<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seuramoe Liza &#187; Foto</title>
	<atom:link href="http://liza-fathia.com/category/foto/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://liza-fathia.com</link>
	<description>Belajar Tentang Hidup dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 04:03:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>SEOkopdar Aceh Blogger</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2012/04/seokopdar-aceh-blogger.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2012/04/seokopdar-aceh-blogger.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 08:54:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[aceh blogger]]></category>
		<category><![CDATA[acehblogger]]></category>
		<category><![CDATA[SEOkopdar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1114</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2012/04/seokopdar-aceh-blogger.html" title="SEOkopdar Aceh Blogger"></a>Setelah sekian lama tidak bertatap muka, akhirnya Komunitas Blogger Aceh atau yang lebih dikenal ABC (Aceh Blogger Community) menyelenggarakan kopi darat di warung kopi 3 in 1 Banda Aceh pada hari Minggu 8 April 2012 jam empat sore. Kenapa di &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2012/04/seokopdar-aceh-blogger.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2012/04/seokopdar-aceh-blogger.html" title="SEOkopdar Aceh Blogger"></a><p style="text-align: justify;"><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/546406_10150733989279057_853004056_9299417_80643304_n.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1115" title="SEOkopdar" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/04/546406_10150733989279057_853004056_9299417_80643304_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Setelah sekian lama tidak bertatap muka, akhirnya Komunitas Blogger Aceh atau yang lebih dikenal ABC (Aceh Blogger Community) menyelenggarakan kopi darat di warung kopi 3 in 1 Banda Aceh pada hari Minggu 8 April 2012 jam empat sore. Kenapa di warung kopi? Karena warung kopi adalah salah satu iconnya Aceh, di mana seluruh generasi baik itu kawula muda ataupun lanjut usia dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan duduk dan berdiskusi sambil ngopi di sana. Selain murah karena cukup memesan secangkir kopi saja, di setiap warung kopi ada wi-fi gratis untuk menarik para pelanggannya. Walhasil, kopi daratlah para blogger Aceh di warung kopi.<span id="more-1114"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Selain kopi darat, ada acara yang ngga kalah menarik yang diramu agar para blogger semangat ngeblog. Yup, itu dia kopdar sambil ngebahas tentang Search engine Optimization alias SEO. Ada dua SEOkman yang menjadi pembicara yaitu Maimoen Doank dan Ridha Yusardi. Gila, ternyata penghasilan mereka dengan ngeblog sambil menerapkan ilmu SEOnya sangat menggiurkan. Buktinya sangat banyak pertanyaan yang bermunculan. Tak hanya mereka berdua yang menjelaskan tetek bengek SEO yang jujur membuat saya hanya membelalakan mata karena ngga paham sama sekali, ada Fadli Idris sang koordinator ABC yang juga membagi ilmu tentang SEO, ada Baiquni, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun saya tidak mengerti SEO dan belum tertarik untuk memasangkan iklan di blog, tetapi saya mengacungi jempol untuk teman-teman saya para SEOkman dan juga SEOkman yang lain. Dengan fasilitas internet yang ada mereka mampun mencukupi kebutuhan finansialnya. Meski hanya nongkrong di depan PC dan mempelajari berbagia trik agar banyak pengunjung yang mengklik iklan di blog mereka, tetapi itu juga kerja keras yang mungkin tidak menguras banyak tenaga.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sela-sela acara, saya sempat menguping seorang bapak-bapak yang duduk di sebelah kami berucap, “ Anak-anak muda ini kreatif ya, mereka saling berbagi ilmu tentang cara memanfaatkan fasilitas internet yang ada.” Kira-kira seperti itulah kalimat yang dia ucapkan pada rekannya. Wah, senang mendengar apresiasi beliau walaupun tidak diucapkan secara langsung.