<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seuramoe Liza &#187; Feature</title>
	<atom:link href="http://liza-fathia.com/category/feature/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://liza-fathia.com</link>
	<description>Belajar Tentang Hidup dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 17:47:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Funbike dan Dua Teman Baru</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/12/funbike-dan-dua-teman-baru.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/12/funbike-dan-dua-teman-baru.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 13:58:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[funbike]]></category>
		<category><![CDATA[IKAS (Ikatan Keluarga Andalas Selatan)]]></category>
		<category><![CDATA[tips bersepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=1021</guid>
		<description><![CDATA[Minggu lalu (11/12/2011) saya mengikuti sepeda santai yang diadakan oleh IKAS. Pertama membaca spanduk yang bertebaran di setiap sudut kota Banda Aceh, saya bingung sendiri. IKAS? Apa  yang menyelenggarakan acara melupakan sebuah huruf, yaitu L untuk kata IKLAS. Tapi mana mungkin? Puluhan spanduk bertuliskan kata yang sama. IKAS Damai Negriku Funbike 2011. Begitulah tema acara sepeda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 269px"><img src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/384239_172426522854529_100002615472772_282687_94283727_n.jpg" alt="" width="259" height="346" /><p class="wp-caption-text">Vela dan Liza</p></div>
<p style="text-align: justify;">Minggu lalu (11/12/2011) saya mengikuti sepeda santai yang diadakan oleh IKAS. Pertama membaca spanduk yang bertebaran di setiap sudut kota Banda Aceh, saya bingung sendiri. IKAS? Apa  yang menyelenggarakan acara melupakan sebuah huruf, yaitu L untuk kata IKLAS. Tapi mana mungkin? Puluhan spanduk bertuliskan kata yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">IKAS Damai Negriku Funbike 2011. Begitulah tema acara sepeda santainya.</p>
<div>
<p style="text-align: justify;">Jam enam, ketika matahari baru mulai menampakkan wujudnya sayalangsung bergegas menuju Blang Padang, tempat semua peserta funbike berkumpul. Agak takut, itu yang kurasakan. Tetapi saya tidak ingin telat seperti sepeda santai sebelumnya. Ya, ini adalah sepeda santai kedua yang kuikuti setelah sekian lama tidak bersepeda.   Hari masih gelap, namun kukayuh saja pedal sepeda. Jalanan yang biasanya sepi, hari itu tampak ramai dengan sepeda motor. Rata-rata pengendaranya adalah anak muda yang baru saja pulang dari warung kopi. Sepertinya mereka habis menyaksikan pertandingan sepak bola antara Real Madrid dan Barcelona.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru beberapa meter berjalan, saya berpas-pasan dengan sepasang suami istri dan dua anak mereka yang juga sedang bersepeda. Tak lama kemudian sayapun bertemu dengan dua gadis manis yang penuh semangat mengayuh pedal untuk menaiki tanjakan di jembatan dekat swalayan Pante Pirak. Kusapa mereka. Kedua gadis manis itu adalah Vella dan Desy. Ternyata tujuan kami sama, ke Blang Padang untuk mengikuti fun bike. Tak hanya manis, dua gadis yang ternyata penyiar itu juga ramah. Kami pun menjadi teman kala itu. Karena mereka saya jadi tidak sendirian saat bersepeda.  <span id="more-1021"></span></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 467px"><img class=" " src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/382905_172426566187858_100002615472772_282689_1515621852_n.jpg" alt="" width="457" height="342" /><p class="wp-caption-text">Desy, Vela dan Liza</p></div>
<p style="text-align: justify;">Sesampai di Blang Padang, saya baru tahu kalau IKAS memang sebuah singkatan dari Ikatan Keluarga Andalas Selatan yang anggotanya merupakan pendatang dari Sumatera bagian selatan seperti Lampung, Palembang, Bengkulu, Bangka Belitung, dan Jambi. Di sana saya juga jadi tahu kalau pangeran alias ketua IKAS itu tak lain adalah Kapolda Aceh sendiri, Bapak Irjen Polisi Iskandar Hasan, SH, M.Hum. Sebelum memulai bersepeda, semua peserta yang jumlahnya lebih dari 1500 dibagi-bagikan T-shirt. Inilah saat yang kutunggu-tunggu. Lalu diberikan kupon untuk door prize juga. Saat itu Desi dengan penuh harap bisa mendapatkan salah satu door prize yang jumlahnya puluhan juta rupiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rute sepeda santai kali itu lumayan jauh dibandingkan dengan rute yang kuikuti sebelumnya. Setelah bersepeda seluruh peserta melepas lelah di Setui Aceh Kopi, salah satu warung kopi yang menjadi sponsor acara dan terletak di terminal lama Setui. Ketika sampai di sana, saya langsung menyeruput secangkir milo lalu segelas bubur kacang ijo. Anak muda yang satu ini memang benar-benar kecapean dan kelelahan. Tak hanya itu, empek-empek yang memang disediakan untuk pesertapun saya embat. Benar-benar perbaikan gizi. Eits, bukan saya saja, Vela, Desy dan semua peserta juga demikian.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah acara makan-makan, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tenenggggggg…. Itulah dia pembagian door prize. Dengan harap-harap cemas saya, Vela dan Desy  mendengar MC membacakan nomer undian yang berhasil mendapatkan door prize. Mulai dari yang kecil-kecil seperti jam, HP, setrikaan, lalu dispenser, TV, kulkas, sepeda dan yang paling wah yaitu sepeda motor. Dengan penuh sabar kami menunggu nomer kami disebutkan. Ketika ada nomer yang hampir mendekati, tak lepas kami pandang kupon yang diberi dengan telinga tetap focus pada suara MC. Door prize yang kecil-kecil telah lewat, yang sedang juga, yang sedikit besar juga, dan sepeda motor juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah, masih ada sepeda dan kulkas,” ucap Desy sambil menempelkan nomer undian dijidatnya hingga kelihatan seperti vampire di film-film Cina yang dulu sering diputar setiap Sabtu di tv. Mungkin dia masih berada dalam pengaruh hipnotis dari magician yang juga memeriahkan funbike hari itu. Soalnya saat diminta tiga orang untuk menjadi relawan agar  sang magician dapat menunjukkan kebolehannya, tanpa babibu Desy langsung naik ke atas panggung. Berani sekali dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh sepeda raib. Kulkas pun ludes. Televisipun telah ada berada di tangan peserta lain. Walhasil saya, Vela dan Desy tidak mendapatkan apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ngga apa-apa. Kita sudah dapat baju, hehehhe.” Desy yang enerjik tetap berpikir positif.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hehe, namanya juga undian.” Balasku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ngomong-ngomong soal undian, saya adalah orang yang paling tidak pernah memenangkannya. Entah kenapa keburuntungan dari undian itu tak pernah memihak pada saya. Lain cerita jika hadiah diberikan dengan cara melemparkan pertanyaan, maka tak jarang telunjuk yang saya angkat menjadi pilihan panitia. Tapi walaupun demikian, funbike kali ini cukup berkesan. Ya, karena sepeda santai itu, saya bisa berkenalan dengan dua penyiar keren yang ramah dan baik hati. Semoga di funbike berikutnya kita bisa bersama lagi.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/12/funbike-dan-dua-teman-baru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aceh Coffee Festival 2011 : Kopi Aceh untuk Dunia</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/11/aceh-coffee-festival-2011-kopi-aceh-untuk-dunia.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/11/aceh-coffee-festival-2011-kopi-aceh-untuk-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 14:53:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh coffee festival 2011]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi Aceh untuk Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Visit Banda Aceh Year 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=949</guid>
