Disabilitas dan Pandangan Masyarakat
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba dalam rangka memperingati Hari Penyandang Disabilitas Internasional pada 3 Desember 2011 yang diselenggarakan oleh Kartunet.com dengan tema “Disabilitas dan Pandangan Masyarakat“.
Penyandang Disabilitas : Segala Keterbatasan dan Kelebihannya
Oleh : Liza Fathiariani
Hari itu, di dalam mobil penumpang L300, saya semakin merasa betapa negeri ini sangat pilih kasih. Betapa negeri yang dalam dalam sistem perundang-udangannya mengakui bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, ternyata hanya sebatas retorika yang realisasinya patut dipertanyakan. Hari itu ketika di samping saya seorang bapak penyandang disabilitas menceritakan kejadian memilukan yang dialaminya beberapa saat sebelum ia menumpangi mobil tempat kami bertemu.
Sang bapak, dengan tangan yang hanya memiliki ibu jari, telunjuk dan jari manis memberikan ongkos pada kernet L300. Tangan satunya lagi tidak ada. Puntung. Iba hati ini melihatnya. Merasanya dirinya diperhatikan, Bapak yang telah paro baya itu tersenyum ke arahku. “Pulang ke Tangse juga?” tanyanya diiringi anggukanku.
Ternyata tujuan kami sama.
Dalam perjalanan bapak dengan disabilitas itu bercerita banyak tentang hidupnya. Ia bercerita masa mudanya, saat ia sekolah sampai menjadi sarjana ekonomi. Dengan disabilitas yang dibawa sejak lahir, saya sama sekali tidak menyangka ternyata dengan keterbatasannya ia mampu menyelesaikan jenjang pendidikan yang saya yakin saat itu hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukannya. Bapak itu kuliah di Fak. Ekonomi Unsyiah pada tahun 70an. Waktu dimana orang-orang belum begitu melek terhadap pendidikan.
“Sudah beberapa kali saya hampir dikeluarkan gara-gara saya ngga punya tangan. Alasannya macam-macam, ngga bisa buat tugas lah, ngga bisa ngetik pake mesin tik, ah tidak masuk akal pokoknya. Belum lagi ejekan orang-orang. Tapi saya bisa membuktikan saya bisa.”
“Terus sekarang Bapak kerja di mana?” Kulihat sebuah proposal digunakannya untuk mengipas tubuh. Hari sangat panas kala itu dan mobil yang kami tumpangi tak berAC.
“Saya petani. Tadi baru dari kantor gubernur ngantar proposal. Mau minta dana untuk perternakan kambing, tapi tak dapat.” Jelasnya.
Aku hanya heran menatapnya. Seharusnya seorang sarjana seperti dia tak perlu membanting tulang menjadi petani di kampung. Memang tidak ada salahnya seorang sarjana menjadi petani, tetapi saya bisa membayangkan bagaimana nasib petani di kampung, jauh dari berkecukupan. Lalu dengan keadaanya bagaimana ia bisa bertani? Saya menyimpan saja pertanyaan itu dalam hati.
“Jangan heran. Memang seperti inilah hidup. Meski seorang sarjana, tanpa modal sendiri jangan harap akan diperkerjakan oleh orang lain lebih-lebih dengan keadaan seperti saya ini. Jangankan pihak swasta, pemerintah saja tidak mau. Sudah beberapa kali saya melamar kerja, setiap melamar mereka pasti melihat tangan saya lalu mengatakan berbagai alasan yang intinya tidak diterima. Padahal saya bisa membuat pembukuan. Tapi kalau sekarang udah ngga kayak dulu. Udah tua, banyak lupanya. Jadi ya ke sawah saja. Setidaknya cukup untuk membiayai anak istri.”
Kak Mur, sang Juara Mengaji
Lain sang Bapak lain pula Kak Mur (saya lupa nama lengkapnya). Saya mengenal wanita itu ketika mengikuti lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Waktu itu saya mengikuti cabang Fahmil Quran (cerdas cermat) sedangkan Kak Mur di bidang Tilawah (membaca Alquran dengan irama) untuk tunanetra. Ya, Kak Mur adalah penyandang disabilitas yang kedua matanya buta sejak ia masih kecil. Wanita keliharan tahun 1983 itu tidak ingat umur berapa ia tak bisa lagi menikmati indahnya dunia. Menurutnya, karena tidak memiliki biaya, ia tidak dibawa oleh orang tuanya ke rumah sakit sampai akhirnya hanya gelap yang menemani Kak Mus sampai saat ini.
Berbeda dengan Bapak di mobil L300 yang bisa bersekolah sampai selesai sarjana, Kak Mur tidak pernah mengecap jenjang pendidikan. Ia tidak bersekolah karena dikampungnya tidak ada sekolah khusus tunanetra sedangkan sekolah umum tidak mau menerimanya. Tetapi ia rajin mengaji pada ustad di kampung. Bermodalkan telinga dan suara serta tekad yang kuat ia belajar huruf demi huruf yang tercantum dalam Alquran. Dan dengan kemampuan dan suara indahnya dalam mengaji ia menjadi juara ditingkat propinsi.