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun yang masih sangat disayangkan adalah aktifitas seperti ini masih kurang digandrungi oleh para kawula muda. Kebanyakan mereka (saya ngga loh <img src='http://liza-fathia.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ) menghabiskan waktu di warkop hanya untuk bermain game online, facebookan, atau hanya sekedar nongkrong tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti. Mungkin ini menjadi PR untuk kita semua agar bisa mengajak para generasi muda yang lain juga kreatif, inovatif, dan berprestasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Wait, ternyata ngga saya saja yang terbengong-bengong saat SEOkopdar berlangsung. Bang Ferhat, Rio, Isni, serta beberapa teman yang saya ajak untuk ikutan juga hanya bisa menatap takjub dengan penjelasan para SEOkman. Mereka seperti berada di dunia entah berantah yang bahasanya tidak mereka pahami sama sekali. Ada Nasri yang terkantuk-kantuk karena mungkin ia merasa tidak sedang di warung kopi tetapi di alam mimpi di mana ia tersasar di sebuah dunia yang tidak dikenalinya sama sekali dan ketika terjaga acaranya pun selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">Mudah-mudahan lain kali akan ada kopdar Aceh Blogger yang ngga hanya ngebahas tentang SEO tetapi tentang hal lain yang tidak aneh di mata kami para orang awam. Hehehe…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2012/04/seokopdar-aceh-blogger.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yeay! Wisuda Lagi</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2012/02/yeay-wisuda-lagi.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2012/02/yeay-wisuda-lagi.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Feb 2012 14:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1100</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2012/02/yeay-wisuda-lagi.html" title="Yeay! Wisuda Lagi"></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2012/02/yeay-wisuda-lagi.html" title="Yeay! Wisuda Lagi"></a><p><a href="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/02/upload1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1102" title="upload" src="http://liza-fathia.com/wp-content/uploads/2012/02/upload1.jpg" alt="" width="428" height="640" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2012/02/yeay-wisuda-lagi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Funbike dan Dua Teman Baru</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/12/funbike-dan-dua-teman-baru.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/12/funbike-dan-dua-teman-baru.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 13:58:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[funbike]]></category>
		<category><![CDATA[IKAS (Ikatan Keluarga Andalas Selatan)]]></category>
		<category><![CDATA[tips bersepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1021</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2011/12/funbike-dan-dua-teman-baru.html" title="Funbike dan Dua Teman Baru"></a>Minggu lalu (11/12/2011) saya mengikuti sepeda santai yang diadakan oleh IKAS. Pertama membaca spanduk yang bertebaran di setiap sudut kota Banda Aceh, saya bingung sendiri. IKAS? Apa  yang menyelenggarakan acara melupakan sebuah huruf, yaitu L untuk kata IKLAS. Tapi mana mungkin? &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2011/12/funbike-dan-dua-teman-baru.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2011/12/funbike-dan-dua-teman-baru.html" title="Funbike dan Dua Teman Baru"></a><div class="wp-caption alignright" style="width: 269px"><img src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/384239_172426522854529_100002615472772_282687_94283727_n.jpg" alt="" width="259" height="346" /><p class="wp-caption-text">Vela dan Liza</p></div>
<p style="text-align: justify;">Minggu lalu (11/12/2011) saya mengikuti sepeda santai yang diadakan oleh IKAS. Pertama membaca spanduk yang bertebaran di setiap sudut kota Banda Aceh, saya bingung sendiri. IKAS? Apa  yang menyelenggarakan acara melupakan sebuah huruf, yaitu L untuk kata IKLAS. Tapi mana mungkin? Puluhan spanduk bertuliskan kata yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">IKAS Damai Negriku Funbike 2011. Begitulah tema acara sepeda santainya.</p>