		<description><![CDATA[Anda penikmat kopi? Jika jawabannya iya, maka inilah saat yang ditunggu-tunggu. Dalam rangka menyukseskan Visit Banda Aceh Year 2011, Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar even besar yaitu &#8220;Aceh Coffee Festival 2011&#8221; yang akan diselenggarakan di Taman Sari Banda Aceh pada Jumat 25 November &#8211; Minggu 27 November 2011. Dengan tema &#8220;Kopi Aceh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border-style: initial; border-color: initial; text-align: justify;" src="data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBhQSERQUEhIVFRUWGBgXFhgWGBgWIBwZGBgWHBUYFxwYHSYeHBojGhgXHy8gIygpLC4sFh40NTAqNSYrLSkBCQoKDgwOGg8PGiwcHB4sLCwsLCwpKSkpLCwsKSwpKSksKSwpLCwsKSwsKSksKSksKSksLCkpLCwsLCwsLCwsLP/AABEIAKABAAMBIgACEQEDEQH/xAAcAAABBAMBAAAAAAAAAAAAAAAABAUGBwECCAP/xABJEAACAQMCAwUEBgYJAgQHAAABAgMABBEFIQYSMQcTIkFRYXGBkRQjMmKhsUJScoKSoggVJDNDc7LB0eHwU2OzwhYXJTQ1g5P/xAAYAQEAAwEAAAAAAAAAAAAAAAAAAQIDBP/EACMRAQEAAgIDAAICAwAAAAAAAAABAhEDMRIhQRNhIlEEI0L/2gAMAwEAAhEDEQA/ALxooooCiiigKKKKAooooCsVmtWoDNZqn27X2g1K4SQGS07wovKMtHyYVnXH21LAkr18x6VaunapHPEssTh0YZVlOQR7P+PKollTrRZRWM1mpQKKKKAooooCiiigKKKKAooooCiiigKKKKAooooCiiigKKKKAoorFAZozSHW9TFvbzTN0ijdz+6pOPj0+NQzg/tft7oiKf8As1wcDlc+BjjojHGD91sHcdaCwqK1VqzmgzTfr1/3FtNLt9XG7jPqqkj8cUvqO9oX/wCMvP8AJeopHN9sM+I7/wDPmffnNSDhXi+fT5OaHxxMcyQMcK3qyfqSe0dfPNMdt0+J/OvWuCZ3G7jq8ZY6C03tEspoEnEyoruIiJPCUlYEiOT9U7Hc7HyNSVHzXNWu2UKW1gwQLM8UskrD9JGldYcjoSPFv6Y9al/Znx/JHLHZzZkidgkTE+KMnouT9pNtvMe6uuck3qsLj9XTRWiGt61UFFFFAUUUUBRRRQFFFFAUUUUBRRRQFFFFAUUUUBRRRQFYoNFBB+1ectaRWqnxXk8Vvt+qXDSfyrS/ins8tL9frY+VwOVZUwGAGwB2wwG2zAimLWJvpPENpD+jZwyTt+3IML8hyfM1YBaoWVEH1XQvtZvrFfMZ5kXy9Wj9x5k9oqfcKcfWuoL9RJ9YBlonwrj246Mv3lyKkC77VSXbDYWFrIj2/PDekiTEJ5VAz9twPsMSNimCcb7U2hbuga8l0JWT/Cmlgb3xtgn3HY1763pwuLeWE/4kbp/EpAPzxVC9mnHP9XyP3od4ZMGTl8RVh/iAHc7Eg439+KvfSNchuoxLbyrIh6FTnB9GHVT7Dg1EsyibjY5iSJkZkYYZSQR6EbMPgQR8KX6RpMl1PHBF9qQ4B/VX9Nz7FG+fXlHnT92oaP3GpSFR4ZlWVQB+kxwwHtLj+arU4A4KSxgBYA3DqvfP+IjX0RfQdTkmuTDj3l7+Ncs9SHGXhG1eOKOS3jkWFAkfeIG5VAAwM+oG/t3qh+LbUWeo3CW/NEsDK0eGJxhFcEFskbnpXSZrnrtTj/8Aq10PVIifjEoNb83rHbPC+9OgoHyAR0O49x6V601cMT89nbNnPNDET7yi5/GnQ1soxms5qmv6QHF7wi3tYZGR2JmkKMVIUZWMZUg4J5j+6Kpv/wCI7sYP0q433GZZPXY7t0zQdk1mmfhPWhd2cFwP8WNWPsbGHHwYMK9tY4hgtE57iZIl6AucZPoo6k+6gcqKg57Z9Kzj6WPf3cmP9NSLQuJre8UvazJKo2JU7g+jA7j4igds0Zpm13i21swDdXEcWegY7n3KMkj4Uwp2y6UTj6YPeUkA+fLQTXmo5qi3Fbx3+lXXcSLIrwuVaNgRzIOZcEeeVG3trmHh7XGt7qCYs2IpI3O53AbLDr6ZFB2ODW1QvV+1vTbaUxSXOXBwe7VpAPYWUYzT5oPFVtepz2syyqDhuXOVPowO4+IoHiisCs0BRRRQFFFFBg1gtWTUc7QdY+i6dcyg4YRlU/bk8Cfi2fhQRHsxk+lXuqX/AJPKIoz9xSTt+6IjViFqiXY3p3c6VCfOUvKfczYT+VVqU3A5Tiq1b69oZN65w4yJl1O8kdub651HphPAo36YA/Orx4nvWisrmSNirpDIysOoIGxHtFUBJKzMzOxZmJZiepYnLE+0neufk5PGajTHHd28jCOoGMf971NuFuDLhrZL3Srgx3ClkliZvC5Q42J2OV5TyuCN9iNqhtXV2MWzLYOzdJJnZPcAik/xKajgt2nk6Qt+LhcahZDVIhaSWzN3xcFVYbNEcHJUd4vqV3GDV3QShgCpBB3BBBBHqCNjUZ4t0G3vJY4riMOBFM4OeVlPNCoKMNwdz7KYOzqM2F7d6YXZkCpcWxbqUYYkGOmxx09GrpnbK9LKNc89p0nNrFxjyWJflGmfzroU1zNxXed7qV5IOhmdR7kIQf6DWfNf4rcfa9uzqfm0y0P/AJQH8JK/7VInfFRDslm5tLi+60q/KRv+a8e1/iH6JpkxU4km+pj97g8xHuTnPyrXHpSueuPeIPp2oXE4OULcsf8AlptH8wM/vU/9qfDBtItM9Ta8jfto3O//AK2PhUFtLeSR1WJWdz9lUBZj7gNyR7KfOIp9TlQNfC7KI2QZ0kCqWwNiwABNShb39HriDvLSa1J8UDh1/YlzkD3OrfxCqu7VuIHutTuCWJSJzDGPICM8pwPawJJpV2M699F1WEMcJPmBv3yDH/OF+dMnHWnNDqN2jjB7+Q+9XZmQ+3KkGgnvD/ZPDd6H9JiWR7xw7JhsDKOR3fKdiCFO53z51p2acFarY6jDK1rIkTHu5vEhHdt1zht8HB+FP/ZjxrDBoUoM8cctv35VXYZJILRYUkFgWONvMVF9G7adTmuYI+eMiSWNOUQruGdQQD1zuaCIce6tJPqN08jEnvZEX2KjFUUewBentp41ay0n+q4mt5m+ngIZFPeYYn+8XGOUYztj086Qdp+kG21W6QjAaRpU9qynmBHxJHwqacD6HpL6O9zcxRyXEQlLq0xjJK5MYxzbcwwAQDQNHYfxE0Oorblj3NyGR1PQuFJRseuxXPnmoNrOnmC4mhP+HI8Z/ccr/t+NTvQeMtPF1bmDRQkvexhG+lSHDFgFIHJvuabu2XTe61i422k5JB++gz/MDQK9S7O4RoUOowySNIeXvVOOXBcoeXCgjDY6n1pJ2O66bbVYAWISbML79eYeDPufl+dTrso/tuhX1kd2UyBR/mJzxn/+it8qpO2uWjdXU4ZGV1PoVOR+IoO11NbUg0XUxcQRTL9mVEcfvKDj4EkfCl1BmiiigKKKKDBqp+3zVT3FvbJ9qWQuR6iMBUB98ki/w1a7GqR4ik+ncTQxDdLdo1P/AOoGaT+YgfAUqYtLR4RbRxQj7MaJH8FVRn5gmnG+TIyPL8jTY7+vxpfp9xzAqeo/Kspd+l769o3xbqn0eznlKCQKoBRuhDsqHOx2w34CqHtySgJx5dOuw8xXQ2pWKOHhkXmRxyMDndT1Hyrna3TG2NwxH4461hydNcHrXQvZ7JGdOtu6YMqxopK/rKo7zr9/Nc9FSdh1O3xJwPzrorg7SBZ2UcPNzcnMWboC3MSxGegz0pwd1HIxc2mboz8x2iaEJtjeRXL5658IHwFRTjx/otzYaivSGXuJj6wzZ6/snm+Ypx1/jC3sx9c5MhGREm7n4dFH3mxVYcTcbz3oKNiOE4+qQ55sbjvGIy2++BhfYa0ufj2pMfSzuKe1a3tuZIP7RKNvCfAp++/TP3Vyao+O3LN+k8jt0Xcs7HoB1JJz+PpWcY/IADzJxgAdT0AA/Grn7NOzz6MBc3K/2gjwqf8ACUjp/mEdT5dB5k03ly39LesJ+z72ecPSWdksUpHeFnkYLuFLnPID549ffUc7WeBmv+7d72K3ghVv7xSfG32iTzAdAoA99WRjaqT7YdXeS8EGfBCinlzsXcZLe8DlG/Sts8vDHbKTypr4E0yw029W4fUFn5FcARwSjxMAucnI6E1aGufRtbsZre3uEJblOcElGVlILIcHyqA6BwRFPpM90Vkacd53XIWOOTYAIPtFjnP+1Juz6yuoNRgbuJ0VmKSFo5FHKVbY5XGMgHf2VSZ5bm/q9wx16e0P9HWVGV0v1DKQynuW2IwVP955ECp7xr2YW+pqrykx3CrjvYx1+6yn7S53G+R6ikfFXazHbTNDFD3zoeV2LhFVvMDYkkefQe2mS37bpAfrbRCPuSMDg+x1x/tV7yYy6U8Kj19/R6eIM7X8IjUZZniZcAdSQGI/GscFQ6Tp83fvNPcypnkcQFEU4PiVckk4zhifPpUq7QePYprBFiTmS7VhzFgpRoXj51ZcHJBOMZqtdKvIopQ88AnjAbmjZuQHIwMsAeh3xVM+WyyRfHj3NrR7VYtMnVFu2dZuXMTQrzOqNv4h0KE52b24xmq50Dsmhvndba/J5ACwlt2Q4YkAjEhB3HrWvEutrd3BmWIRAqi8ofvMcigdcDbAHlUy7KuJreJzE0CRuIpHkuOYkssZ58FcbAKSdj+jSctyy0XDWJ14K7EoLGZZ5ZjcSIcp4QiK362MsSw8sn4Uu4/7JY9UnSZrhomRO7OEVsgMxB3I6c2KY7rtomeTltbVSCcIHLs7enhTYH2ZNKdF7Z8yhLyARjPKXQsOU/eR98Z64O3pV5zY36r4U89n3ZiNKklZLl5RKqAqUCbqxKtsTnqw+JqOX/8AR4gklkkF3Iod2YKI0IUMxPKCTuBnHwqXcdcfLYJGEQSyyDKrzYUKCBzEjfBJAGKhKdr19y959GhMWeUsEl5QfIc/MRn2VOXLjLqo8bVm8JcP/QbSK27wyCIEBmAU4JJAwPTNPIqK8FceR6gGAUxzIAXjJ5tjtzIdsrnboCPMbipUDV5ZfcRZpmiiipQKKKxQJ7+8WKN5H2VFZ2PsUFj+Aqj+xpjLqFzeS9QrMfY9xJzfgqsKn/bJq/caXKoOGnKwj945f+RWqM9j+nFLF5SMd9M2D7IwEX8eb51TLLS+MWdf2vOOdNz1949ntpqjuOUgjy3/AOletrflD6r54/MV66jahl72PBHmP96yvv3O1569V6amOZVlXyx8vL8fzrnriHT1t7y4iQ+FWyufRwGx8CT8MVZus9pqWnPAsffsPteLkVGPUM2CS3QkAbZ61VWs3RuZ3mkADPjKpkAYAAG+SelZ52XtbHcK+Hmg+kobiVUij+sbPUlSORFAyzEtg4A6CpVxD2rzyp3VqDAm4Mhx3revKN1j+OW91QSOIL0AHurJrOZ6msV/HfbPmSSSSckkkkn1Yncn31pI4UZJwK1mn5f+/wAT6VO+z7grmK3d0v3oI2HxErj/AEr8T5VHjcruo3rpv2Y6R3epot5DyyNb9/bBjnG+GLD/AMTl3A/R+NXcoqsOPI2hFrqKD/7OdTIR5wyeGQe3G38VWZBMGAZTkEAg+oIyD8sV3YdOfPtu1c99o8mdUuvYyj5RpXQrCqH7V9JaLUHkIPJOFZG8uYKA659fCDj0NZ88/itx32n3Z3erbaKk0meVO+duUcxwJGzgedKNP7VLOaWOJDNzyOEXMZAyemTmqxh46ZNLawEX2uZe85v0GbmI5cfa3Iz03pR2XcPPPeRzcp7qBizN5FwPCinoTk59mN6rOS7mOK1x7tRS7lLSuzbkyOxzvuZCT+Zqwe2uBVmtSFA+rkHTyVk5R7hmoXxPpD211NEwIw7FM58SMxZGXPUYO5HmKdOOeMxqBgIiMfdowbmI3Z+UnGP0Ry+81huSZSrb9w68GRCXSdTRlDd2pkQkAlS0R5iCdxnux0qO8FMP6wteYAqZQpDAEEMGG4PvFTns40Rxpl9IwIFwjhM7ZVYnAbfyJY4/ZzVbaBeBbm2fmG00LdR+utaWa8aT3tNe2TT1juYCiKoaFhhVCjKP1wB6P+VevBw7zRNQUAc6d5g4GeVo0YjPXGzfOnHtyiHJaPsMNKm5Hmqt/wCw0j7FZ1ZryE4YOkbEZHQGRGzj2MBV9f7Ef8INw/qctvcxSwKHlBwikFgxcFcAKQfP1p11jRNQup3nexlVpMcwSNgOgBOCxIJA33pNr+gy6bdDmU4Rw8MhzyuEYFN+megI8vTFLOLu0GS8kjaMvb8qFSFmbck5J8GPYB1PWsZNTWXa330342tpxDp7zoyP3DQkOMHMUmxPvRga00DUb2Szms7a3E8JJ58Lkr3m4wecY3UkbHGKldjwZcXWjYlL/Se8aeLvSxOPsqjc26h1B9xIqIcL8TS6TcSd5CfEoR45CY28JJU5IIyN/LBycVayzLd+ol3NHTgjh6+tb+CU2kwXm5JDyjHI+zZw3QHB+FXitc12t1c3dwUheUtLITyJJIwUOxJ6HZVDHc/q10lENq24bOoz5PdegooFFbsxWpratWoKQ7fdZ5p7e3B2jRpm977L8kV/46sLgdVt7C2gcYKxKW2z4nHM+fi1UtxDL/WOtuo3WW4WBf8ALRghPuwrH41e8+nOM+HI9np5fhWeW/jSSfXrc6WCOaIgj06/I1XvF/HrW3Pb2zYlO0jf+H91f/N9vRc774o4z44a35oLZyJjtIw/wx6eneY/h2J3NVW92B0OT78/E5889T55+fNnlrrtpJ/fQlfxKPaCfnk5zvnzpQKQRvlwTn186V95noM/A1llF4JSdgPPatO4b9f8P+tYbPOu/rsB7OtKKm+jRRw1bJ9Mg74B4zIoIOQMnZC3UEBuXbzzvtV/abpxfxNsvX3/APA9tc8FyviX7S+JfepDL+Iq+n1szqrLsjqrKo9GAIz69enStMLPqmUvwt4h7u4gltsArIjRk+Q5hgEe44Pwpt7JdXaXT1jk/vbZ2tpAfWM+D+Tl+VL7bTZGHTlH3tvw61HtLQ2GuyRE/V6hEJV8vr4s8+PaQSf3hXThbe2WUnxYpqu9f7YNMSSW2uEkfu2ZHUxB1ypwepwasQH/AL99clyarAmryz3MXfQ/SJmePbxAvJgbnHXB+FaKLo4Q1nRtQuGitrJedUMmXgVRgFQfM75YeVWRDEqgKoCqNgAAAB7ANhVJ2PaPYxWt3c6dpy280SxxqxC7mZiADyncDkLY9lRiTjXUxaLff1qMmUp3GU5wN/GY8Y5MjHTzFRqQdGahpUM45Zoo5AOgdQ3yz0pBb8GWMZytpAD+wp/OqZ4y7XLxrex7mQQGaDvJXQblhLJG3LnJCjk5sDfenDh661iSV47XUI72B1wJu8j8BZdpORvrEKN1BBz6U1Daw9A7SrK8uDbQO5lAY8rRlfsfaGTt8Ka+Eu0DT7+5NvDalJFVn8cUQHgIyByknO/p5VSvDNjeJrIhimWO676SNpMnBYFjJuFOzcreXnUn0viG6Otz2az93zSXUMRCRqUbEvckMEzswT3imhf01uj7MFb0yAfzFYhtEQ5VEU9MhQPyFc/8N9o18YNTinuZDOkHeRM2AUeJwsqrgdcNn9w0u4T1/WLzTLg287yzd/GnM7IpSIRszlS2AMsVBPpUi9ZolZcMAQfIjI+R61Xlnx9Yrqf0AWJin70x95yQqOYAlWyp5txjG3mKq/UOI7/Tlt5F1czTtzd7B3gnEeD4QzBmVgwx6EV49oWpH6baanEoX6RFDcgDoJYjyyLnzwyD4NTQ6YeQKpZiFABJJOAAOpJPkKq3irtrtlJjtrcXXL+nJhY8/dyCzfIe+s9tPEpOn2ywsRHdnmYjzjVA4U+wllz7FNVTp9ha4DXF2yjY93DC7v7uZ+WJT7fFUVaRZ3BXH+o3sjLb2dlHGu8jnvI1X0BKk5YjJ6HbfpU+0jjm0nn+jpcRPOFJYRkspK/aCMRhsegqoJLmW4tRa2sf0KyJyQx55Zyf05SPXA26e8AU0cOad3d7HLbsxW2lUu7coyQfFHGF9Rkb1n+XGfel/wAdvt0wDWaRaVqKzxLIn2W9eox1B9o6UsrSXbJmmviS7eK1nkiRnkWNiiqCxL4PJgDr4sU6VqRUjlKwF3YTRzCGWOSPdTLC+MkEZIZcdCd6k0nbffNG0ZNuGYYDqpV1Pqo5yvN7xXQ/JSO70OCX+9gik/bjRv8AUKjS/k5VXUM9VJ6knPMSSSSST1JJyT51ut8nu+H/ABXRd12YabJ9qyiH7AMf+gime67D9Ob7KzR/syk/g4asfw427W81Ii7U/pfPIrV5hkEYOx8/dVr3XYBCf7q8mX9tI3/Llpmu+wG5B+ruoH/bSSP8i9R+BMzQASAuuPRj+ApSKf7jsY1NPsxxP+xMB+DBaa7ngXU4vtWdx+6BJ/pJquXDtaZwjNXD2e6+Bp8IWNeeMNEWP3GIX+Ur51SlzFcRf3sUif5kTp+aipBwj2nNZI0Yt4JlZy/iYqwJVQQCARjw5pjx5Qysq621aRv0sfsjH/Won2hq6wR3iZMtnMs43zlMgSLv5EY+VIrPt0t/8XT3X/LaN/wYIadJO1vSriJ4pVljWRWRuaHOzAg7pn1rSYXe9s9/pYdpfLJEsqHKOokU/dI5gflXNfY/As+tR86hwRO5DAMD4GI2OR1NW72N6us2ntblg5tnaLP60ZyYmwfIqSN/1alencJ2du/PBawxuARzIiqcHYjIrZmhPbTw+o0qQ28KLySRu/doq+FSwyeUbgc2fiaqHTdT02LTkL2qXF73pDiQzKvdb4bmjZRnHKPidq6odAwIO4OxB32PUGmROBbBX5xZW/PnOe6Tr64xigpbiPWIYrGxjutIURyI8sZSWWIx88jZRSyuckBHIJwecbCo1Y28Uer266VNLKpki5GZeVt2HeK2AMqBkE4AxmuoL/SoZ05JoklT9V1DD5EbUl0vha0tmLQW0MTHYsiKpx6ZAzj2UHPPEOoCw4kkndTyR3IlIGMlHAJK5xnYmtdU1BU4iiuUyI5Z7a4XO3gmEbbj1wxzXRt9w/bTtzTW8MrYxmSJHOPTLAnFB4dttv7NB4QAv1UewX7IHh2A8sUHPfbLo7WOpySx7R3cbHPllxyzL78+LH3xThwjpssnDN+IebnM/MQu5ZEWEuox93Ow64NX3daXFLjvYo5MZxzorYz1xzA4ra2sI4xyxoqL1wihRn1woAoOS7S/tf6tlhNuTeGVXWYDI7pR4lO+QBhug32p1ucT6DE3V7K6eM7j+6uFDA/xrge410vDoNujMyQQq75DssaKWB6hiBkg+2vVNMiAIEaAHGQEUA46ZAHlQVbwfo6azoEUDvyyQMyK48XKyZ5MjO6mNwCPQ1DW7Mby2uF+kQBoFOWkQh0ONxnfmGTjYiuiYbVEBCqqg7kKAuT6nFE8KupVgCrDBB6EHqDVcpuaWxy1VG3SSNlUIQHq/UgefIo2z94/KvWztVjRUjGFGwHmSfX1YmrEn7OoSxKySKPTZvxIz86c9I4SgtzzKCzDoznOPcOg/OuGf4+d9fHT+bHTPCemNBbKrjDElyPTm8vlinusKKzXdjPGactu7tmiiirIFFFFAUUUUGKKzRQYoIrNFBry0hu9Ct5f723hf9uNG/MU4VjFBFbrsu0yTrZRA+qcyf6CKZ7nsO05vsieP9mUnHwcMKsLFGKJ2hXB/ZsmmzvJDcSukiBWSQJ1VsqwKgbjLeX6VaC5nj1RIY7qS5UrLJcxMsfLDHj6gIUUFXLeEKxJYAnapuRUZsuz22ilklRrgNIXZx9ImwxdSpLLzYJAOx8sDHSiDTwFqU/etDfS3X0oQrI0UywcmObDSQmEZIDeHDHO/SpLBq0d5FJ9HldSPDz92ylWI2IWZQGOPeK00XhKG2dpEMryOApkmleZuVTlUDOSQoO+B504alpqzxPE5bldeVuVihweuGXcelBCdHmmlS9zqE/0WB1MV3iHnPIjG6XJj5GiVgPEF6gjJxXg+pXceg3FzJcSmVkaaFnCB0iZl7kHlULzcmCdur1Ibbs8tY7eS3BnMMgVSjTysAinIVAT4FPQgYyNqeNW0WO5geCUZjkXlYAldvQEdOlBXo46mgmjS5c81pFei7VcDvTEsDW8oHkJFbI9CXHlTrddoskHMtzaCNlSKchZhIBbySiN3yEHjjZhlMYI6GpFf8H2005nkiDSGJoGJJ8Ub5yrDodiRnqM0lseAbWJJl5Xfvo+5cyyPK3dYIEas5JVBk4A88GgZdS7UBGxVYVOZZ44y8jKrLbcqySEpE5XMjFFGCDyklhtXjd9qbKkkqWbNFDFbzTFpRG6pcA4Coy+JlYEYJA261IpuBLYwwRKJIxACInilkjkUN9sd4hDEN1OepFFzwLbSJMjrIwnjhilLSOSywZ7vLE55tzlupzvQRTXeM7l5IohCYriG/gjeNJsrIssMroDJygcpweYFTjl86WXXah3X1UluqXAmlhZWlYxr3SRyM/eJEzFSskeB3fUnOAM0/6lwHazvJJIr80kkcrFZHT6yJGSNlKnK4DHp515/wDy9te7VB3oKu0verNIJudxh2MoPOeZQAQTjAHoKBDo3Hkl1PDFFaMFeFJ5GeTlMaszow5SuWYOmB0yDnbpWms3U0OoQLFdSSGWQtLbckZRLZVPPJ4VDqQwHKxbxFsYqQ6fw1FDL3q85k7pISzuzkojFl5ixOWyTudzSIcB24umug04ldld8TyhWKfYDKG5So8lO25oItwxrl27WDyXJf8ArCG4fkKJywvGA0ZiAAYqAeUhmOcDenTh25upbS8DXR76K5niWYxoSFjI6Jso2zjOcZ86edJ4JtraYywowbDBAzu6xhzzOsKMeWNSdyAKW2OgxQrKsYIE0kksmSTl5PtkZ6Z9BQJOBr959PtZZWLSPCjOxwCSR1ONqfqR6TpaW0McMQIjjUIgJJwo6DJ3NLKAooooCiiigKKKKAooooCiiigKKKKAooooCjFFFAUYoooDFGKKKAooooDFFFFAYooooCjFFFAUUUUBiiiig//Z" alt="" width="256" height="160" /></p>
<p style="text-align: justify;">Anda penikmat kopi? Jika jawabannya iya, maka inilah saat yang ditunggu-tunggu. Dalam rangka menyukseskan Visit Banda Aceh Year 2011, Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar even besar yaitu &#8220;<strong>Aceh Coffee Festival 2011</strong>&#8221; yang akan diselenggarakan di <strong>Taman Sari Banda Aceh</strong> pada Jumat 25 November &#8211; Minggu 27 November 2011.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tema<strong> &#8220;Kopi Aceh untuk Dunia&#8221;, </strong>festival ini diharapkan dapat menjadi ajang perkenalan cita rasa dan aroma khas dari kopi Aceh bagi masyarakat dunia. Nah, pada even bergengsi ini akan ada pameran untuk mempromosikan kopi Aceh baik oleh produsen dan pengusaha kopi itu sendiri maupun dari pemilik warung kopi yang ada di Aceh. Sstt, kabarnya akan dimeriahkan juga oleh warung kopi dari luar Aceh.<span id="more-949"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Konsep acara Aceh Coffee Festival ini sangat menarik. Pada hari pertama (Jumat, 25/11) akan diadakan opening ceremony pada pukul 20.00 sampai 23.00 WIB yang langsung akan dibuka oleh gubernur Irwandi Yusuf. Selain itu, juga akan ada acara pagelaran seni tradisional dan music akustik, serta games minum kopi terbanyak dan tebak jenis kopi.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang lebih menarik dari festival ini adalah acara ngopi bareng komunitas. Mulai dari komunitas Android, magician (scream), Aceh Fotografi, Aceh Model Community, Iloveaceh, Kaskus Aceh (RATM), Kutaraja Fixie, Expratriat, Kopiah, dan tidak ketinggalan juga komunitas blogger Aceh (ABC). Pastinya dalam acara ngopi bareng ini pengunjung akan mendapatkan berbagai informasi tentang komunitas tersebut. Jadi ngga hanya bisa ngopi tetapi dapat berbagi informasi. Bukankah memang seperti itu budaya ngopi yang ada di Aceh? Ngga sekedar ngopi tetapi diiringi dengan diskusi. Ngopi bareng komunitas ini akan diselenggarakan pada hari kedua dan ketiga (26-27/11)</p>
