Archive for the Category » Foto «

Funbike dan Dua Teman Baru

Vela dan Liza

Minggu lalu (11/12/2011) saya mengikuti sepeda santai yang diadakan oleh IKAS. Pertama membaca spanduk yang bertebaran di setiap sudut kota Banda Aceh, saya bingung sendiri. IKAS? Apa  yang menyelenggarakan acara melupakan sebuah huruf, yaitu L untuk kata IKLAS. Tapi mana mungkin? Puluhan spanduk bertuliskan kata yang sama.

IKAS Damai Negriku Funbike 2011. Begitulah tema acara sepeda santainya.

Jam enam, ketika matahari baru mulai menampakkan wujudnya sayalangsung bergegas menuju Blang Padang, tempat semua peserta funbike berkumpul. Agak takut, itu yang kurasakan. Tetapi saya tidak ingin telat seperti sepeda santai sebelumnya. Ya, ini adalah sepeda santai kedua yang kuikuti setelah sekian lama tidak bersepeda.   Hari masih gelap, namun kukayuh saja pedal sepeda. Jalanan yang biasanya sepi, hari itu tampak ramai dengan sepeda motor. Rata-rata pengendaranya adalah anak muda yang baru saja pulang dari warung kopi. Sepertinya mereka habis menyaksikan pertandingan sepak bola antara Real Madrid dan Barcelona.

Baru beberapa meter berjalan, saya berpas-pasan dengan sepasang suami istri dan dua anak mereka yang juga sedang bersepeda. Tak lama kemudian sayapun bertemu dengan dua gadis manis yang penuh semangat mengayuh pedal untuk menaiki tanjakan di jembatan dekat swalayan Pante Pirak. Kusapa mereka. Kedua gadis manis itu adalah Vella dan Desy. Ternyata tujuan kami sama, ke Blang Padang untuk mengikuti fun bike. Tak hanya manis, dua gadis yang ternyata penyiar itu juga ramah. Kami pun menjadi teman kala itu. Karena mereka saya jadi tidak sendirian saat bersepeda.   more »

Mengintip Museum Aceh

Jam telah menunjukkan pukul tiga sore ketika saya memasuki gerbang Museum Aceh. Suasana di dalamnya terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang lelaki paro baya yang duduk sambil melepas penat di tangga Rumoh Aceh, dua orang pelajar SMA yang sedang menaiki tangga, dan sepasang muda-mudi duduk sambil bercengkrama di bawah pohon di tengah-tengah museum. Memang, hari terasa sangat panas karena matahari begitu bersemangat memancarkan sinarnya. Mungkin inilah yang menyebabkan museum sepi meski hari ini adalah hari Minggu. Tetapi semangat saya untuk mengunjungi tempat dimana asal usul sebuah daerah dapat diketahui sama panasnya dengan udara siang ini. Saya begitu menggebu-gebu untuk dapat masuk ke dalamnya.
Setelah memasuki gerbang, saya langsung disambut oleh lonceng Cakra Donya. Cakra Donya adalah lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina 1409 M, dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Lonceng ini  merupakan hadiah dari Kerajaan Cina yang dibawa oleh Laksamana Ceng Ho kepada Sultan Aceh. Cakra berarti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, cakrawala atau matahari. Sedangkan Donya berarti dunia. Pada bagian luar Cakra Donya terdapat hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5). Sedangkan aksara Arab tidak dapat dibaca lagi karena telah aus. more »

Ganja Bisa Bikin Gila

“Kamu asalnya dari mana?”

“Dari Aceh.”

“Wow.  Banyak ganja ya di sana?”

“????

Sudah sangat sering pertanyaan itu dilontarkan pada saya.  Jika bertemu atau chatting dengan orang yang berasal dari luar Aceh, mereka pasti menanyakan tentang tanaman yang beberapa waktu lalu menjerat personil Kangen Band ke ranah hukum. Saya heran, kenapa orang-orang mengidentikkan Aceh dengan ganja. Padahal, sebagai orang Aceh, belum pernah sekalipun saya  melihat secara langsung tanaman yang merupakan salah satu jenis narkoba itu.

Sebenarnya, pertanyaan tersebut tak ada salahnya. Lihat saja di televisi, setiap pemberitaan tentang kasus penyelundupan ganja, maka Acehlah yang menjadi tempat daun kering tersebut berasal. Belum lagi dengan banyaknya ladang ganja yang ditemukan di ujung pulau Sumatera ini. Jadi, tidak mengherankan jika Aceh identik dengan tanaman yang memiliki nama latin Cannabis sativa. more »

Lelaki Lebih Gila dari Wanita

Tidak terasa, empat minggu sudah saya menjalani kepaniteraan klinik senior alias koas di bagian ilmu kesehatan jiwa RSJ Banda Aceh. Empat minggu yang memberikan aneka rasa. Senang, sedih, tegang, takut, aneh. Semuanya bersatu menjadi kenangan berharga dalam hidup dan saat saya mengabdikan diri dalam masyarakat kelak.

Senang karena di sana saya memiliki ilmu yang baru. Saya menjadi paham bagaimana seseorang dikatan mengalami gangguan jiwa. Saya bisa mendapat teman-teman baru yang saat itu nikmat sehatnya sedang dicabut oleh Allah. Dapat menjadi pendengar yang budiman mengenai kelus kesah mereka. Di sana saya juga menjadi paham, bahwa pada dasarnya orang yang mengalami gangguan jiwa itu hanya proses fikir mereka yang terganggu sedang ingatan tidak. Intelektualitas pasien tersebut sama sekali tidak terganggu. Ketika sembuh kelak, mereka dapat mengingat apapun yang mereka alami ketika sakit atau sebelumnya. more »

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes