Saat menapaki jejak kaki di seputaran jalan Peunayong, Banda Aceh, saya merasakan nuansa yang berbeda di sana. Deretan bangunan toko dan rumah membuat alam bawah sadar seakan-akan berada di negara Cina.Bangunan tua perpaduan antara arsitektur Cina dan Belanda dari abad ke 19 menjadi penanda bahwa Peunayong telah lama ada. Gampong Cina, masyarakat kota Banda Aceh melabelkannya. Kota tua yang terletak empat kilometer dari utara Mesjid Raya Baiturrahman menyimpan mutiara pemikat hati, mutiara yang akan menjadi magnet bagi wisatawan lokal, nasional, dan manca negara.
Kehidupan etnis Cina (keturunan.red) yang menetap di sana tidak ekskulsif,interaksi mereka dengan masyarakat asli Aceh begitu bersahaja. ”Warga keturunan Cina di Banda Aceh sangat ramah dan baik-baik, bahkan mau membantu kehidupan saya,” ujar Fadli Rahmad (34) pekerja di salah satubengkel milik warga keturunan Cina. Dirinya juga mengatakan, orang Cina keturunan di Banda Aceh memiliki kultur budaya yang sangat kuat serta membangun ikatan erat dengan sesamanya. Read more »







Recent Comments