<p style="text-align: justify;">Tak hanya itu, para pengunjung juga bisa ngopi bareng calon-calon kandidat pemimpin pemerintahan pada pilkada yang akan datang dan menyeruput kopi bersama para jurnalis. Pemecahan rekor MURI saring kopi terlama juga direncanakan akan dilaksanakan pada festival ini yaitu pada hari terakhir acara (Minggu, 27/11). Pada penutupannya akan ada parade kembang api juga, lho!</p>
<p style="text-align: justify;">Wow! Sangat menarik bukan? Jadi tunggu apalagi. Persiapkan dirimu, ajak teman-temanmu, dari Papua sampai ke Sabang, atau bahkan dari luar negeri untuk hadir dalam acara Aceh Coffee Festival. Ingat, mulai hari Jumar 25 November 2011 sampai dengan Minggu 27 November 2011 di Taman Sari Banda Aceh. Ayo kita kenalkan kopi Aceh pada dunia.</p>
<p style="text-align: justify;" align="left">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/11/aceh-coffee-festival-2011-kopi-aceh-untuk-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengintip Museum Aceh</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 11:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[alamat museum aceh]]></category>
		<category><![CDATA[cakra donya]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah lonceng cakra donya]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah museum aceh]]></category>
		<category><![CDATA[visit banda aceh 2011]]></category>
		<category><![CDATA[wisata Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=914</guid>
		<description><![CDATA[Jam telah menunjukkan pukul tiga sore ketika saya memasuki gerbang Museum Aceh. Suasana di dalamnya terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang lelaki paro baya yang duduk sambil melepas penat di tangga Rumoh Aceh, dua orang pelajar SMA yang sedang menaiki tangga, dan sepasang muda-mudi duduk sambil bercengkrama di bawah pohon di tengah-tengah museum. Memang, hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://3.bp.blogspot.com/-FipaJeIJbQ0/TaIW_-uJ-fI/AAAAAAAAAmE/pSudjE0DbGI/s400/DSC02463.JPG" alt="" width="320" height="181" />Jam telah menunjukkan pukul tiga sore ketika saya memasuki gerbang Museum Aceh. Suasana di dalamnya terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang lelaki paro baya yang duduk sambil melepas penat di tangga Rumoh Aceh, dua orang pelajar SMA yang sedang menaiki tangga, dan sepasang muda-mudi duduk sambil bercengkrama di bawah pohon di tengah-tengah museum. Memang, hari terasa sangat panas karena matahari begitu bersemangat memancarkan sinarnya. Mungkin inilah yang menyebabkan museum sepi meski hari ini adalah hari Minggu. Tetapi semangat saya untuk mengunjungi tempat dimana asal usul sebuah daerah dapat diketahui sama panasnya dengan udara siang ini. Saya begitu menggebu-gebu untuk dapat masuk ke dalamnya.</div>
<div style="text-align: justify;">Setelah memasuki gerbang, saya langsung disambut oleh lonceng Cakra Donya. Cakra Donya adalah lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina 1409 M, dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Lonceng ini  merupakan hadiah dari Kerajaan Cina yang dibawa oleh Laksamana Ceng Ho kepada Sultan Aceh. Cakra berarti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, cakrawala atau matahari. Sedangkan Donya berarti dunia. Pada bagian luar Cakra Donya terdapat hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5). Sedangkan aksara Arab tidak dapat dibaca lagi karena telah aus.<span id="more-914"></span></div>
<div style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="http://2.bp.blogspot.com/-8nMpkr1bOyc/TaIYSmTzrAI/AAAAAAAAAms/XKG6ljuPcnA/s320/DSC02458.JPG" alt="" width="181" height="320" /></div>
<div style="text-align: justify;">Pada dasarnya Cakra Donya adalah nama sebuah kapal perang Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yaitu Kapal Cakra Donya di mana lonceng ini digantungkan, dalam penyerbuannya terhadap Portugis di Malaka. Pada masa lalu Lonceng dari Kapal Cakra Donya tersebut, digantung dengan rantai jangkar pada pohon kuda-kuda dekat Mesjid Baiturrahnim dalam kompleks kraton untuk dibunyikan apabila penghuni kraton harus berkumpul guna mendengarkan pengumuman Sultan. Akan tetapi, sejak tahun 1915 M Cakra Donya dipindahkan ke Museum Aceh dan ditempatkan dalam kubah tersebut.</div>
<div style="text-align: justify;">Di depan Cakra Donya terdapat Rumoh Aceh, rumah tradisional masyarakat Aceh yang konon merupakan bangunan pertama di museum ini. Rumoh Aceh ini didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Sebenarnya, Rumoh Aceh tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus &#8211; 15 November 1914.</div>
<div style="text-align: justify;">Pada pameran itu Paviliun Aceh berhasil memperoleh 4 medali emas, 11 perak, 3 perunggu, dan piagam penghargaan sebagai Paviliun terbaik. Keempat medali emas tersebut diberikan untuk: pertunjukan, boneka-boneka Aceh, etnografika, dan mata uang; perak untuk pertunjukan, foto, dan peralatan rumah tangga. Karena keberhasilan tersebut Stammeshaus mengusulkan kepada Gubernur Aceh agar Paviliun tersebut dibawa kembali ke Aceh dan dijadikan sebuah Museum. Ide ini diterima oleh Gubernur Aceh Swart. Atas prakarsa Stammeshaus, Paviliun Aceh itu dikembalikan ke Aceh, dan pada tanggal 31 Juli 1915 diresmikan sebagai Aceh Museum, yang berlokasi di sebelah Timur Blang Padang di Kutaraja (Banda Aceh sekarang). Museum ini berada di bawah tanggungjawab penguasa sipil dan militer Aceh.  F.W. Stammeshaus menjadi kurator pertama.</div>
<div style="text-align: justify;">Ketika Indonesia merdeka, Museum Aceh menjadi milik Aceh sepenuhnya. Atas gagasan T. Hamzah Bendahara, di tahun 1969 museum dipindahkan ke samping Meligoe (pendopo) Gubernur yaitu di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tanah seluas 10.800 m2.</div>
<div style="text-align: justify;">Sebelum menaiki tangga yang tersusun rapi untuk memasuki Rumoh, saya tergoda untuk melihat Jeungki, Geureubak/Peudati, Geupok, Meuriam, Peureulak Boom, dan Kohler Boom yang dipajang di bawahnya.</div>
<div style="text-align: justify;">Jeungki merupkan alat tradisional yang digunakan untuk menumbuk padi. Dulu, setiap keluarga petani Aceh memiliki Jeungki yang digunakan untuk mengolah padi menjadi beras. Tak hanya padi, Jeungki juga digunakan untuk menumbuk kopi, tepung, sagu, atau untuk menumbuk bumbu masak. Namun sekarang keberadaan Jeungki sudah sangat langka di kalangan masyarakat Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">Di depan Jeungki ada Geureubak/Peudati. Kayu beroda ini adalah sejenis angkutan tradisional berupa gerobak yang digerakkan dengan tenaga lembu atau kerbau untuk mengangkut barang.</div>
<div style="text-align: justify;">Saya pun beranjak ke Geupok yang terletak samping Geureubak. Geupok  merupakan tempat untuk menyimpan padi yang telah dipanen. Geupok itu mampu memuat lebih kurang satu ton padi. Di samping Geupok ada dua kayu besar ; Peureulak Boom dan Kohler Boom.</div>
