Saya adalah wanita biasa yang terlahir dari rahim Ibu yang sangat luar biasa. Diberinama Liza Fathiariani dan dipanggil dengan Liza, Nonong, dan Fathia.
Saya hanyalah gadis desa yang sedang menggapai cita. Syukur pada Allah, saya telah lulus dari Fakultas Kedokteran Unsyiah dan saat ini sedang menjalankan kepaniteraan klinik (koas) sebagai dokter muda di Rumah Sakit Zainoel Abidin. Menjadi dokter merupakan amanah yang sangat besar tapi insyaallah dengan penuh keikhlasan dan doa , Allah pasti akan memudahkannya. Selama niat kita tulus untuk berjuang di jalanNya, Allah pasti akan meridhai langkah yang kita tempuh. Amiin.
Matahari masih malu-malu menampakkan wujudnya ketika bayi perempuan yang diberinama Liza Fathiariani itu lahir. Saat itu, bulan Syawal yang telah hampir purnama hendak kembali ke peraduan , fajar Jumat telah menyingsing, dan almanak menunjukkan tanggal 6 Februari 1988. Dia adalah putri pertama pasangan Ibrahim (almarhum) dan Cut Mariani. Ditengah dinginnya subuh Tangse, senyuman kebahagian hadir pada keluarga itu. Tangisan sang bayi membuat Rumoh Aceh yang dihuni oleh pasangan suami-istri dan Tgk. Kali Mansur –kakeknya bayi- itu menambah keceriaan yang tiada tara. Dan bayi itu adalah aku yang bernama Liza.
Masa kecil kuhabiskan di alam pedesaan Pulo Mesjid II Tangse-Pidie, bersama ayah-bunda dan seorang adik laki-laki yang lahir ketika umurku beranjak empat tahun. Layaknya anak desa yang hidup di tengah-tengah pegunungan dan hamparan sawah, maka permainan kecilku tak jauh-jauh dari lingkungan tempat tinggal. Sungai yang jernih, pematang sawah yang kerap menjatuhkanku ke dalam sawah yang berlumpur, atau jerami bekas olahan padi, adalah duniaku.
Usia empat tahun aku sekolah di TK Cut Nyak Dhien Tangse. Lalu karena tubuhku lumayan tinggi, umur lima tahun aku pun mengecap pendidikan di bangku SDN 1 Tangse. Sekolah yang hanya memiliki tiga belas murid di setiap kelasnya. Terletak di samping Mesjid Pulo Mesjid I, berbatasan langsung dengan hamparan sawah dan pegunungan Tangse dan sempat dibakar oleh orang tak bertanggung jawab.
Setelah menyelesaikan sekolah dasar, konflik Aceh semakin menjadi dan Tangse yang letaknya ditengah pegunungan menjadi daerah yang rawan. Akhirnya kami-seluruh penduduk Tangse harus mengungsi ke Kabupaten. Saat itu aku pun harus meninggalkan desaku dan melanjutkan sekolah ke SMP N 4 Banda Aceh. Setahun di SMP 4, aku pindah ke MTsS Dayah Jeumala Amal, sebuah pondok pesantren modern yang terletak di Lueng Putu (saat itu masih dalam kawasan Kab. Pidie).
Lulus MTsS DJA, aku melanjutkan pendidikan ke SMAN 2 Modal Bangsa yang letaknya di Kec. Kuta Baro Aceh Besar. Sebuah sekolah unggulan Aceh yang menerapkan system asrama bagi siswanya. Kalau dikalkulasikan aku telah tinggal di asrama selama 6 tahun (3 tahun SMP dan 3 tahum SMA). Lalu pada tahun 2006, aku menyelesaikan studiku di Mosa dan melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.
Aku sangat suka travelling, menikmati sajian kuliner, membaca dan menulis. Mungkin kegemaran terakhir itu membuatku memilih untuk ngeblog. Aku ingin berbagi apa yang kupunya dengan untuk mereka yang membaca tulisanku. Desember 2006 aku mulai mengenal dunia blog. Namun, aku mulai aktif memposting tulisan setahun setelahnya dan sampai sekarang.
Liza Fathia, Desember 2006
Sebenarnya engga ada yang patut dibanggakan oleh seorang Liza. Orang yang terlalu biasa,tapi aku yakin di dunia ini engga ada yang biasa. Setiap orang itu luar biasa. Yang jelas aku senang menjadi diriku saat ini,menjalani hidup yang penuh warna bersama org2 yg kusayangi. So I don’t want give up
Recent Comments