Lakon Cinta Empat Purnama

Malam semakin larut. Suara yang terdengar hanya sunyi. Seluruh mata telah terpejam dan terbuai mimpi. Tapi tidak untuk Tristia, penglihatannya masih terbuka lebar menyusuri baris-baris kecil yang termaktub dalam ponsel.

Hai Tia, boleh kenalan.Wah, kamu manis banget ya

Ia tersenyum lalu menekan keypad, mengetik huruf per huruf dan menekan tombol wall to wall.

Makasih, boleh dong dengan senang hati.”

Wall post lain masuk.

Ketika kutatap sakura bermekaran, hatiku berdesir. Ingatanku melayang padamu dinda. Sesempurna apakah gadis ayu yang menyita hari-hariku ini?

Sejenak Tristia mengatur alur nafas yang tak menentu. Lalu membalas pesan dinding dari Andri, lelaki dengan kata-katanya mampu membius sang gadis hingga tak kuasa mengatur emosi. Degupan kencang jantung menghasilkan kebekuan dan kekakuan. Tak ada kata terlintas untuk membalas. Tapi sebuah senyuman tetap mampu ia berikan.Puluhan notifikasi pun muncul di beranda situs jejaring sosial yang kini mengalihakan seluruh dunianya. Menjerat lebih dalam dan membuat gadis ini semakin terperangkap. Seorang teman mengomentari foto profil Tia. Sebuah tag catatan ringan dari teman semasa SMA. Pesan status  terus berganti, memenuhi beranda. Lalu ia membalas kiriman dari Andri walau hati terus berdesir hingga pagi pun menyingsing.

Berat rasanya beranjak dari kasur dan melepaskan telepon seluler dari genggaman. Masih banyak komentar yang belum dibalas. Permintaan untuk menjadi teman  belum disetujui. Meski mata telah mengeluarkan air karena pengaruh radiasi, ia tetap tak bergeming.

“Tiaaaaa,” sebuah teriakan dari luar membuyarkan konsentrasi gadis itu. “Kita pagi ini parktikum, kan? Bagi soal-soal untuk workplan dong.” Nisa, teman satu kost-an dan sekampus dengannya menyelinap masuk.

“Eh non, pinjam dong!”

“Apa, Nis?” Tristia belum beranjak dari dunia maya.

“Soal-soal workplan, ntar dikumpul sebelum praktikum Epid kan?”

“Hah?!? Hari ini kita praktikum?” Segera ia matikan situs pertemanan itu. Lalu memeriksa inbox HPnya.

“Ya, Allah,” Semalam pesan itu telah dibaca dan ia berencana untuk mengerjakan tugas tersebut setelah mengomentari bebarapa message status di facebook. Tapi?

“Kamu belum buat ?”

Tia mengangguk.

“Tapi ini syarat masuk praktikum. Aku kira kamu udah selesai, jadi mau liat pertanyaan yang udah dibuat. Kalau gitu aku balik ya, terpaksa deh buat sendiri.”

Tia menatap punggung Nisa dengan panik. Sudah sering kali keteledoran itu datang dan ini  paling parah. Ia tahu persis konsekuensi yang harus diterima jika tidak mengerjakan workplan, rencana kerja sebelum praktikum Epidemiologi Penyakit dimulai.

“Silakan Anda keluar dan sampai ketemu semester mendatang pada mata kuliah yang sama.” Begitulah ucap dr. Umar, pembimbing matakuliah untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran tingkat akhir itu. Datar sambil menunjukkan wajah lilinnya sebagai jawaban pertanyaan seorang mahasiswa tentang sanksi jika tugas tidak dikumpul.

Sinar matahari semakin terang. Jam berbentuk Doraemon yang terletak di atas lemari telah beranjak ke pukul tujuh. Tia masih punya waktu satu jam  untuk menyelesaikan tugas. Praktikum  dimulai satu jam kemudian. Ditariknya beberapa lembar double folio dan buku untuk referensi dari rak.

Tanpa penggaris untuk membatasi pinggir kertas, langsung saja Tia menulis. Padahal dr. Umar juga menegaskan kalau kerapian tugas juga dinilai. Ia harus cepat, lebih cepat dari detakan nadinya. Tak peduli seacak apa bentuk huruf telah dihasilkan. Yang penting selesai.