<div style="text-align: justify;">Peureulak Boom atau pohon Peureulak adalah jenis kayu keras hasil hutan Aceh yang menjadi kayu andalan untuk pembuatan kapal tradisional Aceh. Sedang Kohler Boom atau pohon Kohler adalah potongan kayu pohon Geuleumpang yang tumbuh di sisi utara halaman Mesjid Raya Baiturrahman. Kohler Boom ini merupakan julukan yang diberi oleh Belanda karena di bawah pohon inilah Panglima Perang Belanda yang pertama di Aceh, Jendral Kohler mati di tangan para pejuang Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">Di depan potongan kayu itu berjejer tiga meriam peninggalan zaman perang dahulu.</div>
<div style="text-align: justify;">Ketika hendak menaiki tangga, lelaki paro baya  yang terkantuk-kantuk karena hembusan angin memintaku untuk mengambil tiket dahulu sebelum memasuki Rumoh Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">“Ambil tiket dulu ya, Dek. Di gedung pameran temporer  di belakang sana,” tunjuk lelaki itu ke arah bangunan yang terletak sekitar seratus meter dari Rumoh Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;">Pergilah saya ke gedung yang dimaksud. Ternyata gedung itu adalah tempat pameran temporer dan perpustakaan. Gedung itu terletak dekat dengan gedung pertemuan. Gedung-gedung tersebut rupanya dibangun tahun 1974 setelah biaya Pelita melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh.</div>
<div style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/-Uq3NNCJUoT4/TaIX8ynK6PI/AAAAAAAAAmg/8mb-qDO7kLU/s320/DSC02437.JPG" alt="" width="320" height="254" />Setelah membayar tiket yang harganya hanya Rp.1 000 per orang, saya tak langsung kembali ke Rumoh Aceh. Kerbau berkepala dua membuat saya berhenti sejenak di sana. Dan ternyata tak hanya binatang itu yang ada di dalam gedung tersebut. Masih banyak satwa khas Aceh yang telah diawetkan dan disimpan di sana.</div>
<div style="text-align: justify;">“Di sini juga ada perpustakaan, Maket Mesjid Raya dari masa ke masa, kepingan emas pada zaman Kerajaan Aceh, prasasti-prasati, dan batu nisan raja-raja di Aceh. Itu semua dipajang di ruang tengah.” Bu Zuhra, salah satu pegawai yang bertugas pada hari itu menjelaskan panjang lebar.</div>
<div style="text-align: justify;">Saya jadi semakin tertarik. Tak sabar ingin melihat semua koleksi di museum ini.Namun,  jam di dinding menunjukkan pukul empat kurang lima. Alunan bacaan ayat suci Alquran mulai terdengar dari pengeras suara di Mesjid Raya Baiturrahman.</div>
<div style="text-align: justify;">“Museumnya sudah mau tutup, Dek.” Bu Zuhra mengingatkanku, “maunya datang hari kerja. Jadi bisa nanya-nanya ke pegawai lain tentang museum ini.”</div>
<div style="text-align: justify;">Saya hanya tersenyum. Sebenarnya ingin berlama-lama di sini. Tapi apa hendak dikata. Museumnya akan ditutup. Datang di hari kerja? Ah, belum ada waktu untuk dapat ke sini di hari kerja. Jadwal koass di rumah sakit yang padat membuat saya harus berpuas hati walau hanya libur satu hari. Yaitu hari ini. Hari Minggu.</div>
<div style="text-align: justify;">Ketika liburan nanti, saya bertekad untuk mengunjungi kembali Museum Aceh ini. Saya ingin memasuki ruangan-ruangan yang tak sempat saya kunjungi hari ini.</div>
<div style="text-align: justify;"><strong>Alamat Museum Aceh :</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Jl. S.A Mahmudsyah, No.12 Peuniti Banda Aceh</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/11/museum-aceh-riwayatmu-kini.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peunayong, Gampong Cina di Tanoh Rencong</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/11/911.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/11/911.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 11:20:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[lampion]]></category>
		<category><![CDATA[Pecinan]]></category>
		<category><![CDATA[Peunayong]]></category>
		<category><![CDATA[visit banda aceh 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=911</guid>
		<description><![CDATA[Saat menapaki jejak kaki di seputaran jalan Peunayong, Banda Aceh, saya merasakan nuansa yang berbeda di sana. Deretan bangunan toko dan rumah membuat alam bawah sadar seakan-akan berada di negara Cina.Bangunan tua perpaduan antara arsitektur Cina dan Belanda  dari abad ke 19 menjadi penanda bahwa Peunayong telah lama ada. Gampong Cina, masyarakat kota Banda Aceh melabelkannya. Kota tua yang terletak empat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://4.bp.blogspot.com/-a4-HZe79XLY/TbBAN-geXfI/AAAAAAAAAn8/DqIaGRCJKZI/s320/DSC02537.JPG" alt="" width="320" height="181" />Saat menapaki jejak kaki di seputaran jalan Peunayong, Banda Aceh, saya merasakan nuansa yang berbeda di sana. Deretan bangunan toko dan rumah membuat alam bawah sadar seakan-akan berada di negara Cina.Bangunan tua perpaduan antara arsitektur Cina dan Belanda  dari abad ke 19 menjadi penanda bahwa Peunayong telah lama ada. Gampong Cina, masyarakat kota Banda Aceh melabelkannya. Kota tua yang terletak empat kilometer dari utara Mesjid Raya Baiturrahman menyimpan mutiara pemikat hati, mutiara yang akan menjadi magnet bagi wisatawan lokal, nasional, dan manca negara.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan etnis Cina (keturunan.red) yang menetap di sana tidak ekskulsif,interaksi mereka dengan masyarakat asli Aceh begitu bersahaja. ”Warga keturunan Cina di Banda Aceh sangat ramah dan baik-baik, bahkan mau membantu kehidupan saya,” ujar Fadli Rahmad (34) pekerja di salah satubengkel milik warga keturunan Cina. Dirinya juga mengatakan, orang Cina keturunan di Banda Aceh memiliki kultur budaya yang sangat kuat serta membangun ikatan erat dengan sesamanya.<span id="more-911"></span></p>
<div style="text-align: justify;">Berbicara mata pencaharian warga keturunan Cina di Banda Aceh, umumnya mereka adalah pedagang. Kalau pun ada yang menjadi staf atau pegawai swasta hanya sebagian kecil saja. Mereka diidentikan dengan aktivitas jual beli. Itu tampak sekali, bilamana kita berada di Peunanyong hingga belantaran Krueng Aceh. Ratnalia Indriasari, pakar psikologi mengungkapkan bahwa keidentikan itu diakibatkan kultur dan jiwa yang direproduksi turun menurun.</div>
<div style="text-align: justify;">“Gen yang turunkan pada keturunan berikutnya menjadikan kultur merekasebagai pedagang mengakar kuat. Ini yang menyebabkan umumnya warga keturunan Cina di Banda Aceh membangun pusat-pusat bisnis baru. Apa yang mereka lakukan pun bermanfaat terhadap pendapatan Kota Banda Aceh,” jelasnya.</div>
<div style="text-align: justify;">Selanjutnya Ratna menjelaskan, tidak hanya mewariskan gen berdagang saja, kulturisasi kebudayaan pun acap kali dilakukan. Ini terlihat pada pawai Visit Banda Aceh 2011 (29/01) lalu, atraksi barongsai dari sekolah metodist ikut memeriahkan ajang pengenalan wisata Banda Aceh ke khalayak ramai.</div>
<div style="text-align: justify;"><strong>Mengenal Lebih Dekat Peunayong</strong></div>
<div style="text-align: justify;"><strong><br />
</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Jika menilik sejarah, hubungan Aceh dan Cina telah terjalin sejak abad ke 17 M. Saat itu para pedagang termasuk pedagang dari Cina selain datang dan berdagang secara musiman pada bulan-bulan tertentu ke ibu kota Aceh, ada juga yang tinggal dan berdagang secara permanen. Mereka yang menetap, tinggal di perkampungan Cina yang terletak di ujung pelabuhan. Dan Peunayong merupakan salah satu lokasi tempat yang digunakan pedagang Cina untuk menurunkan barang dan tempat tinggal.</div>