***
Begitulah potret penyandang disabilitas di negeri ini. Berjuang melawan diskriminasi yang kerap didapatkan dalam masyarakat. Tidak sedikit yang gugur. Malah banyak diantara mereka yang berhasil membuktikan jika disabilitas bukanlah alasan untuk berhenti berusaha. Bukankah keterbatasan seseorang tetap dapat diatasi dengan kegigihan?
Ironisnya, diskriminasi yang terjadi belumlah usai. Pelayanan kesejahteraan sosial masih menganut paradigma bekerja untuk penyandang disabilitas bukan bekerja dengan penyandang disabilitas. Sehingga penyandang disabilitas lagi-lagi dikaitkan dengan iba, rasa kasihan, bukan malah menempatkan mereka sejajar dengan orang normal. Padahal sudah jelas-jelas dalam undang-undang No.4 tahun 1997 disebutkan bahwa penyandang disabilitas merupakan bagian masyarakat Indonesia yang memiliki kedudukan, hak, kewajiban dan kesempatan serta peran yang sama dalam segala aspek kehidupan maupun penghidupan seperti halnya warga negara Indonesia yang lain.
Kartunet.Com Era Baru Penyandang Disabilitas
Jujur, saya terkejut ketika mengetahui bahwa kartunet.com adalah hasil karya penyandang disabilitas. Dulu saya berpikir kartunet.com itu situs para pembuat film kartun. Tidak pernah terlintas di pikiran saya jika kartunet merupakan singkatan dari karya tunanetra.
Sungguh kartunet.com adalah media yang luar biasa jika terus dikembangkan dengan baik. Betapa tidak, dengan adanya website ini mata saya menjadi terbuka. Saya menjadi tahu jika tidak sedikit anak negeri ini dengan segala keterbatasannya mampu menghasilkan karya yang sangat membanggakan.
Semoga kartunet.com dapat terus mengangkat isu-isu seputar disabilitas sehingga mata rakyat Indonesia terbuka dan menyadari bahwa penyandang disabilitas bukanlah orang yang butuh dikasihani, bukanlah orang yang dilahirkan menjadi peminta-minta, tetapi penyandang disabilitas adalah bagian dari negara Indonesia yang juga mampu berperan andil dalam membangun negeri ini.
Sudah menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat dalam menggali dan mengembangkan potensi penyandang disabilitas untuk dapat berpartisipasi di dalam pembangunan nasional. Dan menjadi tugas kita bersama dalam memberikan pelayanan dan rehabilitasi sosial / vokasional untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi penyandang disabilitas.

Subhanallah, Mereka benar – benar luar biasa meskipun dalam keterbatasan.
iya… karena pada dasarnya kita semua adalah manusia ciptaan Allah yang pasti diberikan keistimewaan walaupun memiliki disabilitas
wah salut buat mereka..
ini bisa memacu kita khususnya buat yang masih sempurna agar termotivasi..
terharu baca yang bapak tani tadi..
iya benar sekali. dan memacu kita agar memperlakukan dan memposisikan teman-teman yang memiliki disabilitas sejajar dengan kita. tidak menganggap mereka sebagai orang yang perlu dikasihani tetapi mereka juga mampu berprestasi
sedih jika melihat diskriminasi itu masih saja terjadi
padahal, siapa saja tak belajar dari semangat dan keteguhan mereka…
sedih jika melihat diskriminasi itu masih saja terjadi
padahal, siapa saja BISA belajar dari semangat dan keteguhan mereka…
[ralat]
iya. benar sekali mas. mereka dengan disabilitas yang mereka sandang mampu berkontribusi untuk negeri ini, kita harusnya yang masih diberikan amanah berupa organ tubuh yang lengkap seharusnya mampu menjadi lebih baik
wah ternyata ada seo kontes baru ikutan ah..
ayooo ikutan masih ada waktu sampai tanggal 28nov jam 18.00
Wah Kak (Mb) Liza, tulisannya bagus banget … semoga menang lombanya ya ..
hei, just call me kakak. liza kan orang acehhh.. amiinn. doakan yang terbaik ya dik
Alhamdulillah dgn adanya lomba dalam rangka memperingati Hari Penyandang Disabilitas Internasional smga saudara2 kita di Parlemen bs mengangkat isu Disabilitas agar penyandang Disabilatas di Indonesia lbh dprhatikan hak2 nya sbg warga negara. Yang masih disayangkan blm ada badan pemerintah resmi yg menangani mslh Disabilitas, cuma sebatas organisasi PPCI (Persatuan Penyandang Cacat Indonesia). Kita doakan smga PPCI mampu mengangkat harkat dan martabat penyandang Disabilitas di negeri ini yang masih mengalami berbagai diskriminasi.