Tapi waktu tak bisa dielak, empat puluh lima menit sudah waktu berlalu. Ia harus segera berangkat karena praktikum tak boleh telat.

Cuci muka dan kumur-kumur menjadi pengganti mandi. Tanpa sisiran apalagi mengoleskan bedak. Langsung saja Tristia menstarter motor menuju kampus yang terletak 500 meter dari rumah kost.

“Waduh!” kelunya ketika melihat polisi lalu lintas di sedang merazia pengendara motor beberapa meter tempatnya berada. Tia membuka dompetnya. SIM dan STNK lengkap, jadi aman.

“Helm kamu mana?” suara garang tanpa intonasi dan terdengar seram membuat Tristia pucat. Dia baru menyadari kalau kepalanya kosong. Tak ada helm di atasnya.

Diliriknya jam tangan, 07.55 WIB. Lima menit lagi masuk. Tugas belum siap.

Tia tak dapat berucap. Ia pasrah. Polisi itu menyuruhnya  memparkir motor di samping trotoar. Ia mencoba menghubungi Nisa untuk meminta izin atas keterlambatannya. Siapa tahu dosennya bisa maklum.

Sisa pulsa dalam kartu prabayar anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Silakan lakukan pengisian ulang. Sisa pulsa yang anda miliki adalah senilai tujuh rupiah.

Gadis ini seakan tidak percaya dengan suara operator seluler. “Perasaan kemarin baru diisi limapuluh ribu,” batinnya. Lalu ditekannya beberapa digit angka untuk melihat pemakaian terakhir.

Biaya akses internet terakhir adalah Rp. 49.993.

Gadis itu meringis. Butiran dimatanya seakan hendak bercucur, tapi berusaha ia tahan.

“Hei! Saya tanya alasan kamu ngga pake helm, kok malah diam? Kamu maunya selesai di sini atau di pengadilan. Kamu sudah membuat pelanggaran!” bentakan polisi itu membuat Tia tersentak.

Kalau ingin urusan selesai di sini, ia harus membayar sejumlah uang yang ditawarkan laki-laki berbaju coklat dengan rompi hijau menyala itu.

“Sa..ya.. minta.. surat tilangnya saja, Pak!” terbata Tia mencoba mengucap kata. Ia ingat, Nisa pernah bilang kalau ditilang, minta saja surat tilang. Jangan kasih uang ke polisi karena uang itu akan masuk ke kantong mereka.

Sebagai barang bukti, surat izin mengemudinya disita. Lalu dengan mengantongi selembar surat tilang ia meluncur menuju kampus. Tak ada harapan baginya untuk bisa mengikuti praktikum. Tiga puluh menit sudah kelas dimulai. Kalaupun alasan keterlambatannya karena dirazia diterima, tapi workplan yang belum rampung pasti membuatnya kembali terdepak.

Ingin sekali ia tangisi nasib. Hanya karena kecanduan berteman dengan dunia maya membuat semuanya hancur. Tidak lulus matakuliah, itu sudah pasti. Dan dua minggu lagi ia harus hadir ke pengadilan untuk mempertanggung jawabkan pelanggaran seperti yang tercantum dalam surat tilang.

“Malang sekali nasibku,” desis Tia dan tangisannya pun pecah.

“Seandainya saja aku tidak terpengaruh dengan ajakan teman-temanku untuk membuat fesbuk,”

Ingatan Tia menerawan.

“Tia, di FB kamu bisa ketemu sama teman lama kamu.” ujar Desy suatu hari,“Kamu suka nulis juga kan? Di situ ada aplikasi note yang  bisa digunakan untuk menulis.”

“Ngga ah, aku nulis di blog aja. Lagian aku ngga punya banyak waktu untuk ke warnet.”

“Nah, inilah kelebihan FB, kamu bisa mengakses lewat HP. Lebih simpel, kan?” Intan karibnya Desy ikut membujuk.

Desy dan Intan memang terkenal sebagai ratu facebook di kampus. Keeksisan mereka di dunia yang diciptakan Mark Zuckerberg sudah menjadi pembicaraan seantero FK. Puluhan ribu teman dari berbagai belahan bumi telah terdaftar dalam list mereka. Satu lagi, kedua cewek ini sangat senang mempromosikannya ke seluruh penghuni kampus termasuk Tia.