<div style="text-align: justify;">Asal muasal kata Peunayong tidak ada yang tahu begitu pula dengan artinya. Apa mungkin Peunayong itu diambil dari kata <em>payong</em> yang artinya pelindung?</div>
<div style="text-align: justify;">“Peunayong ini sudah ada sejak jaman kerajaan Iskandar Muda. Saya tidak tahu dari mana kata Peunayong itu diambil. Dalam bahasa saya tidak ada kata Peunayong, ” jelas Tek Lie (50), lelaki etnis Cina suku <em>Khe</em> yang saya jumpai di depan tokonya yang terletak di Lorong Jambi tak jauh dari Pasar Peunayong. Saat itu, lelaki paro baya itu sedang mengupas bawang putih yang nantinya akan dihaluskan dan dijual ke pasar.</div>
<div style="text-align: justify;">Tak hanya hanya pertokoan yang ada di lorong itu, tetapi deretan perumahan petak yang jarak antara setiap rumah hanya dibatasi tembok yang langsung dijadikan sebagai dinding menjadi tempat hunian penduduk bermata sipit dan berkulit putih itu.  Rumah yang sangat sederhana dengan ruang tamu kecil yang terdapat dupa di dalamnya, sebuah kamar yang disekat dengan triplek, dan dapur.</div>
<div style="text-align: justify;">Selain Tek Lie, beberapa warga Cina suku <em>Khe</em> itu juga sibuk melakukan aktivitasnya. Ada yang mengupas bawang putih, memasukkan rempah-rempah yang telah digiling ke dalam plastik kecil untuk dijual di Pasar Peunayong, ada juga yang duduk-duduk bercengkrama sesama mereka.</div>
<div style="text-align: justify;">Senyum ramah terlempar dari sudut bibir mereka. Namun tidak sedikit di antara  warga Cina yang terdiri dari Suku <em>Khe, Tio Chiu,</em> <em>Kong Hu,</em><em>Hokkian,</em> dan subetnis lainnya menarik diri dari orang asing seperti saya. Pak Salam contohnya, lelaki tua yang juga tinggal di deretan perumahan itu langsung masuk ke rumahnya ketika saya hampiri. Namun, ketika melihat perlakuan ramah warga lain lelaki itupun akhirnya luluh juga.</div>
<div style="text-align: justify;">“Saya olang miskin. Tidak punya usaha sepelti orang Cina lain,” ucapnya dengan suara pelo. Bibirnya yang merot ke samping dan cara berjalannya yang pincang membuat saya berkesimpulan bahwa dia pernah mengalamipenyakit stroke.</div>
<div style="text-align: justify;">Dulu saya mengira bahwa warga Cina yang tinggal di Peunayong adalah warga yang kondisi perekonomiannya menengah ke atas. Lihat saja deretan pertokoan yang menjual sembako, kelontong, obat-obatan, kain, pakaian, dan juga alat tulis serta pelbagai komoditas lainnya.  Hampir semuanya adalah milik mereka. Tetapi kenyataannya kondisi kehidupan warga Cina sama saja dengan penduduk pribumi. Ada yang kaya ada juga yang miskin.</div>
<div style="text-align: justify;"><strong>Peunayong Dalam Keseharian</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Sore itu, di Peunayong, matahari masih begitu terik bersinar. Hingar-bingar suara kendaraan yang memenuhi badan jalan dan membuat kemacetan. Aktivitas masyarakat seakan tak kenal waktu. Di pasar yang terletak tepat di pinggir Krueng Aceh dan hanya sekitar dua meter dari badan jalan, transaksi jual beli masih berlangsung. Wanita-wanita berbaju dinas terlihat memenuhi pasar rakyat tersebut. Barangkali mereka tak sempat berbelanja di pagi hari, sehingga- sore hari-sepulang dari kantor menjadi waktu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.</div>
<div style="text-align: justify;">Pasar itu adalah Pasar Peunayong, salah satu pasar utama yang menjual kebutuhan primer warga Banda Aceh seperti sayur mayur, buah-buahan, ikan, dan daging.Letaknya sangat strategis yaitu di tepi Krueng Aceh  dan  empat kilometer dari  Selat Malaka. Jaraknya dari pusat kota Banda Aceh pun tidak jauh. Hanya dua kilo meter dari Mesjid Raya Baiturrahman. Mungkin inilah penyebab Pasar Peunayong ini selalu padat dengan pedagang dan pembeli.</div>
<div style="text-align: justify;">Di pasar itu, keharmonisan antara etnis Cina dan masyarakat Aceh dalam mencari sesuap nasi terjalin dengan baik. Tak jarang, orang Aceh yang menjadi karyawan di toko sembako milik keturunan Tionghoa (sebutan lain untuk etnis Cina). Begitu pula sebaliknya, tidak sedikit warga Tionghoa yang mengangkut dagangan masyarakat Aceh, lalu dengan becak barangnya dagangan itu di antar ke tempat tujuan.</div>
<div style="text-align: justify;"><strong>Kurang Perhatian Pemkot Banda Aceh</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Bangunan tua yang berada di Peunayong adalah buah kerja keras arsistek Belanda yang mendesainnya sebagai <em>Chinezen Kamp</em> alias Pecinan. Ketikagempa dan tsunami mengguncang serta meluluhlantakan daratan Banda Aceh tahun 2006, Gampong Pecinan masih berdiri kokoh. Namun, niat Pemkot Banda Aceh melakukan renovasi hanya menjadi angan-angan belaka.”Tidak ada sama sekali kami mendapatkan bantuan renovasi toko kami pasca tsunami dan gempa. Kemana tanggung jawab Pemkot Banda Aceh, kamiini juga warga Banda Aceh,” keluh Chen Lee (45), nama Indonesia-nya Irwan Suturo.</div>
<div style="text-align: justify;">Selaras dengan Tek Lie, “Bangunan ini direnovasi waktu zaman G30SPKI dulu. Waktu Pak Harto baru jadi presiden. Semua orang Cina diusir dari sini karena dianggap PKI. Kalau mau lihat bangunan asli Cina ya di dekat pasar. Di situ bangunannya dibangun waktu zaman VOC.” Lelaki itu begitu ramah meladeni saya. Sesekali ia berbicara dalam Bahasa Mandarin dengan perempuan yang duduk di sampingnya. Sepertinya ia meminta penegasan dari wanita itu tentang apa yang dijelaskannya.</div>
<div style="text-align: justify;">Tak heran bila mata kita melihat di Peunayong banyak bangun tua yang catnya memudar, bahkan terkelupas. Belum lagi dinding yang sudah mulai tergurus di makan zaman. Memang sungguh miris penghargaan dan pelestarian yang dilakukan Pemkot Banda Aceh terhadap bagunan tua peninggalan sejarah, dimana kurangnya perhatian serius menjaga amanah peninggalan sejarah tersebut.</div>
<div style="text-align: justify;"><strong>Bangun</strong><strong>an</strong><strong> Tua dan Sejarahnya</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Di Jalan Jendral Ahmad Yani, saya mencari bangunan yang menurut Tek Lie dibangung pada zaman VOC. Memang benar. Di jalan yang berdekatan dengan pasar itu tampak bangunan-bangunan yang merupakan perpaduan antaraarsitektur Cina dan Eropa. Bangunan itu terdiri dari dua lantai, lantai satu digunakan sebagai tempat berdagang sedangkan lantai dua untuk tempat tinggal.</div>
<div style="text-align: justify;">Deretan bangunan tua ini berbeda dengan ruko modern yang dibangun di sampingnya. Di depan ruko Cina ini terdapat <em>arcade</em>, yaitu deretan tiang beton yang menopang lantai atas lantai atas menjorok ke emperan. Lebar terasnya lumayan sempit karena sebagian digunakan untuk menaruh barang-barang dagangan. Sedangkan tinggi tiang teras sekitar 3 meter. Bagian atas tiang dihias dengan susunan pelipit rata. Tiang yang berada di ujung (utara) bagian atasnya melengkung bergaya Romawi. Deretan tiang emperan menerus ke bangunan lantai dua sebagai pilaster. Di bagian sudut atas pilaster konstruksi diperkuat lagi dengan penyiku dari beton. Pilaster berfungsi sebagai penguat dinding tembok bangunan, di samping itu juga menandai batas ruas ruangan bangunan lantai dua.</div>