<div>
<p style="text-align: justify;">Jam enam, ketika matahari baru mulai menampakkan wujudnya sayalangsung bergegas menuju Blang Padang, tempat semua peserta funbike berkumpul. Agak takut, itu yang kurasakan. Tetapi saya tidak ingin telat seperti sepeda santai sebelumnya. Ya, ini adalah sepeda santai kedua yang kuikuti setelah sekian lama tidak bersepeda.   Hari masih gelap, namun kukayuh saja pedal sepeda. Jalanan yang biasanya sepi, hari itu tampak ramai dengan sepeda motor. Rata-rata pengendaranya adalah anak muda yang baru saja pulang dari warung kopi. Sepertinya mereka habis menyaksikan pertandingan sepak bola antara Real Madrid dan Barcelona.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru beberapa meter berjalan, saya berpas-pasan dengan sepasang suami istri dan dua anak mereka yang juga sedang bersepeda. Tak lama kemudian sayapun bertemu dengan dua gadis manis yang penuh semangat mengayuh pedal untuk menaiki tanjakan di jembatan dekat swalayan Pante Pirak. Kusapa mereka. Kedua gadis manis itu adalah Vella dan Desy. Ternyata tujuan kami sama, ke Blang Padang untuk mengikuti fun bike. Tak hanya manis, dua gadis yang ternyata penyiar itu juga ramah. Kami pun menjadi teman kala itu. Karena mereka saya jadi tidak sendirian saat bersepeda.  <span id="more-1021"></span></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 467px"><img class=" " src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/382905_172426566187858_100002615472772_282689_1515621852_n.jpg" alt="" width="457" height="342" /><p class="wp-caption-text">Desy, Vela dan Liza</p></div>
<p style="text-align: justify;">Sesampai di Blang Padang, saya baru tahu kalau IKAS memang sebuah singkatan dari Ikatan Keluarga Andalas Selatan yang anggotanya merupakan pendatang dari Sumatera bagian selatan seperti Lampung, Palembang, Bengkulu, Bangka Belitung, dan Jambi. Di sana saya juga jadi tahu kalau pangeran alias ketua IKAS itu tak lain adalah Kapolda Aceh sendiri, Bapak Irjen Polisi Iskandar Hasan, SH, M.Hum. Sebelum memulai bersepeda, semua peserta yang jumlahnya lebih dari 1500 dibagi-bagikan T-shirt. Inilah saat yang kutunggu-tunggu. Lalu diberikan kupon untuk door prize juga. Saat itu Desi dengan penuh harap bisa mendapatkan salah satu door prize yang jumlahnya puluhan juta rupiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rute sepeda santai kali itu lumayan jauh dibandingkan dengan rute yang kuikuti sebelumnya. Setelah bersepeda seluruh peserta melepas lelah di Setui Aceh Kopi, salah satu warung kopi yang menjadi sponsor acara dan terletak di terminal lama Setui. Ketika sampai di sana, saya langsung menyeruput secangkir milo lalu segelas bubur kacang ijo. Anak muda yang satu ini memang benar-benar kecapean dan kelelahan. Tak hanya itu, empek-empek yang memang disediakan untuk pesertapun saya embat. Benar-benar perbaikan gizi. Eits, bukan saya saja, Vela, Desy dan semua peserta juga demikian.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah acara makan-makan, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tenenggggggg…. Itulah dia pembagian door prize. Dengan harap-harap cemas saya, Vela dan Desy  mendengar MC membacakan nomer undian yang berhasil mendapatkan door prize. Mulai dari yang kecil-kecil seperti jam, HP, setrikaan, lalu dispenser, TV, kulkas, sepeda dan yang paling wah yaitu sepeda motor. Dengan penuh sabar kami menunggu nomer kami disebutkan. Ketika ada nomer yang hampir mendekati, tak lepas kami pandang kupon yang diberi dengan telinga tetap focus pada suara MC. Door prize yang kecil-kecil telah lewat, yang sedang juga, yang sedikit besar juga, dan sepeda motor juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah, masih ada sepeda dan kulkas,” ucap Desy sambil menempelkan nomer undian dijidatnya hingga kelihatan seperti vampire di film-film Cina yang dulu sering diputar setiap Sabtu di tv. Mungkin dia masih berada dalam pengaruh hipnotis dari magician yang juga memeriahkan funbike hari itu. Soalnya saat diminta tiga orang untuk menjadi relawan agar  sang magician dapat menunjukkan kebolehannya, tanpa babibu Desy langsung naik ke atas panggung. Berani sekali dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh sepeda raib. Kulkas pun ludes. Televisipun telah ada berada di tangan peserta lain. Walhasil saya, Vela dan Desy tidak mendapatkan apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ngga apa-apa. Kita sudah dapat baju, hehehhe.” Desy yang enerjik tetap berpikir positif.