“Maunya semua dari kita punya fb, jadi kalau ada apa-apa seperti jadwal kuliah lebih gampang pemberitahuannya.” Begitu salah satu alasan mereka.

Tia sempat berpikir, dibayar berapa kedua temannya ini untuk promosi. Baginya ngeblog sudah cukup. Ia hanya butuh waktu satu jam mengupdate tulisan yang sebelumnya telah diketik rapi di rumah. Lalu blogwalking, jalan-jalan ke blog-blog lain sambil membaca isi tulisan yang rata-rata sangat mencerahkan dan membuat Tristia semakin bersemangat.

Blog sudah cukup baginya. Tak perlu facebook, twetter, friendster, atau apapun itu.

“Ohya Tia, aku juga punya paman yang suka ngeblog dan ia juga suka facebook. Tulisan-tulisannya banyak yang dicopy dari blog ke facebook.” Intan bagaikan tak kehabisan akal untuk menjerat Tristia.

Tia berpikir sejenak.

“Pokoknya seru banget. Dan satu lagi, kamu bisa cari gebetan disana,” timpal Desy.

Kata-kata terakhir itu meledak-ledak di cerebrum Tia. Menyihirnya. Sampai ia terus terngiang. Kamu bisa cari gebetan di sana.

Walau telah menjadi mahasiswa tingkat akhir, belum sekalipun Tia punya gebetan apalagi pacar. “Tak ada yang cocok,” alasannya.

Namun apa salahnya mencoba peruntungan di dunia maya.

Betapa sumringah Tristia ketika banyak orang ingin berkenalan. Sebenarnya salah satu alasan kenapa Tia suka menulis adalah karena ia sering kehilangan kata-kata disaat bertegur sapa terutama dengan lawan jenis. Sering tidak nyambung dan akhrinya menimbulkan ketidakcocokan. Dengan bergabung di facebook, ia tak perlu khawatir akan kehilangan topik. Karena dalam diam ia bisa menghasilkan banyak cerita.

***

Empat purnama sudah dilaluinya bersama facebook. Ratusan teman telah dimilikinya. Mulai dari teman semasa SMA, teman satu kampus, bahkan orang tak dikenal sekalipun. Namun, satu hal yang selalu ia hindari. Kopi darat. Tia tak mau menjadi bisu ketika bertatap mata dengan teman  mayanya itu.

Tia pun memiliki teman spesial, Andri, cowok Indonesia yang sedang kerja di Jepang. Entah kenapa gadis ini merasa nyaman ketika bercerita dengan lelaki itu. Untaian kata yang  kerap dikirim Andri  membuat imajinasi Tristia semakin terasa sempurna. Andri adalah sosok impiannya.

Jauhnya jarak dengan Andri membuat Tia menghapus kekhawatirannya. Kejauhan menutup kemungkinan mereka bertemu sehingga tak ada bisu yang menghalang. Saban malam mereka saling menyapa. Menanyakan kabar, berbalas sajak, dan menikmati kejauhan.

Empat purnama sudah jadwal ngeblog lenyap. Inpirasinya telah ditulis di pesan status yang setiap hari berganti. Tak ada lagi rutinitas menulis, kehadiran Andri baginya sudah cukup menenggelamkan asa dan impian yang pernah ia tulis. Bahkan untuk membuat tugas saja Tia selalu meminta bahan dari Nisa.

Tapi sekarang semuanya menjadi kacau. Matakuliah yang diambilnya empat bulan yang lalu gagal. Ia harus mengulangnya empat bulan ke depan. Harapan menghadiahkan kelulusannya untuk ayah-bunda sirna sudah.

“Itu semua karena keteledoranku. Aku yang terlalu terobsesi untuk sesuatu yang tidak pasti,” Tia menangis. Sebuah bangku di depan kelasnya menjadi tujuan.

“Berapa banyak pulsa yang sudah kuhabiskan hanya untuk melakukan hal yang tidak berguna ini?”

“Apakah Andri benar-benar sosok yang kuimpikan. Atau dia hanya suami orang yang kesepian?” pikirannya tak menentu. Bertubi masalah hadir dan berujung pangkal pada situs penyita waktunya.

“Kenapa aku dengan mudah terjerat?”

