bisa Bikin Gila</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/04/ganja-bisa-bikin-gila.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/04/ganja-bisa-bikin-gila.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 15:29:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[efek samping ganja]]></category>
		<category><![CDATA[ganja]]></category>
		<category><![CDATA[ganja aceh]]></category>
		<category><![CDATA[ganja dan gangguan jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[nama lain ganja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[“Kamu asalnya dari mana?” “Dari Aceh.” “Wow.  Banyak ganja ya di sana?” &#8220;???? Sudah sangat sering pertanyaan itu dilontarkan pada saya.  Jika bertemu atau chatting dengan orang yang berasal dari luar Aceh, mereka pasti menanyakan tentang tanaman yang beberapa waktu lalu menjerat personil Kangen Band ke ranah hukum. Saya heran, kenapa orang-orang mengidentikkan Aceh dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">“Kamu asalnya dari mana?”</p>
<p>“Dari Aceh.”</p>
<p>“Wow.  Banyak ganja ya di sana?”</p>
<p>&#8220;????</p>
<p>Sudah sangat sering pertanyaan itu dilontarkan pada saya.  Jika bertemu atau c<em>hatting</em> dengan orang yang berasal dari luar Aceh, mereka pasti menanyakan tentang tanaman yang beberapa waktu lalu menjerat personil <strong>Kangen Band</strong> ke ranah hukum. Saya heran, kenapa orang-orang mengidentikkan Aceh dengan ganja. Padahal, sebagai orang Aceh, belum pernah sekalipun saya  melihat secara langsung tanaman yang merupakan salah satu jenis narkoba itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, pertanyaan tersebut tak ada salahnya. Lihat saja di televisi, setiap pemberitaan tentang kasus penyelundupan ganja, maka Acehlah yang menjadi tempat daun kering tersebut berasal. Belum lagi dengan banyaknya ladang ganja yang ditemukan di ujung pulau Sumatera ini. Jadi, tidak mengherankan jika Aceh identik dengan tanaman yang memiliki nama latin <strong><em>Cannabis sativa</em></strong>.<span id="more-822"></span></p>
<p>Karena banyak dan mudah diperoleh, maka harga ganja pun relatif murah. Sehingga untuk membeli ganja, tak banyak rupiah yang harus dikeluarkan. Sehingga tidak mengherankan jika tumbuhan ini menyebabkan banyak pemuda Aceh tertawa tanpa sebab, membuat banyak warga Aceh menjadi penghuni rumah tahanan di hampir seluruh Indonesia dan satu lagi tumbuhan yang memiliki nama gaul <strong>Cimeng</strong> ini membuat orang normal harus menjadi pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ).</p>
<p style="text-align: justify;">“Beli lima ribu, dapat beberapa am. Bisa untuk seminggu. Kadang-kadang saya tidak beli. Langsung dikasih kawan,” jelas BR, 35 tahun,  pasien RSJ Banda Aceh yang dirawat karena mengalami gangguan mental dan perilaku karena cannabis (ganja).</p>
<p style="text-align: justify;">Menurutnya, kemudahan memperoleh ganja membuat BR tak dapat melepaskan diri dari dari daun kering tersebut. Bahkan,  ia harus keluar masuk rumah sakit jiwa karena ganja.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya sudah tiga kali di rawat. Ini yang ke empat. Saya bakar rumah gara-gara ada yang membisik. Bakar. Bakar. Bakar. Karena tidak tahan, saya ambil korek dan minyak. Karena udah larut malam, adik saya yang tinggal satu rumah tidak tahu. Waktu dia bangun, rumah udah terbakar. Itu karena setelah pulang dari rumah sakit saya hisap lagi ganja, “ BR menceritakan kronologis kejadian yang membuatnya kembali dimasukkan ke RSJ.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain BR, masih banyak penghuni RSJ lain yang memiliki riwayat yang sama  yaitu pernah menghisap ganja. Rata-rata, mereka adalah kaum Adam yang berusia produktif.  Tidak sedikit remaja yang juga harus dirawat gara-gara telah mengganggu ketentraman masyarakat yang tidak lain disebabkan ganja.  Padahal, ketika ditanyakan pada keluarganya, rata-rata remaja itu memiliki prestasi yang bagus di sekolahnya. Namun  <em>tetrahydrocannabinol</em> atau THC yang dikandung oleh ganja itu telah mengubah segalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hubungan antara konsumsi ganja dengan terjadinya gangguan jiwa bukanlah hoax belaka. Banyak penelitian yang telah membuktikan efek penggunaan ganja terhadap kesehatan jiwa. Seperti penelitian yang dimuat <em>The Lancet</em> menyebutkan bahwa penggunaan ganja meningkatkan risiko timbulnya sakit jiwa lebih dari 40%. Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan tinjauan terhadap 35 penelitian yang meneliti frekuensi sizofrenia, khayalan, halusinasi, kekacauan pikiran dan sakit kejiwaan lainnya yang dialami para pemakai ganja. Risikonya relatif bertambah seiring banyaknya pemakaian.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena besarnya efek negatif yang ditimbulkan ganja, para pengambil kebijakan di negeri ini sudah sepatutnya mengambil tindakan tegas terhadap pengguna dan pengedar ganja. Efek yang ditimbulkannya memang tidak akan langsung terlihat, tetapi dalam jangka waktu yang lama efek samping dari ganja akan membuat pecandunya menjadi gila. Jika tak percaya, singgahlah sekali-sekali ke Rumah Sakit Jiwa. Lihatlah bagaimana dampak yang ditimbulkan marijuana.</p>
<p style="text-align: justify;">Katakan tidak untuk Narkoba.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/04/ganja-bisa-bikin-gila.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lelaki Lebih Gila dari Wanita</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/03/lelaki-lebih-gila-dari-wanita.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/03/lelaki-lebih-gila-dari-wanita.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Mar 2011 16:20:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[banda aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Kesehatan Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[persentase pasien jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[RSJ Banda Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Tidak terasa, empat minggu sudah saya menjalani kepaniteraan klinik senior alias koas di bagian ilmu kesehatan jiwa RSJ Banda Aceh. Empat minggu yang memberikan aneka rasa. Senang, sedih, tegang, takut, aneh. Semuanya bersatu menjadi kenangan berharga dalam hidup dan saat saya mengabdikan diri dalam masyarakat kelak. Senang karena di sana saya memiliki ilmu yang baru. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tidak terasa, empat minggu sudah saya menjalani kepaniteraan klinik senior alias koas di bagian ilmu kesehatan jiwa RSJ Banda Aceh. Empat minggu yang memberikan aneka rasa. Senang, sedih, tegang, takut, aneh. Semuanya bersatu menjadi kenangan berharga dalam hidup dan saat saya mengabdikan diri dalam masyarakat kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Senang karena di sana saya memiliki ilmu yang baru. Saya menjadi paham bagaimana seseorang dikatan mengalami gangguan jiwa. Saya bisa mendapat teman-teman baru yang saat itu nikmat sehatnya sedang dicabut oleh Allah. Dapat menjadi pendengar yang budiman mengenai kelus kesah mereka. Di sana saya juga menjadi paham, bahwa pada dasarnya orang yang mengalami gangguan jiwa itu hanya proses fikir mereka yang terganggu sedang ingatan tidak. Intelektualitas pasien tersebut sama sekali tidak terganggu. Ketika sembuh kelak, mereka dapat mengingat apapun yang mereka alami ketika sakit atau sebelumnya.<span id="more-816"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saya sedih, ketika melihat pasien-pasien di sana melimpah ruah. Ruangan yang seharusnya menampung tiga puluh orang, kini dipenuhi oleh depalan puluh kepala. Pasien yang seharusnya bisa pulang, tetapi keluarga tak kunjung datang menjemput. Sedih memikirkan jika saya yang mengalami nasib seperti mereka. Sedih, karena terkadang kelakuan kita yang tidak kita sadari bisa membuat orang mengalami gangguan jiwa. Namun, semua itu membuat saya semakin bersyukur pada Allah atas segala nikmat yang telah dikaruniakan-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tegang dan takut karena yang saya hadapi adalah orang-orang yang sakit pikirannya. Yang bisa melakukan apa saja tanpa ada hukum yang bisa mengadilinya. Mereka bisa begitu ganas jika tidak dalam pengobatan. Bayangkan saja, tak jarang di antara pasien itu masuk karena sebelumnya telah melakukan pembunuhan. Dan ada satu diantara pasien yang telah memutilasi ayahnya menjadi tujuh bagian.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya merasa aneh karena hampir seluruh penghuni RSJ itu adalah kaum Adam. Dari kurang lebih dua belas balee (ruangan) yang disediakan rumah sakit, hanya tiga balee yang isinya perempuan. Jika dipersentasekan hanya 25 persen dari seluruh penghuni RSJ (kurang lebih 600 orang) itu adalah perempuan, selebihnya adalah lelaki. Kenapa bisa begitu ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah membaca berbagai referensi, saya pun mendapat jawabannya. Pada dasarnya, perempuan sangat rentan terkena gangguan jiwa. Bahkan untuk gangguan ringan, perempuan dua kali lebih berisiko dibanding laki-laki. Gangguan seperti depresi, kecemasan, dan keluhan somatik didominasi perempuan dengan angka sekitar 1 dari 3 orang dan merupakan masalah kesehatan serius.