<div style="text-align: justify;">Pintu ruko terbuat dari papan yang disusun vertikal dengan sistem buka tutup secara digeser. Di bagian atas pintu ruko terdapat lubang ventilasi berbentuk persegi panjang dengan hiasan kerawang dikeempat sudutnya.</div>
<div style="text-align: justify;">Untuk keperluan pencahayaan dan sirkulasi udara dinding bangunan lantai dua dilengkapi jendela. Jendela berdaun dua terbuat dari bilah-bilah papan yang disusun vertikal. Gerak buka tutup jendela dihubungkan dengan dua engsel <em>(folding shutter)</em>. Jumlah jendela setiap ruko bervariasi 2 atau 3 buah jendela. Di bagian dinding ruko yang terletak paling ujung (utara) dijumpai lagi 3 buah jendela dan sebuah pintu. Di bagian atas jendela dan pintu terdapat kanopi dari seng. Di bagian atas kanopi dijumpai hiasan berbentuk susunan pelipit rata. Hiasan lainnya berbentuk huruf S dari besi dijumpai dibagian kiri dan kanan jendela.</div>
<div style="text-align: justify;">Atap rukonya juga sangat unik yaitu berbentuk pelana dari seng dengan kemiringan tajam. Kemiringan atap dibuat tajam agar air hujan cepat turun ke permukaan jalan. Kemiringan atap diakhiri dengan tritisan berhiaskan deretan awan beriring. Di bagian puncak atap terdapat tonjolan atap dari semen. Konstruksi tonjolan atap itu menyatu dengan dinding bangunan lantai dua.</div>
<div style="text-align: justify;">Selain di Jalan Jend. Ahmad Yani, ruko perpaduan arsitektur Cina-Belanda itu juga bisa ditemukan di Jl.  WR. Supratman (utara), Jl. Teluk Betung (selatan) dan di Jl. RA Kartini (timur).</div>
<div style="text-align: justify;">Keunikan Kampung Cina Peunayong ternyata tidak berakhir pada bangun tua saja. Ketika saya berjalan menuju Jl. T. Panglima Polem, sebuah Wihara- Tek Lie dan etnis Cina yang lain menyebutnya dengan Tepekong- berdiri di antara ruko modern yang terletak di sepanjang jalan itu. Menurut Tek Lie, Tepekong yang diberi nama Vihara Dharma Bhakti ini adalah bangunan baru yang dibangun di atas bangunan lama yang sudah rubuh.</div>
<div style="text-align: justify;">Wihara ini merupakan bukti merupakan bukti dari gambaran aktivitas lain dari masyarakat etnis Cina di Peunayong selain berdagang. Di antara mereka ada yang beragama Budha, Kristen dan juga Islam. Tepekong ini adalah tempat beribadah dan kegiatan keagamaan etnis Cina penganut agama Budha.“Dulu waktu zaman VOC ada juga dibangun Tepekong,cuma sudah rubuh,” jelas lelaki itu.</div>
<div style="text-align: justify;">Di bagian kiri dan kanan nama wihara terdapat masing-masing sebuah patung naga laut. “Naga itu simbol penjaga, penolak bala, dan kekuasaan,” Tek Lie menambahkan.</div>
<div style="text-align: justify;">Di antara kedua patung naga terdapat lampu (lampion) berhiaskan kuncup bunga teratai. Hingga kini wihara ramai didatangi umat Buddha terutama dalam hari-hari besar agama Buddha. Para penganut yang datang bukan hanya yang berdomisili di Banda Aceh, bahkan dari luar Banda Aceh.</div>
<div style="text-align: center;" align="center">***</div>
<div style="text-align: justify;">Hari mulai gelap. Adzan magrib melalui pengeras suara di Mesjid Raya Baiturrahman telah terdengar. Penelusuran tentang Peunayong, Gampong Cina yang mengandung banyak sejarah di dalamnya harus diakhiri. Sudah saatnya saya kembali ke rumah dan menunaikan ibadah shalat.</div>
<div style="text-align: justify;">(Juara II Lomba Menulis Visit Banda Aceh. Tulisan ini diposting juga di <a href="http://inongtraveler.blogspot.com/2011/04/peunayong-gampong-cina-di-tanoh-rencong.html">Travelling Around Aceh</a>)</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/11/911.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Last Call From Hendra</title>
		<link>http://liza-fathia.com/2011/07/the-last-call-from-hendra.html</link>
		<comments>http://liza-fathia.com/2011/07/the-last-call-from-hendra.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 15:06:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Liza Fathia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Amyotrophic lateral sclerosis]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit saraf motorik]]></category>
		<category><![CDATA[stephen hawking]]></category>
		<category><![CDATA[tes prespitasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://liza-fathia.com/?p=884</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu ponselku kembali berdering. Dari pemilik nomer yang sama seperti beberapa hari yang lalu, Os Hendra. Selama empat hari belakangan, ia selalu menghubungiku di waktu yang sama. Kuabaikan saja. Karena dulu-dulu dia juga sering menghubungiku, lantas ketika kuangkat dia mematikannya. Pernah kukirim sms menanyakan kenapa dia menelponku lalu mematikannya ketika kuangkat. “Cuma miskol aja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pagi itu ponselku kembali berdering. Dari pemilik nomer yang sama seperti beberapa hari yang lalu, Os Hendra. Selama empat hari belakangan, ia selalu menghubungiku di waktu yang sama. Kuabaikan saja. Karena dulu-dulu dia juga sering menghubungiku, lantas ketika kuangkat dia mematikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah kukirim <em>sms</em> menanyakan kenapa dia menelponku lalu mematikannya ketika kuangkat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Cuma miskol aja, Kak. Ngga apa-apa kan?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ngga apa. Tapi jangan sering-sering, takutnya  waktu perlu ngga kakak angkat juga.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hendra, aku lupa nama lengkapnya. Os Hendra, begitu aku menamainya di <em>phonebook</em>.  Setiap nomer hp pasien selalu kuberikan tanda Os di depannya. Os singkatan yang kerap digunakan di rumah sakit, akronim dari orang sakit atau pasien. Ya, aku memang kerap menyimpan nomer kontak setiap pasien yang kutangani serta memberikan nomerku kepada mereka. Siapa tahu ada yang ingin mereka tanyakan saat aku sedang tidak ada di rumah sakit dan untuk memudahkanku memantau perkembangan penyakitnya.<span id="more-884"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hendra adalah salah satu pasien yang lumayan dekat denganku. Kami selalu berkomunikasi meski hanya sekedar bertegur sapa atau bertanya kabar.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menangani remaja yang tengah menempuh pendidikan di bangku SMA itu saat aku sedang bertugas di bagian neurologi (saraf) sekitar setahun yang lalu. Hendra adalah pasien kiriman dari rumah sakit Aceh Selatan dengan diagnosa yang belum jelas sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang  yang hanya tersedia di RSUZA. Seluruh tubuhnya lumpuh dan mati rasa. Bukan karena stroke, karena penyakit ini tidak menyerang pada umur enam belas tahun. Tetapi terjadi tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Awalnya tangan kiri sering kesemutan dan tiba-tiba ngga bisa digerak dan mati rasa. Terus menjalar ke kaki kiri. Sekarang tangan kanan dan kaki kanan juga mulai ngga terasa,” jelas Hendra.