Tia semakin terisak. Diacuhkan mahasiswa yang menatapnya heran. Ia melarutkan penyesalan dalam tangis. Hingga lelah menghampiri dan menggantikannya dengan lelap.

“Tia, kamu kok tidur di sini?” pundaknya ditepuk Nisa.

“Gimana praktikum tadi, Nis?” Tia merasa lemas tapi matanya berangsur terbuka.”Aku harus ngulang semester depan, ya,” tanyanya dengan raut kesedihan yang masih tersisa.

“Praktikumnya ditunda besok, maaf ya ngga sempat ngabari kamu. Hpku ketinggalan di kos.”

Sengatan bahagia menyusup masuk melewati aliran darah Tristia.

“Yang benar Nis?”

“Iya, dosennya sedang tugas keluar kota. Jadi diganti besok.”

Rasa lemas hilang bersama indahnya kabar yang didengar. Kantukpun kabur membuat Tristia kembali semangat. Spontan ia memeluk Nisa. Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki empat purnama yang telah disia-siakannya.

Category: Uncategorized  Tags: , ,
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
34 Responses
  1. Fadli Idris says:

    Pertamax…….. :p
    Fadli Idris´s last blog ..Pendapatan VS Beban My ComLuv Profile

  2. Prince Area says:

    Keduax..
    Prince Area´s last blog ..Selamat Hari Raya Idul Adha My ComLuv Profile

  3. Liza..itu cersapen..(cerita sangat pndk)..smbgannya mana?

  4. ajeng says:

    Hehehe..harus semakin bijak dalam memilih prioritas ya mbak. Btw,terima kasih kunjungannya ke rumah bunga saya. Salam kenal..
    ajeng´s last blog ..Sapalah hati kami.. My ComLuv Profile

  5. Aulia says:

    akhirnya ke limax deh…
    mantap sangat cerita, ka malam han ek tabaca abeh…

    semoga meunang :)

  6. Ardhiansyam says:

    bagus sekali pilihan katanya, semoga sukses :)
    Ardhiansyam´s last blog ..Mari Merubik My ComLuv Profile

  7. vespadotcom says:

    sempat2nya nge post pas lebaran ???mantap(walaupun blm baca) :p

  8. aulawi says:

    semoga menang cerpennya ya :) met idul adha moga makna kurban membuat kita semakin ikhlas dalam melakukan setiap kegiatan yg bermanfaat..amin
    aulawi´s last blog ..The Sacrifice… My ComLuv Profile

  9. @deby : itu terfeed dari blog liza deb… kunjungi aja http://liza-fathia.com

  10. Aisha says:

    kunjungan balik.Cerpennya bagus sis.banyak kejadian rilnya di sini.Selamat hari Idul Adha,dan makasih kunjugannya ya,
    Aisha´s last blog ..Sebuah do’a yang terkabul My ComLuv Profile

  11. kisah nyata nih yee
    Muhammad Baiquni´s last blog ..Debur Ombak My ComLuv Profile

  12. Noorhasan says:

    Wah..wah mantap cerpennya, semoga menang deh..met Idul Adha juga, maaf telat..
    Noorhasan´s last blog ..OMNYA BANG PENDI POLISI ? My ComLuv Profile

  13. mbah gendeng says:

    mantap nih………………

    maaf baru sempat berkunjung nih

  14. Mariska Ayu says:

    Wah, cerpennya bagus kak Liza, salam kenal dari Mariska ya kak. Pemula nih.
    Mariska Ayu´s last blog ..Payudara Gadis My ComLuv Profile

  15. Wandi thok says:

    Hmmm… pokoknya semuga menang dalam lombanya ya mbak Liza.
    Salam dari Kendal Jateng. :lol:
    Wandi thok´s last blog ..Kulit Manusia bisa Mendengar My ComLuv Profile

  16. Liza Fathia says:

    makasih sudah berkunjung pak guru

  17. AbU says:

    Hahahahahahaha,,, iya pernah punya pengalaman yang sama dengan jejaring sosial ini… Eh, bukan msh terjerat hal yang sama… Terima kasih atas koreksinya…
    AbU´s last blog ..THE LAST GENTLEMAN My ComLuv Profile

  18. online says:

    perlu memeriksa:)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv Enabled
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes