Aku semakin mencintaiMu. Mencintai sampai setiap saat teringat akanMu. Terima kasih atas suka dan duka yang Kau beri. Kusadar, semuanya ada ujian dan hikmah yang Kau cucur.
Beberapa minggu ini saya merasa begitu banyak keajaiban yang dianugerahkan Allah. Ya, saya menamakannya keajaiban karena semuanya terjadi tanpa terduga. Saya hanya meminta sedikit pada Allah tetapi yang diberikanNya sungguh sangat besar, semuanya diluar perkiraan. Terima kasih ya Allah.
Ud’u nii astajib lakum. Begitu firmanNya. Berdoalah (mintalah) padaKu niscaya Aku akan menjawabnya. Saya meminta padaNya agar dimudahkan dan dilancarkan setiap urusan setiap selesai shalat baik fardhu maupun sunat. Meminta padaNya agar diberikan yang terbaik menurutNya. Subhanallah, saya benar-benar terharu. Jalan saya selalu dimudahkanNya.
Saya semakin menyadari sebagai manusia tugas kita hanya dua yaitu berdoa dan berusaha, selebihnya itu urusan Allah. Bukankah Allah tidak akan mengubah nasib sebuah kaum sampai ia sendiri yang mengubahnya? Ya itulah dia dengan berusaha. Dengan doa menjadikan kita rendah diri dan semakin bersyukur kepadaNya. Menyadari bahwa semua adalah kuasa Allah, semua adalah titipanNya. Allah tahu mana yang terbaik untuk kita. Bisa jadi yang menurut kita baik tetapi tidak baik bagi Allah, dan sebaliknya. Jadi setelah mengerjakan kewajiban kita serahkanlah semuanya pada Pencipta langit dan bumi beserta isinya.
Ada perbedaan yang saya rasakan ketika mendapatkan hasil dari doa dan usaha yang minimal dibandingkan dengan doa dan usaha yang maksimal. Ketika berusaha hanya seadanya dan mendapat hasil yang kurang baik maka akan muncul penyesalan. Tak jarang kalimat : Duh coba ya saya berusaha lebih maksimal pasti hasilnya akan lebih bagus” keluar dari bibir ini. Atau ketika hasil yang diperoleh sangat baik maka akan timbul kata-kata kesombongan, “Wah, cuma berusaha segini saja hasilnya sebagus ini.” Naudzubillah.
Namun, jika usaha yang dilakukan maksimal walaupun hasil yang didapatkan tidak sesuai harapan maka tak ada penyesalan disana. Karena memang disitulah kemampuan kita dan mungkin inilah yang terbaik dari Allah. Dan jika hasil yang didapatkan lebih bagus maka semua itu adalah anugerah dariNya.
Terkadang saya jadi malu sendiri. Tak jarang keluh kesah muncul dari mulut ini. Padahal nikmat yang Allah berikan sungguh tak mampu dinilai. Lantas apa yang harus dikeluhkan? Seharusnya saya bisa belajar dari pasien-pasien yang beberapa nikmatnya telah Allah cabut tetapi mereka tetap sabar. Belajar dari mereka yang memiliki disabilitas tetapi tetap tangguh menjalani kehidupan. Belajar dari hidup. Ya, mungkin saya harus banyak belajar dab bersyukur agar sifat suka mengeluh ini sirna.





Buatku, yang penting prosesnya, hasil terserah yang kuasa ..^^
bersykurlah setiap saat
belakangan ini, hidup saya mengalir seperti air. Dan entah mengapa, saya merasa ada yang salah. Barangkali, ada yang senjang dalam hubungan saya denganNya =_=”
Terimakasih untuk note baik ini, Dek
Sukses selalu. Semoga segenap urusan untuk yudisiumnya dimudahkan Allah.
Sabar dan syukur adalah sikap manusia beriman nduk. Mengeluh itu manusiawi asal jangan terus menrus mengeluh.
Jika kita hitung maka sesungguhnya kita tak akan mampu menghitung nikmat Allah yang berlimpah-limpah.
Salam hangat dari Surabaya
setuju sekali za
kitta memang harus tetap bersyukur..:D
Kunjungi web kami di http://www.busaerowisata.com