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar saja, ketika kulakukan pemeriksaan neurologis kekuatan ototnya berkurang. Tak mampu melawan tahanan yang kuberikan. Refleks fisiologis  meningkat pada keempat ekstremitas disertai refleks patologis yang pada keadaan normal tidak seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Empat bulan yang lalu Hendra pernah jatuh dari motor. Tapi waktu itu ngga apa-apa. Sebulan ini badannya lumpuh semua,” Ibunya  memberikan penjelasan tambahan, “tiba-tiba aja. Pagi waktu dia bangun tangan kirinya lemas dan semakin hari semakin tidak terasa.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Coba kamu lakukan prespitasi tes,” suruh dr.Endang, spesialis saraf yang menjadi konsulenku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun menjalankan <em>planning</em> yang diminta sang neurologis. Kutaburi seluruh tubuh pasienku dengan bedak (sebenarnya dengan tepung, tetapi dapat diganti dengan bedak tabur), lalu kuselimuti tubuhnya dengan selimut tebal sekitar setengah sampai satu jam sampai tubuhnya berkeringat. Normalnya tepung/bedak tersebut akan hilang karena keringat, namun itu tidak berlaku pada Hendra. Setengah tubuhnya masih utuh dengan bedak dan setengah yang lain hanya sedikit yang basah karena keringat.</p>
<p style="text-align: justify;">Hendra yang cerdas selalu menanyakan setiap tindakanku. Aku pun tak bosan-bosan menjelaskan padanya walau aku tak yakin apakah dia paham atau tidak. Binar semangat yang terpancar dari matanya membuatku malu. Ia yang hanya mampu berbaring dengan seluruh anggota gerak lumpuh tetap semangat menjalani hidup, sedang aku yang diberikan Allah kesehatan bisanya hanya mengeluh ketika sedikit lelah melayani pasien.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dokter, apa diagnosa pasien ini? Parese tubuhnya pada upper dan lower motor neuron. Sensibilitasnya juga berkurang. Bahkan di bagian abdomen dan torak mulai tidak terasa. Saya belum pernah membaca tentang penyakit ini,” tanyaku pada dokter Endang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Coba kamu baca tentang ALS, <em>Amyotrophic lateral sclerosis</em>. Saya rasa dia menderita penyakit itu. Coba kamu anamnesa lagi dan persiapkan pasien ini untuk MRI.”</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://biography-of.com/wp-content/uploads/Hawing-in-zero-gravity.jpg" alt="" width="240" height="160" />Sepulang dari RS akupun mencari tahu tentang ALS. Ternyata penyakit yang menyerang sistem saraf motoris ini juga diderita oleh fisikawan dunia, Stephen Hawking. Gejala yang dialami penderita penyakit ini sama seperti yang dialami Hendra. Namun, sampai sekarang penyakit ini tidak diketahui penyebabnya. Diduga berhubungan dengan mutasi gen SOD1. Belum ada pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa. Meskipun pada pemeriksaan elektromiografi akan menunjukkan gelombang khas pada pasien ALS. <em>Magnetic Resonanse Imaging</em> (MRI) sering tidak bermakna. Pengobatan penyakit ini sampai sekarang masih dalam penelitian. Biasanya pasien dengan ALS hanya mampu bertahan 2 sampai 6 tahun. Namun bagaimanapun aku selalu meyakini bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Umur manusia Allah yang menentukan, buktinya Stephen mampun bertahan hidup sampai umur 47 tahun setelah didiagnosa ALS pada usia 21.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jadi Hendra harus tetap optimis,” hiburku pada anak kedua dari tiga bersaudara itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar saja, hasil MRI Hendra tidak menunjukkan adanya kalainan. Dokter Endang menganjurkan untuk dilakukan fisioterapi padanya. Namun setelah beberapa hari fisioterapi, Hendra dibawa pulang orang tuanya atas permintaan sendiri. Kami semua sangat menyayangkan kepulang Hendra. Padahal penyakitnya bisa menjadi kasus yang bagus untuk pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hendra pulang ya Kak. Soalnya penyakit Hendra kan belum jelas. Jadi biar Hendra berobat kampung saja. Kasian juga adik dan abang. Mereka harus libur sekolah.” Hendra mengirimkan pesan singkat yang membuatku sedih memikirkan keadaannya. Pernah kutanyakan kenapa tidak ibunya saja yang menjaganya di RS sedangkan abang dan adiknya kembali ke Aceh Selatan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Disana ngga ada siapa-siapa, Kak. Ayah kami udah meninggal.”</p>
<p style="text-align: justify;">Selama di kampung Hendra yang ketika sehat sangat menyukai bola kaki selalu mengabarkan keadaannya padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kak, Alhamdulillah tangan Hendra udah bisa bergerak sedikit. Ngetik sms juga udah lancar. Tapi belum bisa nendang bola J”</p>
<p style="text-align: justify;">Terkadang ia juga iseng menggombaliku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kakak keturunan Portugis ya? Kakak cantik, putih, mata kakak coklat. Kalau Hendra besar pasti Hendra minta kakak jadi pacar.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kak, nanti kalau udah jadi dokter praktek di kampung Hendra aja. Di sini ngga ada dokter.”</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kita lihat nanti ya, Dek.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sering kami bersmsan. Apalagi kalau jadwal jagaku agak longgar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sering pula ia hanya sekedar miscall saja, mungkin karena bosan harus tidur terus.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari itu aku juga menganggap telpon yang masuk darinya hanyalah sebuah keisengannya saja. Awalnya ingin kuabaikan saja, tetapi tak tahu kenapa tanganku spontan menjawab panggilan darinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Assalamualaikum Hendra, apa kabar?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Waalaikumsalam Liza,” bukan suara Hendra diseberang sana, tetapi suara perempuan.”Ini mamaknya Hendra Liza. Hendra sudah meninggal. Hari ini hari keempat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mulutku benar-benar kelu saat mendengarkan suara ibunya. Hendra telah menghadapNya. Telpon yang masuk sejak empat hari yang lalu bukan dari pasienku yang cerdas itu. Bukan dari Hendra yang tetap semangat meskit seluruh tubuhnya tak mampu bergerak. Tapi dari ibunya yang ingin memberitahukan kepergiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Innalillahi wainnailaihi rajiun. Ibu yang sabar ya. Allah sangat menyayangi ibu dan Hendra. Semua pasti ada hikmahnya.” Aku tak dapat berkata apa-apa lagi kala itu. ALS telah membawa Hendra kepangkuan Ilahi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Klik <a href="http://www.ninds.nih.gov/disorders/amyotrophiclateralsclerosis/detail_ALS.htm">Amyotrophic lateral sclerosis (ALS)</a> untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyakit ini</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sumber gambar : <a href="http://biography-of.com/">http://biography-of.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://liza-fathia.com/2011/07/the-last-call-from-hendra.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