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hehe, namanya juga undian.” Balasku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ngomong-ngomong soal undian, saya adalah orang yang paling tidak pernah memenangkannya. Entah kenapa keburuntungan dari undian itu tak pernah memihak pada saya. Lain cerita jika hadiah diberikan dengan cara melemparkan pertanyaan, maka tak jarang telunjuk yang saya angkat menjadi pilihan panitia. Tapi walaupun demikian, funbike kali ini cukup berkesan. Ya, karena sepeda santai itu, saya bisa berkenalan dengan dua penyiar keren yang ramah dan baik hati. Semoga di funbike berikutnya kita bisa bersama lagi.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/12/funbike-dan-dua-teman-baru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengintip Museum Aceh</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 11:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[alamat museum aceh]]></category>
		<category><![CDATA[cakra donya]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah lonceng cakra donya]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah museum aceh]]></category>
		<category><![CDATA[visit banda aceh 2011]]></category>
		<category><![CDATA[wisata Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=914</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html" title="Mengintip Museum Aceh"></a>Jam telah menunjukkan pukul tiga sore ketika saya memasuki gerbang Museum Aceh. Suasana di dalamnya terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang lelaki paro baya yang duduk sambil melepas penat di tangga Rumoh Aceh, dua orang pelajar SMA yang sedang menaiki &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html" title="Mengintip Museum Aceh"></a><div style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://3.bp.blogspot.com/-FipaJeIJbQ0/TaIW_-uJ-fI/AAAAAAAAAmE/pSudjE0DbGI/s400/DSC02463.JPG" alt="" width="320" height="181" />Jam telah menunjukkan pukul tiga sore ketika saya memasuki gerbang Museum Aceh. Suasana di dalamnya terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang lelaki paro baya yang duduk sambil melepas penat di tangga Rumoh Aceh, dua orang pelajar SMA yang sedang menaiki tangga, dan sepasang muda-mudi duduk sambil bercengkrama di bawah pohon di tengah-tengah museum. Memang, hari terasa sangat panas karena matahari begitu bersemangat memancarkan sinarnya. Mungkin inilah yang menyebabkan museum sepi meski hari ini adalah hari Minggu. Tetapi semangat saya untuk mengunjungi tempat dimana asal usul sebuah daerah dapat diketahui sama panasnya dengan udara siang ini. Saya begitu menggebu-gebu untuk dapat masuk ke dalamnya.</div>
<div style="text-align: justify;">Setelah memasuki gerbang, saya langsung disambut oleh lonceng Cakra Donya. Cakra Donya adalah lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina 1409 M, dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Lonceng ini  merupakan hadiah dari Kerajaan Cina yang dibawa oleh Laksamana Ceng Ho kepada Sultan Aceh. Cakra berarti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, cakrawala atau matahari. Sedangkan Donya berarti dunia. Pada bagian luar Cakra Donya terdapat hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5). Sedangkan aksara Arab tidak dapat dibaca lagi karena telah aus.<span id="more-914"></span></div>
<div style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="http://2.bp.blogspot.com/-8nMpkr1bOyc/TaIYSmTzrAI/AAAAAAAAAms/XKG6ljuPcnA/s320/DSC02458.JPG" alt="" width="181" height="320" /></div>
<div style="text-align: justify;">Pada dasarnya Cakra Donya adalah nama sebuah kapal perang Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yaitu Kapal Cakra Donya di mana lonceng ini digantungkan, dalam penyerbuannya terhadap Portugis di Malaka. Pada masa lalu Lonceng dari Kapal Cakra Donya tersebut, digantung dengan rantai jangkar pada pohon kuda-kuda dekat Mesjid Baiturrahnim dalam kompleks kraton untuk dibunyikan apabila penghuni kraton harus berkumpul guna mendengarkan pengumuman Sultan. Akan tetapi, sejak tahun 1915 M Cakra Donya dipindahkan ke Museum Aceh dan ditempatkan dalam kubah tersebut.</div>
<div style="text-align: justify;">Di depan Cakra Donya terdapat Rumoh Aceh, rumah tradisional masyarakat Aceh yang konon merupakan bangunan pertama di museum ini. Rumoh Aceh ini didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Sebenarnya, Rumoh Aceh tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus &#8211; 15 November 1914.</div>
<div style="text-align: justify;">Pada pameran itu Paviliun Aceh berhasil memperoleh 4 medali emas, 11 perak, 3 perunggu, dan piagam penghargaan sebagai Paviliun terbaik. Keempat medali emas tersebut diberikan untuk: pertunjukan, boneka-boneka Aceh, etnografika, dan mata uang; perak untuk pertunjukan, foto, dan peralatan rumah tangga. Karena keberhasilan tersebut Stammeshaus mengusulkan kepada Gubernur Aceh agar Paviliun tersebut dibawa kembali ke Aceh dan dijadikan sebuah Museum. Ide ini diterima oleh Gubernur Aceh Swart. Atas prakarsa Stammeshaus, Paviliun Aceh itu dikembalikan ke Aceh, dan pada tanggal 31 Juli 1915 diresmikan sebagai Aceh Museum, yang berlokasi di sebelah Timur Blang Padang di Kutaraja (Banda Aceh sekarang). Museum ini berada di bawah tanggungjawab penguasa sipil dan militer Aceh.  F.W. Stammeshaus menjadi kurator pertama.</div>
<div style="text-align: justify;">Ketika Indonesia merdeka, Museum Aceh menjadi milik Aceh sepenuhnya. Atas gagasan T. Hamzah Bendahara, di tahun 1969 museum dipindahkan ke samping Meligoe (pendopo) Gubernur yaitu di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tanah seluas 10.800 m2.</div>
<div style="text-align: justify;">Sebelum menaiki tangga yang tersusun rapi untuk memasuki Rumoh, saya tergoda untuk melihat Jeungki, Geureubak/Peudati, Geupok, Meuriam, Peureulak Boom, dan Kohler Boom yang dipajang di bawahnya.</div>
<div style="text-align: justify;">Jeungki merupkan alat tradisional yang digunakan untuk menumbuk padi. Dulu, setiap keluarga petani Aceh memiliki Jeungki yang digunakan untuk mengolah padi menjadi beras. Tak hanya padi, Jeungki juga digunakan untuk menumbuk kopi, tepung, sagu, atau untuk menumbuk bumbu masak. Namun sekarang keberadaan Jeungki sudah sangat langka di kalangan masyarakat Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">Di depan Jeungki ada Geureubak/Peudati. Kayu beroda ini adalah sejenis angkutan tradisional berupa gerobak yang digerakkan dengan tenaga lembu atau kerbau untuk mengangkut barang.</div>
<div style="text-align: justify;">Saya pun beranjak ke Geupok yang terletak samping Geureubak. Geupok  merupakan tempat untuk menyimpan padi yang telah dipanen. Geupok itu mampu memuat lebih kurang satu ton padi. Di samping Geupok ada dua kayu besar ; Peureulak Boom dan Kohler Boom.</div>
<div style="text-align: justify;">Peureulak Boom atau pohon Peureulak adalah jenis kayu keras hasil hutan Aceh yang menjadi kayu andalan untuk pembuatan kapal tradisional Aceh. Sedang Kohler Boom atau pohon Kohler adalah potongan kayu pohon Geuleumpang yang tumbuh di sisi utara halaman Mesjid Raya Baiturrahman. Kohler Boom ini merupakan julukan yang diberi oleh Belanda karena di bawah pohon inilah Panglima Perang Belanda yang pertama di Aceh, Jendral Kohler mati di tangan para pejuang Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">Di depan potongan kayu itu berjejer tiga meriam peninggalan zaman perang dahulu.</div>