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun untuk gangguan jiwa berat dan harus dirawat , maka anggapan perempuan  lebih lemah dibandingkan dari laki-laki mungkin tak lagi relevan untuk dibenarkan. Setelah berdiskusi singkat dengan dr. Juwita Saragih, Sp.KJ, salah satu psikiater yang dimiliki RSJ Banda Aceh, ternyata hal ini dipengaruhi oleh hormon estrogen dan endorphin yang dimiliki oleh wanita. Hormon tersebut sangat berpengaruh terhadap daya tahan seorang wanita terhadap rasa sakit dan diduga memiliki hubungan dengan jumlah pasien wanita yang dirawat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Estrogen dan Endorfin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli telah melakukan penelitian untuk membandingkan daya tahan terhadap rasa sakit  antara kaum pria dan wanitaini lebih berbasis ilmiah ketimbang beberapa pendapat yang menyatakan bahwa perempuan mungkin memiliki sifat lebih tabah sehingga kelihatan lebih bisa menahan sakit yang dirasakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada lagi beberapa pendapat lain yang mengatakan bahwa perempuan secara fisiologis lebih sering berhadapan dengan rasa sakit di sepanjang proses mekanisme kehidupan mereka, seperti rasa sakit di waktu menstruasi atau dalam proses melahirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam  ilmu kedokteran, ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi hal ini.  Penelitian yang dilakukan di sebuah institusi di Columbia University, AS,  mencoba menghubungkannya dengan peranan hormonal manusia, dan penelitian ini ternyata banyak didukung banyak ahli saraf lain yang melakukan studi investigasi mereka terhadap daya tahan waniat terhadap rasa sakit yang dinilai lebih tinggi dibandingkan pria ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa sakit yang mereka sebutkan dipengaruhi oleh sangat banyak faktor di dalam mekanisme tubuh, salah satunya berkaitan erat  dengan peranan hormon di tubuh manusia, dan salah satu diantaranya adalah hormon estrogen yang dikenal lebih spesifik sebagai hormon wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Hormon yang dihasilkan di indung telur atas rangsangan LH dan FSH (Luteneizing Hormone dan Follicle-Stimulating Hormone) bersama progesteron dalam merangsang pelepasan sel telur ini berperan dalam memproduksi endorfin, suatu zat kimia otak yang termasuk asam amino tubuh dan berperan dalam mengurangi serta mengatasi respons sakit.</p>
<p>Endorfin itu sendiri berperan tak hanya dalam mengatasi rasa sakit alami   di dalam tubuh seperti kram di saat menstruasi namun juga dalam menjaga kebugaran emosi dan suasana hati bersama hormon lainnya, serotonin.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih jauh mereka menjelaskan bahwa ketika level estrogen mencapai tingkatan tinggi, semakin besar peningkatan jumlah area diotak yang menyediakan area bagi endorfin untuk melakukan aktifitasnya, dan semakin banyak area ini maka akan semakin banyak pula endorfin yang bisa digunakan tubuh dalam mengatasi rasa sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Proses ini mereka jelaskan kaitannya dengan kejadian saat seorang wanita mengalami proses melahirkan dimana level endorfin secara fisiologis sudah dirancang sedemikian rupa untuk mengurangi rasa sakit yang dihadapi oleh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Hormon ini juga membuat para wanita lebih tanggap dan lebih dini mengenali rasa sakitnya dibandingkan dengan hormon pria yang dinilai kurang peka terhadap rasa sakit, namun sekaligus juga tak punya peranan banyak terhadap produksi endorfin dalam mengatasi rasa sakit tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai kadar estrogen yang berkurang saat seorang wanita memasuki tahapan menopause sendiri, belum bisa dijelaskanlebih lanjut, namun mereka menyimpulkan bahwa hormon estrogen dan endorfin, yang juga banyak diproduksi ketika berhubungan intim dan olahraga secara teratur ini memegang peranan dibalik kekuatan para wanita itu, paling tidak selama periode tertentu dalam hidup mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, begitulah ulasan singkat tentang hubungan antara gangguan jiwa berat pada wanita dengan hormon estrogen yang mereka (termasuk saya) miliki.  Jadi, setelah di koas di bagian Ilmu Kesehatan Jiwa, saya semakin bangga menjadi wanita <img src='http://liza-fathia.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">sumber foto : antaranews.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/03/lelaki-lebih-gila-dari-wanita.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banjir Bandang Tangse, #PrayForTangse</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/03/banjir-bandang-tangse-prayfortangse.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/03/banjir-bandang-tangse-prayfortangse.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 02:11:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[akibat pembalakan liar]]></category>
		<category><![CDATA[banjir bandang Tangse]]></category>
		<category><![CDATA[bencana 2011]]></category>
		<category><![CDATA[pidie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=795</guid>