bener bgt edi, sebenarnya sudah ada peraturan pemerintah dan ada beberapa daerah yang sudah menerapkannya, tapi mirisnya di aceh masih sangat kurang. lihat saja di simpang 5 banda aceh, berapa banyak kaum disabilitas menjadi pengemis. saya yakin jika diberikan pelatihan dan pedampingan mereka bisa menjadi mandiri tanpa harus meminta-minta
jadi teringat ama video youtube Nick Vojicic “No arm, no legs, no worries”, bedanya kalau nasib nick lebih beruntung, dia mendapat support luar biasa dr orang tuanya dan hidup d negara yg tidak mendiskriminasi org cacat, skrg dia sukses mjd pembicara motivasi kelas dunia. Juga stephen hawking, fisikawan USA, yg lumpuh seluruh tubuhnya. Memang org2 d negara kita mesti blj utk lbh menghormati org2 cacat spt d negara2 lain. Good job, keep writing ya dek fathia
iyaa, liza tau motivator itu dan pernah nonton videonya
kirain siapa lahhh rupanya dirimu
siippp… danke bang barca fan
tak ada yang tidak mungkin jikalau kita tidak mencobanya
dari cerita ini dapat kita ambil pelajaran jikalau ada kemauan pasti ada jalan,,,,
:p
betul betul betul
* ini lagi ada anti barca… alahai adek meutuwah. lain kali kalo mau nyamar emailnya juga diganti yaaa
wa eee wa eee oooo
Salam kenal juga
Wach ada lomba tulisan ttg disabilitas ya, semoga sucses
Ditunggu juga diacara kami, ikutan ya …
bagus.. semoga menang ya..
IMHO, negara kita masih harus banyak berbenah untuk memperbaiki keadaan
Luar biasa tulisannya ukhti Liza! Saya suka..
Tentang disabilitas atau difabel ataupun istilahnya memang tak melulu tentang rasa iba atau kasihan semata. Lebih dari itu, semangat pengakuan dan diperlakukan sama merupakan hal yang utama.
Salam Kenal
terimakasih pakde. punya pakde juga luar biasa. sudah di rank 2. mantap sekali pakde, saya malah tidak begitu paham dengan SEO. salam kenal kembali. mari kita menjadi masyarakat inklusif ya pakde
Salam kenal.
Kalau boleh tahu, Seuramoe Liza artinya apa?
Jawabnya benar2 nggak ngerti, nanti saya lihat lagi.
salam kenal kembali, seuramoe itu artinya serambi ataupun teras. Liza itu nama saya.. jadi jika ingin mengetahui liza lebih lanjut, harus melewati serambinya dulu
kalau menurut pendapat aku sendiri,disabilitas atau apa pun namanya,bukan halangan utama & paling utama untuk kita meraih masa depan
yang menjadi penghalang kita dalam meraih itu semua adalah,mindset rasa malas dari diri kita sendiri sebagai manusia bukan karena diskiriminasi atau apa lah namanya
karena manusia dalam keadaan apa pun,diberikan kesempatan untuk tetap fight dalam kehidupan ini
bisa diterima juga. namun kebanyakan kita lihat adalah pengelompokan atau pengkotakan yang terjadi antar mereka yang normal dengan penyandang disabilitas sehingga membuat orang yang memiliki disabilitas menjadi minder. secara psikologi saja akan sangat berpengaruh pada kinerja kita kedepan…
Padahal tiap provinsi punya peraturan daerah (perda) ttg penyandang disabilitas. Tapi ironisnya para pejabat daerah terkadang msh menganggap mereka sbg barang cacat tak berguna. Pandangan yg seperti ini harus diubah, pendekatannya juga bukan lagi atas belas kasihan, tapi pendekatan HAM.
Jadi gak karuan baca cerita mbak Liza tentang 2 penyandang disabilitas di atas. dan kaget juga penyandang disabilitas bisa berkarya sampe punya blueprint seperti kartunet.com.
Saya punya sepupu yang penyandang disabilitas. Sedih kalo inget tentang dia… Pengennya dia juga punya prestasi… Cerita ini menginspirasi banget.
wa eee wa ee ooo
SETUJU…
saya pribadi menyebutnya bahwa disabilitas merupakan pemberian Tuhsn ysng istimewa…
silahkan mampir…
http://zia-blog.blogspot.com/2011/12/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat.html
satu jempol kayanya kurang buat tulisan ini
salam kenal
Artikel yang mantabsss….
semoga membuat masyarakat dan pemerintah semakin bisa menerima keberadaan penyandang disabilitas…
http://rodatiga.wordpress.com/
http://tulusbudiprasetyo.wordpress.com/
mereka memang memiliki keterbatasan fisik, tapi mereka punya kekuatan kemauan dan semangat yg lebih dibandingkan mereka yang secara fisik normal..
salut buat mereka….
salut jg buat liza….