<div style="text-align: justify;">Ketika hendak menaiki tangga, lelaki paro baya  yang terkantuk-kantuk karena hembusan angin memintaku untuk mengambil tiket dahulu sebelum memasuki Rumoh Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">“Ambil tiket dulu ya, Dek. Di gedung pameran temporer  di belakang sana,” tunjuk lelaki itu ke arah bangunan yang terletak sekitar seratus meter dari Rumoh Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">Pergilah saya ke gedung yang dimaksud. Ternyata gedung itu adalah tempat pameran temporer dan perpustakaan. Gedung itu terletak dekat dengan gedung pertemuan. Gedung-gedung tersebut rupanya dibangun tahun 1974 setelah biaya Pelita melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/-Uq3NNCJUoT4/TaIX8ynK6PI/AAAAAAAAAmg/8mb-qDO7kLU/s320/DSC02437.JPG" alt="" width="320" height="254" />Setelah membayar tiket yang harganya hanya Rp.1 000 per orang, saya tak langsung kembali ke Rumoh Aceh. Kerbau berkepala dua membuat saya berhenti sejenak di sana. Dan ternyata tak hanya binatang itu yang ada di dalam gedung tersebut. Masih banyak satwa khas Aceh yang telah diawetkan dan disimpan di sana.</div>
<div style="text-align: justify;">“Di sini juga ada perpustakaan, Maket Mesjid Raya dari masa ke masa, kepingan emas pada zaman Kerajaan Aceh, prasasti-prasati, dan batu nisan raja-raja di Aceh. Itu semua dipajang di ruang tengah.” Bu Zuhra, salah satu pegawai yang bertugas pada hari itu menjelaskan panjang lebar.</div>
<div style="text-align: justify;">Saya jadi semakin tertarik. Tak sabar ingin melihat semua koleksi di museum ini.Namun,  jam di dinding menunjukkan pukul empat kurang lima. Alunan bacaan ayat suci Alquran mulai terdengar dari pengeras suara di Mesjid Raya Baiturrahman.</div>
<div style="text-align: justify;">“Museumnya sudah mau tutup, Dek.” Bu Zuhra mengingatkanku, “maunya datang hari kerja. Jadi bisa nanya-nanya ke pegawai lain tentang museum ini.”</div>
<div style="text-align: justify;">Saya hanya tersenyum. Sebenarnya ingin berlama-lama di sini. Tapi apa hendak dikata. Museumnya akan ditutup. Datang di hari kerja? Ah, belum ada waktu untuk dapat ke sini di hari kerja. Jadwal koass di rumah sakit yang padat membuat saya harus berpuas hati walau hanya libur satu hari. Yaitu hari ini. Hari Minggu.</div>
<div style="text-align: justify;">Ketika liburan nanti, saya bertekad untuk mengunjungi kembali Museum Aceh ini. Saya ingin memasuki ruangan-ruangan yang tak sempat saya kunjungi hari ini.</div>
<div style="text-align: justify;"><strong>Alamat Museum Aceh :</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Jl. S.A Mahmudsyah, No.12 Peuniti Banda Aceh</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ganja Bisa Bikin Gila</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/04/ganja-bisa-bikin-gila.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/04/ganja-bisa-bikin-gila.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 15:29:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[efek samping ganja]]></category>
		<category><![CDATA[ganja]]></category>
		<category><![CDATA[ganja aceh]]></category>
		<category><![CDATA[ganja dan gangguan jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[nama lain ganja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2011/04/ganja-bisa-bikin-gila.html" title="Ganja Bisa Bikin Gila"></a>“Kamu asalnya dari mana?” “Dari Aceh.” “Wow.  Banyak ganja ya di sana?” &#8220;???? Sudah sangat sering pertanyaan itu dilontarkan pada saya.  Jika bertemu atau chatting dengan orang yang berasal dari luar Aceh, mereka pasti menanyakan tentang tanaman yang beberapa waktu &#8230;<p class="read-more"><a href="http://liza-fathia.com/2011/04/ganja-bisa-bikin-gila.html">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://liza-fathia.com/2011/04/ganja-bisa-bikin-gila.html" title="Ganja Bisa Bikin Gila"></a><p style="text-align: justify;">“Kamu asalnya dari mana?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Dari Aceh.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Wow.  Banyak ganja ya di sana?”</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;????</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah sangat sering pertanyaan itu dilontarkan pada saya.  