		<description><![CDATA[Di blog ini, saya sering bercerita tentang Tangse. Dengan bangga saya memaparkan tentang keindahan alamnya, jernih sungainya, dan melimpah hasil buminya. Saya begitu bersyukur karena telah dilahirkan di tanah yang Tuhan anugerahkan kesuburan.  Namun, di balik keindahan pulau di tengah hutan belantara ini, terdapat cela yang disebabkan oleh segelintir tangan-tangan liar yang tak bertanggung jawab. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-798" title="2" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/2.jpg" alt="" width="461" height="260" /></a>Di blog ini, saya sering bercerita tentang <a href="http://liza-fathia.com/category/tangse">Tangse</a>. Dengan bangga saya memaparkan tentang keindahan alamnya, jernih sungainya, dan melimpah hasil buminya. Saya begitu bersyukur karena telah dilahirkan di tanah yang Tuhan anugerahkan kesuburan.  Namun, di balik keindahan pulau di tengah hutan belantara ini, terdapat cela yang disebabkan oleh segelintir tangan-tangan liar yang tak bertanggung jawab.<span id="more-795"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hampir setiap saya melewati kedai kopi saya mendengar para pemilik tangan-tangan liar itu membahas tentang aksi pembalakan liar yang mereka lakukan. Cara-cara licin yang bisa mereka pakai agar tak tertangkap aparat keamanan. Bahkan, tak jarang diantara pemilik tangan-tangan liar itu adalah mereka yang dibayar oleh pemerintah untuk menjaga hutan Tangse dan bertugas menangkap orang-orang yang melakukan <em>illegal loging</em>.</p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<div id="attachment_803" class="wp-caption aligncenter" style="width: 482px"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/12032011078.jpg"><img class="size-large wp-image-803    " title="12032011078" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/12032011078-1024x905.jpg" alt="" width="472" height="417" /></a><p class="wp-caption-text">Pasca banjir bandang Tangse</p></div>
<p style="text-align: justify;">Yang telah ditahan oleh aparat pun seakan kehilangan rasa malu. Keluar masuk sel seolah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Jeruji besi tak menjadi kendala bagi mereka untuk beraksi. Asal ada uang, apapun bisa dikendalikan. Kalau perlu, sekalian saja aparat yang menangkap mereka itu diajak berkerja sama. Huh.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang, akibat dari ulah tangan-tangan   liar itu harus ditanggung oleh rakyat tak berdosa. Banjir bandang yang datang tanpa salam menghantam apa saja yang ada di depannya. Hari itu, magrib baru saja menjelang. Hujan telah turun sejak sekitar jam dua belas siang. Akan tetapi, Tangse yang memang kota hujan, hujan seharian pun tak menjadi risauan.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<div id="attachment_801" class="wp-caption aligncenter" style="width: 464px"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/5.jpg"><img class="size-full wp-image-801   " title="5" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/5.jpg" alt="" width="454" height="256" /></a><p class="wp-caption-text">Rumah yang ambruk karena banjir</p></div>
<p style="text-align: justify;">Tanpa dinyana, sore Kamis, 10 Maret 2011 sungai di <em>pucok krueng</em> (hulu sungai) meluap. Menghanyutkan berkubik-kubik kayu yang telah ditebang. Menghancurkan perumahan, jalan, dan apa saja yang ada di depan. Bahkan 12 nyawa melayang dan 8 dinyatakan hilang. Desa Peunalom 1, Peunalom 2, Layan, Blang Jeurat, Blang Dalam, Pulo Baro, Rantou Panyang, dan Blang Pandak menjadi sasaran kemarahan alam.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/3.jpg"><img alt="" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="&lt;/dd"><br />
</a></p>
<div id="attachment_797" class="wp-caption aligncenter" style="width: 420px"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/11.jpg"><img class="size-full wp-image-797  " title="1" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2011/03/11.jpg" alt="" width="410" height="231" /></a><p class="wp-caption-text">Penduduk menyelamatkan harta benda yang tersisa</p></div>
<p style="text-align: justify;">Apapun yang terjadi, saya tetap bangga dengan Tangse. Banjir bandang yang menyita sebagian keindahannya menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa alam sangatlah berharga. Karena berharga, maka kita sebagai umat manusia wajib menjaganya. Kepada para korban saya berdoa agar diberi ketabahan dan semangat untuk  bangkit dari keterpurukan. Bagaimanapun, duka Tangse adalah duka kita semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi yang ingin meringankan beban saudara kita yang di Tangse, sila kunjungi website @iloveaceh di http://iloveaceh.blog.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/03/banjir-bandang-tangse-prayfortangse.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