Jika bertemu atau c<em>hatting</em> dengan orang yang berasal dari luar Aceh, mereka pasti menanyakan tentang tanaman yang beberapa waktu lalu menjerat personil <strong>Kangen Band</strong> ke ranah hukum. Saya heran, kenapa orang-orang mengidentikkan Aceh dengan ganja. Padahal, sebagai orang Aceh, belum pernah sekalipun saya  melihat secara langsung tanaman yang merupakan salah satu jenis NAPZA itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, pertanyaan tersebut tak ada salahnya. Lihat saja di televisi, setiap pemberitaan tentang kasus penyelundupan ganja, maka Acehlah yang menjadi tempat daun kering tersebut berasal. Belum lagi dengan banyaknya ladang ganja yang ditemukan di ujung pulau Sumatera ini. Jadi, tidak mengherankan jika Aceh identik dengan tanaman yang memiliki nama latin <strong><em>Cannabis sativa</em></strong>.<span id="more-822"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Karena banyak dan mudah diperoleh, maka harga ganja pun relatif murah. Sehingga untuk membeli ganja, tak banyak rupiah yang harus dikeluarkan. Sehingga tidak mengherankan jika tumbuhan ini menyebabkan banyak pemuda Aceh tertawa tanpa sebab, membuat banyak warga Aceh menjadi penghuni rumah tahanan di hampir seluruh Indonesia dan satu lagi tumbuhan yang memiliki nama gaul <strong>Cimeng</strong> ini membuat orang normal harus menjadi pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ).</p>
<p style="text-align: justify;">“Beli lima ribu, dapat beberapa am. Bisa untuk seminggu. Kadang-kadang saya tidak beli. Langsung dikasih kawan,” jelas BR, 35 tahun,  pasien RSJ Banda Aceh yang dirawat karena mengalami gangguan mental dan perilaku karena cannabis (ganja).</p>
<p style="text-align: justify;">Menurutnya, kemudahan memperoleh ganja membuat BR tak dapat melepaskan diri dari dari daun kering tersebut. Bahkan, ia harus keluar masuk rumah sakit jiwa karena ganja.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya sudah tiga kali di rawat. Ini yang ke empat. Saya bakar rumah gara-gara ada yang membisik. Bakar. Bakar. Bakar. Karena tidak tahan, saya ambil korek dan minyak. Karena udah larut malam, adik saya yang tinggal satu rumah tidak tahu. Waktu dia bangun, rumah udah terbakar. Itu karena setelah pulang dari rumah sakit saya hisap lagi ganja, “ BR menceritakan kronologis kejadian yang membuatnya kembali dimasukkan ke RSJ.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain BR, masih banyak penghuni RSJ lain yang memiliki riwayat yang sama  yaitu pernah menghisap ganja. Rata-rata, mereka adalah kaum Adam yang berusia produktif.  Tidak sedikit remaja yang juga harus dirawat gara-gara telah mengganggu ketentraman masyarakat yang tidak lain disebabkan ganja.  Padahal, ketika ditanyakan pada keluarganya, rata-rata remaja itu memiliki prestasi yang bagus di sekolahnya. Namun  <em>tetrahydrocannabinol</em> atau THC yang dikandung oleh ganja itu telah mengubah segalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hubungan antara konsumsi ganja dengan terjadinya gangguan jiwa bukanlah hoax belaka. Banyak penelitian yang telah membuktikan efek penggunaan ganja terhadap kesehatan jiwa. Seperti penelitian yang dimuat <em>The Lancet</em> menyebutkan bahwa penggunaan ganja meningkatkan risiko timbulnya sakit jiwa lebih dari 40%. Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan tinjauan terhadap 35 penelitian yang meneliti frekuensi sizofrenia, khayalan, halusinasi, kekacauan pikiran dan sakit kejiwaan lainnya yang dialami para pemakai ganja. Risikonya relatif bertambah seiring banyaknya pemakaian.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena besarnya efek negatif yang ditimbulkan ganja, para pengambil kebijakan di negeri ini sudah sepatutnya mengambil tindakan tegas terhadap pengguna dan pengedar ganja. Efek yang ditimbulkannya memang tidak akan langsung terlihat, tetapi dalam jangka waktu yang lama efek samping dari ganja akan membuat pecandunya menjadi gila. Jika tak percaya, singgahlah sekali-sekali ke Rumah Sakit Jiwa. Lihatlah bagaimana dampak yang ditimbulkan marijuana.</p>
<p style="text-align: justify;">Katakan tidak untuk Narkoba.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/04/ganja-bisa-bikin-gila.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

